Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 143


__ADS_3

Agam sudah tiba di Bandara Soekarna-Hatta, setelah membayar ongkos ojek dirinya segera berlari masuk ke dalam untuk membeli tiket ke Kalimantan penerbangan sekarang. Beruntung masih sisa berapa lagi tiket menuju Kalimantan, setelah mendapatkan tiket tersebut Agam duduk sejenak di kursi tunggu sebelum penerbangan.


Agam mengambil hpnya yang ada di saku celana jeansnya, kemudian dirinya menghubungi lagi nomor baru yang diketahuinya tadi Bu Sri.


"Hallo, Bu Sri" kata Agam saat telepon sudah terhubung


"Iya gam, ada apa? Kamu sudah mau pulang kan?" tanya Bu Sri di seberang sana


"Ini masih menunggu pesawatnya take off, ohh iya Bu Sri entar kirim alamat rumah sakit tempat ibu dan adik saya di rawat" kata Agam begitu lemah mengingat kedua wanita yang disayangnya masuk rumah sakit.


"Iya gam entar Bu Sri kirim" jawab Bu Sri


Agam pun memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena namanya sudah di panggil untuk check-in, selesai semua kini Agam sudah berada di dalam pesawat yang sebentar lagi terbang. Berapa menit kemudian pesawat pun mulai landas, Agam kebetulan mendapat duduk di dekat jendela. Dirinya memikirkan kembali kejadian semalam yang dipikirnya itu mimpi namun ternyata itu kenyataan, dirinya tidak tau wanita itu siapa karena dalam pikirannya hanya Kirana.


Memakan waktu hampir 2 jam akhirnya Agam tiba di Bandara Iskandar Kalimantan Tengah, semua penumpang pesawat mulai turun dari pesawat satu persatu begitu juga dengan Agam. Agam langsung berlari ke luar dari Bandara tersebut, dirinya ingin secepatnya ke rumah sakit tempat kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya di rawat.


"Bang, ngojek. Antar ke rumah sakit ya" kata Agam langsung naik di jok belakang sembari memakai helm


"Oke bang" jawab si tukang ojek


Tukang ojek segera melajukan sepeda motornya meninggalkan area Bandara Iskandar menuju rumah sakit yang di minta Agam tadi, tak terasa Agam pun sudah berada di parkiran rumah sakit itu.


"Ini bang ongkosnya, terima kasih" kata Agam sembari menyodorkan satu lembar uang berwarna biru dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit


Kini Agam tiba di ruangan ICU dimana kedua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya ada di dalam, Agan terkejut bukan main melihat Ibu dan Adik perempuannya yang terbaring di dalam dengan keadaan banyak memar dan luka di wajah kedua wanita itu serta begitu banyak alat terpasang.

__ADS_1


Tiba-tiba air mata Agam menetes tak pernah terbayang dalam hidupnya melihat Ibu dan Adik perempuannya akan terbaring di ruang ICU yang di kenal ruangan antara hidup dan mati.


"Agam, kamu udah disini" kata Bu Sri tetangga Agam di Kalimantan


"Iya Bu, Bu Sri dari mana?" tanya Agam sembari menyeka air matanya yang mampir jatuh lagi


"Ohh tadi Ibu keluar beli makan, soalnya Ibu kelaparan" jawab Bu Sri


"Terima kasih ya Bu Sri sudah mau menunggu Ibu dan Heni" kata Agam


"Iya gam, gak apa-apa. Ibu kamu itu orang baik jadi sudah sepatutnya di bantu. Soal biaya tadi sudah di tanggung oleh pemilik perusahaan yang mempekerjakan sopir truk yang menabrak Ibu dan Heni" jelas Bu Sri


"Iya Bu Sri sekali lagi terima kasih, kalo Bu Sri mau pulang gak apa-apa kan sudah ada saya disini" kata Agam


"Baiklah gam, Bu Sri pamit pulang. Ini nasi bungkus Bu Sri tadi sengaja beli buat kamu karena yakin sebentar lagi kamu nyampe dan benar saja kan" kata Bu Sri sembari memberikan plastik transparan beri satu nasi bungkus


Bu Sri yang sudah bosan mendengar kata terima kasih dari Agam memilih menyunggingkan senyum saja, kemudian berlalu dari hadapan Agam ingin segera kembali ke rumahnya.


Setelah kepergian Bu Sri, Agam membuka nasi bungkus yang di belikan Bu Sri tadi. Dirinya memang belum makan sama sekali dari Jakarta tadi karena begitu tergesa-gesa jadi tidak terlalu memikirkan soal perutnya, Agam segera menyantap dan menikmati nasi bungkus tersebut dengan begitu lahap seperti orang kelaparan yang tidak makan selama satu bulan.


.


.


Di tempat lain

__ADS_1


Keadaan perut Kirana yang habis operasi sekarang lebih baik dari kemarin setelah meminum obat dari sang suami, namun dirinya tetap masih harus bed rest agar bisa secepatnya pulih. Kirana juga sudah bosan hanya duduk dan tidur terus di dalam kamar, dirinya ingin kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.


Dokter Perdi masuk ke dalam kamar mereka sembari membawakan makan siang untuk sang istri yang di masak oleh dirinya sendiri, Dokter Perdi duduk di tepi ranjang samping sang istri yang sedang duduk bersandaran di sandaran ranjang.


"Sayang makan dulu ya, biar bisa makan obat dan cepat sembuh" kata Dokter Perdi


Kirana menganggukkan kepala


Dokter Perdi mulai menyuapi sang istri sedikit demi sedikit dengan begitu telaten, Kirana sangat senang sang suami begitu siaga mengurusnya selama dirinya selesai operasi satu bulan yang lalu. Selesai makan Kirana meminta sang suami untuk mengajaknya duduk di taman belakang karena dirinya memang begitu bosan dalam kamar dari kemarin semenjak insiden sang suami bertengkar dengan Agam sampai sekarang dirinya belum keluar sama sekali, Dokter Perdi menyetujui permintaan sang istri.


Dokter Perdi merangkul sang istri membantu sang istri agar bisa berdiri, Dokter Perdi menuntun sang istri keluar dari kamar mereka untuk menuju taman belakang.


Kirana dan Dokter Perdi pun tiba di taman belakang rumah mereka, Kirana duduk bersandaran dan menghirup udara di area taman belakang yang lumayan sejuk. Dokter Perdi tersenyum melihat sang istri yang sudah semakin sembuh, Dokter Perdi mengelus wajah halus milik sang istri.


"Sayang, aku kangen dengan sahabat-sahabatku" kata Kirana memulai percakapan yang awalnya hening tadi


"Kamu hubungi mereka, minta saja mereka menginap disini untuk beberapa hari ini" kata Dokter Perdi memberi saran


"Tapi aku gak mau mereka tau, kalo aku habis operasi" kata Kirana begitu sendu


"Tidak perlu memberi tahu keadaan kamu sekarang, bilang saja kamu sedang sakit" kata Dokter Perdi mengengam jemari-jemari sang istri


"Baiklah, bagaimana nanti malam kamu jemput mereka" kata Kirana menatap mata sang suami seperti dengan tatapan memohon


"Oke, siap pemaisuriku" jawab Dokter Perdi kemudian mendaratkan ciuman di pipi sang istri

__ADS_1


Kirana tersenyum mendengar sang suami menyebutnya dengan panggil seperti itu, bahkan saking dirinya senang wajahnya menjadi merah seperti tomat. Dokter Perdi yang melihat itu semakin gemas, Dokter Perdi memeluk sang sitri dari samping sembari terus mendaratkan ciuman di pipi sang istri.


__ADS_2