Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 104


__ADS_3

Seminggu kemudian


Pagi ini Dokter Perdi harus kembali ke kliniknya karena sudah seminggu ini kliniknya tutup, dirinya tak mungkin terus menerus menutup kliniknya apalagi masyarakat disana sudah meronta berbicara dengan temannya terus bertanya kapan dirinya membuka klinik.


Selagi sahabatnya Al belum bisa mengelola kliniknya, saat ini dirinya harus turun tangan. Menunggu bulan depan rasanya begitu lama, Dokter Perdi sedikit keberatan jika berada jauh dari sang istri. Apalagi sang istri setiap malam bakal tinggal sendirian, namun mau bagaimana lagi klinik itu adalah impiannya dari dulu.


Kirana mengantar sang suami sampai masuk mobil, sedih saat ini dirasakannya karena harus menjalankan hubungan jarak jauh dengan sang suami. Dokter Perdi yang sudah berada didalam mobil, sebelum mobil melaju dirinya melambaikan tangan pada sang istri dan diikuti sang istri juga melambaikan tangan.


Dokter Perdi pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mobil melaju semakin jauh hingga sudah tidak kelihatan lagi. Kirana masuk rumah setelah mobil sang suami sudah tak kelihatan lagi, dirinya berjalan ke arah taman belakang.


Kemudian dirinya duduk dibangku yang tersedia di taman belakang, dirinya sedang menikmati udara pagi ini yang kebetulan sangat sejuk karena semalam habis hujan.


"Bu de, tolong bikinin saya kopi cappucino. Nanti sekalian bawa cemilan yang ada diatas meja makan itu ya" ujar Kirana saat melihat wanita paruh baya itu ada didapur


"Ohh iya, baik bu" jawab wanita paruh baya itu segera mengambil gelas yang ada dirak piring


Wanita paruh baya itu segera menghidupkan kompor untuk memasak air, setelah air itu mendidih segera dimatikannya kompor lalu mengangkat air panas itu dan menuangkan ke gelas yang sudah berisi kopi cappucino.


Wanita paruh baya itu membawa nampan yang berisi kopi cappucino serta cemilan yang diminta majikannya tadi, diletakkannya gelas kopi cappucino itu serta cemilan itu di atas meja yang ada di samping tempat majikannya duduk.


Setelah itu wanita paruh baya itu berlalu dari hadapan majikannya sembari membawa nampan kosong itu, kemudian meletakan kembali nampan itu ketempat semula dan dirinya kini kembali ke ruang keluarga untuk membersihkan barang-barang yang ada diruangan itu.


Kirana mulai menyeruput kopi cappucino yang masih hangat itu sembari sesekali memasukan cemilan kedalam mulutnya, matanya juga tetap fokus dengan layar hp yang saat ini sedang membuka sosial media.


.


.


Ting Tong... Ting Tong...


Bunyi bel rumah Kirana dan Dokter Perdi, wanita paruh baya yang bekerja dirumah Kirana dan Dokter Perdi segera berlari kearah pintu depan saat mendengar bunyi bel.


"Lo Agam, ada perlu apa kesini?" tanya Wanita paruh baya itu ketika pintu sudah terbuka dan dilihatnya Agam yang berdiri di depan pintu


"Bu de, Kirana nya ada ehh maksud saya Bu Kirana nya ada?" ujar Agam gugup


"Bu Kirana ada, silahkan duduk dulu entar Bu de panggilkan Bu Kirana nya" ujar Wanita paruh baya itu kemudian kembali kebelakang


Agam segera duduk dikursi yang ada diteras depan, dirinya sengaja menemui Kirana sekarang karena suaminya Kirana sedang pergi. Semenjak Kirana tinggal dirumah baru mereka sekarang, Agam sangat sering memantau rumah tersebut dari kejauhan makanya dirinya tau semua pergerakan Kirana dan suaminya.


Demi mengetahui kehidupan Kirana sekarang, Agam rela menghabiskan uangnya untuk ongkos naik bus dari Tangerang ke Jakarta setiap pagi. Ketika sudah sore dirinya kembali lagi ke Tangerang seperti itu terus selama seminggu ini, entah mengapa dirinya merasa bahagia saat melihat Kirana meski dari kejauhan.

__ADS_1


"Bu didepan ada tamu" kata Wanita paruh baya itu saat sudah berada didekat Kirana


"Suruh masuk saja Bu de" ujar Kirana setelah menghabiskan sisa kopi cappucino nya


"Tapi bu, itu anu. Gimana ya" kata Wanita paruh baya itu gelagapan


"Ada apa Bu de, Ya sudah biar saya yang ke depan" kata Kirana sembari beranjak dan membawa gelas bekas minumnya serta sisa cemilannya


Namun diambil alih oleh wanita paruh baya itu, Kirana pun menyerahkan gelas serta cemilan itu lalu dirinya terus melangkahkan kakinya ke arah pintu depan. Sebelum keluar rumah Kirana segera memakai cadar yang ada dilehernya, beruntung setelah sang suami pergi tadi dirinya masih memakai jilbab serta cadar yang masih tergantung di lehernya jadi tak membuatnya kesusahan harus kembali ke kamar lagi.


Kirana membuka handle pintu, kemudian keluar dari rumah. Dilihatnya ada laki-laki yang duduk dikursi yang ada diteras depan, laki-laki itu masih menatap ke arah halaman rumah Kirana dan Dokter Perdi. Kirana bisa melihat laki-laki itu dari samping, dia adalah laki-laki yang pernah mengisi hatinya setahun yang lalu.


Kirana berpikir sejenak, buat apa laki-laki itu datang lagi menemuinya dan bertepatan dengan sang suami sedang pergi. Ada rasa khawatir dihati Kirana karena menerima tamu laki-laki tanpa seizin suaminya, dirinya memilih kembali masuk rumah kemudian melangkahkan kaki ke arah kamar tidur mereka.


Kirana mengambil hpnya yang ada di atas meja, segera dirinya menghubungi nomor sang suami namun tidak diterima sang suami. Dirinya keluar dari kamar sembari berusaha menghubungi lagi nomor sang suami, namun lagi-lagi tidak diterima sang suami.


"Bu de, kasih minum tamu yang ada didepan dan temani dia dulu ya Bu de" ujar Kirana saat bertemu dengan wanita paruh baya itu didapur


"Baik bu" jawab Wanita paruh baya itu segera membuatkan minuman untuk tamu yang ada didepan


Setelah selesai membuat minuman, wanita paruh baya itu segera membawa minuman tersebut keluar. Tiba diluar diletakannya minuman itu diatas meja, kemudian wanita paruh baya itu duduk sembari mempersilahkan Agam untuk minum.


"Kamu ada perlu apa dengan Bu Kirana?" tanya Wanita paruh baya itu lagi


"Kenapa gak kemarin-kemarin pas ada Pak Perdi" ujar Wanita paruh baya itu mengintrogasi Agam


"Ohh Pak Perdi nya gak ada ya Bu de" kata Agam pura-pura tidak tau


Kirana pun keluar dari rumah, lalu mendekati Agam dan wanita paruh baya itu. Saat melihat Kirana sudah berdiri dihadapan mereka, wanita paruh baya itu segera berdiri dan mempersilahkan majikannya untuk duduk dikursi yang didudukinya tadi.


"Bu de jangan pergi, tetap disini saja" ujar Kirana saat melihat wanita paruh baya itu ingin masuk kerumah


Wanita paruh baya itu segera menghentikan langkah kakinya, kemudian memilih untuk berdiri di depan pintu masuk.


"Ada perlu apa kesini?" tanya Kirana


"Tidak ada, hanya ingin melihatmu saja. Sepertinya sekarang kehidupanmu sangat bahagia ya, berbeda dengan diriku yang tersiksa karena wanita yang aku cintai sudah menikah dengan laki-laki lain" kata Agam pelan sembari bersandar di kursi dan melipat kedua tangannya didada


"Kalo hanya mau basa basi kesini lebih baik kamu pergi, aku sedang sibuk" kata Kirana sembari beranjak dari duduknya


"Oke aku akan pergi, maaf sudah menganggu waktu kamu. Aku berharap kamu selalu bahagia, aku hanya mengungkapkan apa yang ada dihatiku setelah ini aku takkan menganggu kehidupanmu lagi" kata Agam beranjak dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Kirana yang masih berdiri membelakangi Agam

__ADS_1


Agam melangkahkan kaki meninggalkan rumah Kirana dan Dokter Perdi, dirinya tau mungkin dirinya salah telah menemui wanita yang sudah memiliki suami namun mau bagaimana lagi dirinya sangat merindukan sosok Kirana. Wanita yang selalu dihatinya dari dulu sampai detik ini, Agam berdiri di tepi jalan menunggu Bus yang menuju Tangerang.


Dirinya memilih untuk kembali kerumah Bu de dan Pak de nya, semenjak selesai bekerja membangun rumah Kirana dan Dokter Perdi sampai saat ini dirinya belum memiliki pekerjaan lagi. Jadi mau tak mau dirinya harus tetap menumpang hidup dirumah Bu de dan Pak de nya, entah sampai kapan dirinya berada dirantauan ini dirinya juga merindukan kampung halamannya yang sudah hampir 3 tahun dirinya tidak pulang.


Setelah kepergian Agam, Kirana segera masuk kedalam rumah tak menghiraukan semua perkataan Agam tadi. Dirinya sudah sangat malas melihat wajah Agam, mengapa baru sekarang Agam mengungkapkan perasaannya ketika dirinya sudah menikah.


Dulu kemana saja saat dirinya berharap Agam memperjuangkan cintanya, justru Agam hilang seperti ditelan bumi. Kirana memilih kembali kekamar tidurnya, kemudian duduk diatas ranjang sembari bersandaran.


Drrt...drrt...drrt...


Bunyi hp Kirana yang ada didalam saku gamisnya, Kirana segera ambil hpnya. Dilihatnya nama yang tertampil dilayar hpnya ternyata sang suami, langsung dirinya menggeser ikon yang berwarna hijau ke atas.


"Hallo, Assalamualaikum sayang" kata Dokter Perdi diseberang sana


"Iya Walaikumsalam sayang" jawab Kirana


"Maaf tadi gak bisa terima telepon dari kamu, tadi lagi di Pom Bensin. Ada apa sayang?" kata Dokter Perdi


"Gak ada apa-apa sayang, hanya mau nanya udah sampai mana?" kata Kirana berbohong


"Masih dijalan, kemungkinan satu jam lagi baru sampai. Gimana disana aman kan, kalo ada yang bertamu entah siapupun jangan diterima kecuali sahabat-sahabatmu gak apa-apa" kata Dokter Perdi


"Iya sayang, ya udah hati-hati dijalan. Assalamualaikum" kata Kirana


"Walaikumsalam" jawab Dokter Perdi kemudian telepon pun berakhir.


Kirana tak menyangka jika sang suami bisa merasakan sesuatu, benar apa kata sang suami jangan sembarangan menerima tamu karena kejahatan itu memang selalu ada dimana-mana entah itu sudah direncanakan ataupun tidak direncanakan.


.


.


Wanita paruh baya yang bekerja dirumah Kirana dan Dokter Perdi itu mengambil gelas yang ada diatas meja teras depan, dirinya membawa gelas itu kedapur. Sebelum masuk rumah dirinya menutup dan mengunci kembali pintu depan, kemudian berjalan menuju dapur.


Segera dicucinya gelas itu diwastafel, lalu diletakannya kembali ketempat semula, Wanita paruh baya itu baru tau ternyata majikannya dengan Agam keponakan teman suaminya itu pernah ada hubungan dimasa lalu.


"Kok bisa sih, dunia ini kecil sekali seperti daun kelor saja" kata Wanita paruh baya itu sembari mengelap air disekitar wastafel dengan kain lap


Selesai semua pekerjaan wanita paruh baya itu, dirinya ingin segera pulang kerumah. Diketukanya pintu kamar majikannya, Kirana yang mendengar bunyi ketukan pintu di depan kamarnya segera beranjak dan berjalan menuju pintu.


Dibukanya handle pintu, ternyata wanita paruh baya itu didepan. Wanita paruh baya itu pamit dengan majikannya ingin pulang, seperti biasa Kirana memberi upah ke Wanita paruh baya itu. Setelah itu wanita paruh baya itu pergi dari hadapan Kirana, Kirana segera menuju pintu depan dan mengunci pintu.

__ADS_1


Kini tinggal dirinya sendiri didalam rumah sebesar ini, sepi yang dirasakannya sekarang. Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi cadar yang dipakainya, dirinya tak tau mengapa rasanya sedih karena hingga detik ini dirinya belum ada tanda-tanda sedang hamil, entah kapan dirinya merasakan hamil serta rumah ini akan terasa ramai dengan suara anak-anak.


__ADS_2