Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 40


__ADS_3

Dari nada bicara Leo, Jones sudah dapat menyimpulkan kalau lelaki itu sedang di rundung masalah. Namun, ini tidak biasa. Bukan kah, dia seorang mafia? Yang koneksi juga luas. Mengapa dia meminta tolong kepada Reza?. Untuk sekian kali, Jones melirik Reza kurang dari nanodetik. Ia mendesah, memejamkan matanya dan ikut merasakan hawa dingin ibukota.


"Ada masalah apa, tuan? Kau tidak sedang membuat kekacauan lagi, bukan? Karena jika, iya seperti aku tidak dapat membantu mu. Negara ini, bukan kekuasaan Oxley Gene..."


"Istriku di culik. Dia di culik oleh musuhku. Aku harap kau bisa membantuku. Katakan kepada tuan mu, aku butuh dia untuk melacak keberadaan musuhku."


Mata Jones kembali mengerjap. Ia mencoba untuk tetap tenang. Sial! Sepertinya, ini memang sudah saatnya ia kembali menjadi seorang mafia. Karena Jones yakin, jika musuh Leo adalah seorang mafia juga layaknya dirinya.


"Aku harus membicarakan ini dulu dengan tuan Reza. Akan ku kabari jika dirinya telah pulih."


"Hei, apa tidak bisa kau beritahu sekarang? Ini keadaan genting, sialan."


"Aku mengerti keadaan mu, tuan Pyordova. Namun, seperti ucapan ku tadi, tuan Reza sedang ada masalah dengan kepalanya. Aku harap kau mengerti. Aku akan mengabari mu lagi kurang dari 24 jam. Aku janji akan menggali informasi mengenai musuh mu itu. Kau hanya perlu mengirimkan aku informasi mengenainya, secepat mungkin segera aku akan mengabari mu."


Sejenak Leo diam seribu bahasa di sebrang sana. Seperti sedang menimbang-nimbang dengan tawaran Jones. Dia butuh bantuan Reza secepatnya. Bagaimana pun, Shena pasti dalam bahaya terlebih dengan kondisinya yang sedang hamil. Dia tidak mungkin menolak bantuannya, meskipun hanya mencari informasi tambahan.


"Baiklah." Akhirnya Leo berucap. "Aku akan mengirimkan beberapa informasi pribadi dari dirinya. Terimakasih, tolong sampaikan kepada tuan mu aku membutuhkannya."

__ADS_1


"Tentu, tuan. Saya akan menepati janji saya."


Setelah berucap demikian telpon pun di tutup. Jones memasukkan kembali ponselnya dan mulai memposisikan diri untuk beristirahat. Bersama itu pula, hujan mulai reda meninggalkan kilat yang sesekali nampak di langit-langit kota Bogor.


****


Saat Stella tiba di indekosnya, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Ia pulang dalam keadaan kuyup. Seharusnya dia memutuskan untuk pulang dalam keadaan basah-basahan saja sedaritadi. Daripada menunggu hujan yang tak kunjung reda juga, yang akhirnya membuat ia pulang dalam keadaan kuyup juga.


Dengan kasar Stella melepaskan heelsnya. Melemparkan satu persatu heels itu ke sembarang arah dan segera bergegas menujuh kamar mandi. Saat tiba disana, keran air langsung berbunyi. Malam itu, dia memutuskan untuk mandi di tengah malam untuk menghindari sakit akibat guyuran hujan. Dia amat begitu asik, menghujami tubuhnya dengan air dingin kolam kamar mandi. Saking asiknya, dia bahkan tak mendengar suara pintu indekos yang berusaha di buka. Semua dalam keadaan gelap. Baik di beranda indekos, hingga lorong-lorong dan kamar Stella. Tak nampak orang satupun terlihat di sana, juga tak ada CCTV yang terpasang di sana. Membuat indekos itu, memang amat rawan akan kejahatan.


Seorang pemuda berusia sekitar akhir dua puluh, dengan wajah khas orang Indonesia bagian timur berusaha membobol laptop milik Stella. Mencuri beberapa file yang entah berisikan apa dari dalam sana. Ia terus mengotak-atik laptop itu, membuka satu persatu file yang berada di dalam laptop baik yang dengan sandi maupun tanpa sandi. Hingga tangannya terhenti saat matanya melihat sebuah file dengan tulisan Mr.Robinson. Ia membuka file itu, namun saya file itu terkunci. Tetapi tanpa di duga, hanya dalam hitungan detik itu pula file tersebut terbuka. Nampaknya lelaki itu juga adalah seorang hacker atau cyber sama seperti Stella. Ia begitu handal mengotak-atik laptop Stella layaknya seorang yang bekerja di departemen teknologi. Memindahkan satu persatu file ke dalam flashdisk yang telah ia tancapkan di laptop Stella. Tak butuh waktu lama semua file sudah ia salin dan berpindah ke flashdisk miliknya. Dengan cepat, Ia mencabut flashdisk itu, berangsur berdiri dan pergi dari sana secepat kilat.


Saat Stella sudah selesai membersihkan dirinya, lelaki itu telah tiada. Menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Itu benar-benar membuat Stella tak menyadari, jika laptopnya baru saja di bobol oleh seseorang.


Setelah selesai membersihkan diri, Stella beringsut mengambil kota P3K yang berada di laci nakas kecil sebelah kasurnya. Berlalu duduk di tepi kasur dan mulai mengobati lecet di kakinya. Sesekali, ia meringis merasakan perih saat alkohol mengenai lukanya. Dirinya bahkan sampai mengeluarkan airmata. Ini tak biasa. Stella tak biasanya menangis karena luka. Dia bahkan pernah di tusuk di bagian tanganya oleh Bunda, istri dari pendiri Cyberfriend. Berkali-kali juga ia pernah di siksa; di pecut, di ikat, hingga di sundut mengenakan bara rokok. Sekalipun, Stella tak pernah menangis. Bahkan hingga tubuhnya kini di penuhi bekas luka dirinya tak pernah merasakan rasa sakit itu. Namun, kali ini berbeda. Ia menangis bukan karena perih di kakinya akibat luka lecet sepatu heels. Melainkan perkataan menyakitkan yang di lontarkan oleh ibunda Judika, Liliana. Hanya sebagai kekasih pura-pura saja, dirinya sudah di hina sedemikian rupa olehnya bagiamana jika ia benar-benar menjadi kekasih Judika. Stella seperti tak memiliki kesempatan lagi untuk memiliki Judika. Menjadikan lelaki itu sebagai teman hidupnya.


Tangisnya semakin meledak. Di bahkan membenamkan wajahnya di sela kaki-kakinya. Tertunduk sambil bersedekap dan menangis di sana. Cukup lama, ia menangis hingga suara laptop mengangetkannya.

__ADS_1


Kepalanya menengadah, melihat laptop miliknya. Keningnya mengeryit binggung, pasalnya ia belum menyentuh laptop itu sedari pulang dari makan malam. Tapi mengapa laptop itu bisa menyalah?


Seketika Stella langsung bangkit dari kasur, berjalan dengan cepat mendekati meja kerjanya yang berada di ujung kamar indekos. Ia mengutak-atik laptopnya, melihat riwayat laptop tersebut.


Matanya terbelalak, saat isi beberapa halaman laptop belum tertutup. Ia menyakini jika ada seseorang yang baru saja membuka laptopnya. Tubuhnya secepat mungkin tegak kembali. Menyapu setiap sudut ruangan temaram yang hanya di cahayai lampu neon kuning. Tak ada siapa pun di sana. Tak ada jejak apapun juga. Dia sendiri di dalam sana. Untuk menyakinkan diri lagi, Stella berjalan menujuh pintu kamar. Dan, di menemukan pintu kamarnya tidak dalam keadaan di kunci.


Detik itu juga degup jantungnya berdebar begitu kencang. Dia menyenderkan tubuhnya di balik pintu kamar. Mencoba mengendalikan dirinya yang kini di landa kepanikan. Dia amat yakin, baru saja seseorang masuk ke dalam indekosnya. Mencuri file-file penting yang berada di dalam sana. Otaknya berusaha berpikir tenang. Ia tak boleh panik, ia harus tenang. Terus Stella mencoba menenangkan dirinya. Namun, tiba-tiba matanya berbinar, membelalakkan bulat-bulat sambil pandangan lurus ke arah laptop. Ia baru saja, ada sesuatu yang amat begitu penting di dalam sana yang begitu rahasia yang tak ada orang lain tau selain dirinya. Cepat-cepat, ia kembali menujuh laptopnya. Berjalan tergopoh-gopoh tak memperdulikan rasa perih di kaki-kakinya. Tangannya mulai bekerja saat telah mencapai meja. Membuka file dengan tulisan Oxley General. Ia mengklik beberapa Ikon di sana, hingga kemudian menampilkan sebuah data dengan bacaan 'transfre file berhasil'.


"Akh!" Stella berteriak kesal, mengebrak meja kerja dan mengepalkan tangan frustasi. Seseorang telah berhasil mengambil data rahasia yang ia curi dari Oxley General. Data rahasia yang berisikan rahasia-rahasia penting milik Oxley General.


Stella mengacak-acak rambut. Pikirannya begitu kalut. Bagaimana jika orang yang mencuri data rahasia itu menyebarluaskan rahasia pribadi Reza dan mengatasnamakan dirinya. Sudah pasti, nyawanya akan habis di tangan Reza.


Dan, saat pikiran mulai kalut tak tertahan. Tiba-tiba otaknya memutar satu orang, satu nama, dan satu tempat. Stella mendesah. Mengepal kuat-kuat tangannya. Matanya membulat menatap kearah jendela kaca indekos yang menampilkan gemuruh petir di luar sana. Gumam-gumam, ia berkata.


"Mr.Robinson, kau benar-benar ingin mati di tanganku."


TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2