
Sesungguhnya apa yang dikatakan Judika kepada Stella memang benar adanya. Tentang, dia yang pernah menceritakan perihal keluarganya; tentang penyebab perceraian ibunya, tentang ia yang memiliki seorang kakak yang berada di luar negeri, tentang nama belakangnya yang sebenarnya di ganti akibat dendam mendalam ibunya kepada sang ayah. Juga tentang kakak lelakinya yang hilang entah kemana semenjak sang ayah di tangkap oleh polisi dan di temukan lima tahun kemudian dalam hujut yang baru. Judika bahkan mengatakan kebahagiaan seperti apa yang dirasakan ibunya saat mengetahui kakaknya kini telah sukses dan menjadi orang besar, meskipun ia tak mengatakan siapa sesungguhnya kakak lelakinya itu. Judika menyembunyikannya, hanya memberi beberapa petunjuk yang malah membuat Stella kesan dan rasa ingin tahunya semakin dalam. Namun, itu semua sudah sangat lama saat pertama mereka mengumandangkan kepada dunia bahwa mereka adalah sepasang sahabat. Mereka saling berjanji untuk tidak merahasiakan apapun tentang masalalu dan masa sekarang mereka masing-masing. Mereka saling bercerita satu sama lain dan saling menguatkan. Mendukung dan menjadi penopang hidup satu sama lain. Namun, entah mungkinkah Stella lupa atau memang gadis itu belum juga menemukan jawaban dari teka-teki keluarga Judika. Hingga, ia kini di hadapi oleh takdir rumit yang mempertemukan dirinya dengan seorang yang bisa saja membawanya ke dalam mulut api yang akan membakarnya hingga musnah. Atau mungkin juga, ia malah akan mendapatkan kejayan yang selama ini ia impi-impikan.
****
Ketika kaki-kaki kecil berbalut heels itu tiba di ambang pintu rumah utama, manik Stella langsung berdecak. Menatap kagum sekaligus takjub dengan isi di dalam rumah itu. Tidak. Itu bahkan tidak pantas di sebut rumah. Tempat itu begitu besar dan mewah, dengan perpaduan gaya orang jawa dan internasional. Semua serba berwarna emas. Mulai dari pilar tinggi-tinggi menjuntai, tangga yang tinggi membentang dengan karpet merah maroon super bersih, jendela-jendela besar menantang dengan tirai berwarna senada. Hingga lemari-lemari kaca raksasa yang berisikan berbagai macam jenis kerajinan berbahan keramik. Juga ada guci-guci kuno yang berjejer di ujung-ujung ruangan masih dengan berwarna emas yang entah Stella tak mengerti fungsinya untuk apa. Di tengah ruangan itu terlihat sofa empuk berwarna coklat yang warnanya juga hampir serupa dengan yang lainnya, terlihat begitu empuk dan nyaman. Pasti lebih nyaman di bandingkan dengan kasur usangnya di indekos yang sudah tiga tahun tak Stella ganti. Sedang di langit-langit, tergantung lampu gantung super besar yang semuanya terbuat dari keramik bening berhias pernak-pernik yang Stella juga tak tau terbuat dari apa. Lantai rumah itu pun juga tak main-main, seluruhnya terbuat dari marmer berbatu safir halus yang terlihat begitu cantik dan elegan. Dinding-dinding berwarna putih hingga ke langit-langit ruangan begitu kontras dan cocok dengan semua ornamen-ornamen yang tersaji di sana. Ini benar-benar bukan rumah. Ini sebuah istana. Istana yang selama ini hanya Stella lihat di dunia cerita dongeng saja.
Dan, seketika itu pula rasa kaget, shock, dan takut akan kehadiran Reza lenyap begitu saja. Stella bagai masuk ke dalam cerita Cinderella atau putri salju yang hidup di sebuah istana mewah. Matanya tak berhenti berbinar. Kagum juga takjub. Selama hidup di dunia ini, selain berkecimpung di dunia cyber dan hanya melihat layar monitor yang menyebalkan itu, tak pernah lagi Stella melihat mahakarya tuhan lainnya. Termasuk dengan semua itu. Judika yang berdiri di sebelahnya, hanya dapat menyembunyikan senyumannya melihat wajah Stella yang begitu bahagia, dan tak henti-hentinya berdecak kagum menelusuri setiap inci rumahnya.
"Ini rumah lo?"
Kepala Judika mengangguk. Meng-iyakan.
"Serius?" Mata Stella berbinar menatap juga tidak percaya.
"Kalau bukan rumah gue, rumah siapa lagi?"
Stella tersenyum, sejenak menatap Judika dan kembali menelusuri pandangan menakjubkan di depan matanya.
"Gue cuma ga ngerti aja sama pola pikir lo."
Kening Judika mengeryitkan. Tak mengerti maksud ucapan Stella.
"Hidup lo udah enak, tapi lo buat rumit dan kemelut karena sifat dermawan dan bebas lo."
__ADS_1
Judika tergelak. Kini ia mengerti maksud perkataan sahabatnya itu.
"Gue udah sering bilang, ga selamanya harta dan tahta buat lo bahagia. Kadang kala harta dan tahta itu justru yang membuat lo merana dan menderita."
Kembali Judika meraih tangan Stella. Menggenggamnya lagi dan menariknya memasuki lebih dalam rumah itu.
Kaki-kaki kecil Stella sedikit kesulitan menyeimbangi langkah kaki besar Judika. Gadis itu, bahkan terdengar mendesis kesal manakala ia merasakan heelsnya yang ingin copot.
"Hai, buk."
Mereka tiba di sebuah ruangan lain yang tak kalah besar dari ruangan depan rumah utama. Tempatnya berada di sebelah kanan dari ruangan depan, tepat berada di dekat tangga yang dibatasi dinding besar yang di hiasi cermin besar dan sebuah wastafel.
Ruangan itu nampak seperti sebuah ruang tamu atau keluarga. Ada satu set sofa yang letaknya melingkar di tengah ruangan. Sedang di ujung ruangan ada satu set home teater yang sedang menampilkan cuplikan film luar negeri. Ada enam orang duduk saling berdempetan. Mengelilingi meja kaca kecil, yang sudah berisikan berbagai macam jenis minuman dan cemilan. Namun, dari enam orang yang terlihat datang dari keluarga elite kaya raya. Tak nampak batang hidung kakak lelaki Judika, yang telah sukses membuat Stella takut setengah mati. Hanya ada seorang lelaki bule, berambut hitam tembaga dengan raut wajah tanpa ekspresi ikut duduk di antara mereka sambil menyesap kopi di dalam cangkir kristal.
Oh! Kini otak Stella mulai buntu dan menjadi pelupa. Sungguh dia benar-benar seperti tidak asing dengan pria bule itu. Apalagi dengan wajah dinginnya.
"Siapa ini, Judika?" Seorang wanita paruhbaya bergaun malam super cantik berdiri. Berjalan menghampiri mereka dan menatap Stella dengan tatapan penuh selidik.
Stella menatap sejenak. Dan langsung menundukkan kepala, saat ia menyadari jika wanita paruhbaya itu tak lain adalah Liliana, ibunda Judika.
"Stella. Stella Sasmita."
"Ya... Ya... Ibu tau di Stella Sasmita. Jurnalis fenomenal anti negara itu. Ibu bertanya siapa dia untukmu, Judika?" Mata Liliana melotot. Menatap Judika tajam, tak sabaran menunggu jawaban dari anaknya.
__ADS_1
"Dia pacarku. Dia yang aku ceritakan malam itu sama ibu."
Mulut Liliana ternganga. Dia berdecak tak percaya dengan jawaban dari mulut anaknya. Mana mungkin bisa Judika memiliki kekasih macam Stella? Wanita miskin yang orang tuanya tak jelas. Seorang jurnalis yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita. Oh, sungguh Liliana tak pernah membayangkan itu.
"Kamu pacaran sama penghianat negara ini?" Liliana mengerang. Memegang kepalanya dan memijat-mijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pening itu. Seorang wanita parubaya lain, kini berdiri dan menghampiri Liliana. Memeluk tubuh Liliana, dan berusaha menenangkan wanita itu sambil menatap keduanya saling bergantian dengan tatapan tak suka.
"Taro di mana muka ibu Judika, kalau sampai masyarakat tau kamu pacaran sama dia? Oh, tuhan apa yang terjadi dengan anak ini?" Liliana membenamkan kepalanya ke dalam pelukan paruhbaya itu. Terus memijat-mijat keningnya yang semakin terasa pening itu.
"Loh, emang apa salahnya kalau aku pacaran sama Stella? Ada hukumnya anak penjabat pemerintah gak boleh pacaran sama jurnalis tv?" Judika mengangkat kedua bahunya. Melihat ibunya dengan wajah binggung tak mengerti.
Liliana melepaskan pelukannya. Berdiri sambil berkacak pinggang menatap Judika nanar. "Apa salahnya?" Ucapnya pelan, berbisik tetapi tetap dapat terdengar jelas oleh telinga Stella. "Wanita ini..." Menunjuk Stella tepat di depan matanya. "Pasti akan membawa pengaruh buruk sama bisnis dan jabatan mama dan kakak kamu, Judika. Liat sepak terjangnya di dunia jurnalis. Gadis ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita. Memfitnah bahkan membuat berita picisan untuk menggulingkan pemerintahan. Mau di taro di mana muka mama Judika? Sampai orang-orang tau ketua partai nasional anaknya berpacaran dengan jurnalis yang mau menggulingkan pemerintahan?" Liliana menghela napas sejenak. "Mereka pasti akan bergunjing dan membuat berita yang tidak-tidak tentang ibu. Pasti karir politik ibu bakalan hancur Judika, dengan wanita picik ini..."
Kepala Stella menunduk dalam. Hatinya mengeryitkan, merasakan hantaman yang terasa amat begitu sakit. Sementara Judika, lelaki itu bahkan hanya diam tak membantah perkataan ibunya sama sekali atau membela Stella yang terus-menerus di hina.
"Dia itu jalang, Judika. Kamu lihat dia... Lihat." Liliana menarik tangan Judika, menyuruhnya untuk menatap penampilan Stella. "Sangat berbeda dengan keluarga kita. Apa yang kamu lihat dari dia, huh? Dia hanya seorang wanita yang hidupnya penuh ambisi dan otak licik. Dia sangat berbeda dengan..."
"Stop it."
Liliana menghentikan ucapannya. Saat seorang pria berdiri di ambang pintu ruangan. Serentak, semua orang di sana berdiri dan menatap ke arahnya.
"Apa makan malam hari ini berubah menjadi penilaian hidup seseorang?" katanya lagi dan berjalan menghampiri Stella. Berdiri tepat di sebelahnya dan memasukkan satu tangan ke kantung celana serta menatap Liliana tajam.
"Seumur hidupku aku bahkan tidak pernah menilai hidup seseorang seperti anda. Hari ini, hatiku bahkan bertanya-tanya apakah anda benar-benar ibu saya?"
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...