
Selesai makan siang di restoran tempat Kirana bekerja dulu dan setelah bayar makanan yang mereka makan tadi, kini Kirana pamit dengan sahabat-sahabatnya ingin melanjutkan perjalanannya dengan sang suami yang masih jauh. Sahabat-sahabatnya Kirana merasa sedih akan berpisah dengan Kirana lagi, namun tak bisa dipungkiri yang namanya sudah punya pasangan hidup tak bisa bebas ketika masih singel.
Kirana dan sahabat-sahabatnya kembali berpelukan, setelah itu sahabat-sahabatnya Kirana mengantar Kirana sampai masuk mobil. Sahabat-sahabatnya Kirana melambaikan tangan dan dibalas Kirana dengan lambaian tangan juga, mobil yang dikendarai Kirana dan sang suami mulai melaju meninggalkan restoran tersebut.
Sahabat-sahabatnya Kirana kini masuk ke restoran dengan raut wajah sedih, mereka bertiga berharap suatu saat mereka semua bisa berkumpul meski hanya sehari termasuk dengan Sevia juga. Mereka bertiga pun berpisah setelah masuk restoran, lalu berjalan menuju ke tempat tugas mereka masing-masing.
Lili yang sebagai manager kini kembali memeriksa nota belanjaan bahan-bahan dapur serta buku pemasukan dan buku pengeluaran, kinerja Lili juga hampir sama dengan Kirana selalu membuat Bu bos mereka sangat puas. Sedangkan Novi kini jadi pelayan bagian depan menganti posisi Lili dulu, kalo Fitri masih tetap dibagian belakang karena Fitri memang lebih suka disitu soalnya tidak sering bertemu dengan orang-orang.
"Kita sholat dzuhur dulu ya" kata Dokter Perdi menghentikan mobil di halaman masjid
"Iya, kewajiban itu harus diutamakan" kata Kirana kemudian membuka pintu mobil
Mereka berdua keluar dari mobil, kemudian berjalan kearah tempat wudhu. Kirana melangkahkan kaki kearah wudhu perempuan, sedangkan Dokter Perdi kearah wudhu laki-laki. Setelah mengambil air wudhu, mereka berdua kini masuk masjid tersebut.
Waktu sholat dzuhur sudah lewat setengah jam yang lalu jadi masjid itu sudah sepi hanya ada marbot masjid, Kirana dan Dokter Perdi mulai menunaikan sholat dzuhur berjamaah berdua dengan begitu khusyuk. Selesai sholat tak lupa mereka berdoa kepada MAHA KUASA, setelah itu Kirana dan Dokter Perdi kini kembali masuk mobil mereka.
Mobil pun mulai melaju kembali, Dokter Perdi melajukan mobil masuk ke arah gang yang agak sempit mungkin hanya bisa di lewati dua mobil pribadi. Kirana belum bertanya apa-apa pada sang suami baginya cukup menurut saja maunya sang suami kemana, yang terpenting ketempat yang aman.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah besar yang masih tahap pembangunan, Dokter Perdi mengajak sang istri untuk turun. Kirana pun menurut kemudian mereka berdua berjalan mendekati rumah besar tersebut, Dokter Perdi mengajak sang istri menghampiri seseorang yang sedang duduk dibawah pohon rindang yang ada di depan rumah besar tersebut.
"Assalamualaikum, Pak de" kata Dokter Perdi ketika sudah semakin dengan dengan laki-laki paruh baya itu
"Walaikumsalam, eh Pak Perdi" kata laki-laki paruh baya sembari bersalaman dengan Dokter Perdi
"Kenalin Pak de, istri saya Kirana" kata Dokter Perdi
Kirana mengatupkan tangannya di dada sembari memberi hormat pada laki-laki paruh baya itu, laki-laki paruh baya itu juga hanya membalas dengan senyuman
"Bagaimana Pak de, pembangunan rumah ini udah berapa persen?" tanya Dokter Perdi
"Udah 70 persen Pak tinggal bagian teras, insyaallah bulan depan selesai" jawab laki-laki paruh baya itu
__ADS_1
"Ohh oke saya percaya dengan kinerja Pak de, Pak de kok sendirian, mana yang lain?" kata Dokter Perdi
"Di belakang lagi istirahat makan" jawab laki-laki paruh baya itu
"Ohh gitu, Kita mau lihat kedalam bentar boleh Pak de" kata Dokter Perdi
"Boleh-boleh udah bersih kalo bagian dalam" kata laki-laki paruh baya itu
Dokter Perdi melangkahkan kaki kearah rumah besar itu sembari merangkul pinggang sang istri, mengajak sang istri melihat-lihat rumah besar itu. Setelah masuk kedalam rumah besar itu, Dokter Perdi menjelaskan pada Kirana setiap ruangan yang ada didalam. Mereka terus berjalan hingga ke teras belakang dimana disitu ada halaman belakang yang sangat luas, yang akan di jadikan taman dan itu juga begitu privasi karena dinding temboknya yang menjulang tinggi hingga 4 meter.
Dokter Perdi pun memberi tahu Kirana bahwa rumah besar ini disiapkannya untuk Kirana dan anak-anak mereka nanti, Kirana yang mendengar penjelasan sang suami begitu terharu. Kirana benar-benar tak menyangkah ternyata rumah besar ini konsep rumah impiannya yang pernah dirinya ceritakan dengan sang suami berapa bulan sebelum mereka menikah, dirinya bahkan sudah lupa dengan kejadian sang suami bertanya dulu.
"Dibelakang rumah ini, ada kos-kosan milik kita juga dan ada satu rumah yang ukuran 6x6 dijadikan mess untuk para kuli bangunan sekarang, tapi kalo udah gak dipakai akan dikontrakkan juga" jelas Dokter Perdi
"Memang nanti kita akan tinggal disini kalo rumah ini udah selesai pembangunannya?" tanya Kirana
"Iya kita akan tinggal disini kalo udah selesai pembangunan rumah ini" jawab Dokter Perdi
"Itu soal gampang, ayo kita kedepan aku mau ngasih kue brownies dan minuman tadi untuk Pak de dan yang lain" kata Dokter Perdi kembali merangkul pinggang sang istri
Kirana dan Dokter Perdi berjalan kearah pintu, kemudian keluar dari rumah besar itu. Mereka berdua kembali ke mobil ingin mengambil kantong plastik yang berisi kue brownies serta minuman yang dibeli tadi, Kirana membawa kantong plastik itu sedangkan Dokter Perdi membawa satu krat minuman kaleng.
Mereka berdua menghampiri Pak de dan kuli bangunan yang sedang bekerja, ketika semakin dekat Kirana menghentikan langkah kakinya. Dirinya benar-benar syok dengan seseorang yang ada disitu, setahun tak bertemu kini seseorang itu ada di dekatnya.
Jantung Kirana berdegum kencang bukan karena rasa cinta yang masih ada namun rasa khawatir takut sang suami tau kalo di salah satu kuli bangunan itu ada mantan kekasihnya Agam, Dokter Perdi tak tau kalo Kirana ternyata sudah ketinggalan jauh dirinya terus melangkah hingga tiba di dekat kuli bangunan yang sedang bekerja.
Dokter Perdi meletakan satu krat minuman kaleng itu dekat para kuli bangunan yang sedang bekerja, kemudian Dokter Perdi menoleh ternyata sang istri masih mematung di bawah pohon rindang itu.
"Sayang sini bawa kantong plastiknya, kenapa berhenti disitu takut panas" kata Dokter Perdi sembari mengawai sang istri
"Ohh iya sayang" jawab Kirana
__ADS_1
Sontak dua kuli bangunan yang sedang bekerja tadi melihat kearah wanita berniqab itu, Danu menyikut perut Agam. Agam yang tau maksud Danu pun mengangguk paham sepertinya mereka kenal dengan wanita berniqab itu, mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka lagi sembari menunggu wanita berniqab itu mendekat dan memastikan lagi apa benar tebakan mereka sekarang.
Kirana terpaksa kembali melangkahkan kakinya mendekati sang suami yang memanggilnya, Kirana pun tiba di dekat sang suami serta para kuli bangunan itu.
"Sini kantong plastiknya" kata Dokter Perdi sembari mengambil kantong plastik itu dari tangan sang istri
Kirana masih bungkam tak mau berbicara karena takut Agam dan Danu mengenalinya dari suara, apalagi mereka kenal lumayan lama pasti Agam dan Danu masih ingat dengan suaranya.
"Pak de, ini minuman dan kue brownies buat kalian" kata Dokter Perdi setelah meletakan semua barang itu didekat para kuli bangunan
"Ohh iya Pak, terima kasih" jawab Laki-laki paruh baya tadi
"Kita pamit pulang Pak de, istri saya sepertinya kepanasan" kata Dokter Perdi
"Iya Pak Perdi, hati-hati dijalan" kata Laki-laki paruh baya itu
Selama percakapan antara Dokter Perdi dan Laki-laki paruh baya itu, Agam terus mencuri pandang dengan wanita berniqab. Agam ingin memastikan wanita berniqab itu apakah benar wanita yang pernah ada di hatinya dulu hingga detik ini, Kirana yang merasa dilihatin terus seketika menoleh.
Matanya dan mata Agam bertatapan sejenak kemudian Kirana kembali memalingkan matanya, dirinya tak ingin Agam dan Danu sampai mengenalinya namun siapa sangka Agam masih mengingat tahi lalat disebelah kiri bawah lingkaran mata Kirana itu.
Kirana dan Dokter Perdi kini sudah masuk ke dalam mobil, mobil mereka pun melaju meninggalkan rumah besar tersebut.
"Gam, benar bukan itu tadi Kirana?" tanya Danu setelah mobil yang di kendarai Kirana dan suaminya pergi
"Iya, dia Kirana. Tak menyangkah Kirana telah mendapatkan pendamping hidup yang mapan, dari manik mata laki-laki itu sepertinya dia sangat mencintai Kirana seperti diriku" kata Agam
"Suami Kirana itu seorang Dokter juga" kata Danu
"Kok kamu tau?" tanya Agam
Danu pun menceritakan bahwa dirinya pernah melihat postingan Kirana yang meng-upload foto undangan pernikahan Kirana dengan suaminya, diundangan itu tertulis gelar suaminya Kirana. Agam kini benar-benar kecewa dengan diri sendiri, dirinya tidak tahu sama sekali kabar Kirana yang sudah menikah bahkan suaminya seorang Dokter.
__ADS_1
Dulu Agam pernah mencari tau kabar Kirana namun sia-sia karena facebook dan nomor hpnya diblokir Kirana waktu dulu, pernah juga bertanya dengan sahabat-sahabatnya Kirana tapi mereka tak mau memberitahu juga. Sahabat-sahabatnya Kirana justru memarahinya jika masih menganggu Kirana, apalagi sahabat-sahabatnya Kirana bilang Kirana sudah nyaman dengan kehidupannya tanpa dirinya maka dari situ Agam tak pernah mau lagi mencari tau kabar Kirana.