
Tak terasa kini waktu telah menunjukan pukul 9 malam, seluruh karyawan restoran sudah siap-siap ingin pulang kerumah dan kontrakan masing-masing. Seperti biasa sebelum pulang mereka semua membereskan restoran dulu, setelah selesai kini mereka semua mulai keluar dari restoran.
Fitri dan Novi juga sudah berada diluar restoran namun mereka berdua belum pulang karena masih menunggu Lili yang masih di dalam, Lili sudah selesai menghitung uang pemasukan hari ini dan menulis pemasukan hari ini di buku, Kebetulan Bu bos mereka sedang pergi jadi Lili memasukan uang kedalam brangkas yang ada dibawah meja kasir, semua pemasukan berapa hari ini akan diserahkannya dengan Bu bos ketika sudah pulang.
Tak lama kemudian Lili keluar dari restoran dan tak lupa Lili menutup serta mengunci rolling door restoran, Lili Fitri dan Novi mulai berjalan meninggalkan restoran. Tak butuh waktu lama mereka bertiga sudah tiba dikontrakkan mereka, kini mereka bertiga sudah masuk ke kontrakan dan mulai bergiliran masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lili Fitri dan Novi yang sudah selesai membersihkan diri sekarang ingin makan bakso yang dibeli Lili waktu keluar setengah jam sebelum restoran tutup, sebelum keluar dari restoran Lili sudah izin dengan Bu bos melalui telepon sekalian izin ingin memakai sepeda motor milik Bu bos. Makan kali ini mereka bertiga tak mengobrol apapun karena begitu menikmati bakso yang sedang mereka santap, selesai makan seperti biasa mereka bertiga langsung mencuci piring kotor bekas mereka makan.
"Fitri Novi sini" kata Lili yang sedang melihat isi paper bag dari Kirana tadi pagi
"Ada apa Li?" tanya Fitri menghampiri Lili yang di dalam kamar
"Coba kalian buka juga paper bag kalian yang dari Kirana tadi pagi" ujar Lili
"Memangnya kenapa?" tanya Novi sembari mengambil paper bag yang tergeletak di ruang depan
"Masyaallah, bagus banget jilbabnya" kata Fitri setelah melihat isi paper bag tersebut
"Iya aku tau kalo bagus, lihat lebel harganya" jelas Lili sembari melihatkan harga yang tergantung diujung jilbab
"Ya allah mahal banget, harga satu jilbab ini bisa untuk kita makan seminggu" kata Novi
Lili mengangguk membenarkan perkataan Novi, dirinya pun terkejut setelah melihat harga satu jilbab itu. Lili berpikir jika suatu saat Kirana kembali memberi mereka hadiah lagi, bisa-bisa suami sahabatnya itu bangkrut karena sahabatnya itu menghambur-hamburkan uang suaminya hanya untuk membelikan barang.
Padahal kenyataan harga barang seperti itu tak akan membuat Dokter Perdi bangkrut karena sumber uangnya lumayan banyak, Lili Fitri dan Novi memasukan kembali jilbab yang diberi Kirana itu kedalam paper bag kemudian meletakan kedalam lemari pakaian mereka masing-masing. Mereka bertiga tak mau memakai jilbab mahal itu saat bekerja, mereka bertiga akan memakainya saat ada waktu yang tepat misalnya seperti syukuran kehamilan Kirana atau acara yang lain.
__ADS_1
Lili Fitri dan Novi pun mulai berbaring di atas kasur diposisi mereka masing-masing, terkadang disaat berbaring seperti sekarang mereka bertiga teringat akan kebersamaan mereka bersama Kirana dan Sevia. Entah kapan bisa ada waktu kumpul bersama lagi, sebagai manusia hanya bisa berencana tapi hanya yang MAHA KUASA yang bisa menentukan.
Fitri dan Novi sudah mulai tertidur, sedangkan Lili masih sibuk dengan hpnya. kemudian terbesit dihati Lili ingin menghubungi Kirana namun melihat hari sudah menunjukan pukul 10 malam takut Kirana sudah tidur, ketika sibuk melihat status di aplikasi whatsapp dan terlihat status Kirana yang dibuat 5 menit yang lalu. Lili segera memilih nama Kirana dan mulai mengetik pesan, kemudian dikirimnya.
Kebetulan Kirana memang belum tidur, saat ada pesan whatsapp masuk dan dilihatnya sahabatnya yang mengirim pesan itu segera dibukanya kemudian secepatnya dirinya membalas pesan tersebut.
(Assalamualaikum, Kirana) Lili
(Walaikumsalam, iya Li) Kirana
(Lagi apa? Ganggu gak? pengen ngobrol sedikit tadi kamu juga gak sempat pamit gara-gara kejadian baku hantam tadi. Hehehe) Lili
(Lagi guling aja, gak ganggu kok. Suamiku udah tidur duluan kecapean. Iya suamiku takut aku kena salah oleh Bu bos makanya langsung diajak pulang) Kirana
(Iya gak apa-apa, memangnya kalian dari mana kok bisa kecapean dan kamu gak capek gitu) Lili
Kirana beranjak dari tempat tidur meninggalkan sang suami, namun sebelum pergi disempatkannya mencium bibir **** sang suami. Kirana berjalan menuju ruang praktek sang suami kemudian berbaring di bed pasien sembari mencari nama Lili dikontak hpnya, lalu menghubungi sahabatnya itu.
Namun ternyata nomor hp sahabatnya itu tidak bisa dihubungi, Kirana jadi bingung padahal barusan tadi chattingan kenapa tiba-tiba malah tidak bisa dihubungi. Kirana kembali menghubungi nomor hp sahabatnya itu, lagi-lagi operator yang menjawab. Kirana yang sudah berapa kali menghubungi tapi tetap masih tidak aktif, Kirana pun memutuskan untuk kembali ke kamar apalagi malam juga semakin larut.
Sedangkan Lili berdecak kesal karena hpnya kembali eror, hpnya seminggu ini sudah sangat sering eror. Hp yang dipakainya sekarang memang sudah waktunya harus diganti karena sudah begitu lama umur hp tersebut dari dirinya masih duduk di bangku SMA, itupun belian dari Ayahnya. Mungkin gajian bulan ini dirinya akan membeli hp baru, Lili terus memukul hp itu di tangannya dan akhirnya hp itu kembali menyala.
Lili senang hpnya kembali menyala, secepat mungkin tangannya digunakan untuk menghubungi nomor Kirana.
Drrt...drrt...drrt...
__ADS_1
Bunyi hp Kirana yang ada di atas meja, Kirana yang mendengar bunyi hp kembali membuka mata dilihatnya ternyata Lili yang meneleponnya segera diterimanya telepon tersebut.
"Hallo, Assalamualaikum" Kata Lili diseberang sana
"Iya walaikumsalam, Li ini udah malam" kata Kirana yang kembali memejamkan mata
"Ahh maaf ganggu, hp ku eror makanya aku gak jadi nelepon kamu tadi" kata Lili merasa bersalah
"Besok pagi aja aku telepon lagi, aku udah ngantuk banget. Maaf ya, selamat malam" kata Kirana
"Ya udah, selamat malam juga" jawab Lili sembari mengakhiri telepon mereka
Lili memilih untuk menyusul kedua sahabatnya yang sudah terlelap dari tadi, dirinya juga merasa bersalah dengan Kirana karena sudah menganggu tidurnya. Lili menarik selimut yang ada di ujung kakinya, kemudian mulai memejamkan matanya.
Ditempat lain malam ini Agam menghabiskan waktunya diclub, entah sudah habis berapa botol Agam meminum minuman alkohol itu. Danu hanya duduk di samping Agam, dirinya tak mungkin ikut minum jika mereka berdua sama-sama teler bagaimana mereka kembali ketempat tinggal mereka saat ini. Danu tak tau masalah apalagi yang dihadapi Agam kali ini, tiba-tiba Agam mengajaknya untuk mencari angin. Keliling daerah sini mengunakan sepeda motor milik mandor kuli bangunan, lalu tau-taunya Agam melajukan sepeda motor itu ke club.
"Agam udah minumnya, kamu tu udah teler" kata Danu memegangi tangan Agam yang ingin minuman lagi
"Kirana..aku sangat mencintaimu tapi suamimu juga mencintaimu" racau Agam
Danu mengerutkan dahinya tak menyangkah ternyata masalah Agam masih soal Kirana lagi.
"Ayo, kita pulang. Udah cukup minumnya" kata Danu sembari menarik tangan Agam
Agam yang sudah teler tak bisa melawan jadi menurut saja tangannya ditarik Danu, Danu menopang Agam hingga keluar dari club. Dinaikannya Agam di jok belakang sepeda motor yang mereka kendarai, lalu Danu naik di jok depan dan mulai melajukan sepeda motor dengan sangat pelan agar Agam tidak jatuh.
__ADS_1
Tiba di rumah tempat tinggal mereka dengan para kuli bangunan, mandor kuli bangunan sudah berdiri di teras depan menatap Agam dan Danu dengan tatapan tajam. Danu tau pasti mandor mereka akan marah karena tadi meminjam sepeda motor hanya untuk keliling sebentar tapi nyatanya mereka baru pulang pukul 12 malam dini hari, mandor kuli bangunan diam melihat Danu menopang Agam sampai masuk.
Tak ada omongan apapun dari mandor kuli bangunan itu, beliau langsung mengambil sepeda motornya dan kembali kerumahnya yang tak jauh dari situ, Danu setelah membantu Agam masuk dan berbaring, kembali ke depan. Dilihatnya tak ada mandor mereka serta sepeda motor mandor mereka, mungkin pikir Danu sudah dibawa jadi Danu kembali masuk tak lupa menutup dan mengunci pintu rumah.