
Setelah dari atas panggung pelaminan Bu bos dan sahabat-sahabatnya Kirana kini berjalan mendekati hidangan yang ada di atas meja, Bu bosnya menerima permintaan Kirana yang meminta mereka sebelum pulang harus menyantap dan menikmati makanan terlebih dahulu.
Selesai makan Bu bosnya Kirana serta sahabat-sahabatnya Kirana kembali naik ke atas panggung pelaminan, mereka melangkahkan kaki mendekati kedua pengantin yang sedang duduk.
"Kirana kita pamit dulu ya, itu disana hadiah untukmu" kata Bu bosnya Kirana sembari menunjuk sebuah kado yang berukuran sangat besar di meja kado
"Oh iya bu, terima kasih bu" jawab Kirana mencium punggung tangan Bu bosnya kemudian mencium pipi kanan pipi kiri
Tak lama kemudian Bu bosnya Kirana mendekati kedua orang tuanya Kirana yang berdiri di sebelah pengantin laki-laki, Bu bosnya Kirana memberikan sebuah amplop yang sangat tebal dengan ibunya Kirana. Ibunya Kirana sampai mengucapkan terima kasih berulang-ulang kali sembari memeluk Bu bosnya Kirana, Bu bosnya Kirana membalas pelukan dari Ibunya Kirana.
"Disana juga ada hadiah dari kami masing-masing dan termasuk hadiah patungan anak-anak restoran" kata Lili sembari mencium pipi kanan pipi kiri Kirana
"Iya, terima kasih. Aku benar-benar senang kalian bisa hadir di pernikahanku" jawab Kirana memeluk sahabat-sahabatnya bergantian.
Setelah kepergian Bu bos dan sahabat-sahabatnya Kirana, Kirana meminta untuk segera turun dari panggung pelaminan ingin segera mengisi perutnya yang sudah mulai terasa lapar sekalian beristirahat sejenak sebelum melanjutkan acara.
Tiba di rumah setelah Kirana melepas baju pengantin serta hiasan di kepalanya, dirinya segera berlari menuju kamar mandi. Kirana benar-benar sudah tidak tahan ingin menuntaskan keinginannya yang ingin buang air kecil, yang di tahannya dari tadi.
Keluar dari kamar mandi Kirana menghampiri Dokter Perdi yang ada di dalam kamar tidurnya yang sudah di dekorasi sembari membawa makanan serta lauk yang tadi diambilnya setelah dari kamar mandi, tiba di dalam kamar tidur Kirana segera mengajak Dokter Perdi makan sebelum melanjutkan acara pernikahan mereka.
Sesuap demi sesuap mereka berdua makan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun hanya terdengar suara sendok yang mengenai permukaan piring, Kirana masih malu berhadapan dengan Dokter Perdi apalagi mereka di dalam kamar hanya berdua meski sedang makan tetap Kirana merasa canggung.
Kirana dalam keadaan mengunyah makanan memberi isyarat bahwa di pipi Dokter Perdi ada sisa nasi yang menempel namun Dokter Perdi tidak mengerti maksud dari Kirana, Kirana terus mengulangi hingga Dokter Perdi mencium pipi Kirana. Kirana yang dapat ciuman mendadak langsung menoleh, kemudian segera menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Itu di pipi kakak ada nasi" jelas Kirana menunjuk arah sisa nasi yang menempel di pipi Dokter Perdi
__ADS_1
Dokter Perdi menggaruk tengku lehernya yang tak gatal karena malu, Kirana pun sebenarnya senang dapat cium dengan Dokter Perdi tapi malu untuk mengungkapkannya.
Selesai makan Kirana dan Dokter Perdi kembali memakai baju pengantin yang sekarang memakai adat sunda, Kirana memperhatikan dirinya yang ada di pantulan cermin rias. Kirana kembali kagum dengan pakaian adat sunda yang di pakainya saat ini benar-benar membuat dirinya semakin cantik, berkali-kali Kirana memuji penata rias yang sangat pintar membuat pelanggannya begitu cantik.
"Membuat pelanggan puas itu sudah tugas kami, Mbak memang cantik dari sananya makanya sekarang semakin cantik" kata penata rias itu tersenyum.
Kini Kirana dan Dokter Perdi sudah kembali duduk di kursi pelaminan sembari memperhatikan para tamu yang sedang berdansa sama pasangan masing-masing, Dokter Perdi tadi sudah sempat mengajak Kirana untuk ikut berdansa namun Kirana menolak karena malu.
"Haii" Ucap seseorang membuat Kirana dan Dokter Perdi menoleh seketika mendengar seseorang menyapa mereka.
Kirana menelan ludahnya tak percaya bahwa Andre akan datang ke acara pernikahannya dengan Dokter Perdi, padahal Andre semenjak kejadian Kirana terang-terang marah dengan sikap Andre waktu itu Andre tak pernah lagi muncul.
Bahkan Kirana pernah bertanya dengan Sundari kemana Andre, Sundari bilang Andre sedang turnamen di luar kota tapi mengapa tiba-tiba Andre ada di hadapannya apakah Andre sengaja pulang ke Jakarta hanya ingin melihat acara pernikahannya dengan Dokter Perdi
"Selamat ya atas pernikahan kalian, kamu tau gak bro dia ini teman berantem gue waktu kecil dulu" kata Andre menyalami Dokter Perdi sembari berpelukan ala laki-laki
Dokter Perdi hanya menangapi dengan anggukan karena dirinya bisa melihat sebenarnya laki-laki di hadapannya ini menyukai Kirana.
"Oh ya bro, gue titip ni teman kecil gue ini, dia itu nakal jadi kamu harus ekstra dalam menjaganya. Hahaha" kata Andre sembari menepuk pundak Dokter Perdi
"Iya tenang aja aku akan jaga dia" kata Dokter Perdi dengan senyuman di paksa
"Jaga dari kamu" gumam Dokter Perdi dalam hati
Andre pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kirana dan Dokter Perdi, sakit iya sakit sekali wanita yang di jaganya dari kecil hingga dewasa ternyata bukanlah jodohnya melainkan jodoh orang lain.
__ADS_1
Andre segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di luar gedung, dirinya memukul-mukul stir mobil tak terima dengan semua ini. Andre merasa kini hidupnya benar-benar hampa, rasanya saat ini dirinya ingin membunuh diri karena harapan yang dinantinya selama ini sudah benar-benar pupus.
Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dirinya ingin secepatnya sampai ketempat tujuannya. Tiba di tempat yang di tujunya Andre langsung masuk kedalam, lalu duduk di kursi bar dan memesan minuman alkohol.
Kirana masih termenung menatap mobil Andre yang sudah hilang dari luar gedung, Dokter Perdi memperhatikan Kirana yang masih menatap ke arah luar gedung.
"Hem" kata Dokter Perdi seketika membuat Kirana tersadar
"Maaf, aku akan cerita semuanya. Aku tak ingin kakak salah paham" jawab Kirana gugup
"Aku tunggu ceritamu" jawab Dokter Perdi
Acara pernikahan Kirana dan Dokter Perdi pun selesai, semua para tamu juga sudah pulang semua kerumah masing-masing. Kirana dan Dokter Perdi sudah berada di dalam kamar tidur setelah selesai sholat isya, Kirana merasa kepalanya benar-benar pusing karena tadi siang memakai adat palembang yang menurutnya benar-benar berat.
Kirana terus memijit keningnya yang sangat pusing, kepalanya saat ini rasanya ingin pecah. Dokter Perdi yang sedang berbaring memperhatikan Kirana yang di depan meja rias sedang memijit kening, Dokter Perdi beranjak kemudian mendekati Kirana.
"Kamu kenapa?" tanya Dokter Perdi duduk di tepi ranjang
"Kepalaku benar-benar pusing" jawab Kirana tanpa menoleh kearah Dokter Perdi
Dokter Perdi langsung berinisiatif memijit kepala Kirana, Kirana merasa enakan saat kepalanya dipijit Dokter Perdi. Dokter Perdi memijit kepala Kirana sembari memperhatikan Kirana dari pantulan cermin, dirinya sangat kagum dengan Kirana yang sangat cantik dengan rambut terurai meski tanpa polesan make-up itu membuat Kirana cantik alami.
Saat mata Dokter Perdi masih memperhatikan Kirana ada rasa desiran keinginannya malam pertama tiba-tiba muncul padahal Dokter Perdi belum ingin melakukannya malam ini karena dilihatnya Kirana sangat lelah, dirinya masih merasa kasihan dengan Kirana jadi Dokter Perdi memilih untuk menahan hasrat itu.
Dokter Perdi pun meminta Kirana untuk segera tidur saja, Kirana pun menurut apa yang dikatakan Dokter Perdi. Kirana segera berbaring di tempat tidur, kemudian memejamkan matanya. Dokter Perdi ikut berbaring di samping Kirana, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan memeluk Kirana dari belakang sembari memejamkan matanya.
__ADS_1