
Sudah tiga hari tiga malam kedua anak manusia itu diam seribu bahasa. Tak saling berbalas kabar, seperti hari-hari sebelumnya. Gengsi menggukung diri mereka masing-masing, membuat batas pertahanan yang mereka bangun semakin menjadikan mereka menjauh. Baik Judika maupun Stella bahkan kini telah menghapus nomer masing-masing dari daftar kontak di ponsel. Memblokir semua akun media sosial yang berhubungan. Saat bertemu di coffee shop tempat Stella bekerja paruh waktu pun, mereka bagai dua orang yang tak saling mengenal. Dua orang keras kepala yang saling berteriak dalam diri masing-masing dan mengedepankan ego.
Hasil dari semua itupun, kini berdampak pada kejiwaan Judika. Bagaimana tidak, lelaki berwajah ramping dengan rahang tegas yang tak di tutupi kumis seperti kakaknya Reza, frustasi bukan main. Besok, adalah hari dimana ia seharusnya membawa Stella, mengenalkan kepada ibu juga tentunya kakak lelakinya. Namun, lihat sekarang lelaki itu sudah seperti orang tak waras mondar-mandir tak jelas, meninju-ninju udara, atau mengacak-acak rambut sambil melompat ke ranjang dan berteriak dibawah bantal.
Harus bagaimana? Menjelaskan kepada keluarganya, kalau dia memiliki seorang kekasih tapi sedang bertengkar. Tidak mungkin, Judika mengatakan alasan pertengkarannya karena membasah indentitas Stella yang ternyata adalah seorang hacker ulung, yang pernah menggemparkan Indonesia karena aksinya sepuluh tahun silam. Bisa-bisa Judika langsung di coret dari dalam kartu keluarga. Ah, sungguh Judika benar-benar frustasi. Ingin menghubungi pun, gengsinya terlalu besar. Mereka sama-sama kekeh menilai jika diri merekalah yang paling benar.
"Ah, gila bisa mati mendadak gue kalau sampe besok Stella gak ada. Ah, ancur hidup gue sampe nyokap jodohin gue ama Inggit." Kembali Judika mengacak-acak rambutnya kesal.
Sementara itu di kamar indekos yang begitu berantakan seperti telah lama tidak di bereskan. Stella tepekur seorang diri di bangku kerja dengan keadaan gelap gulita. Cahaya monitor yang hanya sebagai pelita kecil memerangi ruangan kecil itu, dan lampu remang-remang yang memantulkan cahaya lewat cela jendela kamar Stella. Bak, seperti kamar tak berpenghuni tetapi Stella tak menghiraukannya, dia terus terbenam pada layar monitor yang menampilkan latar hitam dengan kode dan kata-kata berbahasa Inggris yang begitu sulit untuk di mengerti.
Rambut gelombang yang di kuncir tinggi, dengan sedikit poni menutupi keningnya membuat wajah putih Stella terlihat begitu jelita. Tak ada polesan make-up sedikitpun disana. Di cantik benar-benar alami, meskipun hanya memakai sabun bayi dan cream sachetan yang dia beli di warung depan indekosnya, menampilkan wajah mulus dengan sedikit komedo di area hidung juga lingkaran hitam di bawah mata. Seperti sudah dua hari, ia tak tidur.
Belum juga gentar, untuk mengorek rahasia besar Oxley General. Kali ini, Stella kembali melancarkan aksinya. Beberapa jam yang lalu BIG BOS memberikan informasi, jika pemilik Oxley General sedang melakukan perjalanan dinas ke sebuah negara di Asia tenggara. BIG BOS tidak memberikan detail informasi kemana tujuan pemilik Oxley General pergi, dan Stella juga tidak terlalu memperdulikannya. Bagi dia, yang begitu amat adalah; saat-saat seperti ini Oxley General lenggang pengawasan. Tak ada pemiliknya, maka perusahaan itu bisa dengan mudah di retas oleh Stella kapan pun. Karena, Stella tau server utama Oxley General dibawah kendali pemiliknya yakni, Reza.
__ADS_1
Dan benar saja, tak sampai setengah jam Stella telah berhasil kembali masuk ke dalam server Oxley General. Kali ini, ia menyembunyikan indentitas tidak sebagai Joseph Antonio alias Robert alias Ramdani. Ia tak menjadi siapa-siapa, dirinya membela diri menjadi di mana-mana untuk mengecoh badan teknologi Oxley General. Ini sulit, Stella bahkan baru mempelajari trik ini beberapa tahun silam. Itupun berkat, dirinya yang bergabung dengan komunitas hacker paling di takuti di dunia, yaitu Anonymous.
Mata yang sedaritadi berbinar penuh harap, seketika berubah kecewa saat dia tidak menemukan apapun di dalam server milik Oxley General. Hanya data-data pribadi dan produk baru serta senjata nuklir yang di gadang-gadang akan menjadi senjata pemusnah massal paling berbahaya yang pernah di buat di dunia. Selain itu, Stella tak menemukan apapun, kecuali file sampah yang sudah kadaluarsa.
Sial, sepertinya mereka telah memindahkan data ke tempat lain. Gumam kesal Stella. Ia meninju meja kerjanya, mengerutu kesal dengan apa yang ada di depannya. Sia-sia dia menunggu kesempatan emas seperti ini. Jika kenyataannya, dia tak mendapatkan apapun.
Kepalanya menengadah, menatap langit-langit kamar lusuh bercat putih yang sudah hampir usang. Matanya menelisik, seperti sedang mencari sesuatu di atas langit-langit gelap itu.
Namun, saat dirinya masih terus berpikir suara dering ponsel membuyarkan dirinya. Ia menegakkan tubuh meraih ponselnya dan melihat siapa orang yang berani mengganggu dirinya, disaat ia sedang dalam keadaan kalut seperti ini.
Dahinya mengernyit, saat layar benda pipih itu menunjukkan nama kantor penerbit TTV yang mengirimkan email kepadanya. Dengan cekatan ia segera membuka, membaca isi email tersebut.
Mulutnya ternganga, matanya mendelik tak percaya saat mengetahui jika isi email tersebut mengatakan dirinya telah lulus seleksi dan di terima menjadi jurnalis di kantor tersebut. Ia segera berdiri, hingga tak sengaja menyenggol bangku dan membuat bangku yang ia duduk jatuh.
__ADS_1
"Ahhhh!!! Ini beneran kan?" Stella berteriak tak percaya. Mengusap-usap matanya dan kembali menatap layar ponsel. Tidak. Ini bukan mimpi jamnya, harinya saat ini. Stella menepuk pipinya, kemudian mencubit lengannya untuk kembali memastikan jika ini bukan mimpi. Ia meringis saat merasakan sakit diarea tempat ia mencubit. Ia tak mimpi, jadi dia benar-benar akan kembali menjadi jurnalis?
Selebrasi kemenangan pun ia tunjukkan. Tak menghiraukan bagaimana berantakannya kamar indekos itu, Stella meloncat kesana kemari dan berteriak kegirangan tanpa memperdulikan ia akan kena semprot oleh ibu kos karena teriak-teriak tengah malam.
Setelah puas melakukan selebrasi kemenangan, Stella membaringkan diri di ranjang. Masih terus menatap layar ponsel dan cekikikan membaca isi email tersebut. Ah, entah bagaimana mereka dapat menerima orang seperti Stella yang padahal sudah jelas-jelas menunjukan indentitas aslinya sebagai seorang hacker. Bahkan membongkar rahasia pribadi manajer HRD disana.
Sesaat cekikikan kegembiraan itu berubah menjadi garis keras di bibirnya. Ia kembali duduk di atas ranjang, melemparkan ponselnya dan menyalah lampu indekos. Seketika raut wajah Judika muncul di benaknya. Memori akan Judika yang marah-marah tak jelas sampai mengatainya toxic kembali terbayang. Sebuah pertanyaan pun muncul di benaknya; apakah ini semua ulah Judika? Tapi jika iya mengapa dua hari yang lalu saat bertemu dengannya dia nampak seperti orang tak kenal, mengacuhkannya bahkan tak berniat menyapa dirinya.
Stella tak mengerti. Benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Judika. Kini dirinya di rundung rasa binggung sekaligus rasa bersalah. Bagaimana pun sikapnya tempo hari kepada dirinya, tetap saja Judika telah membantunya untuk mendapatkan pekerjaan.
Stella beringsut, berdiri dari ranjang, dan meraih kalender yang tergeletak di atas meja. Sebuah tanggal telah ia lingkari, untuk hari esok tanggal tiga puluh satu Desember. Bertepatan dengan tahun baru juga acara makan malam penyambutan kakak lelaki Judika, yang entah tak Stella kenal. Stella kembali duduk di bangku kerjanya, menatap lekat-lekat kalender tersebut. Sesaat ia menghela napas, dan meletakan kembali kalender tersebut. Ia menjatuhkan kepalanya diatas meja, kembali menghela napas dengan intonasi yang dalam. Sepertinya, ia harus mengucapkan terimakasih kepada Judika. Walau bagaimanapun, lelaki itu telah banyak membantunya selama ia menjadi mahasiswa. Stella kembali menenggakan tubuhnya, menganggukkan kepala menyakinkan diri dengan kata hatinya. Iya, besok dia akan datang ke acara makan malam itu. Memperkenalkan diri sebagai kekasih Judika. Tidak perduli Judika masih marah atau tidak. Setidaknya hanya ini yang bisa Stella lakukan untuk membalas budi Judika.
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1