
"Kamu dari tadi kemana?" tanya Bu bos yang nada suara begitu tegas
"Ahh ternyata anak kecil itu tidak memberi tahu Bu bos" gumam Mita dalam hati sembari masih dalam keadaan menunduk
"Kamu denger Ibu bicara tidak" kata Bu bos yang mulai emosi
"Tadi.. Saya ke... toilet bu" jawab Mita gugup dan masih dalam posisi menunduk
"Memangnya kamu pikir Ibu bodoh, mana ada orang ke toilet sampai 1 jam" kata Bu bos yang mulai meninggikan nada suaranya
"Maaf bu, tadi saya ketiduran" jawab Mita jujur
"Ketiduran, yang ada kamu sengaja tidur. Jangan ulangi lagi kalo ini terulang lagi, tidak segan-segan Ibu pecat kamu" kata Bu bos
"Iya bu, maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulangi lagi" kata Mita masih terus menundukkan kepala
"Ya sudah sekarang kembali ke restoran" ujar Bu bos
Mita pun pamit undur diri, dirinya kembali ke restoran dalam keadaan wajah yang begitu di tekuk. Lili yang berpapasan dengan Mita hanya tersenyum melihat wajah Mita yang begitu di tekuk sudah pasti dapat teguran oleh Bu bos mereka, Lili memang tidak memberi tahu perihal Mita tidur karena Bu bosnya tadi juga tak bertanya dengan dirinya.
Mita kini sudah kembali melayani para pengunjung, sedangkan Lili Fitri dan Novi saat ini beristirahat untuk makan siang. Mereka bertiga begitu menikmati makanan yang di buat oleh chef yang bekerja di restoran tempat mereka bekerja juga, mereka bertiga begitu kagum makanan yang ada di piring mereka benar-benar lezat pantas saja restoran tak pernah sepi oleh para pengunjung.
Wajar harga makanan di restoran rata-rata kalangan orang berada yang bisa makan disini, orang-orang menengah kebawah seperti mereka mana sanggup untuk makan disini. Memang ada juga beberapa makanan yang harganya masih standar namun jika setiap hari makan makanan itu, tetap saja bisa menguras uang yang sudah susah payah mereka cari.
.
.
Di tempat lain yaitu di kota Bandung
Selesai makan siang Ayahnya Dokter Perdi pamit ingin pergi ke perkebunan kopi mereka, ingin memantau pekerjaan para petani disitu. Dokter Perdi pun langsung sigap ingin mengantar Ayahnya pergi ke perkebunan kopi mereka, Ayahnya Dokter Perdi tak bisa menolak lagi jika anaknya sudah berkata.
__ADS_1
Dokter Perdi pamit dengan sang istri ingin mengantar Ayahnya, Kirana mengangguk menyetujui sang suami yang akan mengantar Ayah mertuanya itu. Setelah kepergian sang suami dan Ayah mertuanya Kirana memilih untuk bersantai bersama Ibu mertuanya di ruang keluarga sembari menonton tv, kebetulan siang ini hanya tinggal mereka berdua.
Tak lama setelah kepergian Jhon dan Istrinya tadi, Istri kakaknya Dokter Perdi juga pergi bersama kedua anaknya ke rumah orang tuanya yang memang tak jauh dari rumah mertua mereka, kini Kirana sudah mulai terbiasa dengan Ibu mertuanya bahkan sekarang sudah sangat dekat seperti anak dan Ibu kandung.
"Assalamualaikum" ucap seorang wanita
Pintu depan yang kebetulan tidak tertutup jadi wanita itu langsung masuk ke rumah orang tua Dokter Perdi, kemudian melangkahkan kaki mencari penghuni rumah itu. Tiba di ruang keluarga wanita itu melihat ada dua wanita yang sedang berbincang sembari menonton tv yang tak lain Kirana dan Ibu mertuanya, wanita itu segera mendekati kedua wanita tersebut.
"Astagfirullah..." ucap Ibunya Dokter Perdi saat melihat wanita itu sedang berdiri di belakang mereka
"Ihh mbak ini, kayak aku setan aja sampai ngucap segala" kata wanita itu yang tak lain adalah Adik Ibunya Dokter Perdi
"Kamu sih, masuk nyeronong aja. Bukannya ngucap salam" kata Ibunya Dokter Perdi
"Aku udah ngucap salam tadi, tapi kalian aja yang gak dengar" kata Tantenya Dokter Perdi sembari duduk di kursi dekat Kirana
Tantenya Dokter Perdi memperhatikan penampilan Kirana dari atas hingga ke bawa, penampilan yang menurutnya norak apalagi sampai wajah pun ditutupi dengan sebuah kain yang hampir sama dengan sebuah masker. Hanya saja masker pendek tapi kalo yang dipakai Kirana itu panjang, dirinya bahkan tidak tau apa nama kain yang dipakai Kirana itu karena baru kali ini dirinya melihat penampilan seperti itu.
"Hehh.. Apa-apaan kamu ini, memangnya menantu mbak pembantu kamu. Biasanya juga ngambil sendiri" kata Ibunya Dokter Perdi
"Gak apa-apa bu, akan Kirana ambilkan" kata Kirana segera beranjak dari tempat duduk
"Tu mbak, dia ajak gak masalah kok mbak marah" kata Tantenya Dokter Perdi
Kirana berjalan menuju ke arah dapur, dirinya membuka kulkas dan mengambil salah satu minuman botol mineral yang berukuran besar yang ada didalam kulkas. Lalu mengambil nampan dan meletakan tiga gelas berserta minuman botol mineral yang telah diambilnya tadi, dirinya kembali ke tempat dimana Ibu mertuanya dan Tantenya sang suami berada.
Kirana meletakan nampan yang berisi tiga gelas dan minuman botol mineral itu di atas meja yang ada di hadapan mereka, kemudian dirinya kembali duduk di dekat Tantenya sang suami.
"Jadi ini istrinya Perdi?" tanya Tantenya Dokter Perdi
"Iya, namanya Kirana asli orang Palembang" jawab Ibunya Dokter Perdi
__ADS_1
"Kirana ini Adiknya Ibu yang bungsu, Tantenya Perdi" jelas Ibunya Dokter Perdi
Kirana mengangguk sembari menyapa Tantenya Dokter Perdi dengan sopan, Tantenya Dokter Perdi berusaha tersenyum yang sebenarnya dirinya sangat malas untuk berbasa basi.
"Kamu belum hamil?" tanya Tantenya Dokter Perdi
"Belum te" jawab Kirana
"Jadi benar donk kata Mbak Desi kalo kamu itu MANDUL" kata Tantenya Dokter Perdi begitu menekan kata Mandul
"Dira..." bentak Ibunya Dokter Perdi kepada Adiknya itu
"Lah mbak kok ngebentak Aku sih, Aku kan mendengar dari Mbak Desi. Dia bilang kalo istrinya Perdi MANDUL" jelas Tantenya Dokter Perdi
Kirana tak mau menjawab apapun karena takut semakin memancing keributan, dirinya memilih menatap Ibu mertuanya yang sudah emosi.
"Siapa yang MANDUL" kata Dokter Perdi dengan nada suara yang begitu tinggi sembari berjalan mendekati ketiga wanita yang sedang duduk di kursi ruang keluarga itu
Kirana yang mendengar nada suara sang suami seperti marah, dirinya segera beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang suami dan menggengam tangan sang suami sembari menggelengkan kepalanya. Dokter Perdi tau maksud dari gelengan sang istri, dirinya tak mungkin hanya diam saja mendengar sang istri dihina meskipun itu Tantenya sendiri.
Tantenya Dokter Perdi yang juga mendengar nada suara keponakannya berbeda menjadi takut karena ini kali pertama dirinya mendengar keponakannya seperti marah, Tantenya Dokter Perdi berdiri dan menatap mata keponakannya yang begitu tajam menatapnya membuat dirinya semakin gemetaran.
"Tante... tidak bermaksud... menghina istrimu" kata Tantenya Dokter Perdi terbata-bata
"Terus apa kalau bukan menghina" tanya Dokter Perdi
"Maafkan Tante Per" kata Tantenya Dokter Perdi sembari memegang tangan keponakannya itu
"Tante itu wanita, jadi jangan pernah menghina sesama wanita. Justru aku kasihan dengan Tante yang sudah hampir 40 tahun tapi belum juga menikah" kata Dokter Perdi
Tantenya Dokter Perdi begitu malu ketika keponakannya menghina dirinya yang belum menikah dihadapan istri keponakannya itu, padahal tak ada yang tau perihal dirinya belum menikah kecuali keluarga besar mereka. Padahal selama ini Tantenya Dokter Perdi memang tak pernah ikut berkumpul ketika ada acara apapun, karena dirinya tak ingin sampai orang lain tau perihal itu.
__ADS_1