Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 147


__ADS_3

Waktu terus berlalu hari berganti minggu berganti bulan, setelah sholat subuh Kirana berniat ingin menampung uriennya karena sudah dua bulan lebih dirinya tak kunjung datang bulan. Kirana berharap kali ini dirinya bisa hamil, Kirana segera merobek plastik yang berisi sebuah benda kecil dan segera dicelupkannya di dalam wadah kecil yang berisi uriennya tadi.


Selama menunggu berapa detik dalam hati Kirana terus berdoa, hingga selang berapa detik dirinya mengangkat benda kecil itu ingin melihat hasilnya terlihat garis satu jelas dan garis satunya agak samar. Kirana masih menunggu sembari terus menatap benda kecil itu, dan pada akhirnya di benda kecil itu terlihat jelas garis dua.


Sontak air mata Kirana menetes haru dan bahagia yang ditunggu-tunggunya selama ini terkabul juga, Kirana keluar dari kamar mandi matanya menyapu ruang kamar tidurnya sepertinya sang suami belum kembali dari masjid. Kirana mengambil gambar benda kecil itu dihpnya ingin dijadikannya kenangan dan ingin memberi tahu kabar gembira ini kepada sahabat-sahabatnya, namun yang harus tau terlebih dahulu sang suami.


Kirana mengambil kotak perhiasannya di keluarkannya isi yang ada didalamnya, kemudian dirinya meletakkan benda kecil itu didalam kotak perhiasaannya itu. Kirana meletakkan kotak perhiasaannya itu di atas ranjang, kemudian menulis sebuah note di kertas dan meletakan di samping kotak perhiasaannya.


Kirana bergegas kembali ke kamar mandi, dirinya ingin memberi kejutan dengan sang suami. Dan benar saja tak lama kemudian Dokter Perdi pulang dan sudah masuk ke dalam kamar tidur mereka, Dokter Perdi tidak melihat sosok sang istri di dalam kamar tidur mereka.


"Sayang..." panggil Dokter Perdi sembari berjalan ke arah dapur


Tapi sama saja tidak ada sosok sang istri di dapur, Dokter Perdi terus mencari ke setiap ruangan namun hasilnya tetap nihil. Dokter Perdi memilih masuk ke kamar tidur mereka lagi, ingin mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan sang istri.


Saat Dokter Perdi sibuk melepas pakaiannya dirinya melihat sebuah kotak perhiasaan di atas ranjang dan ada sebuah kertas, Dokter Perdi mendekati ranjang dan mengambil kertas tersebut.


(Sayang, buka kotak itu. Ada kejutan untukmu)


Begitulah tulisan yang ada di kertas tersebut, Dokter Perdi segera mengambil kotak perhiasaan yang dirinya tahu itu milik sang istri. Dokter Perdi duduk di tepi ranjang, kemudian membuka kotak itu perlahan hingga terbuka sempurna.


Mata Dokter Perdi berbinar melihat isi kotak perhiasaan milik sang istri itu, bertepatan Kirana keluar dari kamar mandi.


"Sayang, ini benaran" kata Dokter Perdi antara senang dan terharu menjadi satu saat ini


Kirana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, sontak Dokter Perdi segera memeluk dan mencium pipi sang istri saking bahagianya. Kirana hanya bisa tersenyum melihat sang suami begitu bahagia, Kirana juga sangat bahagia karena akhirnya dirinya hamil juga tentu dirinya akan menjadi Ibu juga sebentar lagi.

__ADS_1


"Ya Allah terima kasih" kata Dokter Perdi sembari bersujud syukur


Kirana membantu sang suami untuk berdiri lagi.


Kini mereka berdua duduk di tepi ranjang, Dokter Perdi mengelus dan mencium perut sang istri yang masih datar.


"Sayang kita harus menjaganya dengan hati-hati sekarang" kata Dokter Perdi masih mengelus perut sang istri itu


"Iya sayang, aku tak menyangka kita akan menjadi orang tua sebentar lagi" kata Kirana masih tidak percaya karena bagaikan mimpi.


.


.


Di tempat lain


Agam kembali meneteskan air mata mengingat Adik perempuannya kini sudah pergi selama-lamanya dari hidupnya dan hidup Ibunya dua minggu yang pasca kecelakaan itu terjadi, Agam tidak tau harus menjelaskan dari mana jika Ibunya terbangun dan menanyakan keberadaan Adik perempuannya itu.


Saat Agam terlalu terbawa suasana dirinya tak menyadari bahwa jemari Ibunya sedikit bergerak, dipikiran Agam dirinya hanya halunisasi jadi memilih tetap mengengam dan mencium tangan itu dengan begitu dalam. Namun baru dirinya tersadar bahwa jemari Ibunya benaran bergerak yang artinya dirinya tidak berhalunisasi, Agam segera mendongakkan kepalanya menatap kedua kelopak mata Ibunya yang mengernyit ingin membuka.


"Dokter... Suster..." panggil Agam yang langsung beranjak dari kursinya memanggil Dokter dan Suster di luar ruangan


Dokter dan Suster yang kebetulan memeriksa pasien di ruang tak jauh dari ruangan tempat Ibunya Agam di rawat segera bergegas ke arah teriakkan Agam yang memanggil mereka, Dokter begitu takjum melihat sebuah keajaiban di depan mata tak menyangka Ibunya Agam akan sadar dari komanya yang sudah berbulan-bulan padahal Dokter sudah sempat pasrah.


Dokter langsung memeriksa keadaan Ibunya Agak sekarang, meski Ibunya Agam sadar tapi ternyata Ibunya Agam kakinya mengalami lumpuh total akibat benturan di kepala bagian belakang yang begitu keras jadi membuat sarafnya bermasalah.

__ADS_1


"Jadi tak ada kemungkinan Ibu saya akan bisa kembali berjalan Dok?" tanya Agam saat sudah mendengar penjelasan dari Dokter barusan


"Sepertinya begitu" jawab Dokter pasrah


Agam hanya menatap wajah Ibunya dengan tatapan iba dan sedih, akibat dirinya tak ada di dekat Ibunya jadi sekarang Ibunya harus menghabiskan sisa usianya di atas kursi roda. Agam berjanji dalam hati akan merawat Ibunya meski harus repot karena Ibunya tidak bisa apa-apa, Agam kembali mengengam tangan Ibunya sembari memberi kekuatan pada Ibunya.


"Kita permisi dulu" kata Dokter pamit keluar dari ruangan tempat Ibunya Agam dirawat


"Iya Dok, terima kasih" jawab Agam sembari tersenyum


Setelah kepergian Dokter dan Suster, kini dalam ruangan tersebut hanya ada Agam dan Ibunya.


"Agam, Heni kemana? Ibu kangen dengan dia" kata Ibunya Agam yang dari tadi menyelusuri ruangan tempat dirinya di rawat mencari keberadaan anak bungsunya itu


Deg


Seketika detak jantung Agam berhenti sebentar mendengar perkataan Ibunya yang mencari keberadaan Adik perempuannya itu, ini yang di takuti Agam selama ini jika Ibunya sadar tentu akan menanyakan keberadaan Adik perempuannya itu.


Agam kembali meneteskan air matanya mengingat bagaimana dirinya mengantar Adik perempuannya itu ke tempat istirahat terakhirnya, pada hari itu Agam begitu terpukul karena kehilangan Adik satu-satunya yang sangat disayanginya harus pergi meninggalkannya selama-lamanya.


"Agam kenapa kamu diam, dan kenapa kamu menangis. Apa yang terjadi? Kemana Heni?" kata Ibunya Agam sembari mengoncang lengan anak sulungnya itu


"Ibu tenang, Heni sudah bahagia dialamnya. Kita hanya bisa mendoakannya dari sini" jawab Agam berusaha menenangkan Ibunya


"Apa maksudmu Agam? Jangan bilang Heni meninggalkan kita selamanya" kata Ibunya Agam berharap itu tidak terjadi

__ADS_1


Agam hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari menunduk, sedangkan Ibunya langsung menangis mendapat kenyataan bahwa Anak bungsunya telah pergi jauh selama-lamanya.


__ADS_2