
Waktu terus berjalan hari telah berganti menjadi minggu, minggu telah berganti bulan. Kirana dan Dokter Perdi sudah berada di perjalanan untuk pulang ke kota Jakarta, namun sebelum pulang ke rumah mereka Dokter Perdi ingin memberi kejutan pada sang istri.
Perjalanan yang sangat jauh membuat Kirana merasakan kantuk, dirinya yang beberapa kali menguap dari balik niqabnya pun memutuskan untuk tidur. Dirinya segera memejamkan kedua matanya, hingga tak terasa dirinya terlelap.
Dokter Perdi tersenyum menatap sang istri yang terlelap, tangan kirinya mengelus pucuk kepala sang istri dengan kelembutan yang penuh cinta. Sedangkan tangan kanannya fokus dengan setir mobil, Dokter Perdi terus melajukan mobilnya hingga tak terasa mereka berdua sudah tiba di tempat yang dituju oleh Dokter Perdi.
Dokter Perdi keluar dari mobil, meninggalkan sang istri sendirian di dalam mobil yang masih tertidur. Adik-adiknya Kirana senang melihat siapa yang datang saat ini, mereka semua keluar dan segera belari ke arah mobil yang berhenti.
"Sssttt..." ucap Dokter Perdi sembari meletakan jari telunjuknya dibibirnya
Adik-adiknya Kirana mengangguk paham saat mereka melihat dari jendela yang setengah terbuka itu, menampakkan keadaan Kirana yang sedang tertidur begitu pulas.
Dokter Perdi masuk ke dalam rumah mertuanya itu, dirinya segera mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian. Adik-adiknya Kirana juga ikut masuk ke dalam rumah mereka sembari menenteng beberapa paper bag yang diberikan Dokter Perdi tadi, mereka segera melangkah ke arah ruang keluarga ingin membuka ole-ole yang dibawakan oleh kakak ipar mereka yang habis dari Bandung itu.
"Loh, kok Kirana gak ada? Dia gak ikut kesini ya?" tanya Ibunya Kirana keheranan karena tak melihat anaknya itu.
Adik-adiknya Kirana hanya menyunggingkan senyuman saat Ibu mereka bertanya soal kakak mereka, Ayah mereka juga terlihat bingung dengan tingkah ketiga anaknya itu.
"Sayang kita udah nyampe ya?" tanya Kirana sembari mengucek kedua matanya
Kirana yang merasa mobil mereka dari tadi tak berjalan, jadi membuka mata tapi saat dirinya menoleh sang suami sudah tidak ada di sampingnya. Dilihatnya sekeliling tempat itu, dirinya tau itu halaman rumah kedua orang tuanya namun Kirana kembali mengucek kedua matanya takut penglihatannya saat ini hanya halusinasi saja karena saking dirinya merindukan keluarganya sampai-sampai halusinasi.
Setelah beberapa kali mengucek kedua matanya, ternyata benar penglihatannya tidak salah itu rumah kedua orang tuanya. Kirana segera turun dari mobil dan belari kecil masuk rumah kedua orang tuanya, saat dirinya masuk dilihatnya sang suami tengah ngobrol bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sayang udah bangun?" tanya Dokter Perdi sembari beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri yang mematung tak jauh dari dirinya duduk bersama kedua mertuanya itu.
"Ihh, kamu kok gak bangunin aku sih" kata Kirana sembari memukul pelan lengan sang suami.
Dokter Perdi hanya menyunggingkan senyuman, dirinya tak bermaksud meninggalkan sang istri sendirian di dalam mobil. Selain ingin memberi kejutan, dirinya juga tak tega harus membangunkan sang istri yang tertidur begitu pulas.
Kedua orang tua Kirana sudah tau bahwa anak mereka ternyata ada di dalam mobil sedang tidur setelah menantu mereka menjelaskan. Kedua orang tua Kirana memaklumi menantu mereka yang begitu menyayangi anak mereka itu, makanya tidak mau membangunkan anak mereka karena tidak mau menganggu tidur anak mereka.
Kedua orang tua Kirana hanya tersenyum melihat tingkah anak dan menantu mereka itu, ada guratan bahagia sangat jelas terlihat dari mata anak mereka. Mereka bersyukur Kirana ternyata sangat bahagia sekarang, Ibunya Kirana segera mendekati anaknya itu dan memeluk anaknya yang sudah setengah tahun lebih tak dipeluknya.
Kirana membalas pelukan Ibunya, lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri Ibunya. Ibunya juga melakukan hal yang sama mencium pipi kanan dan pipi kiri anaknya itu. Kemudian Kirana mendekati Ayahnya dan mencium punggung tangan Ayahnya yang sudah keriput itu, tangan keriput yang sudah mengais rezeki demi menghidupi dirinya bersama saudara-saudaranya dan Ibunya.
Adik-adiknya Kirana kembali ke ruang tamu saat mendengar suara kakak mereka, mereka segera menghamburkan pelukan di tubuh Kirana yang sangat mereka rindukan. Kirana tersenyum melihat ketiga adiknya itu, tak lupa dirinya juga menciumi pipi adik-adiknya satu persatu.
"Alhamdulilah, kita sehat kak" jawab mereka berbarengan
"Sayang, kok kamu gak ngasih tau kalo mau kesini?" tanya Kirana pada sang suami
"Kejutan, kita malam ini menginap disini" kata Dokter Perdi tersenyun lebar sembari melihatkan deretan gigi putih dan rapi itu
"Beneran sayang, makasih ya" kata Kirana memeluk sang suami tanpa rasa malu di depan adik-adiknya dan kedua orang tuanya saking bahagia.
Adik-adiknya dan kedua orang tuanya hanya geleng-geleng melihat tingkah Kirana yang sangat nampak begitu manja dengan Dokter Perdi, mereka semua kin melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.
__ADS_1
Matahari yang awalnya di atas kepala kini sudah pindah posisi di arah barat, menandakan bahwa hari sudah sore. Setelah sholat ashar Kirana membantu Ibunya yang di dapur untuk memasak makanan untuk makan malam mereka nanti, karena Kirana dan Dokter Perdi datang mendadak jadi Ibunya Kirana tak menyiapkan apapun hanya ada bahan seadanya yang di dalam kulkas.
Namun Ibunya Kirana takkan membuat anak dan menantunya kekurangan soal makan, apalagi Ibunya Kirana sangat yakin anaknya selama tinggal dengan Dokter Perdi pasti selalu makan-makanan yang lezat dan bergizi.
Dengan bahan seadanya Ibunya Kirana memasak pepes ikan patin dengan rebusan daun singkong, tak lupa sambal mentah yang membuat makanan itu semakin mengiurkan jika dimakan nanti.
"Bagaimana sayang apa kamu udah isi?" tanya Ibunya Kirana pada Kirana di sela-sela menunggu makanan yang mereka masak matang
"Belum bu" jawab Kirana lemah jika bahas perihal kehamilan
"Gak apa-apa, anak itu titipan. Mungkin belum saja Allah menitipkan anak ke dalam sini" kata Ibunya Kirana sembari mengelus perut rata Kirana
"Iya bu, doakan saja. Agar kami segera diberi kepercayaan" ujar Kirana berusaha tersenyum
Makanan yang mereka masak pun semuanya sudah matang, Kirana segera membantu Ibunya untuk memindahkan makanan itu ke wadah yang sudah di siapkan oleh Ibunya tadi. Lalu mereka letakkan semua makanan itu di atas karpet yang sudah terbentak di lantai, kemudian di tutup semua makanan itu dengan tudung saji.
Hari sudah semakin sore, Kirana memilih untuk mandi sebelum para penghuni rumahnya juga akan mandi. Kamar mandi dirumah kedua orang tuanya hanya ada satu, jadi mereka terpaksa harus bergiliran untuk mengunakannya. Kirana yang baru keluar dari kamar mandi masih mengunakan kimono handuk, begitu terkejut ketika melihat sang suami berdiri di depan kamar mandi.
Dokter Perdi segera masuk ke dalam kamar mandi setelah sang istri keluar, dirinya dari tadi menahan ingin buang air kecil. Setelah menyelesaikan keinginan tadi, dirinya ingin segera membersihkan diri mumpung sudah berada di dalam kamar mandi.
Untung tadi dirinya sudah membawa handuk ke dalam kamar mandi, jika tidak membawa tidak mungkin dirinya harus berteriak dari kamar mandi memanggil sang istri yang kebetulan mereka sekarang menempati kamar tamu yang ada di depan karena kamar Kirana dulu sudah ditempati adiknya.
Ahh tak terbayang jika hal itu terjadi, Dokter Perdi segera menguyur seluruh tubuhnya dengan air yang ada di dalam bak mandi mengunakan gayung. Selesai mandi Dokter Perdi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, dirinya juga kembali memakai kaos oblong yang di pakainya hari ini tadi dan melangkahkan kaki menuju kamar tamu yang mereka tempati.
__ADS_1