Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 131


__ADS_3

Saat mobil yang di kendarai Kirana dan Dokter Perdi berhenti di garasi mobil, Kirana langsung turun tanpa menunggu sang suami. Kirana berlari kecil masuk ke kamar utama yang dirinya tempati bersama sang suami, dirinya benar-benar terpukul setelah mengetahui kenyataannya yang mengapa belum kunjung hamil.


Wanita paruh baya yang bekerja di tempat Kirana dan Dokter Perdi bengong melihat, Kirana masuk rumah sembari berlari dan menangis.


"Apa yang terjadi Pa?" tanya Wanita paruh baya itu saat Dokter Perdi hendak masuk ke dalam rumah


"Entar aku jelasin Bu de, aku masuk dulu mau melihat keadaan Bu Kirana" kata Dokter Perdi kemudian melanjutkan langkah kakinya sempat terhenti


Wanita paruh baya itu mengangguk lalu ikut masuk ke dalam rumah, dirinya tak mungkin menguping pembicaraan kedua majikannya itu jadi memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


Kini Dokter Perdi sudah masuk ke dalam kamar, dirinya segera mendekati sang istri yang sedang menangis dalam keadaan tengkurep. Dokter Perdi duduk di tepi ranjang samping sang istri sembari mengelus pucuk kepala sang istri yang masih memakai jilbab, Dokter Perdi tak berkata apa-apa saat ini dirinya sengaja membiarkan sang istri menangis agar sesak yang ada di dada sang istri bisa berkurang.


"Mengapa MAHA KUASA begitu tidak adil dengan diriku" kata Kirana posisinya yang sudah duduk dan dipeluk oleh Dokter Perdi


"Sssttt.. Jangan berbicara seperti itu, MAHA KUASA tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya" kata Dokter Perdi begitu bijak sembari mengelus punggung belakang sang istri


"Tapi aku tak bisa menerima ini semua, aku bukan manusia yang luar biasa" kata Kirana lagi sembari menangis sesenggukan


Dokter Perdi pun memilih untuk diam tak ingin menjawab perkataan sang istri lagi karena takut salah, apalagi melihat sang istri yang sedang sangat kecewa ini akan sulit memberi masukkan apapun.


"Apa kamu akan meninggalkan aku setelah tau bahwa aku lah yang tidak bisa mengandung" kata Kirana sembari mendongakkan wajahnya menatap sang suami dengan air mata yang masih menetes


"Kamu ngomong apa? Aku akan tetap disini menemanimu. Kita akan menua bersama meski tak memiliki seorang anak, bukankah anak itu hanya titipan" kata Dokter Perdi memengang kedua pipi sang istri sembari menatap sang istri dengan penuh cinta


"Tapi bagaimana dengan keluargamu dan keluargaku?" tanya Kirana yang tatapan tak lepas dari mata sang suami

__ADS_1


"Aku akan pikirkan jalan keluar, sebenarnya aku berniat mengajak kamu berobat di Singapore jika memang kamu menginginkan seorang anak" kata Dokter Perdi mengelus wajah sang istri dengan lembut


"Kasih aku waktu untuk memikirkan itu semua" jawab Kirana kemudian membenamkan kepalanya di dada bidang milik sang suami


Kini mereka berdua pun sama-sama diam dan larut dalam pikiran masing-masing yang entah apa yang sedang mereka pikirkan, hingga Kirana pun tak sadar lagi jika dirinya sudah terlelap di dada bidang milik sang suami saking kelelahan karena kebanyakkan menangis tadi.


Dokter Perdi membenari posisi sang istri agar sang istri bisa tidur dengan nyaman, Dokter Perdi beranjak dari tempat tidur namun sebelum melangkah dirinya mendaratkan ciuman di kening sang istri. Setelah itu dirinya keluar dari kamar tidur mereka membiarkan sang istri untuk beristirahat sejenak, setelah apa yang terjadi tadi.


"Astagfirullah Bu de ngagetin aja" kata Dokter Perdi yang begitu terkejut melihat wanita paruh baya itu ada di depan pintu kamar.


"Maaf Pak, saya mau pamit pulang jadi tadi kesini mau ngetuk pintu saya gak berani" kata Wanita paruh baya itu merasa bersalah


"Ohh iya Bu de, ini gajinya" kata Dokter Perdi sembari mengambil uang dari dompetnya dan memberikan kepada wanita paruh baya itu


Dokter Perdi menganggukkan kepalanya, kemudian segera melanjutkan langkah kakinya yang ingin ke dapur tadi. Dokter Perdi juga saat ini begitu stres mendapatkan kenyataan pahit yang tak terbayang olehnya selama ini, untuk menghilangkan rasa stresnya Dokter Perdi membuat secangkir kopi.


.


.


Di tempat lain yaitu restoran


Lili Fitri dan Novi saat ini sedang bersiap-siap makan siang setelah mendapat giliran untuk beristirahat makan siang, Fitri dan Novi sudah duduk di tempat khusus para karyawan restoran makan. Tak lama Lili datang setelah habis dari toilet, Lili duduk dekat kedua sahabatnya dan mulai mengambil makanan untuk dirinya.


Prangg

__ADS_1


"Aaww..." ucap Lili saat tangannya terasa sakit karena terkenah pecahan piring yang tak sengaja dijatuhkannya


"Lili..." kata Fitri dan Novi berbarengan begitu terkejut melihat piring yang di pegang Lili terjatuh


Fitri dan Novi pun segera membantu Lili, mereka berdua kembali terkejut saat melihat tangan Lili ternyata mengeluarkan darah cukup banyak. Tanpa basa basi Fitri merobek ujung gamisnya dan segera membalutkan ke tangan Lili yang berdarah.


Novi pun beranjak dari situ ingin mencar kotak P3K yang biasa tersedia di laci yang ada di lemari penyimpanan barang-barang para karyawan, setelah mendapatkan kotak P3K Novi membuka balutan kain yang dari Fitri tadi lalu segera mengobati luka yang di tangan Lili.


"Uuhh... Pelan-pelan perih banget" kata Lili agak meringis


"Kamu kenapa bisa teredor sih, jangan bilang lagi banyak pikiran lagi" kata Novi nyerocos seperti Emak-emak sedang memarahi anaknya.


"Udah Nov, Lili tu sedang terluka kenapa lagi di marahi" kata Fitri


"Aku juga gak tau kok bisa pirkng itu jatuh, tapi pikiranku memang sedang rungsing karena pas di toilet tadi. Tiba-tiba aku seperti melihat bayangan Kirana lagi menangis di dalam cermin" jelas Lili


"Lihat dicermin, ahh... Kamu ini ada-ada aja memangnya Kirana gentayangan bisa ada di cermin" kata Novi menepuk pundak Lili


"Aku serius, makanya aku tadi melamun mikirin Kirana. Perasaan aku juga gak enak setelah melihat bayangan itu tadi" jawab Lili lagi sembari mengelus pundaknya yang habis di tepuk Novi


"Udah itu hanya perasaan kamu saja, ayo kita makan. Yang lain masih belum makan juga" kata Fitri kemudian membantu menyiapkan makanan Lili


Lili Fitri dan Novi segera menyantap dan menikmati makan yang ada di hadapan mereka saat ini, Fitri dan Novi mungkin begitu menikmati makanan yang lezat tersebut. Namun tidak dengan Lili makanan itu terasa pahit di kerongkongan Lili, apalagi pikirannya saat ini berjalan-jalan entah kemana mambuat nafsu makannya semakin hilang.


Selesai makan Fitri kembali ke belakang untuk melanjutkan tugasnya membantu chef, Novi kembali melayani para pengunjung yang ingin memesan makanan serta minuman dan Lili kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan menulis pemasukan siang ini.

__ADS_1


__ADS_2