
Seminggu kemudian
Hari ini Jhon Adiknya Dokter Perdi beserta istrinya Jhon ingin pulang ke Jakarta, kerumah mereka yang sudah seminggu lebih mereka tinggal. Jhon Adiknya Dokter Perdi harus kembali mengajar, dirinya tak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya sebagai wali kelas.
Apalagi dirinya memang hanya mengambil cuti hanya seminggu, seharusnya hari ini dirinya sudah masuk untuk mengajar namun berhubung dua hari kemarin istrinya mengeluh sakit perut jadi diurungkannya niat untuk pulang ke Jakarta.
Jhon sudah memasukan koper yang berisi pakaian mereka ke dalam bagasi mobil mereka, Jhon dan istrinya pamit dengan semua yang ada disitu. Setelah mencium semua tangan orang-orang disitu kini Jhon dan istrinya segera masuk mobil.
Mobil mereka pun mulai melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah masa kecil Jhon dan saudara-saudaranya, setelah mobil Jhon menghilang dari balik belokkan jalan keluarganya dan Dokter Perdi beserta Kirana masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.
Rumah yang semulanya ramai kini menjadi sepi hanya tinggal kedua orang tua Dokter Perdi, Dokter Perdi, Kirana, istri kakaknya Dokter Perdi beserta kedua keponakannya Dokter Perdi. Adik Perempuan Dokter Perdi juga sudah kembali ke Surabaya kemarin pagi, Adik Perempuan Dokter Perdi bekerja di rumah sakit yang ada di Surabaya dan dirinya tinggal dengan salah satu Oom mereka (Adik dari Ayah mereka).
"Kalian berdua tidak usah buru-buru kembali ke Jakarta" ujar Ibunya Dokter Perdi sembari mengelus pundak menantunya itu
"Aku sih, terserah Kak Perdi bu" jawab Kirana
"Perdi, kamu kan gak ada kerjaan juga. Jadi berlama-lamalah menginap disini, Ibu senang kalo masih ada kalian jadi rumah ini tidak terlalu sepi" kata Ibunya Dokter Perdi
"Iya, paling satu bulan kita disini. Gak mungkin juga rumah kita terus ditinggal bu, kalian juga belum berkunjung dirumah baru kami. Kalian mau ikut kami ke Jakarta gak pas kami pulang nanti" kata Dokter Perdi
"Nanti kita kesana pas adik iparmu lahiran saja, jadi bisa sekalian" kata Ibunya Dokter Perdi
__ADS_1
"Kami juga masih sibuk disini, para petani yang panen kopi tetap harus di awasi" kata Ayahnya Dokter Perdi
"Iya, kalian jangan terlalu capek. Usia kalian sudah tidak semudah dulu" kata Dokter Perdi
Kedua orang tua Dokter Perdi tersenyum menanggapi perkataan anak mereka barusan, Dokter Perdi sudah sangat sering mengingatkan kepada kedua orang tuanya perihal usia yang sudah semakin tua dan seharusnya sudah menikmati masa tua bukan masih sibuk mengurus kebun.
Namun tak bisa juga menyalahkan kedua orang tua Dokter Perdi karena semua anaknya justru sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing, makanya mereka masih tetap turun tangan mengawasi para petani yang memanen kebun kopi yang 5 hektar itu.
Jika tidak di awasi pasti terjadi lagi seperti berapa tahun yang lalu, yang seharusnya kebun kopi itu ada 10 hektar tapi jadi rugi karena ada yang bermain curang hingga terpaksa kebun itu terjual untuk menutupi kerugian apalagi kedua orang tuanya Dokter Perdi dulu harus membiayai kuliah Dokter Perdi dan Jhon yang kuliah berbarengan hanya beda satu tahun.
Kirana hanya menjadi pendengar di obrolan sang suami dan kedua mertuanya, dirinya yang gak ingin menganggu pun izin dengan semua yang ada disitu untuk ke kamar mandi yang sebenarnya dirinya sengaja memberi ruang serta waktu untuk sang suami dan kedua mertuanya ngobrol.
Kirana sudah masuk kamar mandi, kamar mandi di rumah mertuanya ada dua. Satu di dekat dapur satu lagi di dekat garasi mobil, kali ini Kirana memakai kamar mandi yang ada di dekat garasi mobil.
Setelah keluar dari kamar mandi Kirana teringat pesan whatsapp yang di kirim Lili semalam, dirinya segera mengeluarkan hpnya yang ada di dalam saku gamis dan segera membalas pesan whatsapp dari sahabatnya itu.
.
.
Di tempat lain yaitu di kota Jakarta
__ADS_1
Lili Fitri dan Novi seperti biasa sebelum berangkat kerja mereka bertiga sarapan terlebih dahulu, mereka bertiga yang kesiangan bangun tidur tadi bahkan sholat subuh tadi waktu hampir jam 6 kurang 10 menit jadi terpaksa sarapan kali ini hanya dengan indomie goreng yang direbus bersama sawi putih dan sosis so nice yang selalu tersedia di dapur.
Untuk makan siang pun mereka tak bisa mempersiapkan bekal, jadi palingan mereka beli buat makan siang nanti. Mereka bertiga secepatnya menghabiskan sarapan itu dengan begitu buru-buru, waktu sudah menunjukan pukul 06.45 yang seharusnya mereka sudah di restoran jam segitu.
Selesai sarapan mereka segera bersiap-siap akan berangkat kerja, seperti biasa tak lupa menutup dan mengunci pintu kontrakan mereka. Karena begitu buru-buru mereka berjalan tanpa obrolan dan canda saat ini jadi membuat mereka tiba di restoran lebih cepat, Lili segera membuka rolling door restoran dan langsung masuk ke dalam untuk menyiapkan buku absen.
"Tumben sekali Manager kita baru datang, hampir bersamaan dengan kita para karyawan biasa" kata Mita yang sebenarnya memang sengaja menyindir Lili
"Bukan urusan kamu, cepat ke tempat kerja kamu jangan banyak ngomong disini membuat aku makin kesal saja" kata Lili ketus
Mita pun berlalu dari hadapan Lili setelah menulis namanya di buku absen, Lili sudah duduk di kursinya dan melihat layar hpnya yang ada pesan whatsapp dari Kirana segera dibukanya dan dibacanya.
(Walaikumsalam Li, maaf baru balas semalam aku sudah tidur. Alhamdulilah kita baik, aku juga kangen dengan kamu dan yang lain. Aku masih di Bandung, mungkin akhir bulan baru bisa pulang ke Jakarta nanti kalian menginap lagi ya dirumah kita untuk melepas rindu 🤗🤗🤗) Kirana
Lili tersenyum setelah membaca pesan whatsapp itu, dirinya segera mengetik kembali kata demi kata untuk membalas pesan whatsapp dari sahabatnya.
"Semua karyawan udah ngasih hp untuk di simpen, tapi Manager sendiri masih sibuk dengan hpnya" sindir Mita yang saat ini sedang merapikan meja yang tak jauh dari tempat duduk Lili
Lili yang tinggal mengirim pesan whatsapp itu ke sahabatnya jadi gagal lantaran sindiran Mita, dirinya langsung mematikan hpnya dan memasukan ke dalam kardus yang berisi semua hp para karyawan yang lain. Ingin sekali Lili merobek mulut Mita itu, tapi dirinya tau memang seharusnya dirinya lebih teladan lagi sebagai Manager disini.
Dalam keadaan kesal Lili segera beranjak dari duduknya dan membawa kardus yang berisi semua hp para karyawan restoran untuk diletakkan ke dalam lemari yang ada di belakang kasir, lalu Lili kembali ke kursinya dan mulai berkutik dengan semua nota belanjaan bahan-bahan dapur dari tanggal 1 hingga hari ini untuk di periksa satu per satu.
__ADS_1