Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 148


__ADS_3

Mita memandangi perutnya yang sedikit buncit di pantulan cermin yang ada di meja hiasnya, Mita masih tak menyangka hingga detik ini dirinya harus hamil di luar nikah dan bahkan tak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab. Berapa bulan ini dirinya sudah berusaha menghubungi nomor Agam yang didapatnya dari Danu namun ternyata nomor itu sudah tak aktif lagi, bahkan dirinya sudah mengirim berbagai chat di messenger akun facebook Agam namun hasilnya masih juga nihil.


Lagi-lagi Mita meneteskan air matanya, Mita yang dulu terkenal judes sombong kini hilang sudah hanya ada Mita yang menyedihkan dan lemah. Andai waktu bisa diputarnya Mita ingin sekali waktu malam itu langsung pulang serta tak berniat kembali ke kontrakan Agam pasti sekarang dirinya masih bisa bekerja bahkan bisa menikmati udara di luar, namun sekarang jangankan untuk pergi jauh berada di ambang pintu depan pun rasanya dirinya merasa malu dengan keadaan sekarang.


Mita kembali menurunkan bajunya menutupi perutnya lagi, mau tau mau dirinya akan terus mengandung anak ini karena ini darah dagingnya sendiri meski kehadiran anak ini sepenuhnya tak diinginkannya. Mita keluar dari kamar tidur mencari keberadaan Ibunya yang ternyata sedang memasak untuk sarapan mereka, beruntung sekarang kehamilan Mita sudah masuk trimester kedua jadi dirinya tak lagi merasakan mual maupun muntah.


"Ibu masak apa? Mau Mita bantu?" tanya Mita yang berdiri tak jauh dari temoat Ibunya


"Gak usah nak, kamu duduk saja di kursi makan. Sebentar lagi sarapannya jadi" ujar Ibunya Mita sembari mematikan kompor karena memang masakkannya sudah matang


Ibunya Mita yang berusia sudah setengah abad itu masih cekatan kalo soal masak, meski sebenarnya beliau mempunyai riwayat penyakit darah tinggi namun selagi tidak stres dan tidak banyak pikiran takkan membuat penyakitnya kumat. Ibunya Mita segera menata makanan itu di atas meja makanan beserta teko yang berisi air putih, dirinya membantu mengambilkan makanan untuk anak sulungnya itu.


"Terima kasih bu" kata Mita sembari melempar senyuman tulus


"Makan yang banyak sayang, biar dede bayi juga sehat" ujar Ibunya Mita sembari duduk di kursi yang ada di samping Mita


Mita menganggukkan kepalanya kemudian segera menyantap dan menikmati sarapan yang di buat oleh Ibunya tadi, nasi goreng dengan telor mata sapi makanan favorit Mita dan Mila sang adik yang sekarang ikut sang suami ke luar kota dan besar kemungkinan akan menetap di luar kota.


Selesai makan Mita kembali ke kamar tidurnya, tak ada kegiataan apa-apa yang dilakukannya selain rebahan sembari bermain hp. Terkadang dirinya bosan namun mau bagaiman lagi, dirinya harus terbiasa dengan kehidupannya sekarang hanya tinggal 5 bulan lagi semuanya akan kembali semula meski dirinya bukan seorang gadis lagi melainkan single mom.


Single mom yang artinya sama dengan Ibunya, namun bedanya dengan Ibunya menjadi single mom saat dirinya dan adiknya duduk dibangku SMP. Sedangkan dirinya menjadi single mom dari dirinya mengandung anaknya hingga anaknya lahir nanti, bahkan mungkin bisa seumur hidupnya sampai dirinya sudah tak bernyawa lagi.


.


.


Di tempat lain


Tak terasa mentari yang bersinar terang kini telah berganti rembulan yang gelap namun tetap indah dengan bintang-bintang berkelap kelip di langit gelap itu, Kirana masih sibuk dengan layar hpnya berkirim pesan melalui whatsapp kepada kedua sahabatnya yang kini sudah tak pernah ditemuinya siapa lagi kalo bukan Sevia dan Fitri.

__ADS_1


Mereka bertiga begitu siru di grup persahabatan yang di buat oleh Kirana, Sevia dan Fitri begitu senang mendapat kabar kalo sekarang Kirana tengah mengandung. Fitri yang baru menikah berapa bulan ini juga belum hamil jadi minta doa kepada sahabat-sahabatnya, tentu Kirana dan Sevia mengaminkan doa Fitri.


(Ehh aku ketinggalan ni) Lili


Lili langsung nimbrung ke grup saat tiba di kontrakan habis pulang kerja, sedangkan Novi memilih duluan ke kamar mandi.


(Memangnya kamu dan Novi mau kemana kok bisa ketinggalan?) Kirana


(Aduh gak nyambung ni) Lili


(Kalo gak mau ketinggalan berita baca aja chatnya dari awal) Fitri


(Wah bisa sampai besok kelarnya, kalian cerita udah dari siang tadi) Lili


(Ahh Lili masih gak berubah, jiwa keponya) Sevia


(Aku gak kangen) Fitri


(Aku bukan kangen dengan kamu tapi dengan Sevia) Lili


(Dengan aku gak kangen) Kirana


(Kangen juga) Lili


Chattingan di grup persahabatan mereka terus berlanjut, Novi yang sudah keluar menyuruh Lili segera membersihkan tubuh sejenak sebelum tidur. Mau tak mau Lili mengakhiri chatnya dan segera bergegas ke kamar mandi, Novi langsung merebah diri di atas kasur sembari mengambil hpnya.


Novi melihat banyak chattingan yang masuk di whatsapp, dipikirnya apa ternyata sahabat-sahabatnya lagi sibuk chatting hingga dirinya juga ikut nimbrung.


Tak lama kemudian Lili sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian piyamanya dan segera ke arah kasurnya, Lili ikut berbaring di samping Novi sembari mengambil hpnya. Dilihatnya ternyata grup persahabatan mereka sudah penuh oleh chat baru, bahkan Novi juga ikut.

__ADS_1


(Ayo donk jelasin kalian lagi bahas apa?) Lili


(Itu Li, Kirana positif hamil) Novi


(Ya elah Lili dan Novi kayak jarak seperti kita aja pakai ngomong lewat chat segala) Fitri


(Hahaha iya aku lupa 🤪) Novi


(Selamat ya Kirana, akhirnya kita semua akan jadi tante donk. Semoga Fitri juga secepatnya ngisi juga) Lili


(Ngisi apa NASI) Fitri


(Bayilah Fitri, kok sensi gitu sih) Lili


(Terima kasih ya Li) Kirana


(Nanti kalo acara syukuran sekalian akikah nanti doain aku ya, semoga sudah di Jakarta biar bisa kumpul sama kalian) Sevia


(Aaamiiin) Kirana, Fitri, Novi dan Lili


Mereka kompak membalas kata itu semua, mereka memang berharak banget bisa kumpuk bareng lagi dan semoga saja impian itu segera terkabulkan. Kirana yang hamil muda tidak bisa bergadang jadi dirinya pamit dengan sahabat-sahabatnya ikut segera tidur, sang suami juga sudah dari tadi memperingatkannya agar segera tidur namun yang keluar dari mulut Kirana "sebentar lagi" itu terus menerus hingga sang suami yang gak mau berdebat memilih diam dan sibuk juga dengan hpnya.


Kirana segera berbaring dan menarik selimut, dirinya ingin tidur apalagi waktu memang sudah menunjukan pukul 10 malam yang seharusnya untuk Ibu hamil sudah waktunya tidur.


"Udah puas main hpnya?" tanya Dokter Perdi yang kini ikut berbaring dan meletakkan honya di atas meja yang ada di samping ranjang


"Udah, mau tidur. Tidur yuk" ujara Kirana kemudian membenamkan wjahnya di dada bidang sang suami sembari memejamkan kedua mata


Dokter Perdi tak menyahut, kemudian mencium pucuk kepala sang istri dan ikut memejamkan kedua matanya sembari melingkarkan satu tangan di pinggang sang istri.

__ADS_1


__ADS_2