
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Belum usai pademi yang menyerang bumi, kini bencana meledaknya beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir milik Oxley General mencuat ke permukaan. Dalam sekejap, ribuan orang tewas mengenaskan karena terpapar radiasi nuklir. Jutaan orang dari berbagai kota di negara maju mengungsi karena debu radioaktif membumbung tinggi memenuhi atmosfer bumi. Akibat ledakan itu pula, membuat bencana itu menjadi bencana paling mematikan melebihi perang dunia ke II maupun perang Vietnam.
Mendengar pemberitaan itu, Stella yang sudah shock semakin di buat shock. Anne benar-benar menjalankan rencana untuk menghancurkan Oxley General. Ini gila! Dia sudah kelewatan batas. Ini bukan lagi tentang menghancurkan Oxley General tetapi dunia.
Stella benar-benar begitu shock hingga membuat sendi-sendi dalam tubuhnya seakan berhenti bekerja. Lebih-lebih saat dirinya melihat mayat-mayat dengan kulit yang melepuh akibat terpapar radiasi nuklir. Seketika ngeri, kasihan, marah menyelimuti dirinya.
Tak kuasa, Stella mematikan televisi. Bangkit dari tersungkurnya dan meraih laptop yang ada di dalam kamar. Dia menjatuhkan dirinya di sofa, tangannya dengan lihai menekan-nekan papan keyboard laptop. Hendak mencari tau bagaimana keadaan pemilik Oxley General.
Reza Eerste Oxley di nyatakan hilang.
Setelah terpilihnya Judika Dwi Hartanto sebagai pemegang sah dan resmi Hartanto grup, kabar mengejutkan kini datang dari mantan CEO Hartanto grup yakni Reza yang tiba-tiba menghilang.
Reza di temukan di Sisilia, Italia. Benarkah itu sosok Reza asli?
Seorang warga Italia menyakini jika Reza kini bersembunyi di pulau kecil di dekat laut Mediterania, Sisilia.
Stella ternganga membaca judul-judul artikel di internet yang memberitakan tentang Reza. Dia tak percaya, jika Reza bersembunyi dan tidak berani muncul ke permukaan untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi.
"Pecundang?" Gumam Stella.
Sadar dirinya tidak seharusnya mengatakan hal demikian kepada Reza. Dengan keras, dia memukul-mukul mulutnya beberapa kali. Mengerutuki mulutnya yang tanpa di rem mengatakan Reza seorang pencundang. Karena jauh di lubuk hati Stella, dirinya menyakini jika Reza pasti sedang memikirkan sesuatu untuk mengatasi apa yang terjadi.
Dan saat matanya masih sibuk menelusuri artikel-artikel yang memberitakan perihal masalah yang terjadi pada Oxley General. Stella berhenti dan terpaku dengan sebuah video berdurasi 1 menit yang di beri judul 'pimpinan Oxley General mati'.
Penasaran, dengan gemetar di meng-klik video tersebut dan memutarnya.
Video di mulai yang pertama-tama menunjukkan seorang paruhbaya yang di ketahui pimpinan baru Oxley General yang mengantikan Reza duduk dengan raut wajah tegang, gugup, dan pucat di depan kamera. Sesaat kemudian, seorang wanita cantik menghampirinya dan meletakan sebuah tas di atas meja. Kemudian, paruhbaya yang Stella kenal bernama Camillon itu memaksa senyum, berdehem dan merapihkan dasi biru dongkernya.
"You ready, Sir?" Seorang lelaki bertanya kepadanya di balik layar.
"Uhmm... Ya." jawabnya ragu.
"Baik, kita mulai..." Lelaki di balik layar itu mulai menghitung. Namun, anehnya bersamaan dengan lelaki itu menghitung mundur, sikap Camillon semakin menunjukkan keanehan.
"Five..."
Tangan berjari-jari panjang Camillon perlahan meraih tas yang ada di atas meja.
"Four..."
__ADS_1
Dia meletakan tas itu kini di pangkuannya.
"Three..."
Dengan wajah tegang, dan gerakan gemetar Camillon membuka resleting tas.
"Two..."
Sebuah benda yang nampak aneh keluar dari dalam tasnya.
"One."
Camillon menyembunyikan benda cukup besar itu di dalam sapu tangannya.
"Kami dari BBC menyiarkan langsung dari Oxley General. Bersama dengan kami, tuan Camillon Adam selaku pimpinan baru Oxley General. Mr.Camillon, apa ada boleh memberikan klarifikasi mengenai ledakan PLTN yang terjadi di beberapa negara maju? apa benar, Oxley General tidak di susupi dan masih dalam keadaan baik-baik saja?"
Camillon diam belum menanggapi. Jelas terlihat wajah gugup, bergemetar, dan pucat itu. Siapapun yang melihat isi rekaman video itu menyakini, jika Camillon sedang di bawa tekanan dari Oxley General saat ini.
"Mr.Adam, anda baik..."
"Oxley General sedang tidak baik-baik saja." Terdengar bisik-bisik terkejutan dari balik layar. "Kami sudah runtuh dan tidak tersisa."
Sekertaris perempuan tadi mendekat dan hendak memberikan kode kepada lelaki yang mewawancarai Camillon untuk menghentikan sesi wawancaranya.
Namun, tiba-tiba semua terhenyak saat Camillon mengeluarkan sepucuk pistol dari balik sapu tangannya dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri. Airmata telah membendung pelupuk pipi. Tangannya semakin bergetar hebat. Semua karyawan Oxley General yang berada di dalam ruangan yang hampir semuanya berdinding kaca mencoba membujuk Camillon untuk menurunkan senjatanya, tak terkecuali Sekertarisnya. Tetapi, Camillon tak terpengaruh. Dia justru semakin menempelkan pistol yang berlogo Oxley General itu di kepalanya.
"Aku telah berusaha sebaik mungkin. Kami tidak sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki otak normal."
Dor...
"Akh!"
Semua karyawan yang berada di dalam ruangan seketika berteriak histeris melihat aksi bunuh diri tiba-tiba Camillon. Sekertaris Camillon yang terdiri hanya tiga langkah dari kursi Camillon tak dapat berkata apapun, saat darah itu muncrat mengenai wajah hingga hells yang ia kenakan. Dan detik itu juga video pun berakhir.
"Oh, shit!" Stella mengumpat keras sambil menutup laptopnya dan meletakan laptop itu di atas meja.
Dia segera berdiri dan berjalan menuju balkon untuk menenangkan dirinya akibat video mengerikan tadi. Beberapa kali, dirinya menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Terus menghirup udara sebanyak-banyaknya, sampai merasa sesak di dadanya sedikit mengurang.
"Gila, gila, gila." Stella bergumam terus menerus dengan posisi tubuh membungkuk dengan kedua tangan terjulur mencengkeram sisi pembatas balkon yang terbuat dari besi ukir.
__ADS_1
Stella tak bisa lagi tinggal diam. Dirinya yakin, jika ledakan nuklir di beberapa kota bukanlah akhir serangan Anne. Segera dirinya bergegas meraih koper yang sudah berisikan pakaian di dalamnya. Tak lupa dia mengepak barang-barangnya di dalam sebuah ransel. Dia segera memakainya dan keluar dari dalam unit apartemen.
Tujuannya saat ini adalah ke Inggris. Mencari keberadaan Reza, untuk menjelaskan situasi sebenarnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Stella juga masih memikirkan tentang virus Friday 13 yang dia ciptakan. Dia sudah memberikan kode red kepada Wolf man, mengapa dia tidak merespon dan malah membiarkan Oxley General hancur? juga bug yang dia susupkan untuk mengurangi kerusakan yang di sebabkan virus Friday 13 mengapa juga tidak berfungsi?
Ini ada yang tidak beres. Pasti sesuatu ada yang merubah virus itu hingga membuatnya seganas ini. Frustasi, Stella hampir-hampir menendang jok mobil taksi online yang sedang dia naiki.
Saat tiba di bandara, Stella segera membeli tiket untuk tujuan Inggris. Sialnya, Inggris tidak menerima WNA tanpa surat-surat lengkap. Meskipun Stella sudah memberikan tes anti Covid kepada pihak maskapai, tetap saja dirinya di tolak untuk berangkat ke Inggris tanpa memiliki surat-surat lengkap tujuannya mengunjungi negara ratu Elizabeth itu.
Benar-benar frustasi Stella melangkahkan kaki meninggalkan loket pembelian tiket dengan kekecewaan. Dia duduk di terminal bandara. Menatap nanar ke arah sekeliling bandara yang sepi nyaris kosong. Stella mulai berkelana memikirkan caranya untuk dia sampai ke Inggris secepatnya.
Saat, dirinya masih terus mencari cara untuk berangkat ke Inggris, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
Michael.
Stella menurunkan tas ranselnya dan mencari ponsel miliknya. Namun, dia tersadar jika ponselnya hilang entah kemana saat Anne menculiknya. Tak habis akal, dirinya kembali ke loket pembelian tiket untuk meminjam telpon milik bandara.
Setelah mendapat izin, tanpa banyak basa-basi Stella menekan-nekan nomer telpon Michael dan berusaha untuk menghubungi lelaki itu.
Satu percobaan, Michel belum menjawab. Dua percobaan, Michael belum juga menjawab membuat Stella gemas setengah mati. Dirinya masih terus mencoba menghubungi Michael, hingga panggilan ke 10 barulah seseorang dari sebrang sana mengangkat telponnya.
"Halo, selamat siang?"
"Michael ini aku, Stella."
"Stella, kau darimana saja? Mengapa tiga hari ini tidak ada kabar?"
Stella menghembuskan napas sejenak, "aku akan menjelaskannya nanti. Michael aku ingin menanyai bagaimana status ku yang di kirim ke Inggris untuk bergabung dengan jurnalis kemanusiaan di sana."
Ragu Michael menjawab, "Stella Inggris sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan tentang Harry dan Meghan yang meninggal kerajaan Inggris tetapi O..."
"Aku tau Michael. Tapi aku tetap ingin berangkat. Aku mohon, biarkan aku berangkat."
Dengan berat hati, Michael pun berkata "baik. Tapi hingga masalah Oxley General berakhir kau akan di tempatkan menjadi jurnalis VOA. Mari kita bertemu untuk membicarakan keberangkatan mu."
TO BE CONTINUE...
**NP
Hello guys maaf ya baru menyapa...
__ADS_1
Guys aku mau tanya nih, seandainya Hello, Mr.mafia! pindah ke *** kalian setuju gak**?...