Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 81


__ADS_3

Ketika turun dari pesawat Kirana sudah melihat dari kejauhan ada seseorang yang sangat dikenalnya meski sudah 5 tahun tidak bertemu tapi Kirana tetap hapalan dengan wajah orang itu meski sekarang agak lebih tua, kakak sepupu Kirana saat melihat Kirana sekeluarga langsung melambaikan tangan sembari berjalan menghampiri Kirana sekeluarga.


Tiba dihadapan kedua orang tuanya Kirana kakak sepupu Kirana segera mencium punggung tangan kedua orang tuanya Kirana lalu dengan sigap membawakan barang-barang bawaan Kirana sekeluarga ke mobil yang dirental kakak sepupu Kirana tadi.


Mereka semua sudah masuk kedalam mobil, mobil pun mulai melaju meninggalkan bandara.


"Nenek meninggal karena apa kak?" tanya Kirana memulai percakapan


"Aku kalo cerita takut sedih lagi, kasihan nenek kalo kita sedih terus menerus" kata Kakak sepupu Kirana


"Ceritain kak sekarang" paksa Kirana dengan rasa penasaran karena Kirana sekeluarga tau sang nenek sehat-sehat saja beberapa hari yang lalu.


Kakak sepupu Kirana menarik napas panjang, kemudian mulai menceritakan apa yang menjadi penyebab nenek mereka meninggal.


Semalam sang nenek ingin mengambil air wudhu ke kamar mandi, selesai mengambil air wudhu sang nenek tidak sengaja menjatuhkan sabun mandi lalu sang nenek terpeleset dan pingsan. Anaknya yang tinggal satu atap dengan sang nenek kebetulan sedang pergi ke acara yasinan tetangga, jadi dirumah semalam tak ada orang satu pun kecuali nenek.


Yang menemukan sang nenek pingsan adalah Anggun, entah mengapa tiba-tiba Anggun berkeinginan mengunjungi sang nenek malam itu padahal biasanya paling anti keluar malam. Saat Anggun masuk rumah ternyata nenek sudah pingsan, Anggun langsung berteriak minta bantuan.


Ketika dibawa kerumah sakit ternyata nyawa sang nenek sudah tidak bisa di tolong lagi, setelah diperiksa oleh Dokter katanya ada pendarahan di otak belakang. Meskipun nyawa sang nenek selamat tapi hidupnya juga tidak akan kembali seperti semula, sang nenek akan lumpuh seumur hidup.

__ADS_1


Kirana dan keluarganya benar-benar terkejut setelah mendengar cerita dari kakak sepupu Kirana, terkadang nyawa manusia memang tidak bisa di tebak kapan waktunya mereka kembali ke MAHA KUASA semuanya hanya DIA yang tau.


Mobil tiba di depan halaman rumah yang ada bendera berwarna kuning serta sudah sangat banyak orang yang datang dan sayup-sayup terdengar lantunan suara orang mengaji, Kirana dan adik-adiknya langsung keluar saat mobil berhenti.


Kirana dan adik-adiknya berlari mendekati jenazah sang nenek yang sudah tertutup kain panjang, mereka menangis saat membuka kain penutup wajah sang nenek. Wajah sang nenek tidak nampak seperti orang meninggal namun melainkan seperti orang tertidur apalagi ada sunggingan senyum kecil di bibir sang nenek, Kirana mencium wajah sang nenek rasa penyesalannya mulai muncul.


Kirana sangat ingat ketika sang nenek menanyakan kabar dirinya namun dirinya selalu cuek, apalagi sang nenek selalu minta Kirana untuk menyempatkan pulang ke Palembang walaupun hanya sehari karena sang nenek begitu merindukan cucunya itu, dari sekian banyak cucunya hanya Kirana yang memang kurang akrab dengan sang nenek.


Bukan karena Kirana tidak sayang dengan sang nenek hanya saja Kirana pernah kecewa dengan sang nenek waktu Kirana masih duduk di bangku SD, Kirana yang suka menjahili Anggun terkadang membuat Anggun sampai menangis disitu sang nenek menegur Kirana tapi Kirana tidak terima dengan teguran sang nenek ditambah sang nenek selalu membandingkan dirinya dengan Anggun padahal Kirana anak yang paling tidak suka dibanding-bandingkan.


Kini jenazah sang nenek sudah diletakan kedalam kerangka besi untuk membawa jenazah ke pemakaman, semua anak laki-laki sang nenek serta cucu laki-laki sang nenek mulai mengangkat kerangka besi itu lalu membawa kerangka besi itu keluar dan tidak akan ketinggalan seluruh keluarga besar sang nenek mengiring dari belakang.


Sebelum seluruh keluarga besar sang nenek pergi mereka semua menyempatkan berdoa, setelah itu mereka semua mulai beranjak dari sana dan kembali ke rumah sang nenek.


Rumah kayu yang lumayan besar itu meninggalkan begitu banyak kenangan yang terlukis disana, rumah kayu itu mungkin sudah berdiri hampir 70 tahunan dan beruntungnya rumah kayu itu meski sudah lama berdirinya tapi masih bagus meski cat rumah itu sudah sangat pudar.


Kirana bahkan sempat tinggal di rumah kayu itu sebelum Kirana sekeluarga merantau ke Jakarta, susah senang Kirana lalui bersama keluarganya di rumah itu bahkan memakan nasi dengan garam atau dengan gula pasir itu bisa jadi makanan sehari-hari mereka dirumah itu.


Kini rumah kayu itu akan hanya di tempati tantenya Kirana anak bungsu sang nenek bersama suami dan anak-anaknya tidak ada orang lain lagi. Apalagi anak sang nenek yang lain sudah memiliki rumah masing-masing.

__ADS_1


Kirana sudah tidak punya lagi nenek serta kakek baik itu dari sebelah pihak ayahnya maupun pihak ibunya semua telah kembali ke MAHA KUASA, ketika Kirana memperhatikan foto nenek dan kakeknya Kirana tiba-tiba teringat juga dengan sang kakek yang meninggal karena kecelakaan pas pulang dari jualan bersepeda ditabrak oleh mobil truk, kejadian itu Kirana bahkan masih duduk di bangku SMP.


Drrt...drrt...drrt


Bunyi hp Kirana tanda ada telepon masuk, Kirana baru tersadar dari lamunan setelah mendengar bunyi hpnya. Kirana segera mengambil hp yang ada di dalam saku gamisnya kemudian dilihatnya nama penelepon yang tertera di atas layar hpnya, Kirana segera menyentuh ikon berwarna hijau itu lalu di gesernya ke atas.


"Hallo, Assalamualaikum" kata seseorang dari seberang sana


"Iya walaikumsalam kak" jawab Kirana dengan suara agak serak


"Kirana, kamu habis nangis. Ada apa?" tanya Dokter Perdi


"Aku tidak apa-apa kak" jawab Kirana lesu


"Ayolah masak dengan calon suami sendiri harus menyembunyikan sesuatu" kata Dokter Perdi


Kirana mulai menceritakan bahwa sekarang dirinya dan keluarganya sedang di Palembang, mereka sekeluarga sedang berduka karena sang nenek meninggal bahkan baru selesai dari pemakaman. Kirana yang panjang lebar bercerita kembali menangis karena masih mengingat perlakuannya terhadap sang nenek, rasa kecewanya dulu kini membekas menjadi rasa bersalah dan rasa penyesalan.


Dokter Perdi yang mendengar Kirana kembali menangis hanya bisa menenangkan Kirana dari kejauhan, andai Dokter Perdi dan Kirana sudah sah sebagai suami istri mungkin saat ini Dokter Perdi akan mendekap tubuh Kirana itu dan membiarkan wanita yang dicintainya itu menangis sejadi-jadinya di pelukannya agar setelah itu Kirana tidak merasakan lagi kesedihan.

__ADS_1


Kirana pun memilih mengakhiri teleponnya secara sepihak dirinya tidak ingin kelihatan rapuh, apalagi dirinya tidak ingin terus-menerus menangis seperti ini akan membuat sang nenek malah tersiksa di alam sana. Kirana segera menghapus air matanya dan berbaring di atas kasur tipis tempat tidur sang nenek sembari memeluk foto nenek dan kakeknya.


__ADS_2