
Tok...tok...tok
Mita berusaha mengetuk pintu rumahnya meski begitu lemah, dirinya yang pulang dalam keadaan berantakkan seperti ini tentu akan membuat sang ibu cemas.
"Mita.." panggil Ibunya Mita saat membuka pintu yang begitu terkejut dengan penampilan sang anak berantakkan bahkan pulang tanpa memakai jilbab.
Mita langsung menghamburkan pelukan ke sang ibu dan menangis sejadi-jadinya, adik perempuan Mita yang sudah menikah kebetulan menginap di rumah sang ibu sudah tiga hari ini karena sang suami sedang dinas luar kota. Adiknya Mita segera keluar dari kamar tidur saat mendengar suara tangisan di ruang tamu, tiba di ruang tamu Adiknya Mita terkejut melihat keadaan Kakak satu-satunya seperti itu.
"Kak Mita, apa yang terjadi?" tanya Adiknya Mita sembari duduk di samping Mita
"A...aku diperkosa" jawab Mita terbata-bata
"Ya allah Kak" ucap Adiknya Mita kemudian menangis juga
Ibu mereka pun dari tadi memeluk Mita sambil menangis, sang ibu menyalahkan diri sendiri yang terjadi kepada Mita sekarang. Sang ibu sembari menangis sambil bertanya dalam hati dosa apa yang diperbuatnya selama ini sampai anaknya yang harus dihukum, sedangkan Mita tak bisa berkata apa-apa lagi hanya bisa menangis sambil mengingat kejadian dirinya dilecehkan oleh Agam tadi.
Adiknya Mita membawa sang ibu ke kamar tidur sang ibu untuk berisitirahat dahulu, apalagi sang ibu memang belum tidur sama sekali dari tadi karena menunggu Mita pulang. Setelah mengantar sang ibu Adiknya Mita mengantar Kakaknya juga ke kamar tidur kakaknya, Mita menurut saja tapi tiba di dalam kamar tidur dirinya meminta Adiknya untuk meninggalkan dirinya sendirian.
Adiknya Mita menuruti permintaan Kakaknya dan kembali ke kamar tamu yang di tempatinya bersama sang anak yang masih bayi, di dalam kamar Mita kembali menangis meratapi nasibnya yang begitu banyak cobaan. Dalam tangisnya Mita teringat akan dosanya yang telah jahat dengan Kirana selama ini, bahkan memiliki niat untuk merebut suaminya Kirana.
"Ya tuhan mungkin ini karma untukku" gumam Mita menyesali semua perbuatannya selama ini
Mita masih terus menangis hingga tak terasa adzan subuh berkumandang, Mita bukannya beranjak untuk sholat dirinya justru masih menangis menyesali semua perbuataannya yang jahat kepada semua orang.
Waktu terus berjalan hingga matahari pun mulai menampakkan cahaya dari ufuk timur, kini Mita memilih ke kamar mandi kebetulan Adiknya dan Sang ibu belum ada yang keluar kamar. Mita kembali menangis dalam kamar mandi sembari menggosok tubuhnya dengan kasar, dipikirannya biar kotoran dari Agam hilang karena dirinya merasa begitu jijik dengan tubuhnya sendiri.
Adiknya Mita keluar dari kamar tidur dan ingin memasak untuk sarapan mereka pagi ini, Adiknya Mita mulai berkutik dengan bahan-bahan dapur yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Aku benci dengan kamu, AGAM" teriak Mita dalam kamar mandi sambil terus menyiram seluruh tubuhnya
"Kak Mita" kata Adiknya Mita yang barusan mendengar Mita berteriak
Adiknya Mita mematikan kompor sejenak sebelum mendekati kamar mandi, kemudian Adiknya Mita melangkahkan kaki mendekati daun pintu kamar mandi.
"Kak... Kak Mita" panggil Adiknya Mita sembari mengedor daun pintu kamar mandi
Mita yang mendengar suara adiknya di luar segera menyelesaikan acara mandinya, kemudian mengambil handuknya dan dibalutkannya ke tubuhnya. Mita membuka pintu kamar mandi dengan keadaan sudah selesai mandi, Adiknya Mita kembali terkejut melihat keadaan Kakaknya yang mata bengkak dan kulit tubuh Kakaknya ada banyak goresan bekas kuku yang kelihatan masih baru karena masih merah.
"Kak Mita" kata Adiknya Mita merangkul Mita dan mengantar Mita ke dalam kamar tidur Mita
"Tinggalkan kak sendirian" ujar Mita saat sudah masuk ke dalam kamar tidur
"Kakak gak kerja hari ini?" tanya Adiknya Mita
"Baiklah, kakak istirahat ya. Mila tau kakak pasti belum tidur dari semalam, nanti kalo masakan Mila sudah jadi akan Mila antar ke kamar kakak" kata Adiknya Mita
Mita hanya menganggukkan kepala, setelah Adiknya pergi Mita mengunci pintu kamarnya dari dalam dan segera memakai pakaiannya. Mita kembali duduk di atas kasurnya sembari melamun memikirkan keadaannya sekarang, dirinya merasa tak sanggup untuk melanjutkan kehidupannya lagi.
.
.
Di tempat lain
Drrt...drrt...drrt
__ADS_1
Bunyi hp Agam yang sudah sekian kalinya, Agam baru terbangun dari tidurnya setelah kembali mendengar bunyi hpnya. Agam mengambil hpnya yang tergeletak tak jauh dari dirinya, Agam membuka kedua matanya sambil melihat siapa yang meneleponnya dari tadi.
Ada banyak panggilan tak terjawab, ada dari mandornya dan ada juga dari nomor yang tak dikenalnya. Agam beranjak dari tidurnya berusaha untuk duduk meski kepalanya sedikit pusing, Agam terkejut melihat tubuhnya tanpa sehelai kain dan bahkan disekitarnya begitu berantakkan.
Agam mengambil bajunya dan celananya yang terceceran kemana-mana, sembari berusaha mengingat apa yang terjadi semalam dan yang diingatnya dirinya minum-minuman bersama seorang laki-laki yang masih muda setelah itu tak ingat apa-apa. Agam kembali terkejut melihat ada sebuah jilbab di dalam kamarnya serta ada bercak darah di atas kasurnya, Agam mencambak rambutnya berusaha mengingat apa yang terjadi belum ingat juga hp Agam kembali berbunyi segera diangkatnya.
"Maaf pak mandor, saya sepertinya belum bisa masuk kerja hari ini" jawab Agam saat sudah menerima telepon
"Agam..." panggil seorang wanita di seberang sana
Agam yang merasa salah jawaban segera melihat layar hpnya, ternyata bukan mandor kuli bangunan yang menelepon melain nomor baru.
"Ini siapa?" tanya Agam karena bingung orang di seberang memanggil namanya
"Agam ini Bu Sri, tetangga Agam di Kalimantan" jawab Bu Sri di seberang sana
"Ahh iya ada apa Bu Sri" kata Agam yang perasaannya mulai tidak enak
"Agam cepat pulang nak, Ibu dan Adik mu kecelakaan di tabrak mobik truk pagi tadi pas mau ke pasar. Ini Bu Sri di rumah sakit melihat kondisi Ibu dan Adik mu" jelas Bu Sri
"Apa? Ibu dan Heni kecelakaan" kata Agam terkejut sampai-sampai hp yang ada di tangannya terjatuh di atas kasur
"Hallo Agam, Agam kamu masih disitukan nak. Cepat pulang ya nak, tak ada kerabat mu disini selain kamu nak" teriak Bu Sri di seberang sana kemudian telepon pun berakhir
Agam langsung mengambil tas ranselnya dan memasukkan seluruh pakaiannya dengan terburu-buru, dirinya harus pulang detik ini juga karena Ibu dan Adiknya membutuhkan dirinya. Selesai semua Agam juga memasukkan jilbab itu ke dalam tas nya, dirinya nanti setelah urusan di Kalimantan selesai akan mencari wanita yang sudah dinodainya semalam.
Agam segera keluar dari kontrakannya sembari membawa tas ranselnya yang lumayan berat itu, Agam berjalan mencari tukang ojek yang sering mangkal tak jauh dari kontrakkan.
__ADS_1
"Bang, ngojek. Antar ke bandara ya" kata Agam yang sudah naik ke jok belakang sembari memakai helm