Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 96


__ADS_3

Selesai sarapan Kirana dan Dokter Perdi sudah siap-siap akan kembali ke klinik, sebelum meninggalkan kamar hotel seperti biasa Dokter Perdi akan meletakan lima lembar uang berwarna merah dibawah sprei yang sudah di berantakannya barusan.


Kirana dan Dokter Perdi keluar dari kamar kemudian melangkahkan kaki ke arah lift, pintu lift terbuka mereka berdua pun masuk. Lift turun ke bawah menuju ke lantai dasar, pintu lift kembali terbuka Kirana dan Dokter Perdi keluar lalu menuju ke arah petugas hotel dan mengambilkan kunci kamar hotel yang mereka tempati semalam.


Kirana dan Dokter Perdi telah berada di dalam mobil mereka, Dokter Perdi mulai melajukan mobil meninggalkan area hotel. Tak butuh waktu lama mobil sudah masuk ke jalan yang menuju rumah mereka yang sedang dalam tahap pembangunan, mobil berhenti di samping pohon rindang.


Kirana dan Dokter Perdi turun dari mobil, mereka berjalan ingin mendekati para kuli bangunan yang sedang bekerja.


Drrt...drrt...drrt


Bunyi hp dari tas Kirana membuatnya berhenti, diambilnya hp yang ada di dalam tas tersebut. Dilihatnya layar hp dan menampilkan nama (Nyokap Sayang), Kirana pun langsung menerima panggilan tersebut


"Hallo, Assalamualaikum" kata Kirana


Dokter Perdi bertanya dengan mengunakan isyarat kepada sang istri, Kirana melihatkan layar hpnya yang terpampang nama (Nyokap Sayang). Dokter Perdi menganggukkan kepala mengerti sang istri ingin berbicara dengan sang mertua kemudian Dokter Perdi izin ingin segera bertemu dengan mandor kuli bangunan, setelah dapat persetujuan dari sang istri Dokter Perdi meninggalkan sang istri di bawah pohon rindang dan berjalan mendekati para kuli bangunan yang sedang bekerja.


"Walaikumsalam, bagaimana kabar kalian?" kata Ibunya Kirana diseberang sana


"Alhamdulilah kami baik bu, Ibu dengan yang lain apa kabar?" kata Kirana sembari duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang


"Kami juga baik, kamu kayaknya sibuk ya sampai lupa mengabari ibu" kata Ibunya Kirana sembari menyindir anaknya


"Ahh, maaf bu" kata Kirana merasa tidak enak dengan Ibunya


Kirana pun masih terus berbincang dengan Ibunya menceritakan semua kegiatannya selama jadi seorang istri, Ibunya Kirana senang mendengar anaknya sepertinya sangat bahagia dengan Dokter Perdi.


"Kirana..." panggil seseorang


Kirana yang baru mengakhiri panggilan telepon ibunya, kaget mendengar ada yang memanggilnya dengan sebutan nama sedangkan sang suami jarang memanggil namanya. Ketika dirinya menoleh ternyata Agam yang ada dihadapannya, dirinya berusaha bersikap biasa saja dan harus bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.

__ADS_1


"Maaf, anda sepertinya salah orang" kata Kirana beranjak dari duduk


"Mungkin orang lain bisa kamu kelabui tapi tidak dengan aku karena aku masih mengingat semuanya dari suara dan yang terpenting dari tahi lalat bawah matamu" jelas Agam masih berdiri ditempat tadi


"Terus mau kamu apa?" bentak Kirana


"Tidak ada, hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu semoga bahagia dan langgeng sampai ajal memisahkan kalian" kata Agam tersenyum


Kirana memperhatikan laki-laki dihadapannya yang sudah setahun tak dilihatnya, laki-laki dihadapannya sekarang kelihatan tubuhnya lebih kurus dan kulitnya semakin hitam dari terakhir dilihatnya dulu. Kirana juga bisa melihat dimata laki-laki itu masih terlihat jelas ada rasa cinta untuk dirinya, bahkan masih sama seperti waktu pertama mereka menjadi sepasang kekasih.


Setelah memberikan uang gaji untuk para kuli bangunan dengan mandor kuli bangunan, Dokter Perdi berlalu dari situ dan ingin menghampiri sang istri yang ada di bawah pohon rindang. Dari kejauhan Dokter Perdi melihat sang istri yang sedang mengobrol dengan salah satu kuli bangunan yang pernah dilihat Dokter Perdi kemarin, Dokter Perdi terus melangkahkan kakinya mendekati sang istri.


"Sayang" panggil Dokter Perdi


"Ehh sayang, gimana udah selesai ngobrol dengan Pak de?" tanya Kirana menutupi rasa khawatirnya


"Maaf pak jangan salah paham, saya hanya menyapa istri bapak. Saya permisi" jawab Agam kemudian meninggalkan sepasang suami istri itu


Dokter Perdi pun mengajak sang istri untuk melanjutkan perjalanan mereka, Kirana yang tak mau sang suami berpikir aneh-aneh segera melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Dokter Perdi juga ikut melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, sedangkan Agam hanya memperhatikan sepasang suami istri itu dari kejauhan sembari berusaha tersenyum dan menerima kenyataan yang ada dihadapannya barusan.


Setelah Kirana dan Dokter Perdi masuk ke dalam mobil, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Kirana yang tak mau sang suami terus berburuk sangka dengan dirinya berusaha mengajak sang suami mengobrol, Dokter Perdi mendengarkan setiap celetukan yang keluar dari mulut sang istri.


Sebenarnya Dokter Perdi tak ada memikirkan apapun tentang sang istri yang bertemu dengan salah satu kuli bangunan itu, dirinya berpikir mungkin memang kebetulan menyapa dan tak mungkin baru sehari Kirana diajaknya kesini sudah kenal dengan orang-orang disitu.


Mobil kembali berhenti di parkiran restoran tempat Kirana bekerja dulu, Kirana pun membuka pintu mobil dan tak lupa mengambil tiga paper bag yang ada di kursi belakang. Kirana keluar dengan wajah yang ceria, dirinya benar-benar senang bisa bertemu lagi dengan sahabat-sahabatnya.


Kirana berjalan masuk ke restoran yang disusul oleh Dokter Perdi dari belakang, Dokter Perdi tak pernah mau berbarengan dengan sang istri jika ke restoran tempat sang istri bekerja dulu karena dirinya ingin memberikan sang istri waktu bertemu dengan sahabat-sahabat sang istri.


Novi yang sibuk mengisi tisu di setiap meja saat melihat Kirana datang segera menghampiri sahabatnya itu, Kirana langsung memeluk Novi dan dilihat oleh Lili. Lili pun ikut menghampiri kedua sahabatnya itu dan ikut berpelukan kemudian Novi berteriak memanggil nama Fitri, Fitri yang mendengar ada yang memanggilnya segera bergegas kesumber suara dan dilihatnya ketiga sahabatnya berpelukan langsung ikut berpelukan.

__ADS_1


Persahabatan mereka memang selalu membuat semua orang yang melihat bisa iri, bukan hanya kekompakan yang tergambar dipersahabatan mereka melain keperdulian sesama dalam keadaan suka dan duka. Kirana yang mungkin saat ini derajatnya sudah naik bisa saja meninggalkan sahabat-sahabatnya itu tapi karena Kirana tak pernah mengukur persahabatan dari materi makanya Kirana masih mau bertemu dengan sahabat-sahabatnya bahkan jika diizinkan untuk bersama sampai akhir hayat mungkin Kirana mau.


"Ini hadiah untuk kalian" kata Kirana setelah acara berpelukan telah usai


"Hadiah, kita gak lagi ulang tahun" jawab Lili


"Memangnya hadiah itu harus ada yang ulang tahun gitu, aku beliin buat kalian kalau aja suatu saat kita bisa memakainya bersama-sama" jelas Kirana sembari memberikan paper bag


"Terima kasih, semoga aja yang kamu ucapkan tadi tercapai" kata Fitri setelah menerima paper bag dari Kirana


Mita yang melihat pemandangan didepannya kembali kesal, entah mengapa Kirana lagi-lagi muncul dihadapannya padahal dirinya sudah berdoa agar Kirana tak muncul lagi atau sekalian mati kemudian Mita pun pura-pura melewati Kirana dan sahabat-sahabatnya itu dan sengaja menabrak Kirana.


"Aw..." teriak Kirana merasa sakit dengan tabrakan Mita


"Upps, sorry gak sengaja" kata Mita berlalu begitu saja


"Ehh Mita, kurang ajar kamu ya" kata Lili mengejar Mita kemudian menarik ujung belakang jilbab Mita tak terima sahabatnya diganggu


"Lepas gak. Aku kan sudah bilang tidak sengaja" bentak Mita


"Gak sengaja dari mana, kamu itu sengaja. Kamu masih punya dendam dengan Kirana" kata Lili tak mau melepaskan Mita


"Sudah Li, aku gak apa-apa. Nanti Bu bos kesini melihat kalian berantem, beliau bisa marah" kata Kirana


"Bu bos udah 3 hari pergi, jadi aku bisa ngasih anak ini pelajaran" jawab Lili


Dokter Perdi yang mendengar keributan di dalam restoran segera masuk, dilihatnya sahabat sang istri sedang menarik jilbab salah satu karyawan disitu. Dirinya tak tau menahu hanya mendekati sang istri, kemudian mengajak sang istri untuk pergi karena dirinya tak mau sampai sang istri jadi kena salah milik restoran tersebut apalagi sang istri bukan lagi karyawan disitu.


Lili melepaskan tangannya dari jilbab Mita yang baru saja di tariknya tadi sembari memperingatkan Mita jangan sampai menganggu orang-orang termasuk sahabatnya, untung restoran belum ada pengunjung jadi tak akan ada yang melihat keributan tadi paling yang tau hanya karyawan restoran.

__ADS_1


__ADS_2