Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 102


__ADS_3

Dokter Perdi yang baru pulang dari masjid habis sholat subuh, setelah masuk rumah kini ingin kembali ke kamar utama yang mereka tempati untuk tidur, dibukanya handle pintu. Saat melihat kearah ranjang tempat tidur ternyata sang istri masih terlelap, didekatinya sang istri kemudian mencium kening sang istri.


Kirana yang merasakan ciuman dikeningnya segera membuka kedua matanya, dirinya menyunggingkan senyuman kepada sang suami kemudian duduk sembari mencium punggung tangan sang suami.


"Maaf sudah ganggu tidurmu" kata Dokter Perdi sembari duduk ditepi ranjang


"Gak kok sayang, justru aku harus bangun pagi. Ingin memasak di dapur baru serta menikmati memakai perabotan dapur yang serba hijau itu" kata Kirana beranjak lalu pergi meninggalkan sang suami


Dokter Perdi hanya geleng-geleng melihat tingkah sang istri sembari tersenyum, dirinya berbaring diatas ranjang kemudian mengambil hp dan mulai berselancar disosial media.


Sedangkan Kirana keluar dari kamar menuju dapur dirumah baru mereka yang ukurannya lebih luas serta nuansa yang begitu sejuk hijau putih dan menghadap ke taman belakang, dirinya pun mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas untuk dimasak pagi ini.


Untung kemarin istri mandor kuli bangunan sudah membelikan semua bahan serta keperluan Kirana dan Dokter Perdi jadi mereka berdua tak akan kerepotan, untuk menyiapkan kerpeluan karena semua sudah tersedia dirumah baru mereka.


Untuk sarapan pagi ini Kirana ingin membuat gorengan bakwan, sembari menunggu bakwan yang di dalam kuali mateng. Kirana mempersiapkan bahan-bahan yang akan di masak selanjutkannya, kali ini dirinya ingin memasak ayam krispy serta sayur capcay dan sambal balado.


Aroma masakan Kirana sampai ke kamar mereka, Dokter Perdi yang sedang berbaring sembari bermain hp mencium aroma masakan yang membuat perutnya meronta minta diisi. Dokter Perdi beranjak lalu meletakan hpnya diatas meja, dirinya segera keluar dari kamar dan menghampiri sang istri yang sedang berkutik didapur.


"Sayang aku jadi laper ni" kata Dokter Perdi memeluk sang istri dari belakang


"Iya bentar lagi kita makan, duduklah dulu dikursi makan" ujar Kirana pada sang suami


"Kita sarapan dibangku taman belakang saja ya, aku tunggu disana" kata Dokter Perdi berlalu meninggalkan sang istri kemudian berjalan ke arah taman belakang


Kirana masih menunggu gorengan ayam krispy yang sebentar lagi mateng, dirinya membuatkan kopi untuk sang suami dan untuk dirinya. Setelah seluruh masakannya semuanya sudah mateng, lalu diletakannya semua makanan itu diatas meja makan dan ditutupnya dengan tudung saji.


Kini dirinya menghampiri sang suami yang sedang duduk sembari membawa nampan yang berisi gorengan bakwan dan kopi hitam untuk sang suami, kopi cappucino untuk dirinya. Kirana meletakan nampan itu di atas meja yang ada didekat bangku yang diduduki sang suami, kemudian dirinya ikut duduk disamping sang suami. Mereka berdua pun mulai menyantap dan menikmati gorengan bakwan yang masih hangat.


.


.


.

__ADS_1


Ting tong... Ting tong....


Bunyi bel dirumah mereka, Kirana yang kebetulan meletakan gelas kotor diwastafel mendengar bunyi bel segera berjalan kearah pintu depan. Dilihatnya dari balik jendela ternyata istri mandor kuli bangunan yang datang, lalu dibukanya handle pintu dan mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk.


Wanita paruh baya itu segera menuju dapur, kemudian mengambil sapu dan mulai membersihkan setiap ruangan kecuali kamar utama yang ditempati Kirana dan Dokter Perdi tak diizinkan oleh Kirana karena Kirana ingin membersihkan sendiri kamar yang mereka tempati itu. Kirana kembali duduk disamping sang suami yang sedang membaca koran, sedangkan Kirana memilih untuk bermain hp sembari berselancar di sosial media.


Pagi kini telah menjelang siang, waktu telah menunjukan pukul 10 lewat. Karena tak ada kegiatan apapun Kirana dan Dokter Perdi memilih duduk diruang keluarga sembari menonton film ditv yang semalam mereka tonton tidak sampai selesai.


"Assalamualaikum bu" kata seorang wanita menghampiri istri mandor yang sedang membersihkan halaman depan rumah Kirana dan Dokter Perdi


"Walaikumsalam, iya ada apa neng?" tanya Istri mandor kuli bangunan itu


"Saya temannya Kirana bu, apa sekarang dia ada dirumah" ujar seorang wanita itu


"Ohh bu Kirana ya, ada-ada ayo silahkan duduk dulu disini. Nanti saya panggilkan bu Kirana nya" kata Istri mandor itu sembari mempersilahkan wanita itu duduk dikursi yang tersedia diteras depan


Istri mandor itu segera masuk kerumah menghampiri Kirana dan Dokter Perdi yang ada diruang keluarga, sedangkan seorang wanita yang mengaku temannya Kirana itu duduk sembari menyunggingkan senyuman liciknya.


"Bu didepan ada tamu seorang wanita, katanya teman ibu" kata Istri mandor itu saat sudah berada di dekat Kirana den Dokter Perdi


"Teman saya, ohh ya sudah Bu de. Suruh dia masuk saja nanti saya kesana" ujar Kirana


Istri mandor kuli bangunan itu segera kembali kedepan menghampiri seorang wanita yang sedang duduk dikursi teras depan, Istri mandor kuli bangunan itu pun mempersilahkan seorang wanita itu untuk masuk rumah dan duduk dikursi yang ada diruang tamu kemudian kembali ke belakang ingin membuatkan minuman untuk tamu majikannya.


Kirana meninggalkan sang suami yang masih menonton tv, dirinya ingin menemui tamu yang sudah duduk diruang tamu. Kirana berharap yang datang adalah sahabatnya karena tak ada yang tau alamat rumahnya kecuali sahabat-sahabatnya, namun ketika tiba diruang tamu dirinya terkejut ternyata bukan sahabatnya yang datang melainkan musuh bebuyutannya.


Dirinya berpikir mengapa bisa wanita yang ada dihadapannya ini tau alamat rumahnya, apa mungkin sahabat-sahabatnya yang sudah memberi tau wanita itu namun tidak mungkin sahabat-sahabatnya memberi tau wanita ini sedangkan sahabat-sahabatnya bermusuhan juga dengan wanita ini tentu tidak mungkin sahabat-sahabatnya berkhianat.


"Ada perlu apa kamu kerumah kami" kata Kirana dengan nada suara agak meninggi


"Wah seperti itu ya cara kamu menyambut tamu" kata seorang wanita itu sembari berdiri menatap Kirana dengan senyum liciknya


"Sebelum aku marah lebih kamu keluar dari rumah ini" ujar Kirana dengan nada suara yang makin meninggi

__ADS_1


Dokter Perdi yang mendengar suara istrinya yang seperti sedang marah segera beranjak, kemudian berjalan ke arah ruang tamu. Dokter Perdi memegang pundak sang istri, Kirana yang tau ada sang suami tak bisa untuk marah saat ini karena dirinya tak mau sang suami ikut campur masalahnya dengan wanita yang ada dihadapannya ini apalagi dirinya bisa mengatasi sendiri.


"Kenapa teman kamu gak disuruh duduk" kata Dokter Perdi sembari melingkarkan tangannya dipinggang sang istri


"Belum disuruh duduk sayang bukan gak disuruh" jawab Kirana menatap tajam kearah wanita itu


"Ayo silahkan duduk, kami senang bisa kedatangan tamu" ujar Dokter Perdi


Kemudian wanita itu duduk serta diikuti Kirana dan Dokter Perdi juga duduk, Dokter Perdi memulai obrolan diantara sang istri dan wanita tersebut yang sepertinya mereka berdua sangat canggung. Wanita itu menanggapi setiap omongan yang keluar dari mulut Dokter Perdi, sedangkan Kirana tetap diam sembari menatap wanita itu dengan tatapan tajam serta benci.


"Ini minumannya Pak Bu, ohh iya saya mau pamit pulang. Semua pekerjaan udah selesai" kata Istri mandor kuli bangunan itu


"Ohh iya Bu de, terima kasih" kata Kirana sembari menyelipkan selembar uang berwarna merah disaku daster wanita paruh baya itu


Wanita paruh baya itu pun mengangguk, lalu dirinya segera keluar dari rumah majikannya itu. Kirana memberi upah kepada wanita paruh baya itu perhari 100 ribu, dirinya sengaja memberi upah perhari agar kebutuhan sehari-hari wanita paruh baya itu dengan keluarganya bisa terpenuhi.


.


.


Drrt...drrt...drrt...


Bunyi hp Dokter Perdi yang di dalam saku celana jeansnya, Dokter Perdi segera mengambil hp itu kemudian dilihatnya nama yang tertampil dilayar hp. Dokter Perdi izin dengan sang istri ingin menerima telepon dahulu, Kirana mengangguk mengizinkan sang suami. Dokter Perdi pun berlalu dari hadapan sang istri dan teman sang istri itu, Kirana menoleh ke arah sang suami ingin memastikan sang suami agak jauh dari dirinya dan wanita yang ada dihadapannya ini.


"Ehh Mita, selama ini aku memang diam jika kamu menindasku tapi tidak untuk sekarang. Aku takkan pernah diam jika kamu ingin mengusik kehidupanku atau menghancur rumah tanggaku" kata Kirana berdiri di depan Mita sembari memegang dagu Mita.


"Kenapa? kamu takut kalo aku akan merebut suamimu. Hahaha, ini baru permulaan Kirana" kata Mita sembari melepaskan tangan Kirana dari dagunya


"Langkahi dulu mayatku jika kamu mau merebut suamiku" kata Kirana menunjuk wajah Mita dengan jari telunjuk


"Lihat saja nanti" kata Mita sembari tersenyum licik kemudian keluar dari rumah Kirana dan Dokter Perdi


Kirana terduduk setelah kepergian Mita, dirinya harus berhati-hati dengan wanita ular seperti Mita itu entah mengapa dirinya sedikit takut rumah tangganya diganggu oleh wanita ular itu. Meski Kirana yakin sang suaminya takkan tergoda dengan wanita manapun tapi tetap saja ada rasa khawatir meliputi hatinya, karena segala cara pasti akan dilakukan oleh wanita luar seperti Mita itu entah caranya halal ataupun haram tak ada yang tau.

__ADS_1


__ADS_2