Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 150


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Mita merasa tidurnya saat ini sangat gelisah, di tambah dirinya terkadang merasakan kontraksi palsu. Mita terus berusaha memejamkan matanya, namun lagi-lagi kontraksi itu muncul membuat Mita semakin gelisah. Padahal tanggal ini bukan HPL nya namun entah mengapa kontraksi itu terus muncul, saat Mita hendak beranjak dari tempat tidur dan mengambil minum.


Mita melihat ada sedikit cairan bercampur merah keluar, Mita kaget karena artinya dirinya akan melahirkan. Mita segera mengambil hpnya yang tergeletak di atas meja hiasnya, dirinya langsung memesan ojek online untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Setelah itu Mita mengambil sebuah tas yang berisi baju persalinan untuk bayinya nanti serta keperluannya untuk lahiran, Mita berjalan ke arah pintu depan sembari menunggu ojek yang dipesannya tadi datang. Beruntungnya Mita tak perlu menunggu lama karena ojek online itu sudah datang, Mita segera naik ke jok belekang setelah memakai helm.


"Sesuai lokasi tujuan ya pak" kata Mita


"Oke neng" jawab Tukang ojek itu


Beruntung kontraksi Mita masih tidak terlalu sakit jadi dirinya masih sanggup naik ojek ke rumah sakit yang memang tak terlalu jauh dari rumahnya, 20 menit kemudian akhirnya Mita tiba di parkiran rumah sakit.


"Ini pak ongkosnya, terima kasih ya" ujar Mita sembari memberikan ongkos serta helm


Mita segera masuk ke dalam rumah sakit dengan menenteng tas yang berisi keperluannya, Mita menuju administrasi dan mendaftar diri sendiri. Tak lama kemudian datang seorang suster yang membawa kursi roda untuk Mita, Mita segera duduk di atas kursi roda teesebut.


"Kok Ibu sendirian kesini, keluarganya kemana?" kata Suster itu di tengah-tengah perjalanan saat mendorong kursi roda Mita


"Keluarga saja di luar kota, tidak bisa menemani karena Ibu saya sedang sakit" jawab Mita begitu fokus dengan orang-orang yang di sekitar koridor rumah sakit


"Suami ibu kemana?" tanya Suster itu lagi saat mereka sudah tiba di ruang persalinan


"Suami saya sudah meninggal saat saya tau bahwa saya sedang hamil" jawab Mita yang berbohong


"Ya ampun maaf ya bu, silahkan ibu berbaring disini. Sembari menunggu pembukaan sempurna, saya panggil Dokter Kandungan dulu" kata Suster itu merasa tak enak dengan Mita


Mita menganggukkan kepala kemudian segera berbaring, kontraksi itu sesekali datang membuat Mita agak meringkis kesakitan. Mita meneteskan air mata mengingat saat ini tak ada satu pun sanak saudara yang menemaninya yang ingin lahiran, bahkan Agam pun tak ada kabar sama sekali entah kemana laki-laki itu hilang bak di telan bumi.


Tak berapa lama Mita kini merasakan sakit luar biasa dan bertepatan air ketubannya pecah, Mita segera memencet tombol merah yang ada di samping bed pasien itu. Dokter dan Suster segera bergegas ke ruangan Mita saat mendengar alarm darurat, Dokter melihat bed pasien sudah basah yang artinya air ketuban pasien sudah pecah.

__ADS_1


"Suster cek tensi darah pasien beserta detak jantung bayi" ujar Dokter Kandungan tersebut


Dokter Kandungan itu memeriksa jalan lahir ternyata sudah membukaan delapan, Dokter Kandungan itu masih menunggu sebentar lagi sembari menunggu suster mengecek keadaan Ibu dan Janin.


"Dok, sepertinya bayinya sudah mau keluar" kata Mita sembari mengatur nafas.


"Ayo bu, tarik nafas hembuskan sembari mengejan" ujar Dokter Kandungan yang sudah siap membantu persalinan Mita


Selang berapa detik terdengar suara bayi menangis begitu kencang, Dokter Kandungan itu meletakkan sang bayi di dada sang ibu selama Dokter Kandungan ingin mengeluarkan plasenta.


"Matamu seperti Ayahmu nak, berwarna coklat" kata Mita tersenyum mencium sang anak yang masih berlumur darah itu


.


.


Di tempat lain


"Sayang, bangun udah subuh. Aku berangkat ke masjid dulu ya" ujar Dokter Perdi sembari memegang bahu sang istri dengan lembut


"Hemm, iya sayang" kata Kirana yang mengeliat dalam selimut namun kedua mata masih terpejam


"Asalamualaikum" ucap Dokter Perdi kemudian keluar dari kamar ingin menuju pintu depan


"Walaikumsalam" jawab Kirana


Selang berapa menit sang suami berangkat ke masjid, Kirana pun beranjak dari tempat tidur dalam keadaan masih mengantuk dirinya ingin mengambil air wudhu untuk sholat. Kirana berjalan ke arah kamar mandi sembari terus mengucek kedua matanya, sebelum wudhu Kirana ingin membuang air kecil dahulu.


Saat dirinya ingin mengambil air, Kirana tak sengaja menjatuhkan botol shampo.


"Ya jatuh lagi" kata Kirana kemudian segera membersihkan sisa dirinya membuang air kecil

__ADS_1


Kirana turun dari kloset namun dirinya tidak tau bahwa botol shampo yang dijatuhkannya tadi ternyata terbuka, hingga saat dirinya ingin melangkah Kirana terpeleset dan bokongnya mengenai permukaan keramik begitu keras.


"Aw..." teriak Kirana saat merasakan bokongnya sangat sakit


Kirana berusaha bangkit namun dirinya begitu kesusahan karena tubuhnya memang kini sedikit gemuk, Kirana melihat ke arah selangkangnya yang mengeluarkan darah begitu banyak.


"Tolong...." teriak Kirana sembari menangis


"Tolong..." lagi-lagi Kirana berteriak


Dokter Perdi yang baru selesai sholat tiba-tiba perasaannya tidak enak, bahkan dirinya merasa begitu gelisah terpikir dengan sang istri di rumah. Karena pikirannya begitu menganggunya Dokter Perdi memutuskan untuk segera pulang, Dokter Perdi keluar dari masjid dan menuju sepeda motornya yang terparkir di halaman masjid.


Dokter Perdi segera melajukan sepeda motor dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera tiba dirumahnya.


"Tolong...." teriak Kirana untuk sekian kalinya hingga dirinya pingsan


Dokter Perdi yang mendengar teriakan minta tolong dari dalam rumahnya, segera berlari setelah memasukan sepeda motor ke garasi.


"Sayang..." teriak Dokter Perdi dengan napas ngos-ngos terkejut melihat sang istri pingsan di kamar mandi dan dengan darah yang sudah mengenang di lantai kamar mandi


Dokter Perdi langsung mengendong tubuh Kirana, padahal tubuh Kirana sangat berat namun karena dalam keadaan panik tak terasa sama sekali bagi Dokter Perdi. Dokter Perdi segera membawa tubuh sang istri ke dalam mobil, kemudian dibaringkannya di kursi belakang.


"Bertahan sayang demi anak kita" kata Dokter Perdi yang sudah melajukan mobilnya


Beruntung masih pagi jadi jalanan masih longgar, hingga Dokter Perdi tiba di parkiran rumah sakit.


"Dokter, Suster tolong istri saya" kata Dokter Perdi yang begitu panik


Suster dan Perawat segera membawa brangkar untuk membawa tubuh Kirana.


"Langsung ke ruang operasi saja, sepertinya pasien pendarahan hebat. Jadi janinnya harus segera di keluarkan" ujar Dokter kepada Suster dan Perawat itu

__ADS_1


Kini Kirana sudah berada di ruang operasi, Dokter Perdi membayar administrasi dahulu agar dirinya bisa tenang. Selesai semua Dokter Perdi kembali ke depan ruang operasi dimana sang istri di operasi untuk mengeluarkan janin, Dokter Perdi berdoa sembari menangis tak menyangka bayi mereka akan segera lahir entah selamat atau tidak dirinya begitu pasrah.


__ADS_2