Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Salah tingkah


__ADS_3

"Reza tidak pernah bersikap seperti itu dengan wanita mana pun," ucap Mrs.Wheels saat memperlihatkan banyak dress cantik buatannya.


Stella hanya diam berdiri di depan cermin kamarnya. Pikirannya masih terusik dengan ucapan Reza. Hatinya teraduk-aduk pikirannya berkecamuk pada bayangan ucapan yang mengetuk hatinya. Bukan hanya Reza yang pertama kali melakukan itu kepada wanita, tetapi itu juga kali pertama untuk Stella di perlakuan seperti itu oleh lelaki. Ucapan Reza begitu menusuk hatinya. Bukan Stella tak menyukai ucapannya, justru dirinya merasa tertegun seperti mendapatkan perilaku istimewa dari seorang lelaki.


"Itu juga kali pertama ku mendapatkan perilaku seperti itu dari seorang lelaki."


Mendengar itu, Mrs.Wheels menghentikan aktivitasnya. Di letakkannya dress terakhir buatannya di atas ranjang. Berjalan menghampiri Stella dan menggenggam kedua bahunya.


"Are u ok, Dear?"


Kepala Stella mengangguk, matanya tiba-tiba menghangat. Buru-buru, dia menghapus air mata yang datang begitu cepat tanpa permisi. Masih dalam posisi yang sama, kini Mrs.Wheels mendekap tubuh Stella lembut mengusap kepala wanita itu bagaikan mengusap anak kandungnya sendiri. Penuh cinta dan kasih sayang.


"Kau tau, Mrs.Wheels, ini kali pertama untukku juga merasakan dekapan seorang ibu."


"Oh, Dear." Tanpa terasa Mrs.Wheels juga ikut larut dalam kesedihan Stella. Dia seperti merasakan beban besar seperti apa yang tengah wanita itu punggung hingga berakhir dalam sangkar mewah rumah ini.


"Di dunia ini, aku hanya menganggap dua orang spesial. Pertama ayahku yang hilang entah kemana, dan kedua Judika, adik Mr.Oxley yang selalu ada untukku, menjaga ku, dan mau melakukan apapun hanya demi wanita seperti ku..." Dia menjeda ucapannya sejenak. Membalas pelukan Mrs.Wheels dan kembali menghapus sisa jejak air mata yang menggenang di pelupuk pipi.


"Aku tau kau sudah menjalankan hidup penuh dengan luka, Dear. Aku berdoa dan berharap kepada tuhan, kalau kebahagiaan mu bersama dengan Reza. Karena bagaimana pun, kehidupan lampau yang kalian lalui sama-sama penuh luka. Dan kini saatnya kalian menebus kebagian atas apa yang sudah kalian lalui dulu. Tak ada salahnya kalian mencoba membuka hati kalian satu sama lain demi buah hati kalian yang akan lahir ke dunia."


Di pandanginya sejenak wajah Mrs.Wheels lekat-lekat. Hatinya yang semula gundah kembali menghangat. Mungkin benar apa yang di katakan Mrs.Wheels, tak ada salahnya Stella membuka hati untuk lelaki lain selain Judika. Toh bagaimana pula, anak di dalam kandungannya adalah darah daging Reza. Tak dapat di pungkiri pula, cepat atau lambat dirinya membutuhkan status yang lebih jelas.


"Aku akan mencobanya, Mrs. Wheels."


"Itu lebih baik, Dear." Sebuah senyum simpul terukir di wajah yang nyaris di tutupi keriput halus itu. Mrs.Wheels melepaskan pelukannya dan kembali memperlihatkan satu persatu dress rancangan tebaiknya.


"Bagaimana kau memakai ini?" Mrs.Wheels mengangkat satu dress Sheath yang terlihat ketat dan pasti akan memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Mantap, Stella yang sudah duduk di kursi rias menggelengkan kepalanya.


"Ok, uhmm bagaimana kalau ini?" Meletakkan kembali dress Sheath berwarna hijau army itu ke atas ranjang dan beralih mengangkat sebuah One shoulder dress berwarna hitam dengan bagian bahu terbuka.


Stella tersenyum geli sambil mengigit ibu jari dan telunjuknya.


"Mrs.Wheels, aku dan Reza akan pergi belanja bukan menghadiri acara pesta keluarga atau kolega."


"Lalu apa yang cocok untuk mu, ya?" gumam Mrs.Wheels, kembali meletakkan dressnya bersama setumpuk dress dan gaun rancangannya.


Penasaran dengan banyaknya dress dsn gaun yang di letakkan di atas ranjangnya, Stella berdiri dan mendekati Mrs.Wheels yang sedang tepekur memikirkan baju yang cocok di pakai Stella untuk kencan bersama Reza.


"Mrs.Wheels, boleh aku memilih sendiri baju yang ingin ku pakai?"

__ADS_1


"Course, Dear."


Di pandanginya satu persatu dress dan gaun yang di letakkan di atas ranjang tidurnya. Semua terlihat begitu cantik, indah, dan menawan. Tapi meskipun begitu, tak ada satupun dress yang cocok Stella gunakan hari ini. Kepalanya menggeleng menyerah, seperti hari ini dia akan memilih mengunakan setelan blazer kesayangannya saja. Karena semua dress Mrs.Wheels seperti di rancang khusus untuk menjadi dress pesta.


Namun, baru saja mulutnya hendak berkata ada maniknya menangkap ada satu dress cantik yang terselip di antara dress-dress mewah itu. Sebuah Maxi dress berwarna hijau tanpa lengan cantik yang membuat Stella memutuskan untuk memilih dia.


"Aku pilih ini." Dia mengambil Dress cantik itu dan memperlihatkannya kepada Mrs.Wheels.


"Oh, dear, pilihan yang bagus. Sebuah dress sederhana namun terlihat anggun untuk si pemakainya. Kau akan sangat cocok memakai itu."


Di lantai bawah, Reza duduk masih dengan secangkir kopi Irlandia kesukaannya. Menunggu, Stella yang tengah berganti pakaian dengan perasaan tak karuan.


Sekali selama tiga puluh tahun lebih dia hidup di dunia, baru hari ini dia begitu gugup akan melakukan kencan dengan seorang wanita. Seumur-umur, Reza tidak pernah merasakan apa itu kencan, pacaran, apa lagi wanita. Selama ini, jika Reza memerlukan wanita dirinya hanya tinggal menyuruh Jones membawakannya wanita. Tanpa perlu harus pendekatan, dan melakukan hal-hal yang dia katakan membuang waktu seperti kencan yang akan di lakukan sekarang.


Untuk menghilangkan rasa gugup yang menggebu di dada, Reza lebih memilih membuka ponselnya dan mencari di papan pencarian internet dengan kunci 'hal apa saja yang di lakukan lelaki saat kencan dengan seorang wanita'.


Banyak sekali artikel-artikel yang Reza temui. Satu persatu dia buka dan di baca. Namun keseluruhan artikel tersebut bukan membuat rasa gugupnya hilang atau minimal berkurang, tetapi justru makin bertambah parah.


Sial, bagaimana ini. Aku benar-benar belum pernah melakukan semua ini. Membelikan bunga, mengajaknya ke bioskop dan nonton film romantis sambil memegang tangannya. Ah, sungguh menjijikkan.


Kesal karena artikel yang menurutnya tidak bermutu, di lemparkannya ponsel itu ke sebelah sofa tempat ia duduk. Reza terus menahan gejolak di dalam dadanya yang semakin lama semakin bertambah parah.


Setelah lebih dari satu jam menunggu, akhirnya Stella turun dari kamarnya. Wanita itu berdiri tepat di hadapan Reza, dengan Maxi dress hijau yang dia pilih, di padukan dengan anting-anting cantik berwana senda, juga rambut indah yang di biarkan tergerai di belakang bahu.


"Aku sudah siap." Stella berkata pelan kepada Reza.


Namun Reza sama sekali tidak merespon. Matanya bahkan tidak berkedip sedikit pun dari Stella. Pandangan terpaku seperti tidak rela kehilangan pemandangan seindah itu barang sedetik saja.


Melihat Reza yang menatapnya begitu dalam, Stella merasa tak enak. Di pandanginya penampilan dirinya dari bawah kaki hingga atas kepala, mencari sesuatu keanehan yang mungkin saja menemukan sebuah alasan yang membuatnya Reza menatapnya selekat itu.


"Reza, apa penampilan ku aneh?" Tak menemukan jawaban, akhirnya Stella bertanya.


Reza menggeleng kepala cepat. Mengumpulkan kembali akal sehatnya yang baru saja menghilang entah kemana. Dalam hati, Reza menggerutuki keras-keras dirinya. Bagaimana bisa, dia sebodoh dan seidiot ini hanya karena melihat penampilan seorang wanita yang tengah mengandung anaknnya. Sungguh, perasaan sialan yang sukses membuatnya malu ketahuan memperhatikan dan mengagumi Stella.


"Tidak," Dia mati-matian bersikap dingin dan stay cool seperti biasanya. "Ayo kita pergi." Reza berdiri, dan langsung melengos begitu saja berjalan meninggalkan Stella.


Siap melangkah pergi mengikuti langkah kaki Reza. Tiba-tiba saja, langkahnya terhenti lagi, karena netranya menangkap ponsel Reza yang tertinggal di atas sofa. Stella segera mengambilnya dan hendak memberikan kepada lelaki itu. Namun, sebelum ponsel itu benar-benar ia berikan kepada Reza. Tiba-tiba saja, ponsel itu menyalah sendiri dan memperlihatkan papan pencarian internet yang baru saja Reza jelajahi.


Stella membacanya, dan menahan senyum yang tak bisa ia hindari ketika melihat isi papan pencarian internet yang baru Reza jelajahi. Tak di sangka diam-diam Reza belajar dan berniat membahagiakan dirinya. Tentu itu membuat hati Stella menghangat dan di susupi rasa bahagia di dalam dada.


"Apa kita akan pergi mengunakan kereta api menuju kota London?" Setelah memberikan ponsel itu kepada Reza, Stella bertanya dengan penuh antusias.

__ADS_1


"Jika kita pergi mengunakan kereta api, kita akan tiba di London saat sore hari." Melengos begitu saja, tanpa berminat menatap atau hanya sekedar melirik Stella sekejap.


Stella mendengus kesal. Ingin, dia menarik kembali kata-katanya tadi kepada Mrs.Wheels yang akan membuka hati untuk Reza. Lelaki itu begitu cuek, dingin, dan tak romantis. Ya, meskipun lucu karena ketahuan belajar kencan dengan Mr.Google.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju halaman depan yang sudah menunggu Rogers Rambo di sana. Saat masuk ke dalam helikopter mahal itu, Stella mengira jika pilot yang akan membawanya adalah Jones, tapi perkiraannya salah karena di dalam helikopter itu tak ada siapapun selain dirinya dan Reza. Membuat dirinya menduga, Reza-lah yang akan mengendarai helikopter itu seorang diri.


"Kau yang akan mengendarai ini?" tanya Stella sembari memasang sabuk pengaman.


"Kenapa? Apa kau meragukan diri ku?"


Dengan cepat Stella menggeleng. Memilih duduk dan mengunci mulutnya diam.


Perlahan baling-baling Rogers Rambo berputar, melayang dan terbang meninggalkan rumah itu pergi ke angkasa. Untuk kedua kalinya, Stella di buat takjub sekaligus haru karena dapat merasakan naik helikopter dan melihat betapa indahnya kota Inggris dari atas sana. Sekali dalam hidupnya, dia merasa bersyukur terikat dengan Mafia seperti Reza.


Tak sampai tiga puluh menit, Helikopter itu sampai dan mendarat dengan sempurna di sebuah helipad di atas rooftop hotel bintang lima London. Stella turun dari sana, setelah di bantu oleh Reza. Dan, ketika mereka keluar dari dalam hotel sebuah mobil Chevrolet Chevy Tahoe hitam. Stella berdecak, bahkan ternganga saking tidak percaya dirinya akan menaiki mobil semahal dan secanggih itu.


"Aku pernah melihat mobil ini di salah satu film Hollywood," katanya dengan ekspresi wajah penuh binar.


"Ya... Ya aku tau. Jones yang memilihkan mobil ini untukku. Katanya mobil ini terinspirasi dari film kesukaannya..."


"Marvel cinematic universe." Stella menimpali dan keduanya tertawa bersama.


Saat Stella akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba hati Reza tergerak sendiri untuk membukakan pintu mobil itu. Tentu hal itu membuat Stella terkejut bukan main. Dengan kikuk dan canggung serta menggerutuki dirinya sendiri, Reza mempersilahkan Stella masuk.


"Thank you," gumam Stella pelan nyaris tak terdengar.


Reza kembali menutup pintu mobil dan meninju angin kuat-kuat. Bodoh, umatnya dalam hati. Seperti sebuah sihir tulisan artikel yang tadi ia baca tiba-tiba saja muncul di dalam benaknya, spontan menggerakkan hati dan sendi-sendi tubuhnya untuk melakukan hal yang terlihat aneh dan mustahil untuk dia lakukan seumur hidup.


Sebelum dirinya masuk ke dalam mobil, Reza berusaha untuk mensugestikan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh dan aneh seperti tadi. Hari ini, dia hanya akan mengajak Stella berbelanja, membuat wanita itu bahagia sebelum menangkap Anne hari esok. Berkali-kali, Reza menghela napas, menggosok-gosok kedua tangannya.


"Kau siap?" tanya Reza kepada Stella saat dia sudah berada di belakang setir.


"Ya."


"Ok, mari kita belanja."


Pipi Stella merona menahan malu dan rasa bahagia yang meluap di dada bersamaan dengan mobil yang berjalan pelan memecah kota London siang itu. Dalam hati, baik Stella maupun Reza sama-sama tak memungkiri jika keduanya merasa nyaman satu sama lain. Semoga, Reza dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik hingga membuat Stella percaya kalau dia adalah kebahagiaan untuknya, seperti apa yang dikatakan oleh Mrs.Wheels.


Bonus pict foto penampilan Stella yang mau di ajak belanja sama Reza.


__ADS_1


Dan jangan lupa mampir ke cerita sebelah sekuel dari cerita Hello, Mr. Mafia!



__ADS_2