
Setelah sarapan pagi Dokter Perdi mengajak sahabat nya segera pulang, sudah cukup 5 hari saja mereka berdua keliling kota Yogjakarta meski masih banyak wisata yang belum mereka berdua kunjungi namun mau bagaimana lagi.
Dokter Perdi harus banyak-banyak istirahat setelah ini apalagi menuju hari H pernikahannya dengan Kirana sudah semakin dekat, dirinya tak mau sampai drop karena banyak menghabiskan waktu yang tak begitu bermanfaat.
Dokter Perdi dan sahabatnya sudah merapikan semua barang mereka dan sesekali diperiksa lagi takut ada yang ketinggalan, setelah semua siap Dokter Perdi dan sahabatnya segera keluar dari kamar hotel tersebut.
Seperti biasanya sebelum keluar Dokter Perdi memberantakan sprei hotel itu dahulu kemudian meletakan lima lembar uang berwarna merah di bawah sprei hotel, lalu Dokter Perdi keluar sembari menarik koper mungilnya yang hanya muat berapa helai pakaian.
Sahabatnya Dokter Perdi kini menunggu Dokter Perdi di lobi hotel sedangkan Dokter Perdi mengambil mobilnya terlebih dahulu yang ada di garasi hotel, kemudian Dokter Perdi memasukan kopernya ke bagasi mobil lalu naik ke kursi pengemudi dihidupnya mobil itu dan dilajukannya ke arah sahabatnya yang sudah menunggunya dari tadi.
Sahabatnya Dokter Perdi segera duduk di kursi sebelah pengemudi kemudian mobil pun mulai dilajukan oleh Dokter Perdi dengan kecepatan sedang.
"Maaf ya bro, sepertinya di hari pernikahanmu aku gak bisa hadir" kata Al sahabatnya Dokter Perdi memulai percakapan
"Kok gitu, bukannya kamu udah janji akan hadir" kata Dokter Perdi masih fokus dengan jalan yang agak macet
"Iya tadi dapat telepon dari temanku yang juga bekerja di rumah sakit bilang bahwa seluruh Dokter harus berkumpul karena akan kedatangan Direktur rumah sakit, ada meeting dan kebetulan bertepatan dengan tanggal nikah kalian" jelas Al detail agar Dokter Perdi gak marah
"Iya sudahlah mau bagaimana lagi, itulah Al kenapa aku tu gak mau melamar kerja di rumah sakit. Gak bisa bebas selalu diatur, meski klinikku gak terlalu besar tapi lumayanlah ada pemasukan dan bisa semauku mau buka atau tutup" kata Dokter Perdi
"Iya kamu enak, pemasukan bukan dari klinik saja. Ada kebun sawit, belum lagi kontrakan yang di sana" kata Al menonjok pelan lengan Dokter Perdi
"Hehehe iya sih, aku belum cerita dengan kamu kalo hingga detik ini. Aku belum ngasih tau Kirana kalo aku punya klinik, kebun sawit serta kontrakan" kata Dokter Perdi
"Kamu serius, jadi Kirana menerima kamu apa adanya donk tanpa melihat segalanya" kata Al tak percaya
__ADS_1
"Iya justru waktu dia tau aku seorang dokter, berapa hari langsung hilang kabar. Katanya minder dengan pangkat aku" jelas Dokter Perdi
Perjalanan yang mereka tempuh masih begitu jauh, karena sudah waktunya makan siang Dokter Perdi menghentikan mobilnya di depan rumah makan lesehan sunda.
Dokter Perdi dan sahabatnya keluar dari mobil tak lupa menutup dan mengunci pintu mobil lalu mereka berdua berjalan masuk ke rumah makan lesehan sunda tersebut, Dokter Perdi dan sahabatnya mencari tempat yang kosong mereka masih berjalan kesana kemari sembari melihat satu persatu tempat duduk lesehan itu namun belum ada yang kosong.
"Kak, duduk disini aja" kata seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Kirana
"Iya kak, gabung dengan kita" kata teman wanita itu
"Soalnya rumah makan ini gak bakal sepi kalo jam segini" jelas seorang wanita itu lagi
Dokter Perdi masih belum menangapi dua wanita yang dihadapannya, sedangkan sahabatnya Dokter Perdi sudah menyikut Dokter Perdi berapa kali menunggu persetujuan Dokter Perdi. Karena kebetulan Dokter Perdi sudah sangat lapar mau tak mau dirinya harus menerima ajakan dua wanita itu, Dokter Perdi dan sahabatnya segera duduk di samping dua wanita itu tanpa mengeluarkan satu katapun.
"Bagaimana tukar posisi saja, anda dengan teman anda disitu. Saya dengan teman saya disini" kata Dokter Perdi tegas datar tanpa ekspresi
"Gak apa-apa kali kak, aku disamping kakak dan temanku samping teman kakak" jawab wanita itu dengan suara dibuat-buat manja
Dokter Perdi sudah tak menjawab lagi, dirinya sangat malas meladeni wanita yang terlalu centil. Beruntungnya pelayan langsung menanyakan makanan yang ingin mereka pesan, Dokter Perdi ingin secepatnya makan dan pergi dari dua wanita centil itu.
Tak perlu menunggu lama pelayanan sudah mengantarkan makanan yang mereka pesan, Dokter Perdi langsung menyantap makanan yang dihadapannya buru-buru tanpa mengunyah langsung ditelannya saja.
Sahabatnya Dokter Perdi juga mulai menyantap makanan tersebut sembari matanya memperhatikan Dokter Perdi yang kelihatannya sangat kesal, sahabatnya Dokter Perdi sebenarnya juga kesal dengan dua wanita itu apalagi mereka jelas melihatkan bahwa sedang menggoda Dokter Perdi.
Selesai makan Dokter Perdi segera beranjak dari tempat duduknya, salah satu wanita itu langsung memegangi tangan Dokter Perdi agar Dokter Perdi tidak pergi sontak Dokter Perdi langsung menoleh.
__ADS_1
"Bisa jauhkan tangan anda dari tangan saya" kata Dokter Perdi dengan tatapan seperti ingin menelan wanita itu hidup-hidup
"Maaf, kakak kenapa buru-buru. Kita saja belum kenalan" kata wanita itu sembari melepaskan tangannya
Dokter Perdi tak menghiraukan omongan wanita itu, dirinya segera melangkahkan kakinya ke arah kasir. Dokter Perdi mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan membayar makanan yang dimakannya bersama sahabatnya. Kemudian pergi dan menuju mobilnya, sahabatnya Dokter Perdi yang melihat Dokter Perdi meninggalkannya terpaksa buru-buru minum air lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Kak titip salam buat teman kakak, semoga bertemu lagi" kata wanita yang memegang tangan Dokter Perdi tadi
Sahabatnya Dokter Perdi hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi dari situ kemudian berjalan keluar dari rumah makan itu dan menghampiri Dokter Perdi yang sudah di dalam mobil
"Udah selesai" tanya Dokter Perdi ketika sahabatnya sudah duduk di sampingnya
"Udah" jawab Al sahabatnya Dokter Perdi sembari mengambil tisu yang ada di mobil untuk mengelap mulutnya yang mungkin masih ada sisa makanan.
Dokter Perdi dan sahabatnya melanjutkan perjalanan mereka yang masih sangat jauh untuk tiba di Jakarta, ditambah jalan sangat macet membuat perjalanan mereka semakin memakan waktu yang begitu lama.
Adzan magrib berkumandang
Dokter Perdi menghentikan mobilnya di depan masjid, Dokter Perdi mengajak sahabatnya untuk sholat magrib terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan mereka ditambah Dokter Perdi juga sudah sangat lelah ingin istirahat sebentar di masjid itu.
Setelah mengambil air wudhu mereka berdua langsung berdiri dibarisan jamaah lain dan mulai mengikuti imam yang sudah mengerjakan sholat dengan khusyuk, selesai sholat Dokter Perdi berdoa dengan MAHA KUASA agar dijauhkan dari godaan setan dan iblis yang bisa membatalkan niatnya menikah.
Akan banyak ujian dan godaan semakin dekat hari H pernikahan karena setan dan iblis akan terus menganggu dan menghalangi manusia mengerjakan ibadah seumur hidup itu, bukan hanya itu setelah berumah tangga pun setan dan iblis masih akan menganggu manusia agar mereka berpisah dan bercerai.
Sudah banyak kasus di dunia ini rumah tangga yang baru seumur jagung sudah bercerai kadang pun rumah tangga yang sudah main puluhan tahun juga masih diganggu setan dan iblis, semuanya tergantung iman kita maka dari situ sebelum terjadi selalu minta dengan MAHA KUASA agar dijauhkan dari segala hal yang bisa menghancurkan rumah tangga.
__ADS_1