Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 99


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


Kirana sudah selesai memasukan semua pakainya kedalam koper termasuk pakaian sang suami juga, hari ini mereka ingin pindah kerumah baru mereka yang telah selesai dalam tahan pembangunan. Kirana sangat bahagia karena rumah yang akan mereka tempati sekarang lebih besar dari tempat tinggal sekarang bukan berarti tinggal di klinik ini dirinya tak bersyukur, hanya saja disana tempat-tempat seperti pasar tradisional, mall, masjid, hotel serta yang lain sangat dekat.


Tidak seperti tempat tinggal sekarang yang sangat jauh dari tempat-tempat seperti itu, yang membuat Kirana semakin bahagia ya dirinya akan selalu bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya kapanpun dirinya mau. Selesai semuanya Kirana meletakan kopernya dan koper milik sang suami di ruang depan, sebelum pergi dirinya memeriksa kembali barang-barang miliknya takut ada yang ketinggalan.


Meski klinik ini milik sang suami dan bisa saja dirinya mengambil jika ada barang yang ketinggalan tetap saja harus terbiasa dengan kedisiplinan, jika kita selalu disiplin dalam segala hal insyaallah semua akan lebih baik. Kirana duduk diruang depan sembari menunggu sang suami yang sedang memasukan koper serta beberapa barang ke bagasi mobil, selagi menunggu sang suami Kirana bermain hp sejenak ingin tau berita hari ini disosial media.


"Sayang, ayo kita berangkat" ujar Dokter Perdi di depan pintu masuk klinik


"Ohh iya sayang" jawab Kirana sembari beranjak dari duduknya


Kirana berjalan menghampiri sang suami yang sudah didepan, setelah Kirana keluar Dokter Perdi menutup serta mengunci kliniknya. Mungkin minggu depan Dokter Perdi bisa membuka kliniknya lagi karena saat ini dirinya juga ingin menikmati rumah baru mereka, Dokter Perdi menyusul sang istri yang sudah masuk dalam mobil. Kirana duduk dikursi sebelah pengemudi, sedangkan Dokter Perdi dikursi pengemudi.


Mobil pun mulai dilajukan Dokter Perdi dengan kecepatan sedang meninggalkan kliniknya, Dokter Perdi tak menyangkah kini rezekinya semakin lancar setelah menikah. Meskipun dirinya memang dari keluarga kaya raya tapi semenjak lulus kuliah, dirinya tak pernah lagi yang namanya minta uang dengan kedua orang tuanya walaupun Ayahnya sudah membagi harta warisan untuk anak-anaknya tetap Dokter Perdi belum mau menerima karena baginya selagi dirinya masih mampu mencari uang sendiri buat apa harta warisan.


Kemungkinan harta warisan itu akan diberikannya dengan keturunannya nanti, dirinya masih ingat bagaimana perjuangan karirnya hingga bisa sampai ketitik ini.


Flashback On


7 Tahun yang lalu


Beberapa hari setelah wisuda, Dokter Perdi mulai memasukan surat lamarannya diberbagai rumah sakit di kota Bandung namun seminggu kemudian temannya yang satu fakultas menghubunginya yang bernama Dokter Ading, Temannya meminta dirinya untuk mengelola Apoteknya yang ada di kota Jakarta, awalnya Dokter Perdi ragu karena takut tak bisa namun temannya itu terus meyakinkannya hingga pada akhirnya Dokter Perdi setuju.

__ADS_1


Dokter Perdi sempat bertanya mengapa tidak mengelola sendiri, ternyata temannya itu ingin melanjutkan kuliah mengambil jurusan Spesialis Anak. Makanya tak bisa mengelola Apotek sendiri, setelah Dokter Perdi pamit dengan kedua orang tuanya serta keluarganya. Dirinya pergi dari kota Bandung dan ingin bekerja di kota Jakarta, Dokter Perdi mencari alamat yang diberi temannya itu. Saat ketemu dengan Apotek Sehati dan alamatnya sesuai, Dokter Perdi pun masuk ke ruko dua tingkat itu dan menemui temannya yang bernama Dokter Ading.


Dokter Ading menjelaskan segala hal yang harus dilakukan dan dikerjakan Dokter Perdi, Dokter Ading akan mengaji Dokter Perdi 10 juta perbulan dan uang jasa Dokter Perdi nanti tetap untuk Dokter Perdi tapi uang penjualan obat harus masuk ke Apotek itulah perjanjian yang tertulis hitam diatas putih. Dokter Perdi setuju, kemudian menanda tangani surat itu.


Setengah tahun Dokter Perdi mengelola Apotek temannya itu, Apotek tersebut melesat begitu cepat. Pembeli serta orang berobat semakin banyak, bukan hanya fasilitas yang disukai para pembeli dan orang-orang tetapi karena pelayanan karyawan Apotek serta Dokter Perdi yang memang terkenal ramah. Saat Dokter Perdi melihat uang di ATM sudah banyak, dirinya bertekad ingin melipat gandakan uang itu dengan cara mencari properti.


Pada suatu hari Apoteker Apotek Sehati itu menawarkan Dokter Perdi sebuah tanah yang tak jauh dari Apotek, harga tanah itu juga tidak terlalu mahal karena tuan tanah perlu uang jadi ingin secepatnya menjual tanah itu. Dokter Perdi pun tergiur, jadi dihari itu juga dirinya membayar cash tanah tersebut. Uang di ATM nya masih banyak jadi dirinya membangun kos-kosan di tanah itu, kos-kosan 5 pintu agar nanti ada yang ngekos jadi uang pemasukannya bertambah lagi.


Setelah uang di ATM semakin banyak, suatu hari Dokter Perdi ditawari sahabatnya yang bernama Al itu kebun sawit milik Ayahnya. Mereka menjual kebun itu karena adik sahabatnya itu ingin kuliah, Dokter Perdi pun setuju membeli kebun sawit itu. Jadi setelah membeli kebun sawit, uangnya juga semakin bertambah Dokter Perdi pun membeli tanah lagi untuk membangun klinik. Hingga dirinya mendapatkan tanah yang strategis untuk klinik dan penduduk daerah itu juga mulai ramai, hingga tak terasa dirinya bisa memiliki segalanya.


Flashback Off


Namun dari kesuksesannya sekarang ada doa dari kedua orang tuanya karena ridho orang tua adalah ridho ALLAH dan kunci dalam hidup Dokter Perdi yang tak pernah dirinya lupakan sedekah dengan orang tak mampu, infaq disetiap masjid yang sedang dalam tahap pembangunan serta memberi uang ke panti asuhan.


"Iya sayang" jawab Dokter Perdi menoleh sang istri


"Hemm, boleh gak aku beli sepeda motor?" tanya Kirana


"Buat apa sepeda motor, kan kalo nanti mau kemana-mana dengan aku saja" jawab Dokter Perdi


"Kan gak seterusnya kamu didekat aku, apalagi selama klinik itu belum ada yang jaga. Kamu pasti jauh dari aku, terus kalo aku pengen keluar gimana. Aku malas naik kendaraan umum" jelas Kirana


"Oke, sebelum tiba dirumah kita mampir ke dealer motor. Nanti kamu pilih sendiri mau sepeda motor yang mana" kata Dokter Perdi kemudian mencium pipi sang istri

__ADS_1


Mobil pun kembali melaju setelah lampu rambu lalu lintas telah berubah menjadi warna hijau, hingga tak terasa mobil mereka sudah memasuki jalan restoran tempat Kirana bekerja dulu. Kali ini Dokter Perdi tak bisa mengajak sang istri untuk mampir menemui sahabat-sahabat sang istri, apalagi mereka juga nanti akan beres-beres pakaian mereka dirumah baru mereka.


Beruntung sehari sebelum mereka memutuskan untuk pindah, ada istri mandor kuli bangunan itu yang mau membersihkan rumah mereka. Setelah mereka tiba Dokter Perdi baru bisa memberi upah istri mandor kuli bangunan itu, seperti janji Dokter Perdi tadi mobil mereka kini berhenti di area parkir dealer motor.


Kirana dan Dokter Perdi turun dari mobil, kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam bangunan yang berisi segala motor yang bermacam bentuk, jenis, merek serta warna. Kirana terpaku dengan satu sepeda motor yang bermerek beat berwarna putih biru, dirinya pun mendekati sepeda motor tersebut.


"Sayang mau yang ini" ujar Kirana sembari memegang sepeda motor tersebut


"Oke, ayo kita bayar" kata Dokter Perdi sembari merangkul pinggang sang istri


Dokter Perdi pun membayar secara cash dengan kartu ATM miliknya yang nominal harga 17 juta sepeda motor yang dipilih sang istri tadi, Kirana senang artinya uang di ATM miliknya tak berkurang karena sang suami telah membayari. Uang nafkah yang diberi sang suami selalu ditabungnya belum pernah terpakai sampai sekali karena setiap belanja pasti sang suami yang bayar, mereka berdua pun keluar dari dealer motor itu dan menuju mobil mereka.


Sepeda motor yang telah dibeli tadi nanti akan diantar di alamat yang sudah diberi Dokter Perdi, kini Dokter Perdi kembali melajukan mobil menuju rumah baru mereka. Hingga tak terasa mereka berdua pun tiba di depan rumah baru mereka, Dokter Perdi memasukan mobil ke garasi yang ada di samping kanan teras depan.


"Assalamualaikum" kata Dokter Perdi saat sudah didepan pintu masuk yang terbuka sedikit


"Walaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah kemudian membuka pintu masuk lebih lebar


"Ehh, Pak Perdi udah nyampe toh. Ayo masuk sini Bu de bantu bawa barangnya" kata wanita paruh baya yang tak lain istri mandor kuli bangunan kemaren


Mereka bertiga sama-sama masuk kerumah, Dokter Perdi meletakan koper miliknya dan koper milik sang istri di kamar utama yang sangat luas. Setelah selesai membantu Dokter Perdi dan Kirana, wanita paruh baya itu pun pamit pulang kerumahnya dan Dokter Perdi telah memberi upah dengan wanita paruh baya itu.


Mulai sekarang wanita paruh baya itu yang bantu-bantu beberes rumah baru Dokter Perdi dan Kirana karena rumah itu sangat luas Dokter Perdi tak mungkin membiarkan sang istri untuk beberes, tugas Kirana hanya memasak, mencuci piring, mencuci baju dan terpenting kamar utama mereka. Itu semua permintaan Kirana karena dirinya tidak mungkin hanya duduk manis dirumah, apalagi dirinya tak memiliki kegiatan bisa membuatnya bosan.

__ADS_1


__ADS_2