Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 118


__ADS_3

Malam hari


Dokter Perdi masih diam dari semenjak kejadian tadi siang, dirinya marah dengan diri sendiri mengapa dirinya tak bisa melindungi sang istri dari penghinaan orang-orang disekitarnya.


Bahkan Ibunya juga baru memberi tahunya tadi bukan hanya sekali ini saja sang istri dihina, selain Tante Dira ada juga Tante Desi yang pernah menghina sang istri bahkan Tante Desi terang-terang menyebar perihal yang belum tentu pasti itu ke semua tetangganya disini dan ke keluarga besar sebelah Ibunya.


Ingin sekali dirinya menampar mulut semua orang yang telah menghina sang istri, namun sang istri yang memiliki hati yang begitu lembut jadi melarang dirinya. Padahal dirinya berharap sang istri menyetujui dirinya untuk menampar mulut mereka semua, jika dirinya tadi tak segera pulang mungkin lebih banyak lagi mulut Tantenya mengeluarkan kata-kata penghinaan untuk sang istri.


Dan sayangnya pas kejadian itu Ibunya tak berani untuk menegur Tantenya ataupun membela sang istri, dirinya tau mengapa Ibunya hanya diam saja karena tentu saja tak mungkin seorang Kakak kandung mau menampar mulut Adik kandung sendiri.


Padahal sebenarnya Dokter Perdi tidak tau yang terjadi sebenarnya yang Ibunya sudah menegur Tantenya itu, bahkan Ibunya sudah membentak Tantenya. Karena waktu kejadian Dokter Perdi tidak ada disitu, dirinya datang saat mendengar Tantenya mengatakan kata MANDUL.


Seketika itu juga Tantenya langsung bilang tidak bermaksud menghina sang istri, hingga dirinya paham bahwasan Tantenya sedang menghina sang istri.


"Sayang, aku perhatikan dari tadi kamu kok diam. Kamu marah dengan aku" kata Kirana yang ada disamping sang suami yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang


"Aku bukan marah denganmu, justru aku marah dengan diriku sendiri yang tak bisa melindungi dirimu" jawab Dokter Perdi melingkarkan tangannya di pinggang sang istri


"Kenapa? apa soal tadi siang?" tanya Kirana memandang wajah sang suami dengan begitu dalam


Dokter Perdi menganggukkan kepalanya, kemudian kepalanya di sandarankannya di pundak sang istri.


"Aku gak apa-apa sayang, aku sadar kok mengapa semua orang beranggapan kalo aku mandul. Karena hingga detik ini aku belum juga hamil" kata Kirana

__ADS_1


"Sssttt, udah cukup gak usah bahas itu lagi" kata Dokter Perdi kemudian mencium b*b*r sang istri dan dibalas oleh Kirana.


Hingga tak terasa terjadi percintaan lagi, di malam yang udaranya begitu sejuk. Mungkin selama di kota Bandung setiap malam mereka berdua bercinta, karena udara di kota kembang itu benar-benar mendukung dua insan yang saling mencintai itu.


.


.


Di tempat lain yaitu di kota Jakarta


Waktu yang sudah menunjukan pukul 9 malam, tapi para karyawan restoran tempat Kirana bekerja dulu belum pulang juga saat ini. Lili sudah memberi tahu kepada semua karyawan restoran bahwa mereka semua termasuk dirinya akan mendapatkan bonus lagi malam ini yang berupa uang, sebagai tanda ucapan terima kasih dari Bu bos mereka karena hari ini mereka semua melayani para pengunjung begitu ramah dan telaten sehingga membuat restoran semakin hari semakin ramai.


Bukan hanya kali ini Bu bos mereka memberi bonus, setiap kali restoran ramai bahkan sampai tempat duduk sudah terisi semua dan ada juga yang sampai tidak kebagian tempat duduk. Itulah mengapa rezeki Bu bos mereka selalu lancar karena ada keberkahan dari situ, apalagi Bu bos begitu ikhlas memberi bonus pada semua karyawan setiap restoran ramai.


Lili mulai sibuk membagikan bonus yang berupa uang ke semua karyawan restoran, mereka semua mengantri dengan begitu rapi agar setelah mendapatkan bonus itu mereka bisa langsung keluar dari restoran.


Saat tinggal berapa karyawan lagi untuk diberi bonus, tiba-tiba telepon restoran berbunyi Lili langsung menerima telepon tersebut.


"Hallo iya Bu" kata Lili


"....." jelas Bu bos


Lili mendengarkan semua apa yang telah di jelaskan Bu bosnya panjang lebar melalui telepon tersebut.

__ADS_1


"Baik bu" jawab Lili


"Ya sudah kalo begitu" ujar Bu bos sembari mematikan sambungan telepon secara sepihak


Lili kembali membagikan bonus tersebut kepada beberapa karyawan yang masih mengantri, Fitri dan Novi sangat senang mendapatkan bonus lagi malam ini. Setelah mereka berdua dapat bonus, mereka berdua pamit dengan Lili dan akan menunggu Lili di halaman restoran, Lili menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Lo kok aku dapat 300 ribu, bukannya yang lain dapat 500 ribu" protes Mita saat dirinya mengantri barisan yang paling terakhir


"Kalo mau protes jangan dengan aku, tapi dengan BU BOS" kata Lili dengan menekan kata Bu bos


"Ck.. Mengapa jadi tidak adil begini" kata Mita berdecak kesal sembari menarik tiga lembar uang berwarna merah itu dari tangan Lili dan berlalu sembari menghentakkan kakinya


Bu bos mereka melihat protes dan tingkah Mita barusan melalui cctv restoran, Bu bos merasa heran dengan anak satu itu bukannya intropeksi diri ini justru tidak terima dengan konsekuensi yang padahal diri sendiri membuat kesalahan.


"Mengapa jadi tidak adil begini" kata Lili mengulangi perkataan Mita namun pelan dan gaya mulut komat kamit serta wajah yang begitu mengejek


"Dasar nenek lampir perawan tua" umpat Lili saat Mita sudah keluar dari restoran


Bu bos yang melihat tingkah Lili dari cctv pun geleng-geleng sembari tertawa terbahak-bahak, Bu bos tau kalo Lili sedang memperagakan perkataan Mita tadi dan yang membuat Bu bos semakin tertawa mendengar julukan Mita dari Lili itu.


Selesai semua Lili memasukan lagi uang yang bersisa dua lembar berwarna merah itu kedalam laci kasir, uang itu tadi seharusnya untuk Mita. Namun setelah mendapat penjelasan dari Bu bos, Lili paham maksud Bu bosnya agar Mita bisa menyadari kesalahannya yang diperbuatnya tadi siang dan takkan mengulangi lagi.


Dan masa iya bonus Mita sama dengan semua karyawan, sangat tidak adil kalo sama apalagi Mita tadi siang benar-benar sudah membuat kesalahan fatal. Semua karyawan sibuk kesana kemari, Mita justru enak-enakkan tidur padahal di saat Mita tidur para pengunjung semakin ramai sehingga membuat semua karyawan keteteran.

__ADS_1


Apalagi karyawan bagian pelayanan depan, jika salah satu tidak ada akan hancur pelayanan tersebut karena semuanya sudah punya tugas masing-masing. Jadi tidak boleh ada yang melupakan tanggung jawab masing-masing, kecuali dalam keadaan darurat bisa dimaklumi.


__ADS_2