Hijrah Setelah Patah Hati

Hijrah Setelah Patah Hati
Bab 92


__ADS_3

Pagi ini Kirana kelihatan sudah baikan tubuhnya juga gak lemas lagi seperti pagi kemarin, setelah sholat subuh tadi dirinya langsung mandi karena Dokter Perdi memintanya untuk bersiap-siap soalnya pagi ini juga mereka akan pergi bahkan ternyata Dokter Perdi sudah mandi juga sebelum subuh tadi.


Kirana keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih terlilit ditubuhnya, dilihatnya sang suami yang sudah rapi dengan kemeja biru dongker serta celana dasar warna hitam yang sangat pas ditubuh sang suami. Kirana masuk kamar tidur mereka kemudian mengambil salah satu gamisnya yang tergantung di dalam lemari, kali ini Kirana memadukan warna gamisnya dengan kemeja biru dongker sang suami agar kelihatan seperti baju couple.


"Sayang ada yang harus dibawa gak?" tanya Kirana sembari memasukan hpnya ke dalam tas kecil yang selalu dipakainya jika akan pergi


"Gak ada sayang, paling malam kita pulang atau kalo takut capek kita nginep di hotel saja. Soal pakaian nanti bisa dibeli dijalan, ayo berangkat" kata Dokter Perdi merangkul pinggang sang istri


Mereka berdua keluar dari klinik tak lupa pintu klinik ditutup dan dikunci, Kirana melangkahkan kaki masuk mobil di kursi sebelah pengemudi sedangkan sang suami di kursi pengemudi.


Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, selama diperjalanan Kirana yang masih mengantuk memilih untuk memejamkan mata sejenak selagi perjalanan mereka berdua masih jauh. Bahkan sampai detik ini dirinya pun belum tau sebenarnya sang suami ingin mengajaknya kemana, namun dirinya juga tak mau banyak tanya karena sang suami mungkin ingin memberinya kejutan.


Dokter Perdi tetap fokus dengan jalan, ketika lampu merah mobil berhenti dilihatnya sang istri yang terlelap. Dokter Perdi tersenyum kemudian membelai kepala sang istri, dirinya memang sengaja mengajak sang istri untuk pergi pagi-pagi buta seperti ini karena agar jalanan tidak macet harap dimaklumilah siapa yang tidak tau dengan kota Jakarta yang sudah sangat terkenal dimana-mana soal kemacetan di kota ini.


Matahari dari ufuk timur mulai muncul, jalannya yang tidak macet membuat Dokter Perdi menambah kecepatan laju mobilnya. Para pedagang kaki lima sudah mulai berjejeran dipinggir jalan, ruko-ruko berbagai macam jualan juga mulai buka.


Dokter Perdi menghentikan mobilnya ke salah satu ruko yang berjualan kue, niatnya ingin membangunkan sang istri agar bisa ikut memilih kue kesukaannya namun saat diperhatikannya sang istri yang tertidur sangat pulas diurungkannya niat itu. Dokter Perdi pun keluar dari mobil meninggalkan sang istri, dirinya segera masuk ke ruko penjual kue brownies itu dan mulai memilih-milih.


Matahari pagi yang begitu menyengat masuk ke jendela mobil, membuat Kirana terbangun karena merasa matanya agak silau. Kirana segera membuka kedua matanya, dilihatnya mobil berhenti di depan jejeran ruko. Dirinya ternyata ditinggal sang suami sendirian dalam mobil, dirinya memperhatikan sekeliling daerah ini. Dirinya merasa seperti pernah kesini tapi dirinya lupa kapan kesini, Kirana terus berusaha mengingat daerah ini.


"Ehh sayang udah bangun" kata Dokter Perdi ketika membuka pintu mobil melihat sang istri memperhatikan sekeliling daerah ini


"Iya, kamu kok ninggalin aku sendirian dalam mobil. Kalo aku diculik gimana" kata Kirana melihat kantong plastik yang dibawah sang suami


"Kamu terlalu nyenyak tidurnya tadi, jadi aku tidak mau menganggu tidurmu. Lihat sampai-sampai niqab kamu basah tu kena iler" kata Dokter Perdi sembari meletakan semua kantong plastik itu di kursi belakang

__ADS_1


Kirana pun langsung melihat kaca spion mobil, memperhatikan niqabnya apa benaran basah.


"Kamu bohong, ini jelas-jelas kering" kata Kirana sembari memukul lengan sang suami


Dokter Perdi tertawa melihat sang istri yang ternyata tertipu dengan ucapannya tadi, ditambah Kirana memukul lengannya bukan merasa sakit justru merasa seperti dielus lengannya itu. Kirana melihat sang suami menertawakannya segera memalingkan wajahnya, Kirana merajuk karena sang suami ternyata menjahilinya saja.


Dokter Perdi kembali melajukan mobil meninggalkan ruko-ruko yang berjejeran itu, mobil melaju dengan kecepatan sedang sembari memperhatikan jalanan yang sudah mulai ramai mobil yang lalu lalang Dokter Perdi ingin mencari tempat untuk mereka berdua sarapan.


Dokter Perdi kembali menghentikan mobilnya di sebuah warung makan yang menjual sarapan, Dokter Perdi dan Kirana turun dari mobil dan masuk ke dalam warung tersebut. Mereka berdua segera memesan nasi uduk untuk sarapan sekarang, Kirana kini baru sadar kalo mereka saat ini berada di jalan menuju kearah tempat kerjanya dulu namun Kirana berpikir mungkin kebetulan saja sang suami melewati jalan ini.


Mereka berdua mulai menikmati nasi uduk tersebut, selesai makan Dokter Perdi segera mengajak Kirana kembali melanjutkan perjalanan mereka yang masih lumayan jauh dan tak lupa Dokter Perdi meletakan uang berwarna biru selembar dibawah piring bekas mereka makan.


Satu jam kemudian


"Beneran sayang, terima kasih sayang. Aku memang kangen dengan sahabat-sahabatku" kata Kirana setelah melihat kedepan mobil mereka yang berhenti di depan restoran tempat dirinya bekerja dulu kemudian Kirana memeluk sang suami


"Ayo turun, temui sahabat-sahabatmu" ujar Dokter Perdi


Kirana segera membuka pintu mobil, kemudian berlari kecil memasuki restoran yang mungkin hampir setengah tahun dirinya tidak kesini.


"Lili..." panggil Kirana ketika melihat Lili yang sedang berjalan ingin menuju ke arah belakang


Lili langsung berhenti ketika mendengar ada yang memanggilnya, dirinya menoleh kebelakang dilihatnya ada wanita yang berniqab berdiri tak jauh dari dirinya. Kirana segera mendekati Lili kemudian memeluk sahabatnya itu, Lili kini tau bahwa yang ada dihadapannya adalah Kirana lalu segera dibalasnya pelukan itu.


Semua karyawan memperhatikan Lili yang berpelukan dengan wanita berniqab, Fitri dan Novi yang melihat dan tau siapa itu segera berlari mendekati kedua wanita yang sedang berpelukan itu kemudian mereka berdua ikut memeluk dari belakang.

__ADS_1


"Aku kangen banget dengan kalian" kata Kirana sembari menyeka air mata yang hampir jatuh


Mereka berempat pun melepas pelukan barusan.


"Kita kangen juga dengan kamu, apalagi dengan Sevia" kata Fitri


"Bagaimana kabar Sevia?" tanya Kirana


"Sevia sekarang di Bekasi ikut suaminya yang dapat kerjaan disana, makin sulit untuk ketemu" jelas Lili


"Kamu sendirian kesini?" tanya Novi


Bertepatan Dokter Perdi masuk membawa satu kantong plastik yang berisi kue brownies dibelinya tadi, Dokter Perdi menghampiri sang istri dan sahabat-sahabat sang istri kemudian memberikan kantong plastik itu dengan salah satu sahabat sang istri.


Sahabat-sahabatnya Kirana tak mau langsung menerima pemberian suami sahabat mereka itu namun ketika Kirana memaksa akhirnya mereka menerima, dari kejauhan Mita memperhatikan Kirana, suaminya Kirana serta sahabat-sahabatnya Kirana yang begitu bahagia.


Mita berniat dalam hati sampai kapanpun tak akan membiarkan Kirana ataupun orang-orang disekitar Kirana bahagia, dirinya benar-benar semakin benci. Mita juga berpikir mengapa juga Kirana harus kembali menampakan diri disini, Yeyen menepuk pundak Mita membuat Mita menoleh.


Yeyen hanya tersenyum melihat raut wajah Mita yang begitu kesal dengan pemandangan didepan.


"Udah gak usah urusin hidup orang lain, urusin hidup sendiri aja belum tentu bisa" kata Yeyen berlalu dari hadapan Mita


Mita semakin geram, mengapa sekarang semua orang jadi berpihak dengan Kirana bahkan dirinya pun bingung apa sih yang membuat Kirana begitu istimewa sehingga orang-orang seperti sangat menyukai Kirana.


Sahabat-sahabatnya Kirana sudah kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing, sedangkan Kirana kini duduk dikursi yang ada di teras restoran bersama sang suami sembari menikmati kue brownies yang dibeli sang suami tadi serta menikmati cappucino minuman terlezat di restoran ini.

__ADS_1


__ADS_2