Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 92


__ADS_3

Stella tertegun mendengar ucapan Chris. Dirinya sungguh tidak percaya jika Nick adalah anak dari maniak seperti Joseph.


"Kau bercanda?" Pekik Stella hingga membuat Jones mendengar.


Segera, Chris meraih tangan Stella dan menarik gadis itu untuk bersembunyi di bawah pohon rindang yang cukup besar. Dari sana, tubuh mereka aman tak terlihat. Namun, mereka masih tetap bisa melihat dengan jelas apa yang sedang Reza dan Jones lakukan.


Stella berdiri berhimpitan dengan Chris yanh berdiri tepat di belakangnya. Dengan posisi seperti itu, Chris nampak terlihat seperti sedang memeluk tubuh Stella dari belakang. Itu tak masalah bagi Stella. Malah bagus, dengan begitu dirinya benar-benar tak terlihat dan tersembunyi di balik tubuh Chris yang tinggi dan tegap.


Kedua pasang mata itu, tak henti dan fokus melihat apa yang selanjutnya Reza dan Jones kerjakan. Darah sudah mengalir dan membanjiri tubuh Nick yang sudah bergelimpangan. Bau anyir darah mulai terendus oleh keduanya. Samar-samar ingatan akan padang ilalang berlumpur dan memiliki bau anyir yang selalu datang menyapa Stella dalam tidur itu kembali.


"Chris..." Suara Stella terdengar lemah.


Chris menoleh kearah Stella dan mendapati wajah gadis itu sudah begitu pucat.


"Hei... Hei, kau tak apa, Stella?" tanya Chris mulai panik.


"Chris, ku mohon bawa aku pergi dari sini. Aku benar-benar tidak sanggup mencium dan melihat darah segar." Tubuh Stella mulai melemah. Dirinya bahkan tak dapat lagi menopangnya.


Dengan tergopoh-gopoh, Chris akhirnya membawa Stella pergi dari sana. Berjalan dengan penuh kehati-hatian menujuh halte busway di mana Stella tadi berniat beristirahat.


"Duduklah." Chris mendudukkan Stella di salah satu kursi halte. Sambil matanya menerawang mengawasi keadaan sekitar. Takut-takut, Jones yang tadi sempat mendengar mencari dan menemukan mereka.


"Apa kau butuh air, Stella?"


Kepala Stella menggelang.


"Kau baik-baik saja, kan?"


"Ya." Mengangguk pelan. "Aku hanya fobia akan darah, Chris."


Kening Chris mengerut. Dia duduk dan mencari posisi senyaman mungkin di sebelah Stella.

__ADS_1


"Chris, aku masih penasaran dengan Nick. Apa benar dia anak Mr.Robinson?"


Tak langsung menjawab berkata Stella, Chris menghela napas lebih dulu. Mengumpulkan rambut-rambut panjangnya, dan menguncirnya dengan gaya Topknot.


"Bagi Klan mafia seperti Reza dan Joseph, keluarga bagi mereka bukan hanya orang yang sedarah dengan mereka, Stella."


"Maksudmu?" tanya Stella binggung dan penasaran.


"Begini," seru Chris. Dia merubah posisi duduknya menghadap Stella. meletakan tangannya di antara kaki-kakinya. "Kau tau pekerjaan mafia itu seperti apa kan, Stella?"


Stella mengangguk mengamini.


"Dari pekerjaan ini mereka tidak mungkin bekerja seorang diri. Pasti mereka butuh orang lain untuk melancarkan aksi mereka. Nah, dari sana mereka mencari siapapun yang mau bekerja dan bergabung dengan klan mereka. Bagi siapa saja orang yang bekerja keras dan rela melakukan apapun hingga mengorbankan nyawanya sendiri untuk klan mereka, maka tanpa basa-basi lagi mereka akan mengangkat mereka menjadi bagian penting dari mereka bahkan ada yang di anggap saudara dan keluarga. Seperti Jones yang begitu setia mendampingi ayah angkatku hingga Reza, sama halnya dengan Nick."


Baru juga Stella ingin berucap menjawab penjelasan Chris panjang lebar mengenai salah satu sejarah dan tradisi mafia, ekor mata Stella menangkap sebuah sosok yang amat tidak asing untuknya. Stella tersentak, berdiri dengan keterkejutan ketika melihat sosok Reza berjalan ke arahnya.


"Chris, itu Reza." Menarik-narik baju Chris, dengan tatapan mata kearah Reza yang sedang berjalan.


"Aku harus pergi," kata Chris panik dan bersiap untuk berlari. "Hubungi aku setelah ini. Dan, selamat atas first kiss mu dengan abang ku." Mengedipkan satu matanya dan kemudian benar-benar berlari meninggalkan Stella.


Mendengar ucapan terakhir dari Chris, Stella hanya mampu tercengang. Terheran-heran dengan mata mengerjap-ngerjap. Bagaimana bisa lelaki itu di keadaan genting seperti ini masih bisa meledeknya. Dan, entah bagaimana dirinya bisa tau jika tadi Stella berciuman dengan Reza. Oh, sial! Pasti Chris memata-matai dirinya.


"Sedang apa kau disini, Stella."


"Ya tuhan, Reza." Teriak Stella kaget melihat Reza yang sudah berdiri di sebelahnya.


Jantung Stella hampir saja copot gara-gara suara bariton Reza yang sukses mengagetkannya.


"Kau... Kau hampir saja membuat jantung ku copot, Mr.Oxley." Deru napas Stella terdengar menggebu-gebu.


Reza hanya diam tak bergeming, melihat keterkejutan Stella yang nampak berlebihan. Seperti seorang maling yang baru saja tertangkap basah.

__ADS_1


"Kau berlebihan, Stella."


"Eh..."


Takut-takut Stella melirik Reza. Dia melihat gurat wajah Reza yang nampak begitu dingin bagaikan sebongkah es batu.


"Apakah terlihat begitu?" tanya Stella dengan memasang wajah sok polos.


"Mari saya pulang, ini sudah larut malam." Berjalan begitu saja menujuh Audi milik Jones yang terparkir tak jauh dari pantai.


Stella memutar tubuhnya mengikuti kemana Reza berjalan. Dia menatap punggung lebar lelaki itu dengan perasaan binggung yang melanda. Sikap Reza berubah drastis, begitu dingin Stella amat dengan jelas merasakannya.


"Kau tidak perlu mengantarkan ku, Mr.Oxley," seru Stella saat Reza membukakan pintu Audinya.


"Aku mohon masuk, Stella." Nadanya benar-benar terdengar begitu dingin sekali. Tatapannya pun tajam menelisik Stella. Melihat itu, Stella tak dapat menolak dia begitu takut bahkan hanya untuk sekedar menatapnya.


Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun diucapkan baik dari Stella maupun Reza. Mereka bungkam seribu bahasa. Reza bahkan mengendarai Audi itu dengan kecepatan tinggi.


"Tidurlah. Tutup semua pintu dan kaca jendela mu, jika ada seorang wanita yang mencurigakan untukmu segera kabari asistenku," perintah Reza saat mereka telah tiba di apartemen milik Stella.


"Wan... Wanita?"


Reza mendekat, meraih tangan Stella dan menariknya ke dalam pelukannya. Stella sedikit tersentak akan perbuatan Reza. Namun, tak ada pelawanan yang berarti. Stella begitu takut melawan Reza dengan suasana hatinya yang sedang buruk seperti ini.


"Jagalah dirimu, Stella." Mengecup kening Stella dengan lembut.


Setelah mengantarkan Stella dan memastikan gadis itu selamat dan apartemennya miliknya baik-baik saja, Reza melajukan mobilnya ke daerah Bogor. Jalanan yang lelaki itu lewati begitu sepi, tak ada rumah ataupun pencahayaan satupun. Pohon-pohon berdiri kokoh berjajar memadati pinggiran jalan. Hutan rimba membentang begitu luas di sisi kanan jalan, Sadang di sisi kiri jurang yang kedalamannya tak terhingga siap menelan siapa saja pengendara yang masuk ke dalamnya.


Hingga Audi itu berhenti di sebuah gubuk kecil tanpa penerangan sedikitpun. Reza keluar dari dalam sana, yang langsung di sambut oleh beberapa anak buah yang berwajah lokal. Anak buah yang terdiri dari lima lelaki dan dua wanita itu menunduk kepala hormat kepada Reza. Dari ke tujuh anak buahnya itu, mereka terlihat memiliki sebuah tatto sama yang terletak di tangan bagian kanan mereka. Sebuah tatto persegi panjang dua baris yang terlihat sama dengan milik Judika.


TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2