Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 87


__ADS_3

Seminggu telah berlalu Kirana hari ini akan di ajak Dokter Perdi untuk tinggal di klinik milik sang suami, Dokter Perdi sudah menceritakan semua semalam dengan Kirana dan keluarganya Kirana bahwa Dokter Perdi sudah mempunyai sebuah klinik untuk tempat tinggal mereka sekarang sementara waktu selagi menunggu pembangunan rumah yang di sediakan Dokter Perdi untuk istri dan anak-anaknya selesai.


Pembangunan rumah itu baru di mulai waktu bertepatan di hari pernikahan mereka, rumah yang sedang di bangun itu berada di dekat kos-kosan milik Dokter Perdi, Dokter Perdi sengaja membangun rumah di sana agar Kirana ada teman karena kos-kosan itu rata-rata di isi anak kuliahan meski ada juga beberapa pekerja.


Kirana sudah selesai memasukan semua pakaiannya ke dalam koper, Kirana duduk memperhatikan sekeliling kamar miliknya yang sekarang akan di tempati oleh adiknya. Kamar yang menemaninya ketika sedang bahagia maupun sedih, Kirana keluar dari kamarnya sembari menyeret koper yang berisi pakaian-pakaiannya.


Kirana menghampiri sang suami yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya, rumah ini telah sepi ketika seluruh keluarganya telah pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Kini hanya tinggal kedua orang tuanya, adik-adiknya juga sudah masuk sekolah dari kemarin.


Kirana duduk dekat ibunya, berat rasanya akan pergi jauh dari kedua orang tuanya meski Kirana sudah terbiasa jauh dari kedua orang tuanya namun rasa ini berbeda karena hari-harinya hanya akan bersama sang suami. Meskipun jarak antara rumah kedua orang tuanya dengan klinik sang suami tak begitu jauh namun tetap saja Kirana tak mungkin setiap waktu minta berkunjung kerumah orang tuanya, meski dirinya tau sang suami pasti menuruti maunya.


"Nak Perdi tolong nasehati Kirana ya, dia anaknya keras kepala. Ajari dia pelan-pelan bagaimana jadi istri yang baik" nasehat Ayahnya kepada sang suami


"Insyaallah pak, kami akan sama-sama belajar membina rumah tangga ini" jawab Dokter Perdi


"Terima kasih nak Perdi, semoga kalian selalu bahagia. Selalu diberi kesehatan, rezeki lancar" kata Ayahnya Kirana


"Aamiin, iya pak. Kita pamit sekarang ya, salam buat adik-adiknya Kirana" kata Dokter Perdi beranjak dari duduknya


"Iya, hati-hati di jalan" jawab Ayahnya Kirana sembari mengulurkan tangannya

__ADS_1


Dokter Perdi menerima tangan itu kemudian mencium punggung tangan yang sudah keriput itu, Kirana juga ikut mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu memeluk ibunya sembari menangis. Ibunya Kirana segera menghapus air mata sang putri sembari memberi nasehat agar selalu patuh dengan sang suami jika itu tidak menentang MAHA KUASA, Dokter Perdi juga mencium punggung tangan ibu mertuanya itu sembari memberikan amplop berwarna coklat yang berisi uang.


Kedua orang tua Kirana sempat menolak namun Dokter Perdi berkata jika di tolak tak menghargainya sebagai menantu serta telah menolak rezeki, mau tak mau kedua orang tua Kirana menerima.


Dokter Perdi membantu membawakan koper Kirana, kemudian memasukan koper itu ke dalam bagasi mobilnya. Kirana terus menoleh melihat kedua orang tuanya dengan air mata yang terus berjatuhan, Kirana masuk mobil duduk di kursi samping kursi pengemudi dan Dokter Perdi juga telah masuk mobil duduk di kursi pengemudi.


Mereka berdua melambaikan tangan dan di balas oleh kedua orang tua Kirana dengan lambai tangan juga, mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah kedua orang tua Kirana. Dokter Perdi tangan kanannya masih memegang stir mobil sedangkan tangan kirinya terus menggosok punggung Kirana agar sang istri bisa tegar, Kirana pun mulai tenang dan air matanya juga sudah tidak keluar lagi.


Kirana harus terbiasa karena setiap anak perempuan yang menikah di adat mereka harus ikut suami dan harus meninggalkan kedua orang tua mereka, dirinya juga harus paham Dokter Perdi tak mungkin tinggal dengan kedua orang tuanya dan terus menutup klinik sang suami.


Apalagi sang suami telah bercerita daerah klinik sang suami sana masyarakat sangat butuh dengan jasa sang suami, meski ada bidan desa tetapi masyarakat di sana lebih senang berobat dengan sang suami. Entah apa alasan mereka padahal berobat dengan bidan desa gratis tapi tetap saja masyarakat maunya dengan sang suami, tapi baguslah jadi klinik itu tetap selalu ramai.


"Iya sayang" jawab Kirana


Dokter Perdi membelokan mobil ke arah supermarket yang ada di kota, Dokter Perdi memang sengaja ke supermarket yang ada di kota sekalian lewat disana juga sangat lengkap dan bebas mau pilih apa saja. Jika sudah di daerah kliniknya kalo mau ke pasar juga jauh dan ditambah Dokter Perdi juga agak malas ke pasar karena selain jauh, jalan masuk pasar sayur dan ikan sangat becek.


Dokter Perdi menghentikan mobilnya di parkir supermarket itu, kemudian mereka berdua keluar dari mobil dan tak lupa menutup serta mengunci mobil. Kirana dan Dokter Perdi berjalan masuk ke supermarket yang bangunan menjulang tinggi, di dalam sana bukan hanya supermarket banyak jualan yang lain juga.


Dokter Perdi mengandeng tangan Kirana sampai ke depan troli belanjaan, Dokter Perdi mengambil salah satu troli itu kemudian mulai dorongnya dan mulai mencari keperluan mereka. Kirana yang tak tau apa saja yang akan di beli jadi hanya berjalan beriringan dengan Dokter Perdi sembari membantu mendorong troli itu, Dokter Perdi sudah sibuk mengambil keperluan mereka dan memasukan kedalam troli.

__ADS_1


"Sayang, kok dari tadi diam. Ayo ambil apa saja yang kamu mau" kata Dokter Perdi menegur Kirana yang hanya memperhatikan Dokter Perdi


"Ahh, iya sayang nanti aku ambil" jawab Kirana


Setelah dapat kode dari Dokter Perdi, Kirana segera mendekati macam-macam cemilan lalu di masukannya ke dalam troli belanjaan mereka. Setelah mengambil buah-buahan dan sayur-sayuran Dokter Perdi kembali mendorong troli itu mendekati freezer, kemudian mengambil ikan, daging ayam dan daging sapi. 


Selesai semua bahan makanan yang mereka ambil, Kirana dan Dokter Perdi mendorong troli itu lagi ke arah kasir. Beruntung tidak ada antrian jadi mereka bisa segera membayar belanjaan mereka, mereka berdua mulai mengeluarkan satu persatu belanjaan mereka lalu di letakan di atas kasir dan kasir mulai menghitung belanjaan mereka.


Setelah kasir selesai menghitung belanjaan mereka, Dokter Perdi mengeluarkan kartu ATM miliknya kemudian segera melakukan transaksi. Kasir segera menyerahkan semua belanjaan Kirana dan Dokter Perdi, Dokter Perdi siaga langsung mengambil plastik-plastik yang berisi belanjaan itu.


Kirana dan Dokter Perdi segera pergi meninggalkan kasir itu, kemudian melangkahkan kaki ke arah pintu keluar. Kirana berapa kali menawarkan bantuan dengan Dokter Perdi agar bisa membantu membawakan salah satu plastik belanjaan mereka, namun Dokter Perdi tetap menolak karena dirinya tak mau membuat sang istri kelelahan.


Hah terlalu lebay Dokter Perdi padahal dari salah satu plastik belanjaan mereka ada yang hanya berisi cemilan yang di ambil Kirana tadi, tapi mau bagaimana lagi Dokter Perdi ingin Kirana seperti ratu dalam hidupnya.


Dokter Perdi memasukan semua belanjaan mereka kedalam bagasi mobil, kemudian menyusul Kirana yang sudah berada di dalam mobil. Dokter Perdi kembali melajukan mobil mereka setelah membayar uang parkir, mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Tak terasa mereka pun tiba di klinik, Dokter Perdi memasukan mobilnya ke dalam garasi. Garasi mobil itu memang tak memakai pintu jadi memudahkan Dokter Perdi keluar masuk mobilnya jika ingin pergi tak perlu repot kemudian mereka turun dari mobil, Dokter Perdi membuka pintu kliniknya lalu kembali ke mobil mengambil koper Kirana serta plastik-plastik belanjaan mereka tadi.


Kirana masuk setelah Dokter Perdi juga masuk, Dokter Perdi meletakan koper Kirana ke dalam kamarnya. Lalu meletakan semua plastik belanjaan mereka ke dapur, tak perlu nunggu nanti-nanti Dokter Perdi langsung memasukan buah, sayur dan ikan serta yang lain ke dalam kulkas dan di bantu Kirana.

__ADS_1


__ADS_2