
2 bulan kemudian
Setelah berbagai cara Dokter Perdi membujuk Kirana agar mau di ajak berobat, akhirnya hari ini Kirana menyetujui ajakkan sang suami yang ingin membawanya ke Singapore untuk berobat. Kirana juga sebenarnya ingin segera sembuh dan tak ingin juga mempunyai penyakit seperti itu, mungkin dengan dirinya berobat dirinya bisa segera memiliki anak juga meski butuh proses.
Dokter Perdi pun pagi-pagi sudah keluar dari rumahnya, dirinya ingin mengurus Paspor dan Visa miliknya serta milik sang istri. Selesai mendapatkan kedua benda penting itu, Dokter Perdi segera pulang ke rumahnya dan ingin memastikan kapan sang istri mau pergi bersamanya ke Singapore.
Setelah tiba di rumahnya Dokter Perdi mencari sang istri ke setiap ruangan yang ada di rumah mereka, tapi sang istri tak ada dimana pun. Dokter Perdi kembali melangkahkan kaki ke arah taman belakang, dan benar saja sang istri ada disitu sedang duduk sembari melamun.
Begitulah akhir-akhir ini yang terjadi dengan Kirana setelah tau tentang penyakitnya selain makan makanan sedikit, Kirana juga lebih banyak melamun dan terkadang menangis hingga terlihat sekali sekarang perubahan ditubuhnya begitu kurus. Dokter Perdi yang melihat sang istri kadang ikut meneteskan air mata, dirinya sudah sering memberi semangat untuk sang istri namun percuma.
"Sayang, udah sarapan belum. Ini aku bawain makanan favoritmu" kata Dokter Perdi sembari duduk di samping sang istri dan meletakkan makanan yang di bawanya tadi di atas meja yang ada di hadapan mereka
"Terima kasih sayang" jawab Kirana berusaha tersenyum
"Aku suapin ya" ujar Dokter Perdi mengambil sendok ke dapur kemudian kembali lagi duduk di dekat sang istri dan mulai menyuapkan makanan tersebut ke mulut sang istri.
Kirana menerima suapan demi suapan dari sang suami, Kirana sangat bersyukur memilik suami seperti Dokter Perdi. Selain perhatian Dokter Perdi juga selalu ada untuk Kirana meski selama 2 bulan ini Kirana tidak mengurusnya, namun justru dirinya lah yang di urus oleh sang suami.
"Paspor dan Visa kita sudah siap, kapan kita berangkat ke Singapore. Aku menunggu keputusan dari mu" kata Dokter Perdi di sela-sela saat menyuapi sang istri
__ADS_1
"Besok gak apa-apa kita berangkat" jawab Kirana
"Baiklah besok kita berangkat" kata Dokter Perdi kembali menyuapi sang istri
Dokter Perdi senang dengan perubahan sang istri hari ini, selain mau di ajak berobat Kirana juga sudah mau si ajak bicara dan makan pun mulai banyak meski tak seperti dahulu tapi Dokter Perdi tetap bersyukur.
Bukan hanya Dokter Perdi yang sedih melihat Kirana begitu kurus dan banyak melamun serta menangis, Wanita paruh baya yang bekerja dengan mereka juga sedih melihat majikannya seperti itu namun setelah mendengar percakapan kedua majikannya itu, wanita paruh baya itu mengucap syukur terus menerus dan senang akhirnya majikannya itu mau di ajak pergi ke Singapore untuk berobat. Wanita paruh baya itu memang sudah tau tentang penyakit yang di derita Kirana karena sudah di jelaskan oleh Dokter Perdi.
Kini Kirana dan Dokter Perdi kembali ke kamar utama yang mereka tempati, Dokter Perdi meminta Kirana untuk beristirahat karena besok akan melakukan perjalanan yang cukup jauh meski naik pesawat tetap saja dari bandara ke hotel juga butuh tenaga. Setelah Kirana berbaring di atas tempat tidur, Dokter Perdi mulai menyusun beberapa pakaian miliknya serta pakaian milik sang istri untuk di bawa nanti dan di masukannya ke dalam koper yang begitu besar karena sepertinya mereka akan lama berada di Singapore.
.
.
Lili dan Novi sedang bersedih saat ini karena Fitri sudah tidak bekerja lagi di restoran, Fitri sudah memberitahu pada kedua sahabatnya itu dua minggu yang lalu jika dirinya akan berhenti karena ingin menikah sebentar lagi. Hari ini bahkan Fitri sudah pamitan dengan kedua sahabatnya itu, ingin pamitan juga dengan Kirana namun sepertinya tidak bisa karena selama satu bulan ini Kirana tak ada kabar bahkan sukit sekali menghubunginya.
Ingin ke rumah Kirana takut Kirana sedang tidak ada di rumahnya karena Lili Novi dan Fitri sudah pernah berkunjung ke rumah Kirana dan Dokter Perdi, namun sepertinya rumah Kirana dan Dokter Perdi tidak ada orang bahkan selain sering tertutup rumah itu juga gelap gulita seperti rumah tinggal.
Lili dan Novi juga senang akhirnya di antara mereka bertiga Fitri yang ternyata akan menyusul Kirana dan Sevia, yang belum menikah tinggal Lili dan Novi. Lili memang belum siap menikah selain usia masih terlalu mudah, Lili juga masih senang dengan pekerjaannya sekarang. Namun yang seharusnya sudah siap ya Novi dari usia sudah mateng, tapi mau bagaimana ya namanya jodoh belum ketemu.
__ADS_1
"Hati-hati ya di jalan, insyaallah kita datang ke pernikahanmu" kata Lili dan Novi berbarengan
"Iya harus datang donk, ajak Kirana sekalian" kata Fitri setelah melepas pelukannya dengan kedua sahabatnya itu
"Iya kami bakal kabarin Kirana juga" jawab Lili semnari tersenyum
Setelah kepergian Fitri, Lili dan Novi kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing. Novi seperti biasa merapikan setiap meja dan memeriksa tisu yang kosong, sedangkan Lili mulai mengecek nota-nota belajaan dan membuat laporan.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya Lili ingin mengontrol para karyawan yang lain, sekalian ingin mengajari karyawan baru yang menggantikan posisi Fitri sekarang. Kini Lili sudah berada di bagian belakang, dan meminta para karyawan bagian belakang mengajari karyawan baru itu.
Entah sudah berapa tahun Lili bekerja di restoran ini, sekarang karyawan restoran rata-rata sudah diisi karyawan baru semua. Mungkin hanya tinggal dirinya Novi Mita dan Yeyen yang masih karyawan lama, entah siapa lagi nanti akan duluan berhenti diantara mereka berempat.
"Wah personil geng judes sekarang tinggal berdua" kata Mita saat berpapasan dengan Lili yang ingin mengontrol bagian depan
"Kenapa memangnya bukan urusan kamu kan" jawab Lili ketus sembari menatap Mita dengan tatapan tajam
"Gak usah ngelawan anak kecil, nanti kalo Novi juga berhenti baru tau rasa nanti sendirian" kata Mita menyunggingkan senyum liciknya
"Meski pun aku sendirian, aku gak takut dengan nenek lampir kayak kamu" kata Lili berlalu dari hadapan Mita
__ADS_1
"Ck.. Dasar anak kecil, awas aja nanti" kata Mita berdecak kesal tak terima julukan dari Lili
Lili kembali ke tempat duduknya dan kembali membuat laporan nota dan pemasukan akhir bulan ini, sedangkan Mita yang masih kesal dengan Lili memilih pergi ke toilet karena itu lah tempat paling aman jika dirinya malas mengerjakan pekerjaannya atau menghindar melayani para pengunjung.