
Tiba-tiba Kirana terbangun dari tidurnya, tangannya langsung menggapai hp yang tergeletak di samping dirinya. Dilihatnya jam di hp itu menunjukan pukul 2 malam, entah mengapa Kirana merasa perasaannya saat ini tidak enak.
Kirana kembali memejamkan mata namun usahanya gagal, perasaannya saat ini benar-benar tidak enak. Kirana yang kesulitan memejamkan mata memilih beranjak dari tempat tidurnya kemudian keluar dari kamar dan berjalan ke arah kamar mandi, tiba di kamar mandi Kirana mulai mengambil air wudhu.
Dirinya ingin mengerjakan sholat malam karena bagi Kirana inilah satu-satu cara untuk menghilangkan rasa kekhawatirannya saat ini, Kirana kembali ke kamar tidurnya. Mengambil mukenah dan membentang sajadah lalu mulai mengerjakan sholat tahajud dengan begitu khusyuk, selesai sholat Kirana tak lupa berdoa dengan MAHA KUASA.
Kini Kirana sudah kembali berbaring di tempat tidurnya, ingin kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Kirana sebenarnya tak masalah tiba-tiba terbangun ditengah malam seperti ini, karena Kirana pikir MAHA KUASA mungkin sedang merindukan dirinya makanya membangunkannya.
Drrt...drrt...drrt
Bunyi hp Kirana tanda telepon masuk, Kirana yang baru memejamkan matanya langsung membuka matanya ingin melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Diambilnya hp yang ditempat semula tadi, kemudian segera melihat nama yang tertera dilayar hpnya itu.
"Tante" gumam Kirana
Langsung tangan Kirana secepat kilat menerima telepon itu soalnya takut ada hal penting karena tak biasanya tantenya menelepon malam-malam begini.
"Hallo, Kirana" kata tantenya(adik kandung Ayah Kirana) dengan suara parau seperti habis menangis di seberang sana
"Iya hallo, tante ada apa?" tanya Kirana
"Nenekmu...." kata tantenya terdengar kembali menangis tak bisa melanjutkan omongannya
"Nenek kenapa?" tanya Kirana beranjak dari tidurnya kemudian duduk dengan perasaan kembali tidak enak
Terdengar suara yang begitu ribut diseberang sana serta suara tangisan, Kirana makin dibuat bingung dengan suara-suara itu.
"Nenek meninggal mbak" jawab Anggun adik sepupunya Kirana
__ADS_1
Kirana sangat mengenal suara siapa yang barusan menjawab pertanyaannya, Kirana merasa mungkin dirinya salah dengar.
"Nenek kenapa?" tanya Kirana mengulang kalimat yang sama
"Nenek meninggal mbak" jawab Anggun menegaskan biar Kirana tak terus bertanya
"Tidak mungkin, kalian pasti bohong" kata Kirana masih tak percaya dengan ucapan Anggun
Kamar kedua orang tua Kirana berseberangan, mereka bangun saat mendengar sayup-sayup seperti ada yang sedang menangis. Ibunya Kirana terus mencari sumber suara tangisan itu, saat ibunya sudah di depan pintu kamar Kirana sangat jelas terdengar bahwa yang menangis itu rupanya Kirana.
"Kirana, kamu kenapa sayang?" tanya Ibunya Kirana sembari mengetuk pintu kamar Kirana
Kirana yang mendengar suara ibunya di depan pintu kamarnya, segera beranjak dari duduknya kemudian membuka pintu kamar dan langsung menghamburkan tubuhnya di pelukan ibunya. Ibunya segera membawa Kirana masuk ke kamar lagi sambil masih memeluk tubuh putrinya itu sembari mengajak putrinya itu duduk.
"Nenek bu, nenek" kata Kirana menangis dengan deraian air mata yang terus mengalir
"Ibunya ayah bu, nenek meninggal" jawab Kirana yang masih terus menangis di pelukan ibunya
"Apa, innalilahi wa innalilahirojiun" kata Ibunya Kirana menangis
Ibunya Kirana segera berteriak dari kamar Kirana memanggil suaminya, setelah mendengar teriakan ibunya Kirana ayahnya Kirana segera beranjak mendekati istri dan putrinya itu. Adik-adiknya Kirana yang masih tidur pun terbangun karena teriakan ibu mereka, semuanya berkumpul di kamar Kirana.
"Ibumu meninggal, yah" kata ibunya Kirana menyeka air mata
"Innalilahi wa innalilahirojiun" kata Ayahnya Kirana terduduk di lantai hatinya sangat sakit seperti di tusuk sebilah bambu mendengar ibu yang melahirkannya telah pergi meninggalkan untuk selama-lamanya.
Adik-adiknya Kirana langsung menangis mendengar penjelasan ibu mereka, mereka benar-benar sedih mengapa kabar duka harus berdekatan dengan menuju hari H pernikahan Kirana dengan Dokter Perdi.
__ADS_1
Padahal ayahnya Kirana baru beberapa hari ini menelepon sang ibu bahwa keadaannya sehat-sehat saja bahkan keluarga di Palembang tiga hari lagi akan ke sini ingin menghadiri acara pernikahan putrinya tapi ini malah mereka yang akan pulang ke Palembang.
Apalagi memang biasanya setiap akhir tahun seperti ini keluarga besar sebelah ayahnya Kirana akan berkumpul di rumah sang nenek karena cucunya pada libur sekolah, tapi tahun ini keluarga Kirana tak bisa pulang soalnya kebetulan Kirana akan menikah namun siapa sangka rutinitas yang biasanya setiap akhir tahun berkumpul menemani sang nenek justru akhir tahun ini harus mengantar sang nenek ke peristirahatan terakhir.
Ayahnya Kirana segera memesan tiket pesan di hpnya karena mereka pagi ini harus secepatnya terbang ke Palembang sebelum sang ibu di makamkan, ayahnya Kirana ingin melihat wajah sang ibu terakhir kali.
"Yah, Kirana ikut" kata Kirana menghapus sisa air mata yang menempel di pipinya
"Nak, kamu akan menikah seminggu lagi. Nanti kamu kelelahan" kata ibunya Kirana memberi pengertian dengan Kirana
"Tapi bu, Kirana sudah 5 tahun tak bertemu dengan nenek karena selama ini Kirana sibuk bekerja. Kirana harus mengantar nenek ke peristirahatan terakhir beliau" jelas Kirana sembari memohon dengan ibunya
Kedua orang tua Kirana pun menyetujui keinginan putri mereka yang memang sudah lama tidak pulang ke Palembang, apalagi mungkin saat ini keluarga besar sebelah ayahnya Kirana sudah pada kumpul disana.
Kirana serta adik-adiknya dan kedua orang tuanya mulai menyiapkan beberapa barang yang di perlukan serta baju untuk ganti ketika di Palembang nanti meski mereka hanya sebentar setidak semalam dua malam mereka sekeluarga harus menginap dahulu, selesai mereka mempersiapkan kini mereka semua bergantian masuk kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.
Setelah sholat subuh ayahnya Kirana sudah sibuk kesana kemari mencari mobil yang bisa mereka rental untuk mengantar mereka ke bandara, setelah mendapatkan mobil rental itu Ayahnya Kirana segera mengajak sang supir untuk kerumahnya. Ayahnya Kirana masuk mobil dan sang supir mulai melajukan mobil itu, Kirana dan adik-adiknya yang sudah menunggu ayah mereka di depan rumah ketika mobil itu mereka segera masuk mobil tersebut.
Hanya tinggal ibunya Kirana yang belum masuk soalnya masih sibuk menutup serta mengunci pintu rumah dan memastikan agar rumah itu benar-benar aman ketika di tinggalkan kemudian ibunya Kirana berjalan mendekati mobil yang menunggu dirinya, sebelum masuk mobil ibunya Kirana mendekati para ibu-ibu yang berkumpul di depan rumahnya karena mereka sudah tahu kalau keluarga Kirana sedang berduka.
"Ibu-ibu titip rumah kami ya, kami pergi hanya sebentar" kata Ibunya Kirana berpesan dengan ibu-ibu itu
"Iya bu, kalian hati-hati dijalan" ucap salah satu ibu-ibu itu
"Iya bu, terima kasih. Kami pamit dulu" kata Ibunya Kirana kemudian masuk mobil
Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumah Kirana dan melesat menuju bandara, dari rumah Kirana ke bandara memakan waktu lumayan jauh. Kirana dan adik-adiknya yang setelah mendapat kabar itu tidak bisa tidur lagi, jadi sebelum tiba di bandara mereka memejamkan mata sebentar ingin menghilangkan rasa kantuk.
__ADS_1
Ayahnya Kirana menatap jalanan di depan dengan tatapan kosong, ayahnya Kirana masih berharap bahwa kabar ini hanyalah mimpi.