Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 128


__ADS_3

"Saran aku mending kamu ajak suami kamu buat periksa, biar tau siapa yang sebenarnya bermasalah makanya mengapa kalian belum juga diberi keturunan sampai saat ini. Apalagi pernikahan kalian sudah mau satu tahun"


Perkataan Lili pagi tadi terus tergiang-giang ditelinga Kirana hingga detik ini, dirinya memang pernah terpikir ingin memeriksa kandungan namun lagi-lagi rasa takutnya sangat besar. Dan seharusnya mau tak mau terima atau tidak dirinya memang harus memeriksa kandungannya, atau bisa jadi dirinya periksa tanpa mengajak sang suami tapi di kota Jakarta ini semua yang berprofesi dokter kenal dengan dirinya kalo dirinya adalah istri Dokter Perdi.


"Sayang awas" kata Dokter Perdi menahan lengan Kirana


"Akkhh, Astagfirullah" ucap Kirana baru tersadar kalo dirinya dari tadi melamun


"Hampir saja air panas itu tumpah, kalo aku telat datang mungkin tangan mulus istriku ini jadi melepuh" kata Dokter Perdi


"Ada apa Pak Bu?" tanya wanita paruh baya itu yang habis berlari dari ruang depan saat mendengar teriakkan majikannya


"Gak apa-apa Bu de, tangan Bu Kirana hampir kenah air panas" jelas Dokter Perdi


Kirana yang masih kaget pun diminta Dokter Perdi untuk duduk dulu dikursi makan, Kirana menuruti permintaan sang suami. Dirinya yang terlalu memikirkan perihal tadi, hampir saja dirinya celaka. Dokter Perdi memberi gelas yang berisi air minum kepada sang istri, lalu Kirana menerima gelas tersebut dan segera meminum air tersebut sampai tandas.


"Sayang, apa kamu ada masalah?" tanya Dokter Perdi sembari memegang tangan sang istri


Kirana mengelengkan kepalanya, dirinya tak ingin memberi tahu pada sang suami perihal perkataan Lili pagi tadi. Karena dirinya juga takut sang suami jadi mengikiti saran Lili, rasa khawatir dan takut menjadi satu saat ini dihati Kirana.


"Sayang, maaf sebelumnya. Aku udah denger semua perkataan sahabat kamu tadi pagi" kata Dokter Perdi


"Apa? Bukannya kami tadi masih tidur" kata Kirana terkejut ternyata sang suami tau perihal perkataan Lili pagi tadi


"Sebenarnya aku udah bangun tadi" kata Dokter Perdi

__ADS_1


Kemudian Dokter Perdi menceritakan dirinya yang keluar kamar mereka ingin mengambil air minum didapur karena stok air minum dikamar mereka habis, namun saat Dokter Perdi sudah hampir sampai kearah dapur. Dokter Perdi mendengar sang istri yang sedang mengobrol dengan ketiga sahabat sang istri, bahkan sang istri curhat tentang belum juga hamil sehingga sang istri menangis didepan ketiga sahabat sang istri.


Setelah dapat saran dari salah satu sahabatnya, Kirana menghapus air matanya dan Kirana juga berkata dirinya takut jika dirinya lah yang sebenarnya bermasalah bagaimana nanti kedepannya dirinya tak ingin sampai sang suami berpaling.


"Sayang, siapapun diantara kita yang bermasalah jangan sampai pergi tapi harus saling mendukung dan menguatkan" kata Dokter Perdi mengengam tangan sang istri


"Benar sayang, janji ya" kata Kirana air matanya sudah mengenang dipelupuk matanya saat sang suami menceritakan perihal pagi tadi


"Janji sayang" jawab Dokter Perdi


Kirana pun langsung memeluk sang suami sembari menangis, Dokter Perdi mengelus punggung sang istri membiarkan sang istri menumpahkan semua air matanya agar ini menjadi tangis terakhir sang istri karena Dokter Perdi tak ingin sang istri menangis lagi kedepannya dan seterusnya.


Wanita paruh baya yang tadi ada didapur sempat kembali keruang depan melanjutkan pekerjaannya, setelah itu dirinya ingin kedapur lagi namun saat dirinya sudah hampir sampai dirinya melihat kedua majikannya itu sedang bersedih masalah anak.


Wanita paruh baya itu pun ikut meneteskan air matanya, dirinya tak menyangkah kedua majikannya yang kelihatan sangat bahagia ternyata mempunyai masalah yang begitu besar. Padahal kedua majikannya itu orang yang sangat baik, namun MAHA KUASA menguji mereka berdua melalui anak yang tak kunjing hadir.


.


.


Lili duduk ditempat kerjanya, dirinya hingga saat ini belum mengerjakan apapun bahkan nota-nota yang seharusnya diperiksanya pagi ini belum juga dilihatnya sama sekali. Dirinya dari tadi memikirkan Kirana, dirinya benar-benar tak menyangka ternyata yang dilihatnya selama ini hanya kebahagian palsu yang ditampakkan oleh sahabatnya itu.


Ini benar-benar masalah besar jika sudah menyangkut soal anak yang tak kunjung hadir didalam rumah tangga sahabatnya itu, apalagi sahabatnya bilang takut suami sahabatnya berpaling. Akkhh begitu mirisnya hidup sahabatnya itu jika semua itu terjadi, dirinya tak bisa membayangkan semua itu.


Drrt...drrt...drrt

__ADS_1


Bunyi telepon restoran membuyarkan lamunan Lili, dirinya segera menerima telepon tersebut.


"Li, laporan sudah dibuat belum? Ibu perhatikan dari cctv kamu melamun dari tadi? Kamu sakit?" tanya Bu bos melalui telepon tersebut


"Akhh, tidak Bu hanya ada sedikit masalah. Maaf ya Bu jadi membuat pekerjaan saya jadi berantakkan. Saya akan buat laporan sekarang" kata Lili tak enak hati dengan Bu bosnya


"Baiklah, selesaikan secepat mungkin. Ya sudah" ujar Bu bos kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak


Lili segera mengerjakan laporan yang harus diserahkannya dengan Bu bos siang ini, karena memikirkan masalah Kirana Lili sampai lupa dengan pekerjaannya sendiri. Lili hanya bisa mendoakan sahabatnya itu, semoga sahabatnya selalu bahagia meski rumah tangga sahabatnya belum dikaruniai anak dan semoga suami sahabatnya tetap menerima sahabatnya meski banyak kekurangan.


Selesai membuat laporan Lili ingin ke toilet terlebih dahulu sebelum menyerahkan kepada Bu bosnya, Lili segera beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke arah toilet.


"Kasian ya, punya sahabat tapi MANDUL" kata Mita yang berpapasan dengan Lili


"Apa maksudmu?" tanya Lili sembari menarik tangan Mita


"Iya sahabatmu yang MANDUL itu siapa lagi kalo bukan KIRANA" jelas Mita menatap mata Lili dengan begitu tajam


"Jangan ngomong sembarangan ya" kata Lili marah sembari jari telunjuknya menunjuk wajah Mita


"Aku sudah mendengar perkataan kalian tadi pagi jadi gak usah mengelak" kata Mita menyunggingkan senyum liciknya serta melipat kedua tangannya di dada


Lili yang sudah kebelet pipis akhirnya meninggalkan Mita begitu saja, setelah dari toilet Lili mengingat dimana dirinya dengan Fitri dan Novi membahas soal masalah yang ada didalam rumah tangga Kirana. Setelah tau dirinya pun terkejut mengapa bisa Mita sepagi itu sudah ada dirumah Kirana atau jangan-jangan selama ini Mita memang selalu mengintai kehidupan runah tangga Kirana dan Dokter Perdi, ini semua tidak akan dibiarkan Lili begitu saja.


Dirinya tak akan membiarkan siapapun yang merusak rumah tangga sahabatnya itu, meski nyawanya yang dipertaruhkan Lili akan siap pasang badan demi rumah tangga sahabatnya itu.

__ADS_1


Lili segera kembali ketempat kerjanya, dirinya harus mengantar laporan nota serta pemasukan bulan ini kepada Bu bosnya. Lili segera melangkahkan kaki ke arah belakang kasir dan menuruni anak tangga sembari membawa laporan yang telah di buatnya tadi


__ADS_2