
"Kirana...." Dokter Perdi bangun dari tidurnya sembari berteriak menyebut nama Kirana
"Per, kamu kenapa?" tanya teman Dokter Perdi sembari menggedor pintu kamar Dokter Perdi
"Ahh, tidak apa-apa kok" jawab Dokter Perdi
"Ya udah kalo gak kenapa-kenapa, aku pulang dulu ya"
"Oke, ditutup lagi ya pintunya" kata Dokter Perdi mengingatkan
Dokter Perdi segera mengambil hpnya sembari melihat jam yang sudah menunjukan pukul 6 lewat, Dokter Perdi segera beranjak dari tempat tidur lalu keluar dan berjalan menuju kamar mandi.
Dirinya pagi ini kesiangan belum sholat subuh, semua ini gara-gara semalam bergadang padahal Dokter Perdi paling gak bisa yang namanya bergadang, Dokter Perdi setelah mengambil air wudhu segera menunaikan sholat subuh meski sudah bukan waktunya lagi.
Dret..dret..dret...
Bunyi hp Dokter Perdi tanda ada telepon masuk, Dokter Perdi tak mendengarnya karena saat ini dirinya sedang mandi. Dalam kamar mandi Dokter Perdi kembali mengingat mimpinya semalam, mimpi itu rasanya seperti nyata.
Di tempat lain Kirana terus menelepon Dokter Perdi namun belum juga dijawab, Kirana menjadi kesal padahal Dokter Perdi sudah janji akan mengantarnya pagi ini. Kirana melihat jam di hpnya sudah menunjukan pukul 7 lewat tapi dirinya belum juga berangkat padahal semalam mengabari adiknya kemungkinan siang tiba dirumah namun ini berubah rencana, saat ini bahkan sahabat-sahabatnya sudah berangkat bekerja dari setengah jam yang lalu.
__ADS_1
Kirana yang sudah lelah menelepon Dokter Perdi memutuskan untuk menaik mobil travel saja dari pada menunggu Dokter Perdi belum tau kapan datang, semakin lama Kirana menunggu Dokter Perdi bisa-bisa malam tiba dirumah.
Kirana segera menarik koper yang berisi barang-barang miliknya, untung seminggu sebelum berhenti bekerja Kirana terpikir membeli koper jadi takkan susah membawa barang-barangnya yang lumayan banyak. Kirana keluar dari kamar tidur sembari memperhatikan sekeliling kontrakannya, dirinya akan merindukan semua ini.
Kirana berjalan keluar kontrakan sembari menarik koper, ditutup dan dikuncinya pintu kontrakan itu. Kirana terus berjalan hingga tiba di depan restoran tempat kerjanya, Kirana meninggalkan kopernya di depan restoran kemudian berjalan masuk restoran.
"Ini kunci kontrakan, aku pamit pulang ya bilang dengam yang lain juga" kata Kirana yang menghampiri Lili
"Ohh iya, hati-hati dijalan ya. Kamu pulang bareng Kak Perdi kan" kata Lili
"Iya makasih" jawab Kirana
Kirana segera naik mobil travel tersebut setelah kopernya di masukan oleh supir ke bagasi mobil, Kirana duduk di bagian belakang sekali karena kebetulan mobil travel tersebut sudah penuh dengan penumpang. Kirana melihat hpnya namun belum juga ada pesan whatsapp atau apapun dari Dokter Perdi memberi kabar pada dirinya, Kirana yang pasrah akhirnya memilih untuk mematikan hpnya.
Dokter Perdi selesai mandi kini kembali ke kamar tidurnya lalu segera memakai pakaian yang lengkap, Dokter Perdi ingin mengambil hpnya yang terletak di atas meja di samping tempat tidur.
Dor...dor...dor...
Bunyi gedoran pintu dari luar, membuat Dokter Perdi terkejut dirinya yang ingin mengambil hp tadi mengurungkan niat. Dokter Perdi berjalan menuju pintu depan, kemudian segera di bukanya pintu tersebut. Dokter Perdi melihat ada seorang ibu-ibu yang sedang mengendong anaknya yang sedang terluka, didekati Dokter Perdi sembari melihat keadaan anak itu.
__ADS_1
"Ayo bu masuk kedalam, letakan anaknya di bed itu. Biar saya bisa periksa" ujar Dokter Perdi mengiring ibu itu masuk kliniknya
Ibu itu segera meletakan anaknya di bed pasien, Dokter Perdi segera mengecek kondisi anak itu. Lumayan besar luka di kaki anak itu, jadi harus di jahit. Dokter Perdi segera mengambil peralatan yang diperlukannya, dibersihkannya dahulu luka anak itu kemudian disuntiknya dengan obat bius biar tak terasa sakit ketika di jahit.
Setelah itu Dokter Perdi kembali ke kamar tidurnya ingin mengambil hpnya, Dokter Perdi duduk di atas tempat tidurnya sembari membuka kunci layar hpnya. Dokter Perdi melihat ada 17 panggilan tak terjawab dari Kirana dan ada berapa pesan whatsapp juga, Dokter Perdi segera membuka pesan whatsapp itu.
(Assalamualaikum) Kirana
(Kak udah dimana?) Kirana
(Ini udah jam berapa kok belum sampai-sampai) Kirana
(Kak, jadi gak ngantar aku pulang) Kirana
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa. Hari ini mau ngantar Kirana pulang kerumahnya, pasti dia kecewa banget aki gak tepati janjiku" kata Dokter Perdi berbicara dengan diri sendiri
Dokter Perdi segera menelepon Kirana namun tak aktif, berapa kali di coba Dokter Perdi masih tetap tak aktif. Dokter Perdi bingung mau berbuat apa saat ini, jika ke kontrakan Kirana sekarang mungkin akan berjam-jam baru tiba apalagi ini hari senin pasti macet banget jalanan saat ini.
Dokter Perdi mondar mandir di kamar tidurnya sembari memikirkan jalan keluar saat ini, Dokter Perdi benar-benar pusing tak tau lagi mau bagaimana. Dokter Perdi memutuskan untuk mengirim pesan whatsapp saja karena jika nomor Kirana sudah aktif pesan whatsapp tersebut pasti masuk, Dokter Perdi kini kembali menunggu klinik karena inilah cara menghilangkan beban pikirannya saat ini.
__ADS_1