Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 146


__ADS_3

Keesokan paginya Mita masih seperti biasa bolak balik memuntahkan semua isi perutnya sampai dirinya tidak sanggup lagi untuk sekedar berdiri, Mita pun pingsan di depan kamar mandi saat hendak keluar karena sudah sangat lemas. Ibunya Mita yang melihat langsung teriak histeris melihat keadaan anaknya seperti ini, Ibunya Mita berteriak minta bantuan pada para tetangga hingga para tetangga berbondong-bondong ke rumah Ibunya Mita dan membantu memopong tubuh Mita ke kamarnya.


Ibunya Mita mengambil minyak angin untuk dioleskan ke rongga hidung Mita, agar Mita segera sadar dan benar saja Mita mulai membuka kedua kelopak matanya perlahan. Dilihatnya sekeliling banyak para tetangganya yang berdiri didekatnya, Mita segera duduk dan bersandaran di sandaran ranjang.


"Mita kenapa bu? Kok bisa ada para tetangga kita disini?" tanya Mita yang kebingungan


"Kamu tadi pingsan nak, mereka yang memvantu ibu memopong tubuh kamu ke kamar" jawab Ibunya Mita sembari memijitkan kaki Mita


"Terima kasih ya ibu-ibu" kata Mita sembari tersenyum meski hanya ukiran kecil


Para tetangga segera pamit kepada Mita dan Ibunya untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, namun seperti biasa sebelum bubar para tetangga yang ibu-ibu mulai bergosip dengan merasa aneh dengan perubahan Mita.


Karena para tetangga sangat kenal dengan Mita anaknya begitu judes bahkan tak pernah ramah dengan para tetangga, dan sekarang juga Mita sudah tak pernah kelihatan berangkat kerja.


"Kalian ngerasa gak Mita itu kayak lagi hamil muda" celetuk salah satu ibu-ibu itu


"Iya aku juga sempat mikir gitu, lihat saja perubahan tubuhnya sekarang kurus, pucat dan tadi pingsan" kata yang lain membenarkan omongan ibu-ibu yang satu itu


"Husst, gak boleh gitu. Mungkin dia hanya lagi kurang sehat" jawab ibu-ibu yang lain menengahi gosip yang belum tentu benar itu


"Kalian tau sendirikan Mita itu berbeda sekali dengan Mila, Mita itu dari dulu begitu liar makanya bisa jadi dia hamil dengan pacarnya" kata salah satu ibu itu lagi

__ADS_1


Setelah bergosip panjang lebar para tetangga ibu-ibu itu bubar setelah tiba di rumah masing-masing, sedangkan Ibunya Mita kembali memberi sarapan untuk Mita supaya Mita tidak pingsan lagi. Apalagi Mita lagi hamil harus perlu asupan nutrisi yang cukup meski tidak sanggup rasanya memiliki cucu di luar nikah, namun siapa lagi yang akan mendukung Mita jika bukan orang-orang terdekatnya.


Selesai sarapan Mita meminta kepada Ibunya di tinggal sendirian di dalam kamar, Ibunya menuruti permintaan Mita karena Ibunya tau Mita butuh istirahat dan ketenangan. Mita duduk melamun membayangkan hari-hari yang akan dijalaninya tentu perutnya juga akan semakin besar, pastinya lambat laun para tetangga tau tentang dirinya hamil di luar nikah.


Di tambah tak ada yang bertanggung jawab, entah harus nyari kemana nomor Agam bahkan dilihatnya di sosial media Agam juga sepeeti sudah lama tidak membuka akun sosial medianya itu. Lagi-lagi Mita menangis meratapi nasibnya sekarang, rasanya dirinya tak sanggup untuk hidup lagi namun siapa yang akan merawat Ibunya jika dirinya pergi dari dunia ini.


Adiknya pun dari dulu hanya bisa mengandalkan dirinya dan sekarang setelah menikah hanya tergantung dengan suaminya, jadi tak mungkin mau mengurus Ibunya yang sekarang sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan.


.


.


Di rumah yang mewah namun kelihatan sepi itu semakin hari semakin bahagia, benih-benih cinta setiap hari di tabur agar menjadi buah hati yang mereka inginkan selama satu tahun pernikahan mereka yang tak kunjung hadir di dalam rahim Kirana. Kirana masih malas untuk beranjak dari tempat tidurnya setelah selesai bercinta waktu habis sholat subuh tadi, bahkan dirinya masih di dalam selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya sampai ke atas lehernya hanya kepalanya yang terlihat.


Dokter Perdi yang baru selesai mandi hanya bisa tersenyum melihat sang istri seperti anak kecil yang lagi malas bergerak, Dokter Perdi segera memakai baju kaos oblong dan celana jeans bergambar loreng yang panjang hanya sampai lutut. Dokter Perdi duduk di tepi ranjang sembari mengecup pucuk kepala sang istri, agar sang istri bangun namun seperti sang istri tak terbangun juga.


"Sayang udah mau jam 8 loh, kamu harus sarapan biar kita bisa secepatnya dapat dedek bayi" kata Dokter Perdi membelai rambut sang istri dengan pelan


"Hemm, masih ngantuk banget tau" kata Kirana sembari mengeliat di dalam selimut tebal itu


"Mandi yuk, aku udah lapar mau sarapan. Memang kamu gak lapar" kata Dokter Perdi masih membelai rambut sang istri

__ADS_1


"Belum lapar masih mau tidur" jawab Kirana namun perutnya tiba-tiba keroncongan


Membuat Dokter Perdi tertawa mendengar bunyi perut sang istri, karena sepertinya cacing dalam perut Kirana meronta minta di kasih makan. Mau tau mau Kirana beranjak dari tidurnya saat merasa lapar, belum sepenuhnya sadar Kirana berjalan menuju kamar mandi.


"Awas di depan ada pintu, entar kejedok" ujar Dokter Perdi memperingati sang istri


Sontak Kirana langsung membuka kedua matanya dengan sempurna karena takut kejedok, Kirana segera bergegas masuk kamar mandi agar bisa secepatnya selesi dan tentu bisa segera sarapan.


Dokter Perdi keluar dari kamar tidur dan berjalan menuju dapur, dilihatnya di atas meja makan sudah tersedia sarapan pagi yang dimintanya tadi dengan wanita paruh baya yang bekerja di rumah mereka. Selama menunggu sang istri Dokter Perdi meminta buatkan kopi hitam dahulu kepada wanita paruh baya itu, tentu dengan senang hati wanita paruh baya itu membuatkan kopi hitam yang di minta majikannya itu.


Kirana datang menghampiri sang suami dengan rambut yang masih dililit dengan handuk kecil, wanita paruh baya yang melihat majikannya habis keramas hanya tersenyum bahagia jika melihat majikan itu bahagia. Sangat terlihat sekali semakin hari wajah Kirana semakin berseri seperti tak ada beban sama sekali, Kirana segera duduk di kursi samping sang suami.


"Bu de, Kirana bikini susu coklat ya" ujar Kirana sembari mengambil roti panggang yang ada di atas piring dan menyuapkan ke dalam mulutnya


"Baik Bu, tunggu sebentar ya" jawab Wanita paruh baya itu kemudian segera membuatkan susu coklat yang di minta Kirana


Tak berapa lama susu coklat yang Kirana minta sudah jadi, Wanita paruh baya itu segera meletakkan di atas meja dekat Kirana dengan hati-hati.


"Terima kasih Bu de" kata Kirana segera mengambil gelas yang berisi susu coklat itu dan langsung meminumnya dengan sedikit demi sedikit


Dokter Perdi dan Kirana kembali melanjutkan sarapannya yang begitu lezat dan pas di lidah, sarapan beserta makanan mereka kini lebih sering di masakan oleh wanita paruh baya itu semenjak Kirana habis operasi kemarin.

__ADS_1


__ADS_2