
Kirana berada di sebuah taman, dirinya sedang bermain dengan anak kecil yang usianya mungkin berkisaran 2 tahun. Kirana terus mengejar anak kecil itu hingga tertangkap, mereka berdua pun tertawa. Kirana yang sangat suka bercanda mencium perut anak kecil itu sehingga membuat anak kecil itu merasakan geli dan tertawa, Kirana pun mengakhiri ciumannya.
"Umii, es klim" kata Anak kecil itu dengan ciri khas bahasa anak-anak sembari menunju ke arah penjual es krim
"Ayo kita beli es krim" kata Kirana sembari mengandeng tangan anak kecil itu
Kirana dan anak kecil itu berjalan mendekati penjual es krim, tiba di situ Kirana mengendong anak kecil itu agar anak kecil itu bisa memilih mau es krim yang mana. Setelah mendapatkan satu buah es krim Kirana segera membayar, mereka berdua pergi dari situ dan mencari tempat duduk.
Mereka berdua duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu, Kirana memperhatikan anak kecil itu yang sedang makan es krim begitu berantakan. Kirana sesekali mengelap bagian mulut anak kecil itu yang ada sisa es krim, kemudian Kirana melayangkan ciuman di pipi tembem anak kecil yang di sampingnya. Saat sibuk berdua tiba-tiba sang suami datang dari belakang memegang pundak Kirana, membuat Kirana terkejut reflek menepis tangan itu.
"Sayang..sayang.." panggil Dokter Perdi sembari menggoyangkan tubuh Kirana
Kirana merasa ada yang memegangnya tubuhnya segera membuka mata, dilihatnya ternyata sang suami yang ada dihadapannya.
"Udah siang, kita makan dulu yuk. Atau mau makan disini entar aku ambilkan nasi dan lauk bawak kesini" kata Dokter Perdi
"Kita makan bersama aja di dapur" jawab Kirana beranjak dari tempat tidur
Dokter Perdi membantu sang istri untuk berdiri, dituntunnya sang istri hingga ke dapur. Dokter Perdi meminta sang istri cukup duduk manis karena dirinya yang ingin menyiapkan makan siang mereka saat ini, Dokter Perdi pun menata semua makanan diatas karpet.
Mereka berdua mulai menyantap dan menikmati hidangan yang tersedia di hadapan mereka, selesai makan dan membereskan sisa makan mereka berdua kini bersantai di ruang depan.
__ADS_1
"Sayang tau gak tadi aku mimpi" kata Kirana yang guling diatas paha Dokter Perdi yang sedang duduk sembari bersandar di dinding
"Mimpi apa sayang?" tanya Dokter Perdi sembari mengelus lembut kepala sang istri
Kirana pun menceritakan semua mimpinya tadi dari pertama sampai akhirnya sembari membayangkan semoga mimpi tadi menjadi kenyataan, anak kecil dalam mimpi itu sangat lucu dan mengemaskan sampai Kirana ingin menciumnya terus menerus.
"Mungkin itu anak kita nanti sayang, semoga aja secepatnya kita dipercaya sang MAHA KUASA diberi anak" kata Dokter Perdi
Mereka berdua pun bercerita sembari membahas masa depan yang berkeinginan mempunyai anak yang banyak agar rumah yang di siapkan Dokter Perdi untuk sang istri dan anak-anaknya penuh dengan teriakan serta suara-suara anak yang tertawa dan menangis, mereka berdua membayangkan akan kerepotan mengurus anak-anak ketika masih kecil tapi itu tak akan lama jika anak-anak sudah beranjak dewasa sudah tak bisa lagi menikmati kembali momen itu.
"Assalamualaikum" ucap seseorang dari depan
"Walaikumsalam, ehh Rendi gimana istrimu udah sehat" kata Dokter Perdi berbasa basi
Dokter Perdi pun mempersilakan Rendi dan istrinya untuk masuk ke dalam kliniknya, klinik yang tak terlalu besar ini ada ruang khusus untuk menerima tamu meski hanya berukuran 3x3. Mereka berempat duduk lesehan karena memang tak ada kursi tamu di ruang itu, Kirana memperkenalkan diri dengan sepasang suami istri yang berteman dengan sang suami.
Sepasang suami istri itu membawa anak mereka yang baru lahir perkiraan umur mungkin jalan 3 bulan, Dokter Perdi sibuk mengobrol temannya itu. Sedangkan Kirana mulai mengobrol dengan istri temannya Dokter Perdi sembari mengelus pipi anak mereka dengan sangat hati-hati karena takut anak itu tak nyaman, Kirana kembali membayangkan dirinya mempunyai anak yang mengemaskan seperti anak temannya sang suami ini.
Kirana tidak terlalu banyak mengobrol karena dirinya masih sungkan jika baru kenal, paling setidaknya dirinya hanya bertanya sesekali saja apalagi memang lebih banyak bicara dan bercerita adalah istri temannya Dokter Perdi.
Kirana yang kurang menyambung dalam pembicaraan kali ini, izin kebelakang ingin mengambilkan minum serta cemilan untuk di makan oleh tamu. Tiba di dapur Kirana membuka kulkas mengambil beberapa buah dan dicucinya di wastafel kemudian dimasukannya ke dalam piring, lalu tak lupa mengambil minum putih yang di dalam kulkas.
__ADS_1
Kirana berjalan ke depan sembari membawa buah dan minum itu kemudian diletakannya dihadapan ke tamu itu, Dokter Perdi mempersilahkan tamunya untuk memakan hidangan yang tak seberapa itu. Sepasang suami istri itu pun mengambil dan menyantap buah yang dihidangkan Kirana barusan, sesekali juga mereka minum air putih dingin yang di hadapan mereka.
"Maaf ya cuma ada ini aja, soalnya kalian sih mendadak kesini. Mana istri saya juga baru sehat" kata Dokter Perdi
"Santai aja kali gak apa-apa ini udah cukup, justru kita yang gak enak sudah menganggu istirahat istrimu" kata Rendi temannya Dokter Perdi itu
Mereka kembali mengobrol entah apa yang di bahas, Kirana hanya jadi pendengar saja meski ingin rasanya dirinya pergi dari hadapan para tamu itu apalagi perutnya masih agak sakit.
"Titip anakku sebentar ya, mau ke kamar mandi" kata istri temannya Dokter Perdi itu sembari memberikan anaknya dengan Kirana
"Ohh iya, kamar mandi disebelah kiri dapur" jawab Kirana sembari menerima anak bayi itu
Kirana mengendong anak temannya Dokter Perdi itu sembari terus menatap anak bayi itu dan kembali berdoa dalam hati semoga MAHA KUASA secepatnya memberi dirinya dan Dokter Perdi momongan, anak bayi dalam gendongannya juga sangat anteng bahkan sesekali mengoceh dan tersenyum meski masih samar.
Istri temannya Dokter Perdi keluar dari kamar mandi kemudian berjalan kedepan mendekati suaminya, Dokter Perdi dan Kirana. Kirana yang melihat ibu anak bayi itu sudah di hadapannya segera memberikan anak bayi tersebut dengan ibunya, Kirana tak mau terlalu lama mengendong anak orang karena takut kenapa-napa.
Sepasang suami istri itu pun pamit pulang karena ingin menjemput anak sulung mereka yang sedang belajar mengaji di masjid, selepas kepergian tamu itu Kirana dan Dokter Perdi yang menghantar mereka sampai pintu depanpun masuk. Kirana membereskan bekas makanan tamu tadi, di bawanya bekas piring dan gelas itu kedapur dan diletakannya di wastafel.
Dokter Perdi melihat sang istri sibuk ingin mencuci piring-piring yang tertumpuk di wastafel itu segera mendekati sang istri, meminta sang istri untuk istirahat saja biar dirinya yang mencuci piring-piring tersebut. Kirana pun setuju dan pamit masuk kamar mereka, Dokter Perdi mulai mencuci piring-piring itu.
Selesai mencuci piring, di depan klinik terdengar ada yang mengucap salam Dokter Perdi pun berjalan kedepan ingin melihat siapa yang mengucap salam barusan. Ternyata seorang ibu paruh baya ingin berobat, Dokter Perdi mempersilakan ibu itu untuk masuk dan berbaring di bed pasien. Dokter Perdi mulai memeriksa ibu itu yang mengeluh seluruh badannya gatal, selesai memeriksa Dokter Perdi masuk ke dalam sebentar mengambilkan obat yang akan di berikan dengan ibu paruh baya itu.
__ADS_1
Setelah menerima obat, Ibu paruh baya itu membayar obat tersebut. Berobat dengan Dokter Perdi tak pernah dirinya meminta di atas 50 ribu karena dirinya memberi obat yang harga murah tapi bukan berarti murahan soalnya dirinya tau masyarakat disini tidak semuanya orang mampu, kecuali ada yang berobat berkata minta obat yang bagus nah Dokter Perdi baru menyiapkan obat yang mahal.