
Kirana dan Dokter Perdi pun tiba di tempat tujuan mereka yaitu kota Bandung, kota kelahiran Dokter Perdi beserta saudara-saudaranya yang lain. Dokter Perdi menghentikan mobilnya di depan rumah yang bagian atas masih mengunakan bahan kayu dan bagian bawa sudah mengunakan bahan batu bata, dirinya memarkirkan mobilnya tepat di pintu depan.
Rumah kedua orang tuanya Dokter Perdi tak mengunakan pagar soalnya rumah penduduk disini hanya berjarak 10 meter itupun karena jalan setapak untuk dilalui, mereka berdua pun segera turun dari mobil.
Kedua orang tuanya Dokter Perdi beserta yang lain menyambut kedatangan Kirana dan Dokter Perdi, tak lupa Kirana mencium punggung tangan kedua mertuanya itu beserta saudara perempuan dan ipar sang suami.
Kirana dan Dokter Perdi pun masuk ke dalam rumah, mereka berdua mulai berkumpul bersama kedua orang tuanya Dokter Perdi dan yang lain. Dokter Perdi mendekati kedua keponakannya yang laki-laki itu, diciumnya kedua keponakannya dan diberikannya mainan yang mereka beli di jalan tadi kepada kedua keponakannya itu.
Keponakannya Dokter Perdi sangat senang mendapat mainan dari Dokter Perdi, setiap pulang ke Bandung Dokter Perdi memang tak pernah lupa untuk membelikan mainan untuk kedua keponakannya itu. Kirana tersenyum dibalik niqabnya melihat perlakuan sang suami terhadap keponakan sang suami terlihat jelas bahwa sang suami sangat menyayangi kedua keponakannya itu, mungkin jika mereka mempunyai anak sang suami akan lebih terhadap anak mereka nanti.
Sayang itu belum terjadi hingga detik ini, semoga MAHA KUASA segera mengabulkan keinginan mereka yang ingin segera memiliki anak.
"Kapan acara 7 bulanannya?" tanya Dokter Perdi kepada adiknya yang bernama Jhon
"Insyaallah tiga hari lagi kalo gak ada halangan, sekalian menunggu Kak Dian pulang" jawab Jhon sembari merangkul pinggang istrinya
Dokter Perdi hanya membalas dengan anggukan kepala.
Sekarang waktunya makan siang jadi Kirana dan Dokter Perdi serta keluarga besar makan bersama-sama di ruang makan, kebetulan kursi makan hanya cuma sedikit jadi mereka semua memutuskan makan di lantai dengan mengunakan alas karpet.
Setelah semua makanan sudah terhidang di hadapan mereka, mereka semua mulai menyantap dan menikmati makanan tersebut. Selesai makan para menantu yang perempuan serta adik perempuannya Dokter Perdi membereskan sisa makanan mereka tadi, dan langsung mencuci piring agar tak bertumpukan.
__ADS_1
Setelah itu yang laki-laki pergi ke masjid untuk sholat dzuhur berjamaah, yang perempuan sholat dzuhur di rumah. Kirana sudah berada di dalam kamar yang akan ditempatinya bersama sang suami, Kirana segera menunaikan sholat dzuhur dengan begitu khusyuk.
.
.
Malam pun tiba
Setelah sholat isya keluarga Dokter Perdi beserta Kirana dan Dokter Perdi berkumpul di ruang keluarga, mereka semua menghabiskan waktu menonton tv namun tv itu hanya menyala mereka justru sibuk mengobrol.
Kirana yang masih belum terlalu dekat jadi tak banyak omong, dirinya masih terus berada di dekat sang suami soalnya dirinya sangat pemalu ditanya pun hanya jawab iya dan tidak.
Waktu terus berjalan di kota Bandung karena tempat tinggal kedua orang tuanya Dokter Perdi daerah pengunungan, membuat Kirana merasakan dinginnya malam ini serta rasa kantuknya mulai menyerang.
"Ayah Ibu, kita duluan tidur ya. Aku udah ngantuk" kata Dokter Perdi beralasan yang sebenarnya sang istri yang mengantuk
"Ohh iya, tidurlah. Ini juga udah makin malam, yang lain juga tidurlah" ujar Ibunya Dokter Perdi
"Iya kita ke atas duluan, mau tidur" kata Dokter Perdi beranjak dari duduknya sembari menarik tangan sang istri dengan begitu lembut.
"Iya kita juga mau tidur" kata Jhon adiknya Dokter Perdi
__ADS_1
Mereka semua beranjak dari kursi dan segera menuju kamar masing-masing yang telah disiapkan oleh Ibunya Dokter Perdi dan Adik perempuannya berapa hari yang lalu, Adiknya Dokter Perdi yang bernama Jhon juga baru semalam tiba di kota Bandung.
Artinya mereka semua baru datang di rumah kedua orang tua mereka, yang menetap di ruman kedua orang tua mereka hanya Adik perempuan mereka dan Kakak pertama mereka. Namun Kakak pertama mereka saat ini sedang bertugas diluar kota belum pulang mungkin akan pulang berapa hari lagi, yang hanya disini istrinya dan kedua anak laki-lakinya yang tak lain keponakan Dokter Perdi tadi yang begitu disayangnya.
ditempat lain Agam dan Danu keluar dari kontrakan, mereka berdua mau mencari makan malam dengan mengendarai sepeda motor milik Danu. Seperti biasa yang menyetir Danu, setelah mendapatkan rumah makan yang bertulisan serba 10.000 ribu segera mereka berhenti di depan rumah tersebut.
Agam dan Danu memilih untuk makan disitu saja karena mereka harus berhemat terutama Danu dirinya sebentar lagi akan menikah perlu biaya pernikahan, mereka berdua sudah duduk di kursi kosong. Pelayan rumah makan pun mengantarkan pesanan mereka tadi, Agam dan Danu mulai memasukan makanan tersebut ke dalam mulut mereka dengan begitu nikmat hingga tak tersisa sedikit pun di dalam piring mereka.
Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, para karyawan restoran tempat Kirana bekerja dulu sudah keluar semua dari restoran termasuk Lili Fitri dan Novi. Mereka bertiga ingin segera pulang ke kontrakan mereka, namun saat di ingin melangkah mereka melihat masih ada Mita sendirian di parkiran motor karyawan sembari duduk di atas sepeda motornya.
Lili Fitri dan Novi tak terlalu mengurusi apa yang mau dilakukan Mita jadi mereka bertiga memilih melanjutkan langkah kaki mereka, setelah mereka bertiga sudah tak kelihatan lagi Mita baru melajukan sepeda motornya menuju ke tempat yang ingin dirinya kunjungi.
Mita menghentikan sepeda motornya tepat di depan kontrakan milik Agam dan Danu, dirinya segera turun ingin menemui Agam namun saat di depan pintu ternyata pintu kontrakan itu tergembok dari luar.
"Sepertinya Agam sedang keluar" kata Mita berbicara dengan diri sendiri
Mita memilih untuk menunggu sejenak, tapi waktu terus berjalan yang ditunggu belum juga muncul. Mita akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya saja, mungkin besok malam dirinya bisa menemui Agam lagi.
Gagal sudah rencananya yang ingin mengajak Agam kerja sama untuk menghancurkan rumah tangga Kirana dan Dokter Perdi, tapi Mita tak putus asa karena dirinya sudah memegang aset yang bisa membuat sepasang suami istri itu ribut.
Mita kembali melajukan sepeda motornya untuk pulang kerumahnya, selang berapa menit Agam dan Danu tiba di kontrakan mereka. Memang tidak berjodoh untuk mereka bertemu dan membuat rencana jahat, Agam segera turun dari sepeda motor lalu mengeluarkan kunci kontrakan.
__ADS_1
Dicolokannya anak kunci tersebut ke gembok yang tergantung di pintu, kemudian pintu pun terbuka. Agam masuk diikuti Danu dari belakang dengan mendorong sepeda motornya untuk masuk ke kontrakan, Agam langsung berjalan ke arah kamar mandi ingin mencuci wajahnya dulu sebelum tidur karena habis dari luar.
Kini Agam dan Danu sudah berada di dalam kamar tidur mereka, mereka berdua juga sudah berbaring di atas kasur ingin segera tidur karena besok harus kembali bekerja. Bekerja kali ini mereka mendapat kontrak selama satu tahun, jadi sampai pertengahan tahun depan mereka akan bekerja disini.