Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab152


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 3 pagi, Mita segera bergegas untuk melancarkan niatnya yang telah dirancangnya dari semalam. Mita mengambil tas ransel yang berisi beberapa pakaiannya dan segera digendongnya, kemudian dirinya juga mengambil jarit panjang untuk mengendong bayinya yang sudah dipakaikannya pakaian tebal.


Mita tau sebenarnya tidak boleh membawa bayinya keluar rumah, apalagi bayinya baru berusia dua hari namun ini sudah keputusannya mau tak mau dirinya harus tetap membawa bayinya. Mita segera keluar rumah setelah mengunci semua jendela beserta pintu, Mita memilih berjalan kaki agar tak dicurigai orang-orang serta tak ada yang melihatnya jika keluar rumah.


Karena berjalan kaki jadi perjalanannya ke tempat tujuannya tentu semakin jauh, tapi Mita tak menyerah asal rencananya berhasil. Satu setengah jam akhirnya Mita tiba di depan sebuah rumah berwarna abu-abu yang megah, Mita meletakkan bayinya di teras depan pintu utama rumah tersebut sembari matanya memperhatikan kesekitar karena takut ada yang memergokinya.


"Maafin Mama sayang, Mama terpaksa meletakkanmu disini. Mama harap kamu hidup bahagia dan hidup berkecukupan jika bersama orang yang mempunyai segalanya, tidak seperti Mama yang bahkan untuk makan besok tidak tau. Selamat tinggal sayang" kata Mita mencium bayinya kemudian Mita buru-buru pergi dari situ.


Mita terus berlari hingga dirinya sudah semakin jauh dari tempat dirinya meletakkan bayinya tadi, Mita mengambil hpnya yang ada di dalam saku celananya dan memesan ojek online untuk ke bandara Soekarno-Hatta.


"Atas nama Mita ya" kata Abang ojek itu


"Iya" jawab Mita memasang helm yang diberikan si Tukang ojek itu


Beruntung waktu sudah menunjukan pukul 5 pagi jadi sudah banyak yang beraktifitas meski masih pagi, bahkan para ojek online sudah pada mencari penumpang untuk di antar ke tempat tujuan. Tak membutuhkan waktu lama Mita sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta yang juga mulai ramai, Mita segera membeli tiket untuk ke negeri orang karena itu jadi tujuan utamanya meninggalkan negara Indonesia.


Niat Mita ini sudah terjadi saat pertama kali sang ibu tinggal dengan adiknya, Mita langsung sibuk mengurus PASPOR dan VISA nya untuk keluar negeri. Setelah selesai semua kini Mita sudah berada di dalam pesawat karena pesawat yang akan membawanya ke negeri orang sebentar lagi terbang, Mita duduk di kursi samping jendela dirinya teringat dengan bayinya yang diletakkannya tadi dan dirinya berharap ini adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan bayinya.


.


.


Di tempat lain


Dokter Perdi yang ingin pergi ke masjid samar-samar mendengar ada bayi menangis dirinya kembali ke kamar mereka karena takut baby ERISA yang menangis tapi saat dilihatnya baby ERISA tidur begitu pulas, Dokter Perdi pun kembali menutup pintu kamar mereka dan melanjutkan langkahnya ingin keluar rumah ingin segera pergi ke masjid.

__ADS_1


"Astagfirullah" ucap Dokter Perdi terkejut melihat bayi yang masih merah ada di depan pintu mereka sedang menyedot jempol tangan


Dokter Perdi segera mengendong bayi itu masuk ke dalam rumah mereka, Dokter Perdi juga memeluk bayi itu dengan begitu erat karena sepertinya bayi itu kedinginan.


"Sayang bangun, ada bayi di depan rumah kita" kata Dokter Perdi membangunkan sang istri yang kemungkinan baru tidur setelah semalam banyak begadang karena menyusui baby ERISA


"Bayi, mana bayinya" kata Kirana bangun sembari mengucek kedua matanya dan duduk


"Ini bayinya, kasihan sepertinya dia kedinginan" kata Dokter Perdi sembari meletakkan bayi tersebut ke pangkuan sang istri


"Bayinya perempuan, bayi siapa ini? Kasihan sekali kamu nak" kata Kirana sembari menatap bayi yang sekarang di pangkuannya


"Sayang aku tinggal sebentar ya, mau sholat" kata Dokter Perdi


"Gak apa-apa bayi itukan perempuan juga, setelah ini kita bicara lagi. Aku sholat dulu" kata Dokter Perdi kemudian berlalu dari hadapan sang istri


Kirana segera menyusui bayi yang dari tadi diam karena menyedot jari jempolnya, begitu lahap bayi itu menyusu soalnya kemungkinan sudah lama tak mendapatkan susu. Setengah jam kemudian bayi itu selesai menyusu dan kembali tertidur dengan pulas, Kirana meletakkan bayi itu di samping bayinya yang juga masih tidur.


Kirana beranjak dari tempat tidur ingin melihat kardus yang berisi bayi tadi, kemungkinan ada petunjuk dari dalam kardus tersebut soalnya tidak mungkin tiba-tiba ada yang meletakkan bayi tersebut di depan rumah mereka jika tak ada alasan. Kirana membongkar isi dalam kardus ada sebuah dompet kecil entah apa isinya, Kirana pun membuka dompet kecil itu ternyata isinya sebuah kalung emas yang ada sebuah nama ELISA dan ada sebuah kertas yang sepertinya itu surat.


Kirana kembali duduk di atas tempat tidur sembari membawa surat itu, dirinya ingin melihat dan membaca apa isi tulisan dalam surat itu.


Assalamualaikum....


*Kirana, maaf sebelumnya aku sudah merepotkanmu dengan menitipkan bayiku denganmu. Aku mohon jaga dan besarkan dia seperti anak kandungmu sendiri, maaf aku tak bisa menjaga bayiku karena aku tak tau harus bagaimana menghidupinya ke depan sedangkan sekarang aku makan pun sangat kesusahan.

__ADS_1


Tak ada siapapun yang untuk aku titipkan mengurus bayiku selain kamu, apalagi disini aku hanya tinggal sendiri Ibuku dan Adikku tidak tau kalo aku sudah melahirkan.


Kemungkinan setelah kamu baca surat ini, aku sudah terbang ke negeri orang ingin menjadi TKW demi menyambung hidupku sekarang. Sekali lagi aku mohon jaga dan besarkan anakku dan maaf atas perbuataanku selama ini kepadamu, aku sudah mendapat karmanya yaitu diperkosa dan hamil tanpa seorang suami. Kaling itu untuk anakku namanya ELISA, aku sengaja memberinya itu agar suatu saat aku kembali aku bisa melihatnya tumbuh dewasa dan memakai kalung itu.


Terima kasih sebelumnya, semoga rumah tanggamu selalu bahagia ya.


Wassalam*________ MITA


Kirana langsung menangis menatap bayinya ternyata bayinya Mita, yang membuatnya semakin sedih bayi tersebut bayi hasil pemerkosaan. Kirana sampai tak habis pikir siapa laki-laki yang tega memperkosa Mita, dan Kirana juga bangga Mita justru mau melahirkan bayi itu meski dirinya tau bayi itu pasti tak diinginkan namun Mita tak ada niat mengugurkannya meski pada akhirnya anak ini dititip atau dibuang oleb Mita.


Tapi jika dibuang tak mungkin Mita meletakkan bayinya dirumah Kirana dan bahkan menulis surat untuk Kirana, kalo Mita berniat membuang bayinya tentu dimanapun dan tanpa menulis surat segala.


Dokter Perdi masuk ke dalam kamar terkejut melihat sang istri menangis, Dokter Perdi bergegas mendekati sang istri.


"Ada apa sayang?" tanya Dokter Perdi


Kirana hanya diam sembari menyodorkan surat yang telah dibacanya, Dokter Perdi segera mengambil dan membaca dirinya juga terkejut serta sedih mendapat kenyataan yang ternyata bayi tersebut dari hasil pemerkosaan dan bayi itu adalah bayi teman sang istri.


"Sayang, gak apa-apakan kita merawat dan menjaganya. Anggap saja dia pengganti baby ERIKA, apalagi keluarga kita belum kita kabari kalo aku sudah lahiran dan anak kita hanya bisa diselamat satu" kata Kirana dengan wajah seperri memohon


"Tapi sampai kapanpun dia bukan mahrom dengan aku, sayang" kata Dokter Perdi agar sang istri mau berpikir lagi


"Aku tau itu sayang, coba kamu lihat bayi itu. Kasihan sekali, jadi aku mohon" kata Kirana sembari mengengam tangan sang suami


Dokter Perdi menganggukkan kepalanya yang artinya sejutu, Kirana segera memeluk sang suami sembari terus mengucapkan terima kasih karena telah diizinkan merawat dan menjaga bayinya Mita.

__ADS_1


__ADS_2