
Satu bulan kemudian
"Hoek...hoek...hoek..."
Mita terus bolak balik ke kamar mandi karena memuntahkan isi perutnya, dirinya merasa begitu lemas dari pagi hingga siang ini semua isi perutnya sudah terkuras karena dimuntahkannya. Ibunya Mita yang melihat anaknya seperti itu begitu sedih, rasa khawatir yang dipikirkannya selama satu bulan ini sepertinya terjadi.
Ibunya Mita membantu Mita berjalan menuju kamar tidur Mita, Mita menurut saja apalagi dirinya memang sudah tak kuat rasanya ingin berjalan. Ibunya Mita meneteskan air mata melihat keadaan anaknya yang semakin kurus, pucat dan lingkaran mata hitam begitu jelas.
"Mita, apa kamu tidak tau siapa yang memperkosamu nak. Sepertinya sekarang kamu sedang hamil" kata Ibunya Mita yang terus berusaha menyeka air matanya yang hampir jatuh
Seperti di sambar petir di siang bolong Mita mendengar perkataan Ibunya, dirinya benar-benar takut hamil sekarang apalagi seingatnya bulan ini dirinya belum juga datang bulan. Mita langsung menangis sembari memeluk Ibunya, dirinya tak menyangka akan hamil di luar nikah bahkan dirinya bukan hamil karena melakukan dalam keadaan suka maupun suka tapi dalam keadaan dirinya di perkosa.
Rasa hidupnya benar-benar sudah tak berarti lagi, namun jika dirinya tidak meminta pertanggung jawaban dari laki-laki yang telah menghamilinya. Dirinya tidak mungkin bisa menanggung aib ini sendirian, Mita segera melepas pelukannya dari Ibunya dan menghapus air matanya.
Hari ini dirinya harus menemui Agam di kontrakannya dan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan laknat Agam, Mita segera beranjak dari tempat tidurnya kemudian mengambil kunci sepeda motornya yang terletak di meja riasnya.
"Mita kamu mau kemana?" tanya Ibunya Mita berusaha mencegah anaknya itu
"Mita ada keperluan sebentar bu" jawab Mita kemudian memakai masker sekali pakai dan kaca mata hitam agar karyawan restoran tak mengenalinya jika dirinya lewat nanti.
Mita keluar dari rumahnya sembari mengeluarkan sepeda motornya, Mita segera melajukan sepeda motornya ke arah kontrakan Agam. Tiba disana kontrakan Agam pintunya tergembok dari luar, pikir Mita kemungkinan Agam sedang bekerja. Mita turun dari sepeda motor membiarkan sepeda motornya di depan kontrakan Agam, dirinya ingin menemui Agam di tempat kerja Agam karena ini masalah besar harus segera di selesaikan.
Namun saat dilihatnya satu persatu rombongan kuli bangunan itu sepertinya tak ada sosok Agam disitu, Mita mendekati salah satu rombongan kuli bangunan.
__ADS_1
"Bang, mau tanya Agam kemana?" tanya Mita yang masih memakai kaca mata hitam dan masker
"Ada apa memang mbak? soalnya Agam sudah satu bulan tidak bekerja disini lagi" kata salah satu kuli bangunan itu
Mita terkejut bukan main mengetahui fakta Agam tak bekerja lagi disini, dirinya harus bagaimana bahkan nomor hp Agam dirinya tidak punya dan takkan bisa menghubungi Agam.
"Kalo boleh tau dia kemana memangnya?" tanya Mita lagi ingin mencari titik terang tentang Agam
"Kata mandor kami dia pulang ke Kalimantan, karena Ibu dan Adiknya kecelakaan satu bulan yang lalu" jawab Kuli bangunan itu lagi
"Kamu punya nomor hpnya gak? Saya boleh minta gak? Saya ada keperluan dengan dia" kata Mita berharap dirinya bisa menghubungi Agam untuk minta pertanggung jawaban
Baru saja kuli bangunan itu mau membuka mulutnya, dirinya sudah di tegur oleh mandor kuli bangunan. Jadi mau tau mau dirinya meninggalkan wanita yang ada dihadapannya, Mita kesal tak bisa mendapatkan apa yang diinginkan dan sekarang dirinya harus bagaiman sekarang.
Sepanjang jalan air mata Mita kembali menetes, dirinya sangat sedih dengan kehidupannya yang selalu penuh dengan kesedihan ini. Dirinya benar-benar menyesal mungkin ini semua karma untuk dirinya yang telah jahat dengan orang lain selama ini, Mita segera menghapus air matanya saat sudah di depan rumahnya.
.
.
Di tempat lain
Kirana sangat bahagia setelah selesai kontrol dengan Dokter Kandungan, kemungkinan dirinya bisa hamil karena penyakitnya telah sembuh. Semua ini berkat yang MAHA KUASA, karena mungkin telah melihat usaha Kirana dan Dokter Perdi selama ini. Kirana mengajak sang suami untuk makan di restoran dimana kedua sahabatnya bekerja, Dokter Perdi tentu menyetujui permintaan sang istri.
__ADS_1
Dokter Perdi ikut bahagia melihat sang istri sangat bahagia, semoga selanjutnya mereka bisa segeranya di beri momongan meski masih harus berusaha lagi. Dokter Perdi mengandengan tangan sang istri keluar dari rumah sakit menuju mobil mereka yang terparkir sempurna di antara deretan mobil-mobil yang lain, Dokter Perdi masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Kirana.
Dokter Perdi segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit dan menuju restoran, sepanjang jalan Kirana terus mengembangkan senyumannya di balik niqabnya. Tiba di area parkiran restoran Kirana langsung turun, begitu juga Dokter Perdi setelah memarkirkan mobilnya.
Kirana dan Dokter Perdi berjalan beriringan masuk ke dalam restoran yang sangat ramai oleh pengunjung, Kirana dan Dokter Perdi mencari kursi kosong yang akan mereka tempati. Setelah duduk di kursi itu Kirana memanggil pelayan, Kirana dan Dokter Perdi segera melihat buku menu.
"Ini menu baru, aku mau coba ya sayang. Sayang mau gak?" kata Kirana melihat menu baru yang kelihatan dari gambar sangat lezat
"Aku yang ini aja, nanti cicip aja punya kamu" kata Dokter Perdi sembari tersenyum
"Minumannya es jeruk saja dua, kayaknya lebih seger untuk cuaca panas seperti ini" kata Kirana sembari memberikan buku menu itu kepada
Setelah pelayan mencatat menu makanan yang di pesan oleh Kirana dan Dokter Perdi, pelayan itu segera peegi dari hadapan sepasang suami istri itu dan memberikan catatan itu kepada chef. Cukup lama akhirnya makanan yang di pesan oleh Kirana dan Dokter Perdi datang, pelayan itu begitu hati-hati menata makanan itu di atas meja yang ada di hadapan Kirana dan Dokter Perdi.
Setelah itu Kirana dan Dokter Perdi mulai menikmati dan menyantap makanan yang sudah terhidang sempurna di atas meja, Kirana begitu kagum dengan menu baru ini sesuai dengan harga sangat lezat.
"Sayang cobain deh, enak banget" kata Kirana sembari menyodorkan sendok yang berisi makanan yang dipesannya tadi
Dokter Perdi dengan senang hati menerima suapan dari sang istri, dirinya mengunyah makanan tersebut sembari kepalanya manggut-manggut seperti sedang menjadi juri Mastherchef Indonesia.
"Enak banget, apalagi di suapin istri tercinta" kata Dokter Perdi sembari tersenyum
Membuat Kirana tersipu malu bahkan wajahnya sudah merah merona seperti tomat meski terhalang niqab, Dokter Perdi tau bahwa istrinya begitu tersipu dengan pujiannya tadi.
__ADS_1
Orang-orang yang duduk di dekat Kirana dan Dokter Perdi saja begitu tersanjung melihat keromantisan sepasang suami istri itu, Kirana segera meneguk es jeruk yang dipesannya tadi ingin menghilangkan rasa malu.