
Kirana sangat benci yang namanya ingkar janji, dirinya benar-benar kecewa saat ini. Seseorang yang membuatnya kagum akan kesederhanaannya, kesolehannnya ternyata bisa juga mengingkari janji, padahal janji itu dibuat sendiri dan ternyata diingkarinya sendiri.
Kirana terus menatap ke arah samping jalan, melihati setiap mobil yang memotong kendaraan yang di naikinya saat ini. Tiba-tiba air mata Kirana jatuh lalu segera di hapusnya, entah mengapa rasa kecewa itu sepertinya lebih besar ketimbang waktu putus dengan Agam.
Kirana kini beralih melihat cincin yang terlingkar di jari manisnya, dipandanginya cincin yang indah itu sembari menyeka kembali air matanya yang jatuh. Beruntung para penumpang dalam mobil travel itu pada tidur jadi tak melihat bahwa Kirana saat ini sedang bersedih, Kirana yang merasa pusing kini memutuskan untuk ikut tidur seperti para penumpang lainnya.
Cukup lama perjalanan yang ditempuh Kirana, kini dirinya sudah tiba di depan gang rumahnya. Kirana turun dari mobil travel itu, kemudian mengambil kopernya yang sudah diturunkan oleh supir travel itu.
"Ini pak uangnya" kata Kirana memberikan uang tersebut ke supir travel itu
"Ini kembaliannya neng" kata Supir travel itu
"Gak usah pak, ambil saja" kata Kirana
"Makasih ya neng" kata Supir travel itu
__ADS_1
"Iya pak sama-sama" jawab Kirana pergi meninggalkan supir travel itu sembari menyeret kopernya
Kirana terus melangkahkan kakinya sampai tiba di depan rumahnya, di depan rumah Kirana sudah di sambut oleh kedua orang tuanya beserta adik-adiknya yang sedang bersantai di teras. Salah satu adik Kirana menghampiri Kirana membantu Kirana membawa koper setelah mencium tangan Kirana, Kirana berjalan mendekati kedua orang tuanya lalu mencium mereka.
Kirana beserta kedua orang tuanya dan adik-adiknya masuk kedalam rumah mereka, Kirana meminta izin dengan ibunya untuk istirahat. Ibunya yang merasa Kirana seperti sedang ada masalah tak ingin bertanya dahulu jadi memilih mengizinkan Kirana untuk beristirahat, Kirana masuk kamar tidur kemudian mengunci pintu kamar dari dalam.
Kirana berbaring di atas tempat tidurnya sembari memeluk bantal dan mulai menangis untuk menumpahkan semua kesedihannya, entah berapa lama Kirana menangis hingga akhirnya dirinya tertidur.
Di tempat lain Dokter Perdi yang selesai mengobati pasiennya, kembali membuka hpnya dilihatnya pesan whatsapp untuk Kirana yang dikirimnya tadi pagi hingga sekarang masih belum centang dua. Dokter Perdi mencoba menelepon Kirana lagi namun masih tak aktif, ada rasa khawatir meliput di hati Dokter Perdi dirinya benar-benar bingung karena tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah itu Dokter Perdi menempelkan kertas yang sudah di tulisnya itu di etalase obat.
Adzan dzuhur berkumandang, Dokter Perdi berjalan menuju kamar mandi ingin mengambil air wudhu. Setelah adzan selesai Dokter Perdi juga selesai mengambil air wudhu, Dokter Perdi menganti pakaiannya dengan pakaian jubah yang khusus sholat. Kemudian membentang sajadah dan mulai mengerjakan sholat dzuhur dengan begitu khusyuk.
Kirana yang mendengar suara adzan dzuhur kini beranjak dari tempat tidurnya, Kirana membuka pintu kamar kemudian keluar menuju kamar mandi. Kirana segera mengambil air wudhu, setelah itu kembali ke kamar tidurnya lalu mengambil mukenahnya yang tergantung di dalam lemari.
__ADS_1
Kirana membentangkan sajadah kemudian memakai mukenah, lalu mengerjakan sholat dzuhur dengan khusyuk. Selesai sholat ditempat masing-masing Kirana dan Dokter Perdi saat ini sama-sama sedang berdoa, mereka berdoa sembari menangis.
"Ya Allah jika dia benar yang terbaik untukku tolong dekatkan namun jika dia bukan yang terbaik maka jauhkanlah" Kirana berdoa sembari menghayati setiap doanya dengan air mata yang terus mengalir
"Ya Allah aku benaran serius dengannya, jadi permudahkanlah urusan hamba ingin melamarnya nanti" Dokter Perdi juga berdoa dari hatinya yang paling dalam
Selesai sholat Kirana kini keluar dari kamar tidurnya menuju dapur, dilihatnya ibunya yang saat ini sedang makan sendirian. Kirana yang sudah sangat lapar segera duduk di samping ibunya sembari mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, Kirana mulai menyantap makanan yang barusan di ambilnya.
Ibunya hanya tersenyum memandangi Kirana yang makan sangat rakus seperti orang yang tak makan selama satu bulan, Kirana yang tahu diperhatikan ibunya segera mengangkat kepalanya.
"Yang lain mana bu" kata Kirana di sela-sela makannya
"Sudah pada makan, ibu dari tadi mau mengajak kamu makan. Tapi ibu lihat kami sedang sholat jadi kami duluan makan" jelas Ibunya Kirana
Kirana hanya mengangguk karena mulutnya saat ini sangat penuh dengan isi makanan jadi tak bisa menjawab, Kirana masih menikmati makanan yang terhidang di atas meja makan. Kirana merasa sudah lama tak makan masakan ibunya makanya saat ini dirinya begitu menikmati makanan tersebut, ibunya sangat senang melihat Kirana yang kembali ceria tidak seperti awal datang muka ditekuk seperti banyak beban pikiran.
__ADS_1