Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 91


__ADS_3

Berapa bulan kemudian


Akhir-akhir ini nafsu makan Kirana agak berkurang terkadang ketika malam hari dirinya engan untuk memasukan makanan sedikitpun padahal Dokter Perdi sering memperingati dirinya jangan sampai telat makan ataupun jangan sampai tidur dalam keadaan perut kosong, namun Kirana tetap tak mendengar peringatan sang suami.


Kirana pun rela berbohong dengan sang suami demi menutupi jika dirinya engan untuk makan, setiap kali Dokter Perdi bertanya sudah makan belum Kirana selalu menjawab sudah makan alasan waktu sang suami sholat isya' berjamaah di mushollah padahal Kirana sama sekali belum makan.


Dokter Perdi percaya saja karena dirinya sudah makan habis sholat magrib jadi tak pernah memeriksa dapur lagi, paling kearah dapur hanya mengambil air wudhu di kamar mandi ketika ingin sholat isya dan menggosok gigi sebelum tidur.


Selesai berdoa dan membaca al-quran tiba-tiba Kirana merasa mual, dirinya pun segera melepas mukenah yang masih dipakainya dan meletakkan di sembarang tempat. Kirana berlari ke kamar mandi satu tangan memegangi perutnya dan satu tangan lagi memegang mulutnya.


"Uek..Uek..Uek.." suara Kirana seperti sedang mau muntah namun tak ada yang dikeluarkannya


Dokter Perdi yang baru pulang dari sholat subuh ketika membuka pintu mendengar Kirana muntah-muntah di kamar mandi segera menutup kembali pintu klinik kemudian bergegas mendekati sang istri.


"Uek..Uek..Uek.." Kirana terus berusaha memuntahkan isi perutnya namun masih tidak ada yang keluar


"Sayang, kamu gak apa-apa" kata Dokter Perdi sembari mengelus punggung sang istri


Kirana menggelengkan kepala memberi tanda bahwa dirinya tidak baik-baik saja, kepalanya juga sangat pusing bahkan tubuhnya terasa lemas.

__ADS_1


"Sayang apa mungkin kamu hamil, bukannya sudah sebulan lebih kamu belum datang bulan. Gimana kalo kamu tespeck dulu, tunggu disini nanti aku ambil tespeck" kata Dokter Perdi sembari meninggalkan sang istri yang sudah mulai stabil


Tak berapa lama kemudian, Dokter Perdi membawa lima macam tespeck yang beragam merek. Diberikannya dengan Kirana yang masih berada di dalam kamar mandi, Kirana menerima semua tespeck itu dan mulai menampung urinenya ke dalam sebuah wadah yang ada di dalam salah satu tespeck itu.


Kelima macam tespeck itu dimasukan Kirana semua kedalam wadah yang berisi urinenya, selama menunggu Kirana terus berdoa dalam hati semoga MAHA KUASA mengabulkan keinginannya yang sangat berharap segera diberi momongan. Sudah 5 detik lebih tespeck itu mengetes urinenya kemudian dilihatnya satu persatu tespeck itu, raut wajah yang tadi penuh harapan kini seketika berubah jadi kecewa.


Kirana keluar dari kamar mandi sembari memegang kelima tespeck itu dengan raut wajah yang begitu kecewa, Dokter Perdi melihat sang istri tak menunjukan ekspresi wajah bahagia melainkan raut wajah yang kecewa belum bertanya apapun hingga Kirana pun memberikan kelima tespeck itu dan diterima oleh Dokter Perdi.


"Jangan sedih sayang, mungkin belum terdeteksi aja tespeck ini. Tunggu bulan depan jika memang belum datang bulan nanti kita ke Dokter Kandung" kata Dokter Perdi setelah melihat hasil tespeck itu sembari memeluk sang istri


Kirana mengangguk menyetujui saran sang suami, Dokter Perdi menuntun Kirana ke kamar mereka kemudian meminta Kirana istirahat saja di dalam kamar karena kondisi Kirana saat ini benar-benar drop. Kirana menurut saja apa yang diminta sang suami karena dirinya memang kurang sehat saat ini, Kirana segera berbaring di tempat tidur.


"Istirahatlah, seluruh pekerjaan rumah biar aku yang ngerjain" kata Dokter Perdi sembari menyelimuti sang istri kemudian mencium kening sang istri


Sedangkan Kirana yang berada di dalam kamar mulai memejamkan mata namun pikirannya terus berkelana berpikir apakah ini tanda kehamilan apalagi dirinya memang belum datang bulan saat ini mana sudah lewat dua minggu, Kirana juga terpikir atau mungkin penyakit tipesnya kambuh.


Akhh... mata yang tadi sudah terpejam akhirnya dibukanya kembali karena tak bisa untuk tidur saat ini, pikirannya benar-benar kacau ditambah kepalanya yang sangat pusing.


"Sayang makan dulu yuk" kata Dokter Perdi masuk kamar sembari membawa semangkuk bubur ayam yang dibikinnya tadi

__ADS_1


Dokter Perdi meletakan semangkuk bubur ayam itu di meja samping tempat tidur mereka kemudian membantu Kirana untuk duduk sembari bersandar, Dokter Perdi duduk di tepi ranjang lalu kembali mengambil semangkuk bubur ayam itu dan mulai menyuapi Kirana.


"Dihabiskan ya sayang, biar cepat sembuh" ujar Dokter Perdi


Selama menerima suapan demi suapan dari sang suami, Kirana hanya diam tak banyak bicara karena masih sangat lemas.


"Sayang kok diam, kenapa?" tanya Dokter Perdi setelah bubur ayam itu habis


"Sayang, sepertinya aku bukan hamil tapi penyakit tipesku kambuh" kata Kirana setelah minum air


"Kok bisa, bukannya kamu tidak pernah telat kalo soal makan" kata Dokter Perdi meletakan mangkuk yang sudah kosong itu di atas meja


"Akhir-akhir ini sebenarnya aku kurang nafsu makan, jadi setiap malam gak pernah makan. Maaf ya aku udah bohong" jelas Kirana sedikit takut kena marah sang suami karena sudah berbohong selama ini


"Ya sudah gak apa-apa, tapi jangan diulangi lagi ya. Mungkin kamu bosan dengan menu makanan dirumah, besok kita jalan ya biar kamu mencoba suasana baru tapi kamu hari ini harus sehat" kata Dokter Perdi membelai rambut sang istri dengan lembut


Kirana tersenyum tak menyangkah ternyata sang suami sedikitpun tidak marah dengan dirinya, Dokter Perdi keluar dari kamar meninggalkan Kirana agar sang istri bisa istirahat total hari ini biar segera sembuh. Dokter Perdi besok ingin mengajak sang istri jalan-jalan agar sang istri tak bosan apalagi ini sudah hampir dua bulan mereka tidak jalan-jalan terakhir kali waktu awal-awal mereka menikah, Dokter Perdi kini membuka kliniknya dahulu karena takut ada yang ingin berobat.


Setelah itu Dokter Perdi mulai membersihkan seluruh ruang klinik dari depan sampai dapur, tak lupa juga mencuci semua pakaian kotor yang tinggal masuk ke dalam mesin cuci dan mencuci juga piring kotor yang tertumpuk di wastafel. Selesai semua pekerjaannya, Dokter Perdi ingin sarapan terlebih dahulu karena waktu juga sudah menunjukan pukul 8 lewat sedangkan perutnya belum diisinya sama sekali dari tadi.

__ADS_1


Selesai sarapan dan pekerjaan juga selesai, Dokter Perdi kini sudah berada didalam kamar mandi ingin membersihkan dirinya yang sudah bau keringat bahkan keringat di jidatnya pun masih menetes. Disinilah mengapa Kirana merasa sangat beruntung mendapat seorang suami seperti Dokter Perdi, bukan hanya pangkatnya yang Dokter dan hartanya yang banyak tapi Dokter Perdi selain tampan dirinya sangat pengertian dengan Kirana dan benar-benar menyayangi serta mencintai Kirana.


Kayak kata orang-orang udah tampan, keren, seorang Dokter, soleh, kaya pokoknya plus-plus deh. Suami idaman banget, semoga di dunia asli ada satu yang seperti ini. Kirana tersenyum melihat semua pekerjaan sudah di selesaikan sang suami, Kirana yang sebenarnya tidak tidur sempat melihat apa saja yang dikerjakan sang suami meski Kirana tau sebelum dirinya menjadi istri disini kalo Dokter Perdi memang sudah terbiasa dengan semua pekerjaan ini.


__ADS_2