
Stella sudah siap bertempur dengan peralatan di depannya. Para awak media pun, terlihat semakin banyak yang berdatangan. Beberapa dari mereka pun, nampak jurnalis dari negara lain. Wah, pasti ini berita yang sangat menghebohkan. Pikir iseng Stella.
Ia kembali tepekur dengan laptopnya. Menyiapkan segala apa yang mesti di persiapkan, hingga ia tidak menyadari sudah ada seseorang yang amat mereka tunggu berdiri di atas podium. Berdiri dengan begitu gagah, sambil melemparkan tatapan tajam, mengintimidasi ke arahnya.
Pandangan itu tak urung pindah, sampai Stella selesai dengan persiapannya dan melemparkan pandangan ke arah podium. Saat itu pula tatapan keduanya saling bertemu. Pandangan biru itu kembali mengusik Stella. Melemparkan gadis itu ke sumur keputusasaan. Antara terpesona akan sosoknya dan begitu menyukai gaya berpenampilan, juga takut dengan sikap dan sifat dalam dirinya. Pandangan itu, tentu amat membuat rasa sesak di dalam dada. Hatinya bergemuruh tak karuan. Kata demi kata, baik yang di ucapkan Joseph ataupun Alisa berterbangan di dalam benaknya. Tertimpa dengan pesonanya yang amat begitu menakjubkan; mata biru secerah langit siang, wajah tampan dengan kumis dan janggut tipis, rambut hitam sedikit basah dan berantakan, juga tubuh yang liat di tutupi kemeja putih yang membuat tubuhnya terlihat hot.
Oh, ayolah Stella fokus. Alam bawah sadar Stella mencoba menamparnya. Menyadarkan dia dari ilusi mematikan yang hanya akan membunuhnya, dan menghilangkan satu jari telunjuknya. Oh, sialan. Pembunuhan itu membuat otak Stella bercabang.
Segera Stella membuang pandangannya. Tak ingin berlarut menatap pesona akan keindahan makhluk ciptaan tuhan yang sungguh indah itu. Ia menyembunyikan wajahnya, pipinya jelas terlihat merah padam. Ia seperti seekor kepiting yang terkena siraman air panas.
Tanpa di sangka, di atas podium Reza menyungingkan senyumannya. Terhibur dengan wajah memerah Stella. Dia terlihat tambah cantik, jika sedang menahan malu seperti itu.
"Para hadirin yang kami hormati. Terimakasih sudah datang pada malam hari ini." Seorang MC atau entahlah berjalan dan menaiki podium. Mendekati Reza, dan berdiri tepat di sebelah. Lelaki itu menyungingkan senyuman kepada Reza, berharap di balas oleh miliader muda mendunia itu, namun malah muka asem yang ia terima.
Lelaki itu sedikit menggerutu, menahan kesal. Namun, ia berusaha mati-matian menahannya untuk menjaga profesionalitas.
"Tanpa menunggu lama lagi kepada Mr.Oxley, kami persilahkan." Dia beringsut, berjalan turun dari atas podium. Kini gantian, Jones yang beranjak naik ke atas podium. Berdiri di belakang Reza sambil terus mengawasi segala penjuru arah dengan raut wajah seribu rasa asam di dunia.
"Pekerjaan bagi saya adalah suatu yang nomer satu." Reza mulai bercakap. "Tapi, keluarga bagi saya di atas segala-galanya. Entah mau bagaimana sikap keluarga kepada diri saya, saya akan tetap memprioritaskan mereka di atas kepentingan saya. Mendiang ayah say, Emmanuel pernah berkata; sebanyak-banyaknya harta yang kali dapat di dunia, tetap saja harta yang paling berarti adalah keluarga." Dia menjeda ucapannya. Melirik Stella yang begitu serius mengetik ucapannya di papan keyboard laptop.
"Maka dari itu, saya datang ke sini, Indonesia untuk bertemu dan membahagiakan keluarga saya. Hartanto adalah keluarga kandung saya. Saya menegaskan, jika sebenarnya saya adalah anak kandung dari Liliana Hartanto dan Marco Davis Abute."
Kekacauan langsung terjadi di dalam ballroom. Semua awak media terkejut bukan main, mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Reza.
Miliader ini anak dari seorang pribumi?
Oh, Gosh ini mustahil. Seorang terhormat seperti Oxley ternyata anak kandung seorang Mafia.
Jadi selama ini, dia hanya anak angka tuan Emmanuel?
__ADS_1
Semua benar-benar dalam keadaan kacau. Mereka sungguh tak percaya dengan kenyataan yang menyebutkan jika Reza, orang yang selama ini dikenal sebagai miliarder terkemuka di Eropa adalah seorang anak pribumi, dan lebih mengejutkan lagi dia adalah keturunan pertama dari mafia kejam Marco Davis Abute.
****
Karena jumpa pers berjalan tidak lancar, dan menjadi kacau balau. Akhirnya tim keamanan memutuskan menyudahi jumpa pers tersebut. Dalam kalimat terakhir Reza juga berkata akan menjelaskan lebih rinci melalui kanal sosial media resmi Oxley General, alasan dia datang ke Indonesia.
Jones menutup pintu ganda kamar hotel, meraih sebotol air mineral dan menenggaknya hingga tandas. Asisten itu, kemudian langsung meremasnya dan melemparkan botol air mineral kesembarang aral. Oh, sial ini tidak berjalan dengan semestinya.
Saat, Reza masuk ke dalam kamar dan langsung menjatuhkan dirinya di sofa. Jones segera mendekat, duduk tanpa permisi di sebelah tuannya dan langsung menghujami dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Sir, apa kau gila mengatakan itu di depan awak media?"
"Kau sendiri yang berkata takut. Tapi mengapa kau malah seperti kehilangan kendali?"
"Oh, aku yakin ini semua pasti karena sakit kepala mu, kan? Oh god, sir kau akan merusak segalanya!"
Jones terus menghujami Reza dengan rentetan pertanyaan. Lelaki itu bahkan tak sabaran menunggu jawaban dari tuannya. Dia terus merubah posisinya, beberapa detik duduk, menghadap tuannya dengan raut wajah tak sabaran dan kesal, kemudian beringsut berdiri. Berjalan mondar-mandir seperti gansing.
"Dia cantik Jones!" Reza mengulum senyum. Menyenderkan bahunya di sofa panjang dan menengadah kepalanya menatap langit-langit.
Kening Jones mengeryit. Apa dia tidak salah dengar? Siapa yang di maksud cantik oleh tuannya? Apa jangan-jangan...
"Kau membicarakan jurnalis itu, sir?"
Reza melirik Jones, kembali menyungingkan senyuman aneh kepada Jones. Ah, pasti Jones menyakini kini tuannya sedang dalam mode kurang waras. Sungguh, benar-benar kurang waras.
"Nadila, dia begitu cantik. Benar-benar cantik. Dari sekian banyak wanita yang aku jumpai dan aku tiduri, entah mengapa baru Stella yang membuat diriku terasa jungkir balik."
Jones kembali duduk. Kini raut wajah sudah kembali normal; dingin dan begitu menyebalkan. Namun tetap tampan dan mempesona.
__ADS_1
"Sir, bagaimana jika benar adanya Stella adalah orang yang mencuri data mu?"
Mata yang semula berbinar penuh kebahagiaan, sekejap itu pula menghilang berganti kengerian dan kekejaman. Reza menoleh, menatap wajah Jones nanar.
"Aku sudah membaca pesan yang dikirimkan oleh Joseph kepada mu beberapa saat lalu. Isinya adalah masalalu Stella. Serta sebuah alamat IP dengan nama Big Bos."
"Big Bos, siapa dia?"
"Tenang saja, sir aku sudah menyuruh seseorang untuk melacaknya. Itu bukan masalah yang patut kau khawatirkan sekarang. Karena ada masalah yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan itu."
"Apa?" tanya Reza penasaran.
"Kejiwaan mu. Aku takut kau menjadi tidak waras, mengetahui jika orang yang kau taksir adalah pembobol perusahaan mu sendiri. Aku benar-benar cemas, jika kau gila dan masuk rumah sakit jiwa bagaimana dengan nasibku. Kau tau, aku harus menghidupi dua orang putra."
Tangan Reza mengepal di udara.
"Kau mau mati, ya?"
Reza lagi kesemsem sama pesonanya Stella
Jones, asisten nyebelin tapi juga ngangenin.
BTW KENAPA AKU GA PERNAH KASIH VISUAL STELLA, AKU PENGEN KALIAN PEMBACA MEMBUAT SENDIRI TOKOH STELLA VERSI KALIAN. KALAU AKU JUJUR NGAMBIL STELLA, DARI ARTIS KOREA YAITU JUNG SO MIN. KARENA AKU TAKUT, KALIAN GAK SUKA, MAKANYA AYO BUAT SENDIRI GAMBARAN STELLA VERSI KALIAN 🤗🤗
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1