Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 73


__ADS_3

Selesai mandi kini Kirana sudah berada dalam kamar tidurnya lagi, sembari memilih-milih gamis yang akan dipakainya, setelah menemukan gamis tersebut segera memakainya. Kirana memakai gamis berwarna mocca yang berpadu dengan warna hitam, di senadakan Kirana dengan jilbab yang bermocca dan cadar berwarna hitam.


Kirana jika dirumah lebih suka memakai cadar ketimbang niqab karena cadar memang mudah untuk digunakannya, kalo ada tamu akan di pakaiannya jika tak ada tamu langsung diturunkan hingga cadar itu tergantung di lehernya. Selama menunggu kedatangan Dokter Perdi, Kirana duduk bersandar di tepi ranjangnya sembari berselancar di sosial media.


Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, adik-adiknya Kirana juga udah bangun sekarang berganti masuk kamar mandi setelah dibangunkan Kirana karena mereka akan kedatangan tamu. Kirana merasa gak enak jika orang dirumahnya belum pada mandi kalo Dokter Perdi datang, karena memang kebiasaan adik-adiknya Kirana jika sedang berlibur sekolah mereka akan mandi siang.


Kirana setelah membangunkan adik-adiknya memilih duduk diruang tamu sembari menunggu kedatangan Dokter Perdi, cukup lama menunggu hingga ada sebuah mobil berhenti didepan rumahnya. Kirana yang masih ingat bahwa itu mobil Dokter Perdi, segera beranjak dari duduknya kemudian memberitahu kedua orang tuanya bahwa Dokter Perdi sudah tiba.


Dokter Perdi menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Kirana, kemudian Dokter Perdi keluar dari mobil lali berjalan kebelakang dan membuka bagasi mobil. Dokter Perdi mengambil begitu banyak paper bag dari bagasi mobilnya untuk diberikan dengan keluarga Kirana yang entah apa isinya, Dokter Perdi melangkahkan kaki menuju pintu masuk rumah Kirana sembari menenteng paper bag yang sudah dikeluarkannya dari bagasi mobil tadi.


Ayah dan Ibunya Kirana yang diberitahu Kirana bahwa Dokter Perdi sudah tiba segera mendekati pintu, kemudian Ibunya Kirana membuka pintu dan tepat di saat Dokter Perdi ingin mengetuk pintu.


"Ehh nak Perdi udah datang, ayo masuk" kata Ibunya Kirana

__ADS_1


"Akhh iya bu" kata Dokter Perdi masuk


"Silahkan duduk nak Perdi" kata Ayahnya Kirana


Dokter Perdi kemudian duduk setelah dipersilahkan oleh orang tua Kirana


"Ohh iya Perdi jadi lupa, ini bu ole-ole dari Perdi" kata Dokter Perdi meletakan semua paper bag itu diatas meja tamu


"Masyaallah banyak sekali nak Perdi, terima kasih" kata Ibunya Kirana


"Ini kopinya bu" kata salah satu adiknya Kirana sembari meletakan kopi di atas meja tamu


"Nak Perdi diminum dulu kopinya" ujar Ayahnya Kirana

__ADS_1


"Ohh iya pak" jawab Dokter Perdi kemudian menyeruput kopi buatan adiknya Kirana, meski kurang pas di lidah Dokter Perdi dirinya tetap menghargai kopi tersebut.


Kirana hanya menunduk mendengar obrolan demi obrolan kedua orang tuanya dan Dokter Perdi, Kirana merasa seperti racun nyamuk yang tak di ajak bicara sama sekali paling menjawab iya sembari menganggukkan kepala.


"Iya pak, Perdi benaran serius dengan Kirana. Insyaallah kalo gak ada halangan sama sekali minggu depan Perdi kesini lagi bersama keluarga besar Perdi" kata Dokter Perdi meyakinkan kedua orang tua Kirana


"Iya kami tunggu kedatangan nak Perdi dan keluarga besar nak Perdi, insyaallah niat baik tak ada halangan. Allah selalu meridhoi niat baik para hamba-Nya" kata Ayahnya Kirana


Kirana senang akhirnya hubungannya dengan Dokter Perdi kini sudah jelas yaitu lamaran, nanti seminggu lagi Dokter Perdi dan keluarga besar datang akan menentukan hari H dan mengantarkan hantaran uang beserta barang-barang yang sudah pernah dipersiapkan Kirana dan Dokter Perdi waktu itu.


Setelah mengobrol dengan kedua orang tua Kirana, Dokter Perdi pamit pulang. Sebenarnya kedua orang Kirana meminta Dokter Perdi untuk menginap saja dirumah mereka karena sudah sore jika pulang sekarang pasti tiba juga akan malam baru nyampe. namun Dokter Perdi tetap menolak tawaran kedja orang tua Kirana karena takut menimbulkan fitnah di daerah tempat Kirana tinggal. Apalagi status mereka baru lamaran belum menikah, Dokter Perdi tak mau nama baik keluarga Kirana jadi buruk di mata masyarakat situ.


Setelah kepulangan Dokter Perdi, Kirana dan adik-adiknya membuka satu persatu paper bag yang diberi Dokter Perdi tadi sedangkan kedua orang tua Kirana hanya memperhatikan anak-anaknya yang sibuk membuka paper bag itu. Paper bag itu masing-masing ada tulisan nama adik-adiknya Kirana beserta Kirana dan kedua orang tuanya, ternyata saat dibuka isinya baju batik semua sama warna dan motif namun beda-beda model.

__ADS_1


Adik-adiknya Kirana senang mendapat gamis batik itu dengan model berbeda hingga adik-adiknya Kirana langsung mencoba gamis batik itu dan yang membuat Kirana makin senang dengan Dokter Perdi juga memberikan untuk ayuknya Kirana, kakak iparnya serta keponakannya. Ternyata Dokter Perdi tidak melupakan ayuknya Kirana yang saat ini jauh di tempat suaminya, rupanya Dokter Perdi sudah menyiapkan ini semua untuk pernikahan mereka nanti.


Kirana kini membuka paper bag yang bertulisan namanya dan ternyata isinya ada dua gamis batik, yang satu sama dengan keluarga Kirana dan yang satu lagi berbeda sendiri dan hanya Kirana yang mendapatkan itu. Gamis batik yang berbeda itu juga sangat elegan bahkan saat pertama melihat gamis batik itu Kirana langsung jatuh cinta, sedangkan adik-adiknya Kirana masih melanjutkan membuka paper bag lainnya yang ternyata berisi makanan ringan.


__ADS_2