
Siang ini Kirana diajak pergi oleh sang suami untuk keliling kota Bandung, kota kembang yang begitu sejuk nan indah. Kirana segera masuk ke dalam mobil menyusul sang suami yang sudah menunggunya dari tadi, dirinya duduk di kursi samping sang suami yang duduk di kursi pengemudi.
Mobil pun segera dilajukan Dokter Perdi ke tempat yang ingin mereka tuju, sangat banyak wisata yang bagus di kota Bandung sehingga membuat Kirana bingung harus kemana terlebih dahulu. Namun Dokter Perdi yang tau wisata lagi hits di tahun ini, jadi memilih wisata itu dahulu sebelum pergi ke wisata lain lagi.
Dipikiran Kirana Mungkin kalo ada waktu lagi, dirinya ingin sekali mengajak kedua orang tuanya serta adik-adiknya untuk jalan berkeliling di kota Bandung ini. Adik-adiknya pasti sangat senang jika di ajak jalan-jalan disini, apalagi wisata di kota Bandung memang benar-benar luar biasa.
"Udah sampai, ayo turun" kata Dokter Perdi sembari membuka pintu mobil
Kirana pun turun setelah dapat ajakan sang suami barusan, mereka berdua segera menuju pintu masuk wisata tersebut. Saat tiba di dalam Kirana terkagum dengan pemandangan yang ada dihadapannya, benar-benar luar biasa sangat indah.
Dokter Perdi segera mengandeng tangan sang istri untuk masuk lebih dalam lagi karena saat ini mereka berdua baru di bagian depan, semakin mereka masuk ke dalam ternyata semakin ramai para wisatawan meskipun hari ini bukan hari libur wisata ini tidak pernah sepi sedikitpun.
"Sayang, kita foto disini" ujar Kirana menghentikan langkahnya di dekat bunga yang berwarna warni dan indah itu
Dokter Perdi segera mengambil hpnya yang ada di dalam saku celana jeansnya, dirinya pun mulai menuruti maunya sang istri yang mengajaknya berfoto selfie. Semenjak dirinya menikah dengan Kirana, dirinya jadi suka mengambil foto dirinya yang tengah berselfie padahal dari dulu dirinya tak terlalu suka yang namanya berfoto.
Dihpnya saja jelas banyak foto dan video dua keponakannya, dari mulai dua keponakannya baru lahir hingga sudah sebesar sekarang. Momen itu sengaja disimpannya agar ada kenangan, dan sekarang justru hpnya mulai dipenuhi dengan foto dirinya bersama sang istri.
"Sayang, kalo nanti kita udah punya anak. Kita kesini lagi ya" ujar Kirana sembari duduk di bangku yang tersedia di dekat mereka
"Iya sayang, bukan hanya disini. Kemana pun kalian mau akan aku turuti" kata Dokter Perdi ikut duduk di samping sang istri
"Maaf ya sayang hingga detik ini aku belum hamil" kata Kirana sembari menyenderkan kepalanya di pundak sang suami
"Sssttt" Dokter Perdi meletakan jari telunjuknya di bibir sang istri mengisyaratkan pada sang istri untuk tidak berbicara hal itu lagi
Kirana pun memilih diam setelah mendapat isyarat dari sang suami, dirinya masih menyenderkan kepalanya di pundak sang suami sembari memejamkan mata menikmati udara sejuk yang ada disini. Dokter Perdi mencium pucuk kepala sang istri yang terhalang oleh jilbab, dirinya tau sang istri sudah sangat menginginkan anak seperti dirinya.
Namun dirinya tak terlalu menampakan pada sang istri soalnya dirinya tak ingin membuat sang istri semakin merasa bersalah karena sang istri tak kunjung hamil juga hingga detik ini, mereka berdua memang belum memeriksakan ke dokter kandungan.
__ADS_1
Makanya belum tau siapa yang sebenarnya bermasalah disini, dirinya juga berpikir mungkin saat ini MAHA KUASA sedang membiarkan mereka menikmati kebersamaan berdua apalagi kemarin mereka hanya kenal berapa bulan setelah itu langsung menikah.
.
.
Malam hari di Kota Jakarta
Agam mengajak Danu untuk keluar lagi malam ini, seperti malam sebelum-sebelumnya karena mereka tidak punya kompor untuk memasak jadi memilih untuk beli makanan diluar. Setelah mereka berdua naik diatas motor milik Danu, Agam yang menyetir segera melajukan sepeda motor itu.
Belum setengah perjalanan tiba-tiba hujan turun begitu saja dengan sangat deras, mereka berdua yang pas berada di depan restoran tempat Kirana bekerja dulu terpaksa Agam membelokkan sepeda motor yang dikendarainya ke restoran tersebut.
Entah mengapa hujan tiba-tiba turun, padahal tak ada sedikitpun tanda dilangit bahwa akan turun hujan. Agam dan Danu berlari kearah teras restoran setelah hujan semakin deras, mereka berdua menyelipkan kedua tangan mereka dibawah ketiak mereka karena merasa kedinginan meski baju mereka sepenuh tidak terlalu basah.
Agam dan Danu memandangi arah sepeda motor yang mereka kendarai tadi yang diguyur hujan, restoran tempat Kirana bekerja dulu malam ini tidak terlalu ramai para pengunjung datang. Terlihat di depan restoran hanya ada lima mobil terparkir, disela-sela hujan Agam dan Danu mendengar perut mereka yang berbunyi keroncongan menandakan bahwa mereka benar-benar tengah kelaparan.
"Hahahaha" tawa Agam dan Danu berbarengan setelah mendengar bunyi keroncongan di perut mereka
"Apa sebaiknya kita makan disini saja" ujar Danu sedikit berteriak karena bunyi hujan yang begitu deras
"Ya sudah dari pada kita kelaparan, mau pulang juga gak bisa sepertinya agak lama hujan ini berhenti" kata Agam berbicara juga agak berteriak
Agam dan Danu pun berjalan masuk ke restoran tersebut, baju mereka berdua yang sedikit basah dan biasa saja membuat mereka sedikit minder dengan para pengunjung di dalam restoran. Agam pun mengajak Danu untuk duduk dikursi yang ada di teras depan restoran, Danu menurut saja karena dirinya benar-benar sudah sangat lapar.
Agam melambaikan tangan pada salah satu karyawan restoran yang berjalan kesana kemari mengantar pesanan ke meja-meja para pengunjung, Yeyen yang tak sengaja melihat lambaian tangan Agam segera melangkahkan kaki ingin keluar menuju kursi yang ada di depan teras.
"Aku saja Yen" kata Mita saat melihat Yeyen yang sudah diambang pintu
"Ohh ya sudah, silahkan" kata Yeyen kembali masuk ke dalam restoran
__ADS_1
Mita tadi tak sengaja melihat Agam dan Danu berdiri di teras depan restoran, ingin dirinya menghampiri tapi tidak mungkin karena tak ada alasan apapun mana juga dirinya harus mengantarkan pesanan pengunjung di meja yang tadi memesan makanan dengan dirinya.
Saat dirinya melihat Agam melambaikan tangan memanggil salah satu dari mereka, ini dijadikan Mita kesempatan untuk mendekati serta menyapa Agam dan Danu.
"Mau pesan apa?" tanya Mita sembari memberikan menu makanan
"Kita pesan yang ini disamaain aja" ujar Agam sembari menunjuk salah satu menu makanan yang sering dipesannya dulu karena selain murah juga lezat.
"Ohh baiklah tunggu sebentar ya" ujar Mita kemudian kembali ke dalam dan memberikan catatan itu ke chef yang ada di bagian belakang
Danu yang tadi sempat sekilas melihat Mita, kini dirinya tau ternyata wanita yang pagi tadi datang ke kontrakan mereka ternyata bekerja disini. Pantas saja pikirnya wanita itu kenal dengan Agam, pasti kenal pas Agam masih berpacaran dengan Kirana dulu dan mungkin wanita tadi salah satu teman Kirana.
"Kenapa diam aja?" tanya Agam kepada Danu
"Kamu kenal dengan wanita tadi?" Danu justru balik bertanya
"Tidak, ada apa? jangan bilang kamu naksir" kata Agam sembari memajukan wajahnya menatap Danu lebih dekat
"Aaiss, apaan sih. Iya gak mungkinlah orang calon istriku jauh lebih cantik dan punya sopan santun" kata Danu sembari mendorong bahu Agam agar menjauh dari wajahnya
"Memangnya kamu tau wanita tadi gak punya sopan santun" kata Agam seperti sedang mewawancarai Danu
"Gimana mau dibilang sopan santun kalo..." kata Danu terpotong ketika wanita yang lagi dibicarakan kini sudah ada diantara mereka
"Ini pesanannya" kata Mita sembari meletakan pesanan Agam dan Danu di atas meja
"Selamat menikmati" ujar Mita menyunggingkan senyum terbaiknya yang sebenarnya sekedar basa basi
"Terima kasih" kata Agam
__ADS_1
Mita yang ingin membuka mulut lagi ingin mengajak Agam dan Danu ngobrol tapi tidak jadi saat Lili memanggilnya, dirinya pun terpaksa harus pergi dari hadapan Agam dan Danu sembari menghentakkan kaki dan berdecak kesal dengan sahabatnya Kirana itu.
Selama berjalan masuk pun Mita terus mengumpat Lili, sedangkan Agam dan Danu mulai menyantap makanan yang ada dihadapan mereka setelah kepergian Mita apalagi mereka berdua sudah sangat kelaparan.