Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 105


__ADS_3

Dokter Perdi pun tiba dikliniknya, mobilnya langsung masuk ke garasi yang ada disamping kliniknya. Dirinya segera keluar dari mobil, kemudian berjalan menuju ke pintu klinik. Dibukanya klinik, lalu dirinya segera masuk. Kliniknya yang sudah ditinggalnya selama seminggu, membuat seluruh area terpenuhi dengan debu.


Dokter Perdi pun mengambil sapu untuk membersihkan kliniknya, tak lupa dirinya memakai masker agar debu tidak terhirup dengan dirinya. Dari depan hingga kebelakang dirinya membersihkan kliniknya, selesai menyapu dirinya juga mengepel lantai agar semua debu yang ada dilantai benar-benar bersih.


Setelah selesai semua Dokter Perdi berbaring beristirahat diruang depan sembari mengirim pesan whatsapp pada sang istri, mengabari bahwa dirinya sudah tiba diklinik.


Kirana yang kebetulan sedang bermain hp jadi melihat pesan whatsapp dari sang suami yang ada diatas layar hp, dirinya segera membuka dan membalas pesan whatsapp dari sang suami.


(Sayang, aku udah nyampe diklinik) Kak Perdi


(Syukurlah, kapan nyampenya?) Kirana


(Setengah jam yang lalu, maaf baru ngabarin karena tadi bersihin klinik dulu) Kak Perdi


(Iya gak apa-apa, sekarang lagi apa?) Kirana


(Lagi nyantai, kamu lagi apa?) Kak Perdi


(Sama lagi nyantai juga, sayang udah makan belum?) Kirana


"Assalamualaikum" kata seorang laki-laki paruh baya didepan pintu klinik


"Walaikumsalam, iya pak" jawab Dokter Perdi sembari berdiri dan kemudian meletakan hpnya


"Mau berobat Pak Dokter" kata seorang laki-laki paruh baya itu


Dokter Perdi pun segera keluar, kemudian mempersilahkan laki-laki paruh baya itu untuk masuk dan berbaring diatas bed pasien. Dokter Perdi mulai memeriksa laki-laki paruh baya itu, lalu mengtensi darah laki-laki paruh baya itu.


Setelah selesai memeriksa Dokter Perdi mengambil obat dietalase yang ada didalam, kemudian menulis dibelakang obat itu cara minumnya berapa kali dalam sehari. Dirinya segera menyerahkan obat demam batuk pilek serta obat antibiotik yang sudah ditulisnya tadi dengan laki-laki paruh baya itu, laki-laki paruh baya itu menerima obat dari Dokter Perdi dan mengeluarkan uang untuk membayar semuanya.


Selang berapa menit, datang lagi orang ingin berobat. Dokter Perdi mulai sibuk dengan pasien, apalagi sekarang semakin banyak yang menunggu dikursi tunggu yang ada diteras depan. Jadi dirinya mulai memeriksa satu persatu pasien yang datang, hingga sudah tidak tau lagi yang datang pasien ke berapa saking ramai kliniknya hari ini.


Ditempat lain, Kirana masih menatap layar hpnya. Pesan whatsapp yang dikirimnya ke sang suami sudah centang dua bahkan sudah berwarna biru, namun sudah 45 menit sang suami belum juga membalas pesan whatsapp dari dirinya. Tapi dirinya tak terlalu khawatir karena dirinya tau mungkin sang suami sedang ada pasien saat ini makanya belum sempat membalas pesan whatsapp dari dirinya.


Kirana yang kelamaan menunggu sang suami memutuskan untuk menonton tv, dirinya segera beranjak dari dapur dan menuju keruang keluarga. Setelah makan tadi dirinya memang belum beranjak kemana-mana, karena setelah makan tadi dirinya masih duduk dikursi makan sembari bermain hp dan tak lama kemudian sang suami mengiriminya pesan whatsapp.


Membuat dirinya semakin lama duduk dikursi makan, tiba diruang keluarga kirana segera mendudukkan bokongnya dikursi yang ada diruangan tersebut. Kemudian segera menyetel tv yang ada dihadapannya, lalu mulai mencari film yang menurutnya bagus dan dirinya pun mulai menonton film yang sudah dipilihnya barusan.


.


.


Malam hari


Setelah sholat isya' Kirana kembali duduk ditepi ranjang sembari mengambil hpnya, dirinya mencari nama sang suami dikontak hpnya. Setelah ketemu segera dihubunginya nomor sang suami.

__ADS_1


"Hallo Assalamualaikum" kata Kirana setelah telepon diterima dari seberang sana


"Walaikumsallam, sayangku" jawab Dokter Perdi diseberang sana


"Lagi apa? udah makan belum?" tanya Kirana


"Lagi nyantai, udah makan tadi habis sholat magrib. Sayang sendiri udah makan?" kata Dokter Perdi


"Udah juga, ohh iya sayang boleh gak aku ngajak sahabat-sahabatku untuk tidur dirumah ini selagi kamu masih disana" kata Kirana yang sebenarnya belum makan


"Tentu boleh sayang, justru itu ide yang sangat baik" kata Dokter Perdi


"Aku izin keluar ya, mau jemput sahabat-sahabatku" kata Kirana


"Oke, ya sudah. Hati-hati dijalan Assalamualaikum" kata Dokter Perdi


"Walaikumsallam" jawab Kirana mengakhiri panggilan telepon


Kirana melihat jam dilayar hpnya, waktu masih menunjukan pukul setengah 8. Masih satu setengah jam lagi jika harus menjemput sahabat-sahabatnya, dirinya memilih untuk berselancar disosial media dulu selama menunggu waktu terus berjalan.


Hingga tak terasa waktu kini menunjukkan hampir pukul 9 malam, Kirana yang tersadar ketika melihat layar hp bagian atas segera beranjak dari tempat tidur dan tak lupa mengambil kunci sepeda motornya yang terletak diatas meja hiasnya.


Kirana keluar dari kamar lalu berjalan menuju pintu depan, setelah keluar dirinya tak lupa menutup serta mengunci kembali pintu rumah. Dirinya segera mengambil sepeda motornya yang ada digarasi, kemudian dicolokkannya kunci sepeda motor itu dikontak kunci dan mulai melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.


Lima belas menit dirinya sudah tiba didepan restoran tempat dirinya bekerja dulu, Dilihatnya pintu rolling door restoran sudah tutup namun belum digembok. Dirinya yakin sahabat-sahabatnya serta para karyawan lain masih ada didalam, selang berapa detik pintu rolling door pun terbuka dan para karyawan mulai keluar.


"Kirana" kata Fitri dan Novi kompak sembari menghampiri Kirana


"Mana Lili?" tanya Kirana kepada kedua sahabatnya itu


"Masih didalam, kamu sendirian kesini. Naik sepeda motor ini, kemana suamimu?" cerocos Novi


"Aku sendirian, suamiku sekarang kembali dikliniknya. Aku udah izin dengannya mau ngajak kalian nginep dirumah kami" jelas Kirana


"Berapa lama suamimu gak dirumah?" tanya Fitri


"Bulan depan udah kembali, jadi kalian harus temani aku selama suamiku gak ada" kata Kirana


Tak berapa lama Lili keluar dari restoran, dilihatnya ada Kirana didekat Fitri dan Novi lalu segera dihampirinya ketiga sahabatnya itu.


"Kirana, ada apa?" tanya Lili khawatir sahabatnya itu punya masalah sehingga malam-malam begini menghampiri dirinya dan Fitri serta Novi


"Gak ada, hanya ingin mengajak kalian bertiga menginap dirumah kami" kata Kirana


"Memang boleh dengan suamimu?" tanya Lili

__ADS_1


"Boleh, justru dia setuju aku mengajak kalian menginap dirumah kami" kata Kirana


"Tapi.." kata Lili


"Li, suaminya Kirana gak dirumah" jelas Fitri


"Ohh walah, aku kira ada dirumah. Soalnya gak enak aja kalo ada suamimu kalo harus menginap" kata Lili


"Akh meski ada suamiku, biasa ajalah kenapa gak enakkan dienakkin aja kali" kata Kirana


Lili Fitri dan Novi hanya tersenyum menanggapi perkataan Kirana barusan, mungkin bagi Kirana biasa aja tapi bagi sahabat-sahabatnya ya gak enak. Masak iya harus tinggal bareng dengan laki-laki yang bukan mahrom, meski suami sahabat sendiri tetap saja rasa sungkan itu ada.


Antara ipar aja masih canggung apalagi ini hanya suami sahabat sendiri, lalu apa kata orang lain. Dan benar apa kata pepatah ipar adalah maut dalam rumah tangga, terus sahabat apa kalo dalam rumah tangga. Meski Kirana percaya dan dirinya yakin sahabat-sahabatnya bukan musuh dalam selimut tapi kita tidak pernah tau, soalnya kejahatan itu kadang datang karena ada kesempatan bukan niat.


"Terus kita naik apa, masak iya kita bonceng empat naik sepeda motor ini" kata Novi


"Benar masak iya kita kayak anak SD SMP, suka naik sepeda motor bonceng empat" kata Lili


"Cabe-cabean donk, kayak zaman dulu" kata Kirana diiringi dengan tertawa


Fitri hanya tersenyum mendengar ketiga sahabatnya bergurau.


"Li gimana kalo izin dengan Bu bos mau bawa sepeda motor beliau untuk malam ini aja" saran Fitri


"Benar besok aku kan libur, jadi besok pas berangkat kerja kalian bawa lagi sepeda motor Bu bos dan bawa sepeda motor Kirana. Terus pulangnya kalian bisa pakai sepeda motor Kirana" kata Lili menyetujui saran Fitri


Lili pun segera kembali kedalam restoran, kemudian menuruni anak tangga menuju ruangan Bu bosnya. Setelah masuk Lili menyampaikan keinginannya yang mau meminjam sepeda motor Bu bosnya yang ada direstoran. Bu bosnya mengangguk mengizinkan Lili membawa sepeda motornya, sebelum pergi Lili terus mengucapkan terima kasih kepada Bu bosnya.


Kini Kirana dan sahabat-sahabatnya segera melajukan sepeda motor, sepeda motor yang mereka kendarai meninggalkan area restoran. Tak butuh waktu lama mereka berempat pun tiba dirumah Kirana, segera mereka masukkan sepeda motor yang mereka kendarai kedalam garasi rumah Kirana.


Kemudian mereka berempat keluar dari garasi dan tak lupa Kirana menutup serta mengunci garasi tersebut, Kirana dan sahabat-sahabatnya berjalan menuju pintu. Pintu pun dibuka Kirana, mereka berempat segera masuk setelah pintu terbuka seperti biasa Kirana menutup dan mengunci kembali pintu.


Kirana menunjukkan kamar yang akan ditempati sahabat-sahabatnya, didalam kamar tidur tersebut sudah ada kamar mandi jadi ketiga sahabatnya itu tak perlu repot-repot jika ingin kekamar mandi. Kirana mempersilahkan sahabat-sahabatnya untuk masuk kamar, agar sahabat-sahabatnya bisa segera mengunakan kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Aku tunggu didapur, aku akan siapkan makan malam buat kita" kata Kirana sembari keluar dari kamar yang akan ditempati ketiga sahabatnya itu


"Gak usah repot-repot, nanti kita siapin sendiri saja" jawab Fitri sebelum Kirana menghilang dari balik pintu


Kirana tak menghiraukan perkataan Fitri, dirinya tidak masalah hanya memanaskan masakannya sore tadi. Dirinya memang sengaja sore tadi memasak lauk serta nasi lebih banyak karena semuanya sudah direncanakannya, dirinya tak mungkin membiarkan sahabat-sahabatnya itu mengerjakan pekerjaan kecil seperti ini.


Apalagi dirinya tau sahabat-sahabatnya itu baru pulang dari bekerja tentunya rasa lelah itu ada, soalnya dirinya sudah pernah diposisi itu. Setelah memanaskan lauk serta pauk Kirana menata semua makanan itu diatas meja makan, dan bertepatan ketiga sahabatnya muncul menghampiri dirinya yang sedang berada didapur.


"Ya ampun Kirana, gak usah repot-repot. Masak tuan rumah harus turun tangan" kata Novi berdiri sembari memegang sandaran kursi makan


"Justru itu kata-kata untuk kalian masak tamu yang ngerjain, udah selesai juga. Ayo duduk kita makan sama-sama" kata Kirana

__ADS_1


Kirana serta ketiga sahabatnya itu pun menurut setelah disuruh duduk oleh Kirana, mereka bertiga tak bisa membantah semua perkataan Kirana. Mereka berempat pun mulai menyantap dan menikmati makanan yang ada diatas meja makan, mereka berempat makan dalam diam hingga makanan yang ada dipiring mereka masing-masing habis tak bersisa.


Kini Fitri yang mengambil alih semua piring-piring kotor itu, dibawanya ke wastafel dan segera dicucinya. Kali ini Kirana tak bisa membantah kalo sudah dikerjakan sahabatnya itu, selesai semua kini mereka berempat memilih untuk duduk diruang keluarga sembari menonton tv.


__ADS_2