Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Keributan Kecil


__ADS_3

Sejujurnya baik Reza maupun Stella masih sama-sama belum mempercayai satu sama lain. Mengingat bagaimana sepak terjang Stella yang berusaha menjual data pribadi Reza kepada adiknya sendiri meskipun kini dirinya tau alasan di balik perbuatan Stella sebenarnya. Juga sifat Reza yang dominan, yang Stella ketahui juga memilik kelainan sadisme yang membuatnya kerap kali takut kalau-kalau Reza menerkam dirinya secara tiba-tiba.


Namun, meski begitu mereka berdua berusaha mengenyahkan pikiran negatif itu karena adanya satu nyawa yang tidak bersalah kini bersemayam di janin Stella. Walau dikenal kejam, mafia berdarah dingin, Reza juga memiliki hati nurani. Dirinya tidak mungkin menyakiti atau bahkan sampai membunuh darah dagingnya sendiri.


"Apa maksudmu?" tanya Stella tak mengerti.


"Tinggal bersama ku sampai anak ini lahir."


Tidak mungkin.


Stella menganga tidak percaya dengan ucapan Reza.


"Tidak! Itu tidak mungkin."


"Kenapa? apa yang salah?" tanya Reza. Dia terlihat sedikit terkejut dengan penolakan Stella.


"Kau kasar, suka menyiksa wanita aku takut tiba-tiba suatu malam kau datang menghampiri ku dan mengikatku lalu menyiksaku seperti hewan."


Mendengar perkataan Stella, Reza berdecak. Dirinya terkejut bukan main. Bagaimana wanita ini bisa berkata demikian tentang dirinya. Sialan.


"Kau mau mati, ya?" Geram Reza mengepal kedua tangan.


Melihat Reza mengepal kedua tangan sambil menujukan wajah emosi, seketika itu juga Stella beringsut menjauh dari Reza. Mengusap perutnya sambil menatap Reza dengan tatapan berkaca-kaca.


Reza tau, hal itu membuat Stella merasa takut. Dia pun berusaha untuk tetap tenang dan menahan emosinya. Karena bagaimana juga, dirinya tidak mungkin membiarkan wanita yang sedang mengandung anaknya hidup terlunta-lunta di jalanan sendiri. Reza harus sedikit merendahkan harga dirinya untuk membujuk Stella tinggal bersamanya di rumah pribadi miliknya.


"Maafkan aku." Bisiknya menyesal. "Aku hanya ingin memastikan anak ku baik-baik saja."


"Kau ternyata memiliki hati juga, Mr. Oxley." Seru Stella jujur.


Lagi-lagi Reza harus bersabar mendengar ucapan menyebalkan Stella tentang dirinya. Tak pernah dia sangka, wanita itu bukan hanya pintar dalam urusan dunia Cyber tapi juga pintar dalam bersilat lidah.


"Kau juga ternyata pintar bersilat lidah, Nadila. Aku pikir kau wanita anti mainstream yang tidak suka orang-orang, introvert, dan anti sosial. Ternyata aku salah."


Stella mengembangkan senyumnya. "kau tau apa impian ku, Mr. Oxley?"


"Menjadi jurnalis."


Plak...


Reza meringis saat tiba-tiba Stella memukul lengannya cukup kencang.


"Itu cita-cita ku. Aku ini bermimpi ingin menjadi Natasya romanoff. Makanya aku melatih diri memiliki dua kepribadian ganda."


"Cih," Reza tersenyum kecut mendengar ucapan absurd Stella. "Daripada kau bermimpi menjadi anggota Avenger lebih baik kau membantuku mencari Chris dan lainnya. Ini juga sebagai pembuktian kalau kau memang ada di pihak ku."


"Pembuktian apa?"


Mata Reza membelalak, kesal Reza hanya mampu mengusap wajahnya kasar. Entah mengapa, Stella menjadi seribu kali lipat menyebalkan dari terakhir dirinya bertemu. Entah itu karena bawaan bayi yang ada di kandungnya, atau memang seperti itulah sifat aslinya.


"Kau masih bertanya pembuktian untuk apa, huh? Setelah apa yang terjadi kepadaku dan perusahaan ku?"


Tak menjawab Stella hanya menatap jari-jari tangannya sambil mengerucutkan bibir.


"Jangan lakukan itu!" Seru Reza tiba-tiba.


Stella pun mendongakkan kepala menatap Reza heran.


"Apa?"


"Memasang wajah memelas seperti itu. Jika sekali lagi kau melakukannya, aku ku kunci kau di ruang bawah tanah kastil bersama makam para tahanan ku dulu." Kembalikan tubuh dan berjalan.


Di kenakannya syal berwarna hitam erat-erat dan menghambur mengikuti langkah kaki Reza yang berjalan turun meninggalkan kastil.

__ADS_1


"Apa ini milikmu? Aku pernah membaca satu artikel dulu ini bukan sebuah kastil melainkan bentengbenteng, benarkah? Bagaimana caranya kau membeli kasti sebesar ini? Apa harganya mahal? Betapa juta pounds..."


Gemas dengan celotehan Stella yang tiada henti, Reza menghentikan langkahnya yang mana membuat Stella yang berjalan di belakangnya tentu menabrak tubuh kelarnya.


"Akh!" Pekik Stella ketika kepalanya terbentur bahu Reza. "Bisa tidak kalau mau berhenti pakai rem? Sakit tau!" Mengusap-usap keningnya yang terasa sakit.


Reza memutar tubuhnya menghadap ke arah Stella. Masih dengan posisi mengusap-usap kening Stella mendongakkan kepala menatap Reza yang sudah memperhatikannya dengan tatapan datar dan dingin. Melihat hal itu, segera Stella memalingkan wajahnya. Mengigit bibir bawahannya dan mengerutuki dirinya sendiri.


Ada apa sih dengan hormon ku? kenapa tiba-tiba aku menjadi cerewet seperti ini kepadanya? Tapi sungguh aku benar-benar tidak bisa mengontrol ucapan ku jika berada di dekatnya.


"Sudah bicaranya?"


"Eh..."


"Kau benar-benar berisik seperti kecoa. Jika kau melakukan itu lagi di dekatku, akan ku suruh Jones membuat jarak antara kita. Mengerti?" Bentak Reza tiba-tiba.


"Mengerti."


"Good." Kembali melanjutkan langkahnya, namun terlihat sebuah senyum smirk terlihat di wajahnya.


Mereka keluar dari dalam kastil untuk menuju ke halaman kastil yang sudah berada Jones dan beberapa bodyguard lainnya menunggu mereka.


Namun, di antara semua orang yang berada di sana hanya satu sosok yang amat begitu mengganggu pikiran Stella. Sosok itu tak lain dan tak bukan pria yang tadi Stella lihat berdiri di sebelah Reza dengan jaket tebal panjangnya, sarung tangan kulit, dan topi koboi. Sambil terus berjalan di belakang Reza, mata Stella menyipit memperhatikan lebih jelas siapa pria yang nampak tak asing baginya itu.


"Siapa dia?"


Reza menoleh kearah Stella sekejap. "Siapa apa?"


"Pria bertopi koboi itu?"


"Kau akan segera mengetahuinya."


Ketika mereka sampai di halaman kastil, Stella tetao berdiri di belakang Reza dan tak berniat untuk menghambur bergabung dengan para lelaki berbadan kekar dan berwajah garang itu.


Dari balik punggung lebar Reza, secara sembunyi-sembunyi Stella juga berusaha melihat lelaki berjaket tebal itu yang kini tengah berdiri di sebelah Jones. Sial namun baginya karena wajah sang lelaki tak dapat terlihat karena tertutup topi koboi yang ia kenakan. Membuat Stella mendengus kesal, sambil mengepal tangan menahan rasa penasarannya.


Mata Stella melirik cepat mendengar perkataan Reza. Sungguh, dia tidak mengerti maksud ucapan Reza. Seseorang yang dia kenal, siapa? pria yang tengah berdiri di samping Jones yang berhasil menganggu pikirannya?


Penasaran, Stella keluar dari balik bahu Reza dan berdiri mensejajarkan diri dengan Reza. Pandangan matanya masih lekat tertuju kepada lelaki itu, mencoba memastikan dengan jelas siapa lelaki yang berada di sebelah Jones.


"Apa kita pernah bertemu?" Stella beratnya kepada lelaki yang kini berdiri tepat di hadapannya.


Di balik topi koboi itu, lelaki itu tersenyum kecut sambil berdengus kencang. Tangannya terjulur memegang puncak topi koboinya. Dalam hitungan detik itu juga, tiba-tiba topi itu melayang. Terbuka dan langsung menampakkan sesosok pria paru baya dengan kondisi wajah penuh dengan luka. Bahkan sampai-sampai separuh wajahnya cacat dan hancur tak dikenali


Tentu hal itu membuat Stella membelalakan mata terkejut melihat kondisi wajah lelaki itu yang amat sangat memperhatikan. Namun, nyatanya bukan karena itu Stella terbelalak kaget. Bukan perihal wajah cacat tak dikenali milik lelaki itu yang membuat Stella terkejut, melainkan sosok sebenarnya dari lelaki itu. Lelaki yang amat sangat Stella kenal selama ini. Lelaki yang beberapa tahun lalu ia panggil dengan sebutan Ayah. Tentu bukanlah ayah kandung, karena tidaklah mungkin seorang ayah kandung tega mencuci otak anaknya sendiri dan melecehkan dirinya ketika masih berusia 12 tahun.


"Abraham." Gumam Stella tak percaya melihat sosok di hadapannya.


Lelaki yang namanya di sebutkan itu tersenyum sangat mengerikan kepada stella. Sebelah wajahnya mengerut, ketika bibir tersungging memberikan jejak menakutkan. Terlihat dengan jelas daging-daging yang baru tumbuh di sebelah wajahnya nampak membuatnya seperti seorang monster berhujud manusia.


"Hai sweety."


Stella mundur beberapa langkah, mencoba menjauh dari sosok Abraham. Namun, sayangnya langkahnya tak bisa lebih jauh lagi karena tiba-tiba saja sebuah tangan mencekalnya dengan sangat kasar. Stella tersadar, melirik tangan kekar itu sebelum kemudian beralih melihat siapa pemilik tangan kekar yang berusaha menahannya.


"Apa yang kau rencanakan kepada ku?" Mata Stella berkaca-kaca menatap Reza. "Kau akan memberikan aku kepada dia?"


Reza diam tak menjawab. Dia bergeming dengan posisi tangan yang masih mengenggam lengan Stella dan tatapan wajah datar dan dingin mengerikan.


"Lepaskan aku! Kau benar-benar lelaki jahat." Stella mengangkat tangan yang di cekal Reza setinggi-tingginya. Berusaha memberontak dan melepaskan diri dari sana.


Dia sungguh tak akan pernah mau percaya lagi kepada Reza. Tidak akan pernah! Dengan apa yang baru saha Reza lakukan. Berkerja sama dengan musuh bebuyutan Stella.


"Lepas! Kau jahat, kau kejam. Kau berjanji akan melindungi anak mu, tapi kau malah bekerjasama dengan ketua Cyberfriend." Stella berteriak. Meronta-ronta terus memaksa diri lepas dari jerat tangan Reza.

__ADS_1


Hatinya amat begitu sakit sekali. Setelah dia berusaha percaya kepada Reza dan mau menimbang-nimbang tawaran tempat tinggal gratis dari Reza, kini Stella mendapatkan fakta baru jika Reza benar-benar bekerjasama dengan Cyberfriend. Orang-orang yang amat sangat Stella benci dan hindari di muka bumi.


"Kau berjanji akan memberikan wanita ini kepada ku, Mr. Oxley." Suara bariton milik Abraham terdengar. Membuat Stella seketika menghentikan aktivitas.


Mata Stella melirik Reza dengan tatapan shock, marah dan penuh penghakiman. Sungguh, Stella benar-benar tidak percaya Reza tega melakukan itu kepadanya. Menyerahkan dirinya kembali kepada Cyberfriend. Tidak peduli, jika dirinya kini sedang mengandung anaknya. Buah hatinya.


"Kau..." Stella tak dapat melanjutkan ucapannya. Lidahnya tiba-tiba saja terasa begitu keluh, tenggorokannya kering hingga tak mampu mengeluarkan suara. Dirinya benar-benar terluka, dan sakit hati dengan sikap Reza yang plinplan seperti ini.


"Hei, dengarkan aku." Reza menarik lengan Stella agar tubuh wanita itu lebih mendekat kepadanya. "Kau salah paham, Nadila."


"jangan panggil aku dengan nama itu. Aku tidak suka," ucap Stella dengan nada suara yang begitu tinggi.


"Oke... Oke." Reza mengangkat kedua tangannya tanda mengerti dan menyerah. "Maafkan aku."


Mendengarkan permintaan maaf Reza, Jones sedikit tertegun melihatnya. Bagaimana tidak, lelaki yang dikenal kasar, angkuh, sombong kepada semua wanita takluk dengan kekasih adiknya sendiri. Diam-diam, Jones berselebrasi sambil tersenyum penuh kemenangan. Karena tebakannya selama ini benar tentang Reza yang diam-diam menyukai nona jurnalis itu.


"Kau salah paham, Stella." Reza melanjutkan ucapannya. "Aku memang bekerjasama dengan Abraham untuk menangkap mu, tetapi tak ada satu ucapan ku yang menyebutkan jika aku akan menyerahkan mu kepadanya. Aku hanya menggunakan dia untuk mengancammu. Jaga-jaga kalau-kalau kau malah ternyata berpihak kepada Esocial."


"Aku tidak percaya pada mu."


"Aku juga tidak percaya denganmu, setelah apa yang selama ini kau lakukan kepadamu." Menghela napas frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.


Stella tak menjawab pandangan wanita itu terus tertuju kepada lelaki di hadapannya. Takut, ngeri, dan marah kini menyelubungi dirinya. Seumur hidupnya Stella berusaha untuk menjauhi lelaki yang telah mengambil segalanya dirinya. Namun, hari ini ketika dirinya mulai percaya dengan satu orang, orang tersebut justru membawanya kepada lelaki itu.


Stella benar-benar terpukul, kesal, dan kecewa amat kecewa. Sekuat tenaga Stella berusaha melepaskan cekalan tangan Reza dan berlari dari sana. Dirinya tak mau berada dan berbagi oksigen dengan lelaki yang amat dia hindari dari muka bumi ini.


Berlari sambil menangis, Stella keluar dari kastil. Reza tak mencegahnya, atau pun mengejarnya. Dirinya malah terdiam sambil menatap Abraham dengan wajah geram menahan marah. Tangannya pun terkepal kuat-kuat dan berkata


"Apa maksudmu berkata seperti itu, huh?"


Abraham terkekeh. "Apa sekarang seorang Casanova seperti kau menyukai wanita jal*ng sepertinya?"


Kepalan tangan Reza semakin kuat. Dirinya tak amat tak terima dengan ucapan yang katakan oleh Abraham. Dia pun maju beberapa langkah. Mendongakkan kepala dan berbisik di telinga Abraham.


"Kau tau kastil ini dulu di fungsikan sebagai apa?"


Kepala Abraham menoleh sedikit kearah Reza.


"Jika kau berani menyentuh Stella tanpa ijin ku, akan ku buat kau merasakan tragedi mengerikan yang terjadi di kastil ini."


"Kau takkan pernah bisa mengancam ku. Bagaimana pun caranya aku akan membalaskan dendam ku kepada wanita itu."


Reza tersenyum. "Boleh saja. Silahkan. Tapi harus ku ingat satu ujung rambut saja kau menyentuh Stella ku, maka 5 nyawa dalam anggota keluarga mu akan menjadi pegantinya."


"Kau..."


Reza kembali memundurkan tubuhnya, kini pandangan teralih menatap Jones yang sedaritadi diam dengan pandangan wajah binggung bercampur keinginan tahuan.


"Jones, tolong persiapkan segala keperluan tuan Abraham disini. Beri dia fasilitas lengkap sampai dia menemuka Chris dan komplotannya."


"Yes, sir."


"Jika dirinya telah berhasil, kirim dia kembali ke Indonesia dan pastikan dirinya tak bisa menginjakkan kaki lagi ke dataran Britania lainnya."


Bersambung...


Pengumuman


Hai semua semoga masih setia membaca Hello, Mr. Mafia!


Alhamdulillah sebentar lagi umat muslim akan menyambut bulan suci ramadhan. Untuk memeriahkan bulan suci ramadhan Author akan mengadakan Giveaway.


Caranya gampang, kalian hanya tinggal Vote dan beri komentar Semenarik mungkin pada cerita Hello, Mr.Mafia! Pemenang yang beruntung akan Author pilih secara langsung dan berhak mendapatkan hadiah pulsa sebesar 25k untuk 2 orang pemenang.

__ADS_1


Pengumuman pemenang giveaway akan author umumkan di grup pada tanggal 12 April.


Yang belum masuk GC dan mau ikutan yuk masuk dulu.


__ADS_2