
Suara gemuruh helikopter terdengar mendarat di helipad kastil. Beberapa bodyguard terlatih seketika berkerumun menyambut kedatangan Reza. Jones turun dari helikopter yang di susul Reza sambil berjalan membetulkan setelan jas yang nampak kancingnya terbuka.
"Bagaimana keadaan jurnalis itu?" Jones bertanya kepada salah satu bodyguard.
"Dia belum sadarkan diri tuan."
"Aku tak ingin dia mati terlalu cepat," seru Reza tiba-tiba masih dengan berjalan tanpa berniat menoleh sedikitpun kearah Jones dan bodyguardnya.
Reza berjalan memasuki kastel, diikuti oleh orang-orang terlatihnya dan juga Jones.
Saat tiba di ruangan di mana Stella di sekap, dua penjaga yang semula menaikan senjata dan memasang wajah garang menyeramkan kini melunak. Menurunkan senapan laras panjang buatan Oxley general dan memasang wajah hormat kepada Reza.
"Buka pintunya." Titah Jones dengan nada sedikit meninggi.
Mendengar suara dari luar, Stella yang semula sudah tersadar dari pingsannya malah kembali memejamkan matanya dan pura-pura pingsan lagi. Tentu itu dia lakukan bukan tanpa sebab. Dirinya takut jika yang datang dan masuk ke dalam untuk menemuinya bukan Reza melainkan Abraham lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah ketua Cyberfriend. Takut? Jelas tentu. Lebih-lebih bayangan akan kejadian penangkapan Abraham dulu tersimpan rapih di otak Stella yang terkadang terputar begitu saja tanpa di suruh oleh Stella.
Saat pintu terbuka, Stella sudah kembali memejamkan matanya. Menundukkan kepalanya hingga rambut-rambut panjangnya di biarkan menjuntai menutupi wajahnya. Dalam posisi seperti ini, dirinya dapat leluasa mengintip siapa saja yang datang, dan apa saja yang sedang mereka lakukan tanpa ketahuan apalagi perlu bersitatap secara langsung kepada mereka.
Tubuh Stella bergetar hebat, ketika netranya menangkap sosok Reza samar-samar masuk ke dalam ruangan. Lelaki itu langsung menyeret kursi kayu yang berada di dekat pintu, membawanya tepat di ke hadapan Stella.
Dalam posisi sama, Stella berusaha melihat ke arah pintu masuk lagi siapa yang akan masuk ke dalam setelah Reza. Namun, karena matanya yang tidak mungkin ia buka sempurna membuat pandangan tidak terlalu jelas.
Sial! Kenapa aku tidak melihat siapapun lagi sih yang masuk. Dan mengapa mereka semua hanya berdiri sambil berbicara satu sama lain tanpa masuk ke dalam sini?
Pintu kembali tertutup dan kini mengisahkan Reza dan Stella berdua di dalam ruangan. Degup jantung Stella berdebar begitu keras, keringat kembali mengucur membasahi tubuhnya. Dirinya tak tahu apa yang sedang di lakukan lelaki itu dan apa yang akan di lakukan lelaki itu kepada dirinya. Stella takut, benar-benar takut terlebih setelah melihat sendiri Reza merekrut Abraham.
"Aku sudah cukup sabar menghadapi mu, Stella."
Stella masih tetap bungkam dan pura-pura pingsan.
Tap... Tap... Tap
Suara derap langkah Reza terdengar. Lelaki itu berjalan mondar mandir dengan kedua tangan di masukkan kedalam kantung celana.
"Kau tidak ingin memberi pembelaan mu, Nadila?"
Kenapa dengan lelaki ini? Sudah jelas-jelas aku ini pingsan masa dia tidak menyadarinya.
Reza menghela napas kesal. Menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Stella.
"Kau masih mau berpura-pura pingsan seperti ini, Stella?... "
Bergeming, Stella masih tetap pada pendiriannya untuk bungkam dan pura-pura pingsan.
Namun, tiba-tiba tanpa dia ketahui sebuah tangan dengan kasar mencengkram rambut panjang. Menarik rambut hitamnya hingga membuat Stella mendongakkan kepala dan meringis kesakitan.
"Akh!!" Matanya mendelik sempurna melihat Reza.
__ADS_1
Reza menyeringai duduk di kursi sambil tetap mencengkram rambut panjang milik Stella.
"Kau masih berani berbohong kepada ku, Stella?"
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Reza." Akhirnya setelah sekian lama, Stella dapat juga mengeluarkan perkataan kepada Reza.
"Kau sudah berani bermain-main denganku." Reza semakin kasar menarik dan mencengkram rambut Stella. Stella bahkan merasakan perih yang amat sangat di kulit rambutnya hingga membuat buliran air mata luruh membasahi pelupuk pipi.
"Aku di paksa. Aku di ancam, keluarga ku di ancam begitu juga dengan kau..."
Plak...
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Stella. Stella bungkam menahan rasa perih yang seketika menjalar pada pipinya. Tetasan darah kemudian terlihat, seiring dengan hatinya yang begitu hancur porak-poranda karena perbuatan Reza yang begitu kasar kepadanya.
"Kau masih mau mengelak, huh? Setelah apa yang kau perbuat dengan Chris?"
Deg...
Darimana dia tau Chris juga dalang dari semua ini? Jika dirinya mengetahui Chris, apa mungkin dia juga tau tentang...
"Jalang sialan!"
Tubuh Stella bergetar hebat saat gendang telinganya mendengar umpatan kasar dari Reza untuk dirinya. Entah mengapa, Stella merasa begitu sakit hati mendengar perkataan Reza barusan. Hatinya sakir, perih dan terluka. Hingga airmata pun tak dapat dia tahan untuk jatuh membasahi pelupuk pipi.
"Kau akan ku eksekusi, Nadila. Berharap kematian akan cepat mendatangi disini." Membalikkan tubuh bersiap meninggalkan ruangan itu.
"Setelah itu selamanya kau tidak akan pernah menemukan siapa sebenarnya dalang di balik semua kejadian yang sedang menimpa perusahaan mu. Bunuh aku sekarang dan kau akan menyesal karena telah membunuh darah daging mu sendiri."
Seketika Reza kembali membalikkan badannya dan menghambur mencengkram kedua bahu Stella. Pandangan mereka saling bertemu, Reza begitu lekat menatap Stella sedangkan Stella berkaca-kaca menatap wajah laki-laki yang selalu fotonya ia pandangi setiap saat.
"Kau mau mempermainkan ku lagi, Stella?"
"Aku tidak pernah mempermainkan mu, Reza. Aku benar-benar hamil. Aku sedang hamil anak mu!" Teriak Stella begitu lantang membuat tubuh Reza bergetar hebat.
"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin." Reza begitu shock mendengar pernyataan Stella yang tiba-tiba. Dirinya tidak percaya akan ucapan Stella yang mengatakan dirinya sedang hamil anak dia.
"Kau pikir aku bercanda? Kau pikir aku percaya dengan apa yang aku alami?"
Bungkam, Reza tak dapat menjawab apa pun. Tubuh lelaki itu lemas seketika mendengar ucapan Stella. Dia begitu amat Shock, bahkan saking shock dirinya tak menyadari jika kini dia telah tersungkur jatuh ke tanah.
"Bunuh aku. Dan kau akan kehilangan darah daging mu sendiri. Siksa aku maka anakmu juga yang akan ikut merasakan derita."
"Kenapa kau melakukan ini, Stella?"
Kening Stella mengernyit binggung dengan ucapan Reza.
"Mengapa kau berani bermain-main dengan ku? katakan sejujurnya, apa alasanmu?" Reza bertanya dengan tatapan mata memandang Stella penuh dengan ketulusan. Tak ada dendam, amarah, atau lainnya di mata lelaki itu. Stella merasakan ketulusan yang sama seperti dirinya memandangi Judika sang adiknya.
__ADS_1
"A... Aku hanya ingin kehidupan ku yang dulu, normal tanpa adanya orang-orang yang mengejar ku. Aku ingin merasakan kehidupan bahagia seperti orang normal lainnya. Memilih sesuatu dan jalan hidup sesuai kehendakku sendiri."
Reza bangkit, berjalan dan membuka tali yang menjerat tubuh Stella. Meraih tangan Stella untuk dia genggam dan mengajaknya untuk menuju puncak kastil.
"Kebebasan seperti apa yang kau inginkan, Stella?"
Stella duduk di sebuah bangku panjang yang berada di puncak kastil. Dari atas sana dirinya dapat melihat dengan jelas keindahan alam di kota Manchester lebih leluasa. Indah dan sejuk, sesekali dirinya bahkan menghirup udara dalam-dalam sambil menatap hamparan bukit, rumah-rumah yang terlihat dari atas sana.
"Seperti ini," jawabnya tanpa berniat menoleh untuk menatap Reza yang duduk di sebelahnya.
"Hidupku sudah cukup menderita, Mr. Oxley. Dijual oleh ibu kandung ku sendiri kepada jaringan kriminal internasional. Bukan hanya itu, setelah di jual aku harus menjalankan kehidupan ku seperti sebuah program atau sistem yang di kendalikan oleh orang lain. Aku seperti sebuah wayang yang semua kisah hidupnya di tentukan oleh dalang."
Reza mengangguk sedikit, pandangan keduanya kembali bertemu. Tatapan mata hijau milik Reza menahan Stella. Rasanya begitu mengerikan, tetapi Stella tak ingin berpaling darinya. Terpesona.
"Sejak usiaku kecil aku sudah di program untuk menjadi cyber oleh mereka (Cyberfriend). Bukan hanya itu, di usiaku ke 12 mereka bahkan memaksa kehendak mereka atas tubuhku. Mengambil apa yang seharusnya menjadi milik suamiku. Katakan kepada ku apa salah aku memberontak? Ingin terbebas dari belenggu penjara menyakitkan itu? Aku memenjarakan mereka, memberi hukuman kepada mereka agar mereka jera. Namun, sebelum mereka semua benar-benar di hukum ketua dari mereka berkata kepadaku setelah mereka semua bebas tidak akan pernah di biarkannya aku hidup bebas berkeliaran di dunia. Katakan padaku Mr. Oxley apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mempunyai pilihan lain. Sudah sangat lama aku tidak melakukan kejahatan Cyber, aku tau meretas sistem mu adalah hal yang salah, tapi aku benar-benar tidak punya pilihan untuk hidup dan masa depanku. Aku sudah bersusah payah untuk mendapatkan kebebasan ku, apa setelah lima tahun semua usahaku sia-sia begitu saja dengan kembalinya aku tertangkap oleh mereka?"
"Lalu kau ingin apa dariku?" tanya Reza dengan suara lembut tapi dingin kepada Stella.
Kepala Stella menggeleng. "Tidak!" Dia tau arti pertanyaan Reza. "Tolong jangan jadikan kehamilan ku beban pikiran mu. Aku akan baik-baik saja. Dengan tinggal di negara bebas, itu sudah cukup bagiku untuk membesarkan anak ini seorang diri tanpa cemoohan dari orang lain seperti di Indonesia yang kental akan tradisi dan budaya. Aku mohon tolong jangan bebankan pikiran mu aku bisa merawat anak ini seorang..."
"Siapa yang menyuruh mu untuk melakukan itu?"
TO BE CONTINUE...
Epilog
Malam sebelum jumpa pers Reza berlangsung...
Setelah makan malam berlangsung, Stella tanpa permisi meninggalkan meja makan begitu saja dengan setumpuk nasi yang masih utuh di piringnya. Dia menghambur masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi di dalam perutnya.
Rasa mual yang tak bisa dia tahan begitu mengocok perutnya. Berbagai cara telah dia lakukan untuk mengatasi rasa mual yang dia pikir hanya masuk angin semata.
Paginya setelah bangun tidur, lagi-lagi Stella merasakan mual yang amat mendera menghampirinya. Mual itu pun di barengi dengan indra penciumannya yang tiba-tiba amat begitu peka mencium sesuatu di sekelilingnya. Bau masakan yang bercampur segala jenis parfum menjadi rasa mual yang dia rasakan semakin menjadi-jadi. Stella amat binggung dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
Apa aku positif covid? tapi tidak mungkin ah... Seharusnya jika aku positif aku tidak mungkin dapat mencium segala jenis bau-bauan. Aku justru amat peka terhadap bau. Suhu badanku memang panas nyaris demam, tapi pilek dan mata memerah pun tidak aku rasakan.
Saat dirinya sedang bermonolog di dalam hati, tiba-tiba saja dirinya tersadar akan sesuatu.
Ya tuhan aku telat datang bulan!
Tanpa basa-basi Stella langsung mengambil satu buah testpack yang di sediakan bersama dengan perlengkapan P3K lainnya. Segera, Stella mengetes dengan alat tersebut.
Sambil berharap cemas, Stella menunggu hasil testpack itu keluar. Dia mondar mandir di kamarnya sambil berharap hasil testpack itu menunjukkan garis satu alias negatif. Namun, betapa terkejut dirinya saat testpack yang baru saja ia gunakan malah menunjukkan garis dua yang mana artinya dirinya kini positif hamil. Stella tersungkur, menabrak kursi kerjanya saking terkejut melihat hasil testpack di tangannya.
Gila! Gak mungkin... Gak mungkin gue hamil anak Reza. Ini gila!
__ADS_1
Reza Eerste Oxley