
Ada rasa penyesalan dihati Agam mengapa dulu harus pergi ke Papua menyusul ayahnya padahal datang ke Papua dirinya juga mendapatkan kepahitan bahwa ayahnya telah menikah dengan wanita lain, waktu mendapatkan kenyataan ayahnya menikah lagi ada rasa Agam ingin langsung kembali namun uang yang dipegangnya sudah habis untuk ongkosnya jadi dirinya terpaksa harus menumpang hidup dengan ayahnya dan istri muda ayahnya.
Cukup setengah tahun dirinya disana, ingin dirinya kembali ke Kalimantan kampung halamannya tapi dirinya tak ingin pulang tak membawa uang sedikitpun untuk Ibunya dan Adik perempuannya. Di Kalimantan juga paling bisa bekerja sebagai tukang kebun atau ternak sapi orang-orang kaya disitu, dirinya sangat malas apalagi ketemu lagi dengan juragan sapi di kampungnya meski hutang sudah lunas dan anak juragan sapi itu sudah menikah tetap saja dirinya malas.
Ingin kembali ke Jakarta tapi dirinya tak punya sanak saudara disana apa lagi dirinya belum bekerja sama sekali uang yang dipegangnya cukup untuknya hidupnya berapa hari pada akhirnya dirinya memutuskan untuk menumpang lagi di rumah Bu de dan Pak de nya yang ada di Tangerang, setengah tahun juga dirinya menumpang hidup dengan Bu de dan Pak de nya itu jadi hanya bisa membantu Pak de di kebun orang.
Ketika Pak de nya mengabari ada temannya Pak de lagi nyari kuli bangunan untuk dua orang lagi ingin membangun rumah besar di Jakarta, Agam langsung menerima pekerjaan itu dan mengajak Danu temannya sesama kuli bangunan yang dikenalnya di Jakarta dulu. Agam sangat senang di Jakarta nanti dirinya punya kesempatan bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya, selama sebulan di Jakarta dirinya masih sibuk jadi belum ada waktu untuk bertemu dengan wanita yang dicintainya
Namun kenyataannya Agam kembali ke Jakarta lagi mendapatkan kepahitan, wanita yang dicintainya kini telah menjadi istri orang yang tak lain istri bosnya sendiri. Harapan itu kini telah pupus tapi setidaknya dirinya masih bisa melihat wanita yang dicintainya bahagia meski tak bersamanya, cukup dari kejauhan dirinya mendoakan terus kebahagiaan wanita yang dicintainya.
"Agam mengapa kamu melamun dari tadi, pekerjaan ini harus dikejar. Tuan rumah minta bulan depan udah selesai, ayo buruan bawa batu-batu itu kesini" tegur Laki-laki paruh baya sebagai mandor kuli bangunan yang dipercaya oleh Dokter Perdi
"Ohh iya Pak de" jawab Agam setelah lamunannya terbuyar
Agam segera membawa batu-batu yang diminta Laki-laki paruh baya itu, Agam sadar diri sekarang hidupnya sekarang tak harus lagi memikirkan wanita yang dicintainya itu tetapi harus memikirkan Ibunya dan adik perempuannya yang masih butuh uang kiriman darinya. Apalagi Adiknya berapa bulan lagi akan masuk SMA harus lebih banyak membutuhkan uang, meski Ibunya disana juga berjualan gorengan keliling tapi tetap uang itu hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Ditempat lain Kirana semenjak dari rumah mereka yang belum selesai dibangun itu masih diam tak banyak bicara, entah apa yang ada dipikirannya sekarang dirinya pun bingung. Dokter Perdi yang memperhatikan sang istri sangat gelisah membuatnya khawatir takut sakit sang istri kambuh lagi, Dokter Perdi segera melajukan mobilnya ke arah hotel terdekat agar sang istri bisa istirahat.
Mobil pun berhenti di depan hotel, Dokter Perdi mengajak sang istri untuk menginap di hotel ini saja karena inilah hotel yang sangat dekat. Dokter Perdi dan Kirana masuk ke dalam hotel, kemudian memesan satu kamar hotel setelah memperlihatkan buku nikah mereka.
__ADS_1
Dokter Perdi dan Kirana melangkahkan kaki masuk lift, lift naik ke lantai 5 menuju kamar hotel yang mereka pesan. Pintu lift terbuka, mereka berdua pun keluar lalu mencari nomor kamar hotel yang mereka pesan, setelah bertemu Dokter Perdi segera membuka pintu kamar dan kemudian mereka berdua masuk tak lupa Dokter Perdi menutup dan mengunci pintu kamar itu lagi.
"Sayang kamu sakit lagi?" tanya Dokter Perdi sembari menempelkan punggung tangannya dikening sang istri
"Hanya pusing" jawab Kirana sembari melepas niqab dan jilbabnya lalu mengantungkan di atas gantungan yang tersedia di kamar hotel itu
"Berbaringlah nanti aku pijit kepala kamu biar agak ringan" ujar Dokter Perdi yang sudah duduk di ujung ranjang kasur
Kirana pun menurut, kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Dokter Perdi mulai memijit kepala Kirana dengan lembut agar sang istri merasa nyaman, Dokter Perdi sangat telaten mengurus sang istri yang sering sakit.
Kirana sudah tak sadar karena sudah terlelap dan telah masuk ke alam mimpinya, Dokter Perdi yang melihat sang istri sudah tertidur. Akhirnya dirinya juga ikut berbaring di samping sang istri, kemudian mulai memejamkan mata sembari memeluk sang istri.
"Sayang bangun berat tau" kata Kirana menepuk pipi sang suami
"Ahh masih ngantuk, sini jangan pergi" jawab Dokter Perdi dengan mata masih merem sembari kembali memeluk Kirana
"Ihh, aku bisa mati dalam pelukanmu kalo kayak gini" kata Kirana memukul dada bidang sang suami
Dokter Perdi pun membuka mata dilihatnya sang istri yang napasnya ngos-ngosan karena ulahnya yang memeluk sang istri terlalu kuat, Dokter Perdi langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku gak sengaja" kata Dokter Perdi beranjak dari tidurnya kemudian duduk
"Gak sengaja gimana, aku udah bangunin dari tadi juga" kata Kirana merenggut
"Sayang jangan ngambek, maaf ya" kata Dokter Perdi kemudian mencium pipi sang istri.
Ciuman barusan kemudian menjadi adegan di ranjang untuk Dokter Perdi dan Kirana.
Satu jam adegan bercinta itu terjadi, Kirana dan Dokter Perdi berbaring mengistirahatkan tubuh mereka yang sangat lelah. Sebentar lagi waktu sholat ashar masuk, Kirana beranjak dari tempat tidur kemudian masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai Kirana mandi, kini giliran Dokter Perdi yang mandi.
Suara adzan ashar berkumandang dari pengeras suara di masjid yang terletak berseberangan dengan hotel tempat Kirana dan Dokter Perdi menginap, mereka berdua selesai mandi dan juga sudah mengambil wudhu. Dokter Perdi pamit dengan Kirana ingin sholat di masjid yang ada diseberang hotel tempat mereka menginap, Kirana mengangguk kemudian mencium punggung tangan sang suami dan dibalas sang suami dengan mencium kening.
Selesai adzan ashar berkumandang, Kirana mengambil salah satu handuk yang ada di kamar hotel yang kelihatan bersih dibentangnya handuk itu untuk menjadi alas dirinya sholat. Tak sesuai dengan ekspektasinya hari ini, dirinya tak tau kalo harus sholat dikamar hotel yang tak ada perlengkapan untuk sholat.
Tapi beruntungnya gamis jilbab serta kaos kaki yang selalu di pakainya kemana-mana masih bersih dan suci jadi dirinya tak perlu mengunakan mukenah ketika hendak sholat, Kirana mulai menunaikan sholat ashar dengan begitu khusyuk. Selesai sholat tak lupa berdoa dengan MAHA KUASA memohon ampun, meminta kemudahan dalam hidupnya dan yang sangat menyayatkan dalam hatinya meminta segera diberi momongan.
Ditempat lain Agam dan para kuli bangunan kini sudah waktunya istirahat, besok akan dilanjut lagi pekerjaan mereka. Agam berjalan kebelakang menuju ke arah tempat tinggal dirinya bersama para kuli bangunan, Agam masih tak percaya rumah besar ini, rumah yang ditinggalinya sekarang serta deretan kos-kosan ini ternyata milik suami wanita yang dicintainya. Frustasi, kacau, galau kini menjadi satu yang dirasakannya entah mengapa hatinya masih belum terima dengan kenyataan siang tadi, seperti mimpi disiang bolong.
Mengapa juga selama setahun kemarin dirinya tak bertanya dengan Danu tentang kabar Kirana padahal sampai sekarang facebook Danu masih berteman dengan Kirana, Danu juga tau semua tentang kehidupan Kirana melalui sosial media. Ini memang salahnya yang menghilang tanpa jejak, apalagi di Papua waktu itu memang susah sekali mencari sinyal. Ahhh... sudahlah semua sudah terjadi, waktu tak bisa dikembalikan mungkin Kirana memang bukan jodohnya meski dirinya tau selama mengenal wanita hanya Kirana yang benar-benar tulus mencintainya dulu.
__ADS_1