Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 95


__ADS_3

Sore telah berganti malam, setelah sholat isya' Dokter Perdi mengajak sang istri untuk pergi belanja pakaian. Apalagi mereka berdua tak membawa pakaian ganti sama sekali tadi, jadi harus membeli dulu pakaian untuk malam ini serta untuk besok.


Mereka berdua pun bersiap keluar dari kamar hotel, setelah menutup dan mengunci kamar hotel mereka berjalan menuju lift. Ketika pintu lift terbuka mereka berdua segera masuk, lift berjalan turun ke bawah lantai dasar. Setelah itu mereka berdua keluar dan berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di area hotel, Lalu Kirana dan Dokter Perdi masuk mobil.


Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan hotel tempat penginapan mereka, Dokter Perdi dan Kirana menikmati malam ini meski diatas mobil tetap mereka bisa merasakan indahnya malam yang penuh bintang. Dokter Perdi menghentikan mobil di depan toko Matahari, lalu Kirana dan Dokter Perdi keluar dari mobil.


Kemudian mereka berdua berjalan masuk toko Matahari tersebut setelah menutup dan mengunci pintu mobil, Dokter Perdi tak pernah tinggal dengan rangkulan tangannya dipinggang sang istri. Kirana mengajak sang suami untuk ke pakaian laki-laki dulu soalnya pakaian laki-laki lebih mudah didapat ketimbang pakaian wanita, Dokter Perdi menyetujui saran sang istri.


Dokter Perdi mulai memilih-milih pakaian untuk dirinya setelah mendapat berapa helai pakaian yang disukanya, mereka pun memberikan dengan SPG disitu sebelum dibayar. Kini mereka berdua beralih ke arah pakaian wanita, Kirana pun mulai memilih-milih gamis serta piyama untuk tidur. Setelah mendapatkan semua keinginan mereka, mereka berdua berjalan ke arah kasir ingin membayar pakaian yang telah mereka berikan dengan SPG tadi.


Kirana berhenti sejenak di depan jejeran jilbab yang berbagai macam motif dan bentuk, Dokter Perdi pun ikut berhenti ketika tangannya yang tadi mengandeng tangan sang istri dilepas oleh sang istri kemudian didekatinya sang istri.


"Ada apa sayang, mau beli jilbab juga?" tanya Dokter Perdi


Kirana menggeleng


"Terus kenapa berhenti disini?" Dokter Perdi kembali bertanya lagi


"Sayang, boleh gak aku beliin sahabat-sahabatku jilbab?" tanya Kirana memegang tangan sang suami


"Emm, boleh gak ya" kata Dokter Perdi pura-pura berpikir


"Ya udah kalo gak boleh, ayo kita ke kasir bayar belanjaan kita tadi" kata Kirana ngambek dengan sang suami kemudian melangkahkan kaki

__ADS_1


"Ehh belum juga dijawab, boleh sayang. Apa sih yang gak boleh untuk kamu" kata Dokter Perdi menarik tangan Kirana yang hendak melangkahkan kaki


"Benaran sayang, makasih ya" kata Kirana kemudian segera memilih-milih jilbab untuk sahabat-sahabatnya sekalian untuk dirinya yang ingin samaan dengan sahabat-sahabatnya


Setelah mendapatkan semua yang mereka perlukan, Kirana dan Dokter Perdi segera mendekati kasir kemudian membayar semua belanjaan mereka tadi.


Setelah selesai semua Kirana dan Dokter Perdi kini sudah berada didalam mobil, melihat malam sudah semakin larut mereka berdua ingin segera kembali ke hotel tempat mereka menginap. Kirana sangat senang bisa membelikan sahabat-sahabatnya jilbab couple bersamanya meski jilbab itu tak seberapa tapi tetap saja jilbab-jilbab itu jadi kenangannya untuk sahabat-sahabatnya, dan mungkin saja suatu saat mereka bisa memakai jilbab yang sama itu dikemudian hari.


Dokter Perdi telah melajukan mobilnya kearah hotel tempat penginapan mereka.


"Sayang, besok jadikan mampir ke restoran tempat aku kerja dulu?" tanya Kirana memastikan agar sang suami tidak lupa


"Iya, tapi sebelum kesana kita kerumah baru kita" kata Dokter Perdi mata yang masih fokus dengan jalan


Hingga sampai di hotel tempat penginapan mereka tapi Kirana masih bungkam seribu kata, Dokter Perdi benar-benar bingung dengan sikap sang istri yang tiba-tiba mendiamkannya. Kirana berjalan mendahului sang suami, mereka masuk lift untuk naik ke kamar mereka yang berada di lantai atas. Ketika pintu lift terbuka, Kirana kembali mendahului sang suami. Dokter Perdi hanya geleng-geleng tak mengerti kemudian Dokter Perdi membuka pintu kamar lalu masuk dan Kirana pun ikut masuk.


Kirana segera melepas niqab dan jilbabnya kemudian masuk kamar mandi, dalam kamar mandi seperti biasa Kirana mengerjakan rutinitasnya sebelum tidur mencuci wajah dan menggosok gigi.


Ketika Kirana keluar dirinya terkejut melihat sang suami berdiri tepat di depannya yang jarak mereka hanya 5 cm, Dokter Perdi menatap sang istri dengan senyum yang sangat menakutkan bagi Kirana karena dirinya tak pernah melihat senyum itu.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Dokter Perdi menarik Kirana kedalam pelukannya


"Gak apa-apa. Ohh ya, memang ada perlu apa lagi kerumah baru kita?" kata Kirana mencium pipi sang suami karena tak ingin membuat sang suami berpikir macam-macam atau marah dengan dirinya

__ADS_1


"Mau bayar sisa gaji kuli bangunan, bulan ini terakhir mereka bekerja karena bulan depan pekerjaan mereka harus sudah selesai" jelas Dokter Perdi sembari masih mendekap tubuh sang istri hingga ke atas ranjang


"Ohh gitu, Okelah nanti kita kesana" kata Kirana mendaratkan ciuman di bibir **** sang suami


Ahh... Kembali lagi adegan ranjang itu terjadi. 


Tempat lain setelah makan Agam duduk di teras depan sembari menghisap rokok yang entah sudah berapa batang putung rokok dihabiskan, dirinya merasa hampa seperti tak semangat hidup. Agam semenjak mendapatkan kenyataan bahwa wanita yang dicintainya telah menikah, sering melamun sembari mengingat kembali kenang-kenangan bersama Kirana dulu.


Danu yang melihat perubahan temannya merasa kasihan, dirinya tau bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh orang yang dicintai karena dirinya pernah diposisi Agam. Danu mendekati temannya itu kemudian duduk di samping Agam, Agam masih fokus merokok tak sadar jika sudah ada Danu disampingnya.


"Sudahlah, wanita didunia ini banyak bro" kata Danu menepuk pundak Agam


"Aku tau itu, tapi mencari yang seperti Kirana dizaman sekarang sangat sulit" jawab Agam sembari membuang putung rokok yang sudah tinggal sedikit


"Iya benar yang kamu katakan, tapi kamu tak mungkin seperti ini terus menerus dengan hidupmu. Waktu itu terus berjalan" kata Danu menasehati Agam


Agam hanya diam mendengarkan perkataan Danu barusan tapi dirinya benar-benar belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini perlu waktu tapi tak tau sampai kapan, dirinya yang sudah satu tahun tak bertemu dengan Kirana saja tetap masih menyimpan rasa cintanya itu, masih seperti dulu tak ada sedikitpun yang berkurang.


Danu mengajak Agam untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut, besok mereka harus kembali bekerja apalagi dalam bulan ini pekerjaan mereka harus dikejar agar selesai. Agam pun beranjak dari teras depan, lalu melangkahkan kaki masuk kedalam rumah tempat tinggal para kuli bangunan.


Agam berbaring di dekat para kuli bangunan yang sudah tertidur dari tadi, Agam menghadap langit-langit plafon rumah sembari memikirkan kehidupannya yang sudah tak ada gunanya bagi dirinya. Agam bertekad dalam hati tak ingin menikah dengan siapapun, hidupnya sekarang ingin diabadikannya untuk Ibunya dan Adik perempuannya karena hanya mereka keluarga yang harus dirinya tanggung sekarang setelah Ayahnya memutuskan meninggalkan mereka dan menikah lagi dengan wanita lain.


Agam malam ini tak bisa memejamkan matanya, bayangan mata suaminya Kirana terlintas dipikirannya yang dirinya tahu kalo suaminya Kirana memang sangat mencintai Kirana. Bahkan Agam sangat yakin suaminya Kirana bisa membuat Kirana bahagia karena takkan kekurangan harta jika dulu Kirana menikah dengannya mungkin mereka hanya bisa tinggal dikontrakkan dan kehidupan Kirana tak akan seperti sekarang.

__ADS_1


Agam juga merasa bersyukur Kirana bisa menemukan laki-laki yang lebih dari dirinya yang memiliki segalanya Cinta, Harta serta Tahta. Agam masih memikirkan Kirana hingga tak sadar kalo dirinya belum memejamkan mata sedikitpun dari tapi sampai ayam pun berkokok yang ternyata hari sudah mulai pagi, Agam melihat jam dihpnya menunjukan pukul 3 pagi. Dirinya pun mulai berusaha memejamkan mata, dirinya harus tidur meski hanya sebentar karena besok harus bekerja dirinya tak mau ketika bekerja merasakan kantuk.


__ADS_2