
Malam hari
Kirana dan keluarganya beserta sang suami saat ini tengah menikmati makan malam, meski menurut orang tua Kirana makanan yang terhidang di depan mereka ini makanan yang sederhana. Tapi bagi Dokter Perdi ini makanan paling lezat yang pertama kali di makanannya, rasa yang pas dan tersaji bersama daun singkong yang direbus serta sambal mentah membuat makanan semakin lezat ketika masuk ke dalam mulut.
Dokter Perdi tanpa rasa malu, menambah nasi sampai 4 kali saking menikmati makanan tersebut. Ibunya Kirana merasa senang melihat menantunya itu makan begitu lahap, Ibunya Kirana tadi sudah insicure soal lauk yang di masaknya sore tadi.
Namun ternyata menantunya itu sangat menyukai lauk yang di masaknya, Kirana juga ikut tersenyum melihat sang suami makan begitu lahap sampai keringat di kening sang suami bermunculan karena kepedasan akibat sambal mentah buatan dirinya.
Semua lauk yang dimasak sore tadi pun habis tak ada sisa sedikitpun, mereka semua sudah selesai makan. Kirana kembali membantu Ibunya untuk membersihkan sisa makan mereka barusan, Adik yang dibawa Kirana juga membantu Kirana dan Ibunya beberes.
"Biar aku saja kak yang nyuci piring" kata Adiknya Kirana yang paling besar
"Ohh ya sudah, kakak kedepan ya" kata Kirana sembari mencuci tangannya di wastafel
"Iya" jawab Adiknya Kirana sembari mengambil alih pekerjaan Kirana dan melanjutkan cucian piring Kirana tadi
Kirana berlalu dari dapur dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga, disitu sudah ada sang suami yang sedang mengobrol dengan Ayahnya. Ada Ibunya dan adik-adiknya yang lain yang sedang menonton tv, Kirana ikut bergabung dan duduk di dekat Ibunya.
"Ayah Ibu dan Adik-adik ikut lah kami pulang, sekalian menginap dirumah baru kami" kata Dokter Perdi
"Nantilah kapan-kapan kami kesana, untuk saat ini belum bisa. Kamu tau lah Adik-adiknya Kirana sedang sekolah, paling nunggu akhir tahun ketika mereka libur sekolah" kata Ayahnya Kirana
"Ohh iya Ayah, aku sampai lupa kalo Adik-adik belum libur sekolah" kata Dokter Perdi
__ADS_1
Dokter Perdi dan Ayahnya Kirana kembali melanjutkan obrolan mereka, Ayahnya Kirana juga bertanya soal klinik Dokter Perdi bagaimana sekarang. Dokter Perdi menjelaskan kalo kliniknya sekarang dikelola oleh sahabatnya yang berprofesi seorang dokter juga, bahkan sudah lama sahabatnya itu mengelola kliniknya semenjak dirinya memutuskan untuk benar-benar pindah ke rumah baru mereka.
Tapi meski dikelola sahabatnya, Dokter Perdi tetap memantau dari kejauhan bukan dirinya tak percaya dengan sahabatnya itu karena terkadang soal pelayanan setiap orang terhadap pasien itu berbeda-beda.
Namun sejauh ini alhamdulilah, sahabatnya bisa di andalkan. Bahkan sahabatnya pernah memberi masukan untuk menambah bangunan itu agar bisa menjadi klinik yang lebih besar, serta bisa membantu anak-anak yang kuliah mengambil jurusan perawat didaerah situ bekerja di kliniknya nanti jika klinik sudah lebih besar.
Dokter Perdi memang ada niat namun saat ini belum, tabungannya memang belum diapa-apakan oleh dirinya karena takut kedepan ada hal yang lebih penting. Apalagi semenjak kejadian Tantenya bilang sang istri mandul, Dokter Perdi selalu bermimpi hal aneh namun tak pernah diceritakannya dengan sang istri karena baginya itu hanya bunga tidur.
Dokter Perdi sebenarnya takut mimpi itu sebuah pertanda antara dirinya atau sang istri yang sebenarnya yang bermasalah makanya sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak, namun Dokter Perdi tidak mau langsung mengajak sang istri untuk periksa karena dirinya takut sang istri tersinggung. Cukup menunggu sang istri mau sendiri tanpa harus diminta, dan bukan sang istri saja yang harus periksa kesehatan dirinya juga meski dirinya seorang dokter tidak kemungkinan dirinya tidak sakit
Adzan Isya' Berkumandang
Dokter Perdi dan Ayahnya Kirana pergi ke masjid yang lumayan jauh dari rumah, mereka pergi ke masjid mengunakan sepeda motor milik Adiknya Kirana yang dibelikan Kirana waktu masih bekerja dulu. Dokter Perdi yang menyetir sepeda motor tersebut, segera dilajukannya sepeda motor itu menuju masjid.
Selesai sholat Kirana kembali ke ruang keluarga, hanya ada Adiknya yang bungsu disitu yang lain masih sholat. Tak lama Ibunya muncul dan duduk di dekat Kirana, sedangkan Adiknya yang lain tak akan keluar kamar lagi karena sibuk bermain hp di kamar mereka.
"Kirana, Ibu mau tanya?" kata Ibunya Kirana
"Ada apa bu?" tanya Kirana
"Apa kalian sudah ke dokter kandung?" tanya Ibunya
"Belum bu, tapi kami program sendiri" jawab Kirana
__ADS_1
"Bukan itu, seharusnya kalian harus periksa. Pergi ke dokter itu bukan hanya sakit tapi juga mengecek kesehatan" kata Ibunya Kirana
"Iya bu, insyaallah kapan-kapan kami periksa kesehatan" kata Kirana agak lesu
Entah mengapa Kirana paling tidak suka bahas soal anak, karena menurutnya anak itu titipan jadi jika belum di beri ya mau bagaimana lagi. Tapi memang semua harus ada usaha, namun sejauh ini Kirana belum berani mengajak sang suami untuk periksa.
Kirana takut dirinya yang sebenarnya bermasalah karena setiap kali dirinya datang bulan perutnya pasti sangat sakit, bukan hanya itu menstruasinya juga tidak lancar seperti waktu dirinya masih gadis dulu. Kadang sebulan lebih baru datang bulan, waktu itu juga pernah dua bulan tidak datang bulan sama sekali sampai dirinya berpikir mungkin hamil namun ternyata berapa hari kemudian dirinya datang bulan.
Disitulah Kirana selalu kepikiran, namun sebenarnya ada satu hal yang paling dirinya takuti kehilangan sang suami yang sangat dicintainya. Kirana selalu berpikir kalo dirinya benaran tak bisa memberi keturunan, bisa-bisa sang suami meninggalkannya.
Padahal itu sebenarnya hanya rasa takut Kirana saja, Dokter Perdi tak pernah mempermasalahkan soal anak meski dirinya sangat menginginkan anak dan sangat menyukai anak-anak. Dokter Perdi yang mempunyai pemikiran sangat dewasa jadi berpikir pasti setiap rumah tangga itu selalu ada ujian, mungkin disini lah rumah tangga mereka sedang di uji perihal anak.
"Maaf, kalo kamu tersinggung dengan perkataan Ibu barusan" kata Ibunya Kirana sembari mengengam tangan Kirana
"Tidak Ibu, apa yang dikatakan Ibu benar. Seharusnya kami dari awal menikah memang harus memeriksa kesehatan terlebih dahulu namun karena terlalu sibuk jadi tak memikirkan soal itu" kata Kirana
"Assalamualaikum" ucap Dokter Perdi dan Ayahnya Kirana dari depan
"Walaikumsalam" jawab Kirana dan Ibunya berbarengan
Kirana segera mencium punggung tangan sang suami, kemudian mengambil alih sajadah yang ada di pundak sang suami. Mereka berdua berjalan menuju kamar tamu yang mereka tempati saat ini, Dokter Perdi segera mengganti baju setelah berada di dalam kamar.
Kirana begitu cekatan membantu sang suami, digantungnya baju jubah milik sang suami yang khusus untuk sholat itu di gantungan baju yang ada di belakang daun pintu. Dokter Perdi mencium kening dan pipi kanan kiri sang sitri, dirinya malu kalo mencium sang istri dihadapan keluarga sang istri makanya memilih mencium saat di dalam kamar.
__ADS_1