
Hingga waktu pulang pun Lili masih terus memikirkan keadaan sahabatnya, bahkan pekerjaannya hari ini terbengkalai gara-gara dirinya terlalu banyak pikiran. Beruntung Bu bos mereka sedang keluar tadi karena sedang berkumouk dengan teman sosialita, jadi dirinya tak terlalu buru-buru memberikan laporan yang dibuatnya siang tadi.
Lili Fitri dan Novi pun segera keluar dari restoran, mereka bertiga ingin secepatnya tiba di kontrakkan mereka agar bisa menghubungi Kirana. Apalagi Lili hatinya benar-benar gelisah jika belum mendengar langsung dari mulut Kirana kalo Kirana baik-baik saja, mereka bertiga terus melangkahkan kaki hingga tiba di kontrakkan mereka.
Kini mereka bertiga sudah masuk ke kontrakkan, Lili begitu buru-buru mengambil hpnya yang ada di saku celana jeansnya. Lili segera mengotak atik hpnya, setelah bertemu nama seseorang di kontak hpnya dan Lili pun langsung menghubungi nama yang tertampil di layar hpnya.
"Hallo, Assalamualaikum" kata Lili setelah telepon terhubung
"Iya Walaikumsalam ada apa Li?" kata seseorang di seberang sana
"Kirana, kamu habis nangis?" tanya Lili yang di hubungi Lili yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya yaitu Kirana
Suara parau Kirana habis menangis sangat jelas terdengar di telinga Lili, Kirana harus mencari alasan agar Lili dan kedua sahabatnya tidak curiga apalagi Kirana memang habis menangis setelah sholat isya' tadi makanya suaranya agak serak. Bahkan Kirana menangis bukan saat ini saja, Kirana menangis dari semenjak pulang setelah periksa tadi hingga saat ini.
Bahkan Kirana pun tak mau makan hingga detik ini, dirinya begitu menyiksa diri sendiri padahal Dokter Perdi sudah berusaha membujuknya namun sepertinya sia-sia.
"Kirana" panggil Lili lagi
"Ahh.. Maaf Li, aku lagi kurang enak badan saja makanya terkena flu" kata Kirana beralasan dirinya belum mau bercerita dengan sahabat-sahabatnya tentang penyakit yang di deritanya
"Ohh kamu lagi demam, ya sudah istirahat lah sekarang. Maaf sudah menganggu" kata Lili yang merasa bersalah
"Ya sudah Li, kamu juga pasti baru pulang kan" kata Kirana di seberang sana
__ADS_1
"Iya, selamat malam. Semoga lekas sembuh ya" kata Lili sebelum mengakhiri sambungan telepon
"Iya selamat malam juga, terima kasih doanya" jawab Kirana kemudian sambungan telepon pun berakhir.
Lili sedikit lega setelah mendengar kabar Kirana, meskipun dirinya tau Kirana sedang demam. Mungkin karena perubahan cuaca makanya Kirana sakit, itulah yang ada di pikiran Lili saat ini. Lili pun segera melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi yang sudah kosong, kedua sahabatnya pasti sudah selesai dari kamar mandi.
Setelah itu Lili keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya yang panjang, dirinya segera berjalan menuju kamar tidur. Dilihatnya kedua sahabatnya sedang sibuk dengan hp masing-masing, Lili pun ikut berbaring di dekat kedua sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan Kirana?" tanya Fitri saat melihat Lili sudah berbaring di dekatnya
"Kirana lagi demam, katanya tadi terkena flu" jawab Lili
"Jadi Kirana lagi sakit sekarang, semoga dia lekas sembuh ya" kata Novi ikut bersuara
Lili Fitti dan Novi pun kembali fokus dengan hp yang di tangan mereka masing-masing, hingga tak terasa waktu terus berjalan dan sekarang sudah menunjukan pukul 10 malam. Mereka bertiga pun mulai memejamkan mata setelah beberapa kali menguap, mereka bertiga ingin segera tidur karena besok seperti biasa akan kerja lagi.
Iya begitu keseharian ketiga sahabatnya Kirana, bekerja terus bekerja hingga jodoh mereka datang nanti baru lah mereka akan berhenti bekerja di restoran tersebut. Seperti Sevia dan Kirana sekarang, setelah menikah mempunyai kesibukan sendiri yaitu melayani suami dan mengurus rumah.
.
.
Di tempat lain
__ADS_1
Agam berbaring di atas tempat tidurnya sembari menatap langit-langit di kamar kontrakkannya itu, Agam masih memikirkan keadaan Kirana saat ini. Dirinya tidak tau apa yang terjadi dengan mantan kekasihnya itu, tadi dirinya tak sengaja mampir sejenak di halaman rumah mantan kekasihnya itu dan melihat mantan kekasihnya itu turun dari mobil sambil menangis.
Yang Agam lihat juga seperti sekilas mantan kekasihnya itu sedang kecewa mungkin dengan Dokter Perdi, Agam takut semua itu ada kaitannya dengan Mita yang bilang ingin merebut suami mantan kekasihnya itu. Jika memang benar ada kaitannya Agam tak segan-segan memberi pelajaran kepada wanita licik itu.
Agam tak bisa memejamkan matanya saat ini, pikirannya benar-benar kacau saat melihat mantan kekasihnya menangis. Apalagi dirinya sudah lama tidak melihat mantan kekasihnya itu menangis, namun mengapa siang tadi dirinya harus menyaksikan lagi air mata itu jatuh.
Agam kira mantan kekasihnya itu takkan pernah menangis lagi setelah tidak bersamanya, namun perkiraannya salah setelah melihat kenyataan siang tadi.
"Ck.. Awas kau wanita licik" kata Agam berdecak kesal mengingat wajah Mita yang begitu kekeh ingin merebut suami mantan kekasihnya itu
Agam memilih keluar dari kontrakkannya dan duduk di teras depan sembari menikmati rokok yang ada di apitan jari tangannya, jika sedang stres lebih tenang jika sudah menghirup sebatang rokok tersebut.
Agam merokok sembari menatap jalanan setapak yang ada di depan kontrakkan, entah mengapa tiba-tiba dirinya kembali teringat kenangan indah bersama mantan kekasihnya itu. Kenangan mereka berdua begitu banyak terukir kota Jakarta ini, Agam tau sekarang dirinya takkan bisa kembali lagi dengan mantan kekasihnya itu.
Namun di dalam hati yang paling dalam Agam sudah berniat akan menyendiri hingga tua nanti, karena itu sebuah bukti tak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi mantan kekasihnya itu di hatinya. Mungkin itu konyol bagi yang mendengar, tapi tidak untuk seorang Agam.
Karena membuatnya tak bisa bersama dengan mantan kekasihnya adalah dirinya sendiri, jadi dirinya sendiri lah yang harus menerima hukuman tersebut. Apalagi saat mengingat dirinya memutuskan mantan kekasihnya itu secara tiba-tiba, setelah mengorek informasi mantan kekasihnya itu sampai jatuh sakit saking terlalu merasa kehilangan dirinya dulu.
Agam tiba-tiba meneteskan air mata mengingat itu semua, apalagi itulah awal kehancuran dalam hidupnya. Ayahnya yang menikah lagi, Ibunya yang harus susah payah mencari kebutuhan sehari-hari demi sesuap nasi, dirinya yang di kejar hutang dan berpisah dengan mantan kekasihnya itu.
Ahh permasalahan itu memang bermula dari Ayahnya, makanya Agam begitu membenci Ayahnya sampai-sampai dirinya juga telah menyumpahi Ayahnya karena telah tega menyakiti wanita yang telah melahirkannya. Rokok di tangan Agam sudah tidak sedikit, Agam membuang putung rokok yang tinggal seutil itu di jalan setapak yang ada di depan kontrakkannga itu.
Agam pun masuk ke dalam rumah karena cuaca di luar mulai terasa dingin karena sepertinya akan turun hujan sebentar lagi, Agam sudah kembali ke dalam kamar dan guling dirinya ingin segera tidur karena besok harus kembali bekerja namun di dalam hati Agam berdoa semoga hujan sangat deras agar besok bisa libur kerja.
__ADS_1