
Setelah bercinta habis sholat subuh tadi, Kirana masih berada di dalam pelukan Dokter Perdi. Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Dokter Perdi, hidupnya kini sepenuhnya sudah menjadi milik suaminya seutuhnya yaitu Dokter Perdi.
Benih-benih cinta Kirana dan Dokter Perdi kini semakin besar, bercak darah di sprei menjadi saksi cinta mereka. Dokter Perdi terus memainkan rambut Kirana dan sesekali mencium kepala Kirana begitu lembut dengan penuh cinta.
"Katanya mau cerita soal laki-laki yang datang di pernikahan kita kemarin" kata Dokter Perdi memulai percakapan
"Si Andre" jawab Kirana singkat
Dokter Perdi menaikan bahu tanda tidak tau siapa nama laki-laki itu, namun Kirana sudah tahu pasti yang di tanya Dokter Perdi adalah Andre karena tak ada laki-laki lain yang menyapa mereka di acara pernikahan mereka kemarin.
Kirana menarik napas sembari memejamkan mata mengingat masa-masa dirinya dan Andre yang sebenarnya memang murni hanya sebatas teman tidak lebih, dirinya pernah berharap lebih namun tiba-tiba di patahkan oleh seorang temannya yang bilang menyukai Andre.
Dirinya mengenal Andre memang dari kecil mungkin bisa dibilang dari sebelum masuk SD, dirinya dengan Andre memang suka sering berantem ditambah Andre yang suka iseng dengan dirinya bahkan pernah membuat dirinya tak terkontrol hingga tak segan-segan memukul kepala Andre dengan batu hingga ada darah segar yang mengalir dari kepala Andre.
Panik tentu panik saat itu karena dirinya sudah terlewat batas hingga bisa-bisanya membuat kepala Andre berdarah, lambat laun sering bermain bersama rasa itu sempat timbul bahkan dirinya dan Andre sama-sama merasakan rasa itu tapi secepatnya Kirana buang setelah tau ada temannya yang menyukai Andre.
Dan akhirnya Kirana bisa menghilangkan rasa itu setelah bertemu Agam namun saat Agam kembali mematahkan hatinya, dirinya justru menyesal dulu menolak lamaran Andre secara terang-terangan.
Tapi karena semua sudah terlanjur Kirana cuma bisa pasrah tentang jodoh tapi dirinya benar-benar tak percaya ternyata jodohnya ada di sekitar dirinya waktu itu, seseorang yang sering makan di restoran tempat dirinya bekerja namun tak pernah bertemu dengan dirinya.
__ADS_1
"Terus pas menyesal menolak lamaran, pernah terbesit menginginkan dia lagi gak" pancing Dokter Perdi
"Hah, iya gak lah buktinya aku tak menghubunginya dari semenjak menolaknya hingga sekarang" jawab Kirana
"Baguslah, dipikiran dan hati kamu sekarang. Harus aku, tak boleh ada yang lain" jawab Dokter Perdi
"Iyalah, kamu kan suamiku" jawab Kirana kembali menghamburkan tubuhnya di pelukan Dokter Perdi.
Dokter Perdi tak membalas pelukan itu membuat Kirana merenggut, namun selang berapa detik Dokter Perdi menggelitik pinggang Kirana membuat Kirana merasakan geli.
Kirana sampai berteriak mohon ampun dengan Dokter Perdi agar berhenti sembari berguling kesana kemari di atas kasur itu karena merasakan geli yang luar biasa, Dokter Perdi masih melakukan aksinya yang menjahili Kirana itu hingga terlepas ketika bunyi ketukan pintu dari luar.
Kirana beranjak mendekati pintu kemudian membuka pintu, Ibunya Kirana tersenyum melihat rambut anaknya yang begitu acak-acakan. Kirana hanya nyengir melihat senyuman ibunya sembari membenarkan rambutnya.
"Hah jam 7. Ya bu nanti kami sarapan" jawab Kirana
Ibunya Kirana pergi meninggalkan kamar tidur pengantin baru itu, lalu berjalan ke arah ruang keluarga yang di penuhi dengan keluarga besar sebelah ibunya Kirana. Sedangkan keluarga besar sebelah ayahnya Kirana sudah pulang sore kemarin, begitupun dengan keluarga besar Dokter Perdi sudah pulang kemarin sore.
Kirana dan Dokter Perdi bergantian mencuci wajah sekalian tangan mereka di kamar mandi, kini mereka berdua sudah duduk di kursi makan. Kirana mengambil piring kemudian mengisi piring itu dengan nasi goreng yang ada isian sayur kol dan suiran ayam goreng, Kirana memberikan dengan Dokter Perdi.
__ADS_1
Ini yang di namakan seorang istri yang harus melayani suami bukan hanya di kasur, melainkan di dapur serta di mana saja. Kirana dan Dokter Perdi mulai menyantap nasi goreng itu dengan perlahan karena begitu menikmati nasi goreng yang sangat lezat, Dokter Perdi kagum dengan makanan yang sederhana ini tapi rasanya benar-benar sama dengan penjual kaki lima.
Setelah sholat dzuhur Dokter Perdi mengajak Kirana untuk keliling-keliling kota Jakarta karena Kirana bilang tidak pernah mengelilingi kota Jakarta meski Kirana sudah 5 tahun lebih berada di kota Jakarta, apalagi kesibukannya setelah lulus SMA langsung bekerja.
Setelah pamit dengan keluarga besar Kirana, Dokter Perdi dan Kirana sudah berada di dalam mobil kemudian Dokter Perdi mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini Dokter Perdi ingin mencari makan siang dulu karena dirumah Kirana tadi hanya makan sedikit soalnya masih begitu canggung jika harus makan bersama-sama dengan keluarga besar Kirana, mungkin kalo hanya makan bersama kedua orang tua Kirana dan adik-adiknya tak masalah.
Dokter Perdi menghentikan mobilnya tepat di rumah makan sunda, entah mengapa Dokter Perdi sangat senang makan di rumah makan sunda atau restoran yang ada menu makanan sunda. Apa mungkin karena dirinya keturunan orang sunda, bisa jadi.
Dokter Perdi dan Kirana masuk ke dalam rumah makan sunda tersebut, kemudian mencari kursi kosong. Setelah mendapatkan kursi kosong, Dokter Perdi beranjak dari duduknya mendekati kasir dan memesan makanan.
Makanan yang mereka pesan pun segera di antar oleh pelayan, Kirana dan Dokter Perdi segera menikmati makanan yang ada di hadapan mereka. Setelah selesai semuanya Dokter Perdi dan Kirana kembali melanjutkan perjalanan mereka, Dokter Perdi ingin mengajak Kirana ke pantai Ancol.
Dan sekalian malam ini menginap di salah satu hotel di sana, agar Dokter Perdi bisa bebas melakukan apapun bersama Kirana jika tidak di rumah Kirana apalagi masih banyak keluarga besar Kirana membuat dirinya merasa tak bisa bebas.
Bahkan Dokter Perdi juga ingin secepatnya mengajak Kirana untuk tinggal di kliniknya, Dokter Perdi dan Kirana sudah tiba di hotel yang ada di dekat pantai Ancol. Dokter Perdi segera memesan 1 kamar hotel setelah menunjukan buku nikah mereka, Dokter Perdi dan Kirana naik lift untuk tiba di kamar yang mereka pesan.
Tiba di depan kamar, Dokter Perdi membuka kamar itu dengan kunci otomatis yang sudah di berikan oleh pihak hotel tadi, Kirana berjalan di belakang Dokter Perdi ikut masuk kamar hotel itu kemudian menutup dan mengunci pintu. Sebelum sore nanti ke pantai Ancol Dokter Perdi ingin tidur siang sejenak, melihat Dokter Perdi berbaring di atas ranjang Kirana pun ikut berbaring.
Kirana duduk sejenak untuk melepaskan niqab serta jilbabnya toh dirinya berada di dalam kamar hanya suaminya yang bisa melihat, sedangkan Dokter Perdi sudah tertidur saat berbaring tadi. Kirana kembali berbaring kemudian mengangkat tangan Dokter Perdi agar tubuhnya bisa memeluk tubuh Dokter Perdi, mereka berdua pun tertidur dalam pelukan.
__ADS_1
Suara adzan di hp Dokter Perdi membangunkan mereka berdua, Kirana segera mengambil hp itu dilihatnya waktu sholat ashar sudah masuk. Kirana beranjak dari tempat tidur kemudian masuk kamar mandi yang ada di dalam dan segera mengambil air wudhu, setelah Kirana keluar giliran Dokter Perdi masuk untuk mengambil air wudhu.
Mereka berdu sholat berjamaah di dalam kamar hotel itu, selesai sholat Kirana mencium punggung sang suami. Dokter Perdi pun begitu mencium kening Kirana, Kirana benar-benar terharu ternyata beginilah kebahagian yang sudah MAHA KUASA janjikan dengan dirinya setelah merasakan patah hati.