
Kirana dan Dokter Perdi yang sudah tiba didepan rumah mereka, segera turun dan melangkahkan kaki ke arah pintu masuk. Dokter Perdi mengeluarkan kunci rumah mereka kemudian membuka handle pintu, Dokter Perdi masuk kedalam rumah diikuti Kirana yang ada dibelakang.
"Terima kasih" kata Kirana lagi dengan suara yang mengejek
Dokter Perdi menutup kembali pintu, kemudian berjalan di belakang sang istri.
"Terima kasih" kata Kirana terus mengulang kata itu
"Apa sih sayang?" kata Dokter Perdi baru menanggapi perkataan Kirana kemudian menarik sang istri kepelukannya
"Terima kasih" kata Kirana
"Kamu cemburu dengan temanmu tadi, aku kan hanya bilang terima kasih tidak ada yang lain" jelas Dokter Perdi sembari membuka niqab sang istri
"Iya cuma bilang terima kasih, ya udah" kata Kirana melepaskan pelukan dari sang suami
Kirana berlalu meninggalkan sang suami, dirinya masuk kamar utama yang mereka tempati untuk tidur. Dirinya ingin tidur siang untuk menghilangkan rasa kesalnya terhadap sang suami, dilepasnya jilbab yang dipakainya kemudian digantungkannya ditempat gantungan yang ada dibelakang pintu. Kirana segera berbaring diatas ranjang tidur yang terbuat dari bahan kayu jati, seluruh furniture dirumah baru mereka ini semua dari bahan kayu jati.
Dokter Perdi sengaja memilih semua barang untuk rumah baru mereka ini dari kayu jati seperti ranjang tidur, kursi diruang tamu, kursi diteras, serta yang lain karena akan awet puluhan tahun bukan hanya itu desainnya juga sangat bagus meski harganya memang bisa menguras kantong namun tak masalah bagi Dokter Perdi.
Dokter Perdi yang malas berdebat dengan sang istri memilih untuk ke dapur, dirinya ingin membuat secangkir kopi. Setelah selesai kini Dokter Perdi duduk santai di bangku yang ada di taman belakang sembari menikmati secangkir kopi yang barusan dibuatnya tadi, dirinya kembali melihat pesan whatsapp digrup fakultas kedokteran dihpnya yang masih membahas soal reunian.
Setiap tahun dirinya tak pernah ikut reunian karena lebih sering diadakan diluar Jakarta namun tahun ini sepertinya dirinya bisa untuk datang reunian, apalagi reunian tahun ini diadakan di hotel Merah Putih yang tak jauh dari rumahnya. Selesai menyeruput secangkir kopi Dokter Perdi berjalan mendekati kolam ikan koi, diberinya makan ikan-ikan koi yang ada didalam kolam.
Dirinya sangat puas dengan bangunan rumahnya ini, apalagi bagian taman belakang ini benar-benar luar biasa. dirinya memilih untuk kembali duduk dibangku menikmati udara yang panas namun terasa sejuk sembari membayangkan anak-anaknya bermain lari-larian di taman belakang ini.
Kirana terbangun dari tidur siangnya, dilihatnya sekeliling kamar tak ada tanda sang suami ikut tidur siang. Jangankan untuk tidur masuk kamar pun seperti tak sama sekali, dirinya segera beranjak dari tidurnya lalu berjalan ke dapur mencari sang suami. Dan benar Kirana melihat sang suami sedang duduk sembari bersandar di bangku dalam keadaan memejamkan mata, dirinya pun ikut duduk bergabung di bangku yang sedang diduduki sang suami itu.
Dokter Perdi membuka kedua matanya, dilihatnya ada sang istri yang ikut duduk disampingnya sembari tersenyum. Dirinya juga ikut menyunggingkan senyuman kemudian mencium pipi sang istri, Kirana pun membalas mencium pipi sang suami.
"Jangan cemberut lagi ya sayang, nanti cantiknya hilang" kata Dokter Perdi memeluk sang istri
"Memang kalo cantikku hilang, sayang gak cinta lagi dengan aku?" tanya Kirana merenggut
"Tetap cintalah, kan kamu selalu dihatiku" kata Dokter Perdi kemudian berbaring dibangku dan paha sang istri sebagai bantal
"Semoga rumah tangga kita selalu sakinah mawadah wa rahma" kata Kirana sembari mengelus rambut sang suami dengan lembut
__ADS_1
"Aamiin" jawab Dokter Perdi kembali memejamkan mata menikmati sentuhan sang istri.
.
.
Malam hari
Selesai makan malam Dokter Perdi dan Kirana kini duduk dikursi yang ada diruang keluarga, mereka berdua menikmati malam ini dengan menonton drama korea di tv namun bukan tv biasa tapi seperti bioskop. Isi film di tv itu sangat lengkap, film apapun semuanya ada semau kita mau film apa.
Posisi duduk mereka berdua kini bergantian, Kirana yang berbaring di kursi dan paha sang suami sebagai bantal. Dokter Perdi mengelus kepala sang istri dengan begitu lembut, disaat seperti ini mereka berdua kadang merasa kesepian karena dirumah sebesar ini hanya tinggal berdua.
Kirana yang menikmati film serta sentuhan sang suami tiba-tiba memejamkan mata hingga benar-benar tertidur, Dokter Perdi yang mendengar dengkuran halus dari mulut sang istri segera melihat ternyata sang istri tertidur.
Dokter Perdi segera mematikan tv, kemudian mengendong tubuh sang istri untuk dipindahkan ke dalam kamar utama. Kamar yang mereka tempati sekarang, diletakannya tubuh sang istri di atas ranjang tempat tidur dengan pelan dan tak lupa diselimutinya tubuh sang istri. Dokter Perdi juga ikut berbaring di samping sang istri, lalu dirinya mengambil hpnya yang ada diatas meja dan mulai berselancar di sosial media.
Malam telah menunjukan pukul 9 malam, seluruh karyawan restoran ditempat Kirana bekerja dulu mulai keluar ingin pulang kerumah serta kontrakan masing-masing.
"Tadi siang Kirana makan direstoran, dia nitip salam buat kalian" kata Novi saat diperjalanan ingin pulang
"Kita gak tau kalo ada Kirana siang tadi, gara-gara restoran ramai jadi gak merhatiin para pengunjung" kata Lili
"Kirana juga bilang, nanti kalo salah satu kita libur dimintanya main kerumah barunya" kata Novi
"Insyaallah, aku lusa baru libur" kata Fitri
"Jadwal liburku udah habis bulan ini" kata Lili
"Iya aku juga udah habis jadwal liburku" kata Novi
Hingga tak terasa mereka bertigapun sudah di depan kontrakan mereka, Fitri mengeluarkan kunci kontrakan dari saku gamisnya. Lalu segera dibukanya pintu itu, Mereka bertiga pun segera masuk dan tak lupa menutup serta mengunci kembali pintu.
Lili Fitri dan Novi mulai bergiliran masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, Lili duduk diruang depan sembari bersandaran didinding dan bermain hp. Dirinya berpikir hingga detik ini masih penasaran dengan perkataan Kirana bulan lalu yang belum dijelaskan Kirana, setiap malam menghubungi Kirana yang menerima telepon pasti suaminya karena Kirana sudah tidur.
Menghubungi pagi-pagi Kirana tak mau menjelaskan karena ada suaminya disampingnya, sampai Kirana belum mau menjelaskan sama sekali. Mungkin menunggu dirinya ketemu langsung, baru bisa minta penjelasan.
Lili pun memutuskan berselancar disosial media, saat sibuk mengeser-geser hp dirinya melihat postingan Danu yang meng-upload foto bersama Agam. Lili yang kebetulan bertemanan di facebook dengan Danu jadi postingan itu melewati berandanya, segera dibacanya caption di foto itu.
__ADS_1
.
.
.
(Merangkul pundak teman yang sedang patah hati, setahun tak bertemu ketika bertemu pujaan hati telah menikah. Yang lebih menyakitkan rumah yang dibangun ternyata milik pujaan hati dan suaminya. Sabar Bro)
.
.
.
Lili terkejut membaca postingan itu serta background di belakang foto itu, Lili segera menyecreen shout foto Danu dan Agam itu. Kemudian segera membuka galeri foto di pengiriman foto whatsapp, dilihatnya benar-benar sama dengan foto rumah yang dikirim Kirana beberapa hari yang lalu.
"Ya Allah, jangan-jangan ini yang mau dikatakan Kirana" gumam Lili sembari menutup mulutnya
"Ada apa sih Li?" tanya Novi
Lili segera melihatkan foto Danu bersama Agam serta foto yang dikirim Kirana, Novi pun terkejut melihat itu.
"Apa jangan-jangan mereka bertemu lagi" kata Novi
Lili mengangguk menyetujui perkataan Novi.
Lili yakin di saat pulang dari melihat rumah itu Kirana ingin mengatakan hal ini dengannya tapi karena ada suaminya, Kirana tidak berani mengatakan apapun. Lili tau Kirana tak mau membahas masa lalu apalagi jika ada suaminya, mengapa kehidupan Kirana selalu ada cobaan.
Lili merasa kasihan dengan sahabatnya itu, disaat ingin bahagia ada saja cobaan. Lili berpikir apa mungkin Kirana itu terlalu baik makanya selalu diuji dengan yang MAHA KUASA, Lili pun hanya bisa mendoakan sahabatnya itu dari kejauhan.
"Oh iya Li, Kirana bilang juga hingga saat ini dirinya belum hamil" kata Novi menepuk pundak Lili serta membuyarkan lamunan Lili
"Namanya juga pernikahan masih seumur jagung, apa kabar dengan Kakak perempuanku yang sudah 5 tahun belum dikaruniai anak" kata Fitri yang keluar dari kamar mandi
Lili dan Novi segera menengok kearah Fitri, mereka berdua mengangguk setuju dengan perkataan Fitri. Tapi ada rasa kasian juga dihati mereka dengan Kirana, jika sama seperti kakak perempuan Fitri yang memang belum memiliki keturunan.
Ya kita sebagai manusia tidak tau skenario apa yang sedang di buat oleh MAHA KUASA, kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan yang ada. Tak bisa memaksa semuanya telah tertulis di lauhul mahfudz, dan kuncinya terus berdoa, usaha, istiqomah dan tawakal (berserah diri).
__ADS_1
Lili pun beranjak dari duduknya kemudian mengambil handuknya yang tergantung digantungan samping kamar mandi, dirinya segera masuk kamar mandi ingin membersihkan diri. Tak begitu lama Lili keluar dari kamar mandi dan melangkah ke kamar tidur, dilihatnya kedua sahabatnya sudah berbaring diatas kasur.
Lili segera memakai piyama tidur, kemudian ikut berbaring diatas kasur samping kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga yang merasa sangat lelah memutuskan untuk segera tidur, mereka bertiga pun mulai terlelap dan sudah masuk ke alam mimpi.